Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 14


__ADS_3

"Mommy, Ean kemana sih? Tadi aku telepon ingin dijemput, dia mengatakan sedang ada urusan,"


"Andrean sedang mengantar Angel ke rumah sakit,"


Auristella mencibir kesal. Ternyata karena Angel, kakaknya itu tidak bisa menjemputnya. Sehingga hari ini sama seperti tiga hari kemarin dimana Ia harus pulang dengan driver usai kuliah dan pergi kemana-mana pun dengan driver. Sebab kedua kakaknya benar-benar sibuk.


"Apa kemarin-kemarin Andrean sibuk karena mengurus Angel? Tapi katanya, dia sibuk dengan pekerjaan. Sial! Jadi dia membohongiku?"


"Hei jangan mengumpat, Auris," teguran Lovi membuat Auristella tersenyum meringis.


"Andrean memang sibuk dengan pekerjaan nya akhir-akhir ini. Dan baru hari ini Ia mengantar Angel ke rumah sakit. Bahkan dia tahu Angel sakit pun dari Mommy,"


Auristella mendengkus. Ia selalu merasa kesal kalau diabaikan oleh kedua kakaknya apalagi kalau demi perempuan.


"Memang harus Andrean yang mengantar?"


Lovi tersenyum lebar sebelum menjawab, "Iya, harus. Belajar menjadi suami yang baik sebelum menikah itu penting sekali, Auris," Lovi mengerlingkan matanya ke arah sang anak.


"Lagipula seharusnya Andrean dan Adrian itu menjemput kamu kalau ada waktu luang saja, Sayang. Daddy sudah meminta driver untuk mengantar dan menjemput kamu,"


Saat mulut Auristella terbuka ingin menyahuti ucapan Lovi, Lovi menyela.


"Jangan setiap saat kamu meminta dijemput atau diantar mereka berdua. Karena mereka juga punya kesibukan. Mengerti, Sayang?"


"Mom, aku ini 'kan adik mereka. Jadi wajar saja kalau aku---"


"Iya, Mommy mengerti. Tapi jangan sampai membebani mereka,"lagi-lagi Lovi menyanggah anaknya yang cukup keras kepala itu.


"Memang mereka merasa terbebani?"


"Ya bisa saja,"


Auristella menghembuskan napas kesal. Selama ini Andrean dan Adrian tidak pernah terlihat keberatan. Mommy nya saja yang terlalu berlebihan.


"Jangan terlalu manja, dan jangan terlalu posesif lagi dengan kedua kakak mu ya?"


"Tidak bisa, mereka itu kakak ku," sergah Auristella kemudian Ia segera melangkah cepat meninggalkan Lovi yang dibuat kebingungan. Anak bungsunya itu memang benar-benar membuatnya sakit kepala. Beruntungnya Andrean dan Adrian sudah terbiasa dengan sifatnya. Kalau tidak, bisa-bisa mereka berdua pergi dari rumah karena Auristella yang manja, terlalu banyak permintaan dan terlalu sering mengatur.


Sampai di kamar, Auristella segera mengganti jumpsuit jeans dengan pakaian yang lebih nyaman untuk digunakan di dalam rumah.


Setelah itu Ia meraih laptop dan membawanya ke tempat tidur. Ia berbaring berharapan dengan laptop yang sudah Ia nyalakan. Ia memilih untuk mengerjakan tugas saja daripada tidur. Karena tugasnya lumayan banyak dan lagipula rasa kantuk di kelas tadi sudah hilang setelah Ia sampai di rumah.


Hampir satu jam Ia berkutat dengan tugas, ada panggilan video dari Ryn, teman yang sudah lama sekali bersama dengannya. Sejak Ia junior school sampai kuliah saat ini.


"Ada apa, Ryn?"


"Aku ingin--- hm--menyalin tugasmu," cicit Ryn pelan. Auristella memutar bola matanya, "Seperti biasa," cibir Auristella yang diangguki oleh Ryn diselingi tawanya. Berhubung Auristella memiliki otak yang cerdas, jadi Ryn selalu meminta bantuan pada Auristella kalau Ia rasa sudah tidak ada lagi jalan keluar.


"Tugas yang mana? Kita ada banyak tugas,"


"Nanti aku kirim bagian yang tidak bisa aku kerjakan,"


"Okay, aku tutup ya. Aku sedang tidak ingin diganggu,"


"Hey sebentar! Aku ingin memberi tahumu. Tadi ada postingan di sosial media tentang lomba piano. Kamu tidak ingin ikut, Auris?"


"Kirim dulu informasi nya. Nanti aku pikirkan, terimakasih sebelumnya. Kamu selalu rajin memberi tahuku soal kesukaan ku yang satu itu,"


"Tentu saja, aku harus terus membantumu dalam menggali kemampuan. Dan agar semakin banyak juga pengharagaan yang kamu terima,"

__ADS_1


Usai berbicara dengan Ryn, Auristella sibuk lagi dengan tugas-tugasnya yang sudah Ia targetkan harus selesai hari ini juga.


******


"Dad, aku ingin mengikuti perlombaan lagi,"


"Hmm akhirnya ikut lagi ya. Setelah sempat istirahat,"


Devan menerima ponsel Auristella yang diangsurkan oleh pemiliknya itu. Auristella ingin Daddy nya tahu turnamen apa yang akan Ia ikuti.


"Ini turnamen yang cukup besar juga,"


"Iya, oleh sebab itu aku ingin ikut. Aku tahu mengenai lomba ini dari Ryn,"


"Oh Ryn si penggemar Adrian?"


Auristella terkekeh membenarkan. "Siapa lagi temanku yang bernama Ryn selain dia, Dad?"


Devan terkekeh juga. Ia mencubit gemas pipi anak perempuannya yang menjadi lebar karena Ia tertawa.


Saat Devan akan mengembalikan ponsel Auristella pada anaknya itu, Ia mengerinyit saat ada notifikasi pesan masuk sehingga Ia mengurungkan niatnya untuk mengembalikan. Ia baca terlebih dahulu isi pesan itu karena Ia sempat melihat nama pengirimnya yang sepertinya adalah laki-laki.


Auris, akhirnya aku bisa kembali kuliah. Dokter sudah mengizinkan aku pulang.


Oh iya, terimakasih sudah memberi tahukan tugas-tugas yang harus aku kerjakan.


Hanya itu saja yang dikirmkan Yongkie, teman Auristella yang sempat dijenguk kemarin.


Auristella menatap ayahnya dengan bingung ketika memandang layar ponselnya dengan sorot dingin. Setelah itu, Devan menyerahkan ponsel padanya.


"Teman dekat mu mengirim pesan. Silahkan dibaca," ujar Devan seraya menekan kata 'teman dekat' mengingat kemarin Auristella lah yang menyebut bahwa Yongkie teman dekat nya.


Devan hanya mengendikkan bahunya. Lalu memilih untuk fokus menatap televisi di depannya. Tadi Ia sedang menonton dan tiba-tiba saja Auristella menghampirinya.


Ia tidak akan mengganggu Auristella. Lagipula tidak ada yang aneh dalam pesan itu. Meskipun Ia masih sulit menerima putri kecilnya dengan terang-terangan mengatakan bahwa Yongkie adalah teman dekatnya.


"Dad, maaf aku pulang terlambat,"


Devan menepuk sisi sofa di sebelahnya agar Lovi agar duduk di sana. Perempuan itu baru saja pulang dari rumah sakit usai menjenguk Angel yang ternyata harus mendapat perawatan di rumah sakit karena kondisinya yang tidak memungkinkan bila Ia dirawat di rumah. Begitu mendapat kabar itu dari Andrean, Lovi langsung bergegas ke rumah sakit.


"Tidak apa, Lov. Bagaimana dengan Angel? Apa kondisinya sudah lebih baik?"


"Belum, suhu tubuhnya masih tinggi. Kepalanya juga masih sakit,"


"Mommy baru saja menjenguk Angel?"


"Iya, Mommy khawatir padanya. Akhirnya langsung pergi ke sana,"


"Ean menjaga Angel di sana? Dia tidak pulang?"


"Entah, Mommy juga tidak tahu,"


"Oh aku kira setelah Mommy menyuruh Andrean mengantar Angel ke rumah sakit, Mommy juga menyuruh Andrean menjaganya di rumah sakit,"


"Tidak, Mommy tidak menyuruh Andrean untuk menjaga Angel. Karena Mommy yakin walaupun Andrean tidak menjaga Angel sepenuhnya di rumah sakit, dia akan sering mendatangi Angel," jawab Lovi. Tadi Ia bertemu dengan Andrean. Ia khawatir pada Angel dan Ia yakin Andrean pun demikian. Hanya saja Andrean pandai sekali untuk terlihat biasa saja.


"Sekalipun Mommy menyuruh Andrean menjaga Angel, itu tidak menjadi masalah. Terlepas Angel adalah calon istri Andrean, Angel juga sudah menjadi teman Andrean sejak masih kecil. Jadi sudah seharusnya seorang teman membantu temannya yang sedang kesulitan,"


"Kamu mau menjenguknya?"

__ADS_1


Auristella mengangguk tanpa berpikir panjang. Jujur Ia juga ingin tahu bagaimana kondisi Angel. Seperti yang dikatakan Devan tadi, Angel adalah teman Andrean dan juga temannya. Jadi Ia harus peduli.


"Jangan kamu marahi Angel nanti ya," pesan Lovi dengan tawa ringannya. Lovi tahu Auristella tidak jahat. Auristella hanya sedikit menyebalkan karena sifat over protective nya itu pada kedua kakaknya.


*******


Angel terbangun dari tidurnya. Lagi-lagi kesunyian lah yang menyambutnya. Tadi Ia sudah tertidur. Kemudian bangun untuk makan. Setelah makan, tak lama Ia tidur lagi.


Puas tertidur, Ia kembali terbangun. Dan rupanya Andrean masih ada di sisinya. Ia kira Andrean akan pulang setelah memastikan Ia tidur.


"Kamu tidak pulang? Hmm...maaf bukan aku ingin mengusirmu, tapi sebaiknya kamu jangan terlalu lama di sini,"


"Ayahmu tidak akan datang ke sini?"


Ia tersenyum menggeleng. Malu sekali menjawab 'ayah pasti tidak akan datang' di depan Andrean.


"Sepertinya tidak, Andrean,"


"Kenapa?"


"Aku yakin kamu sudah tahu tentang bagaimana ayah dan kakakku selama ini. Benar 'kan?"


Andrean menghembuskan napas pelan sebelum mengangguk. Ia hanya ingin mendengar langsung dari mulut Angel, Ia juga butuh penjelasan mengenai apa yang Ia lihat tempo hari. Angel langsung masuk setelah tangannya ditarik sang ayah, meninggalkan Andrean yang terpaku bingung. Semenderita itu Angel tinggal bersama ayahnya. Dan Ia baru tahu. Mommy dan Daddy nya sudah tahu tapi belum pernah sedikitpun membicarakan itu pada Andrean. Lovi cukup terkejut ketika anaknya sudah tahu bahkan melihat secara langsung seperti apa perlakuan Geno terhadap darah dagingnya.


"Ayahku tidak akan mau membuang waktunya untuk datang ke sini melihat kondisiku,"


"Sebenarnya kamu bisa meninggalkan sumber kesakitan mu itu, Angel. Kenapa kamu tidak melakukan nya?"


Andrean menegakkan posisi duduknya. Satu kakinya bertumpu pada kaki yang lain. Tatapannya lurus pada Angel yang kini saling meremat jari yang Ia letakkan di atas perutnya.


"Karena aku menyayangi mereka, Andrean,"


Sudut bibir Andrean terangkat. Lucu, telinganya terasa geli mendengar ucapan Angel yang sialnya terdengar sangat tulus.


"Kamu ingin menertawaiku? Silahkan," Angel dengan senang hati membiarkan Andrean tertawa. Mungkin Andrean berpikir bahwa Ia sangat bodoh. Namun kenyataannya memang seperti itu. Geno dan Gesty sudah menyakitinya terlalu dalam, tapi Ia tidak bisa berhenti menyayangi mereka sampai rasanya sulit sekali bila harus meninggalkan mereka.


"Sebesar itu kamu menyayangi mereka?"


Angel mengangguk tanpa berpikir. Geno adalah ayah kandungnya meskipun sifatnya tidak mencerminkan figur seorang ayah. Gesty adalah kakak nya meski Ia terlahir dari rahim yang berbeda. Keduanya adalah bagian dari hidup Angel.


"Sebenarnya nenekmu lebih membutuhkan kamu. Ia sudah tua, butuh teman. Aku yakin Nenek mu sangat kehilangan kamu saat kamu memutuskan untuk meninggalkannya. Sementara ayah dan kakak mu, aku rasa sekalipun kamu pergi, mereka tidak akan merasa kehilangan. Mungkin mereka akan sangat senang,"


"Aku meninggalkan Nenek karena aku tidak mau membebani Nenek,"


"Membebani? Kamu bekerja dan kamu bisa mengurus diri kamu sendiri, jadi kamu bukanlah beban untuk Nenek,"


Angel terdiam mendengar itu. Kalau dipikir-pikir, ucapan Andrean ada benarnya juga. Kini, Ia bisa mencari uang sendiri, tidak mengandalkan nenek dalam mencari uang untuk mereka makan seperti dulu saat Ia masih kecil dan baru ditinggal Ibunya, Lianne. Saat ini Ia bisa lebih banyak membantu, tidak seperti ketika Ia masih kecil hanya dapat membantu neneknya sedikit.


"Tapi tidak seharusnya aku tinggal bersama Nenek. Karena aku masih punya ayah dan sudah sepatutnya aku mengabdi pada orangtua ku satu-satunya itu," gumam Angel sangat pelan.


Andrean menghela napas pelan seraya mengangguk. Angel tetap pada keputusannya untuk menjalani hidup bersama ayahnya yang sudah meninggalkan Ia dan Ibunya ketika tahu Ibunya itu menderita Leukimia.


Lovi dan Devan pun sudah sering sekali meminta Angel untuk kembali bersama neneknya atau tinggal di tempat yang akan disiapkan oleh Devan. Namun Lovi dan Devan terus saja mendapat penolakan. Mereka tidak bisa melakukan apapun kalau Angel sudah berkeinginan untuk terus bersama ayah dan kakaknya.


Angel bukan tidak sayang pada neneknya. Setiap minggu Ia mendatangi neneknya demi mengetahui kabar sang nenek. Ia selalu mengingat jasa neneknya. Selama Ibunya sakit sampai akhirnya menyerah dengan penyakitnya, Angel selalu dirawat oleh sang nenek yang begitu Ia sayangi itu. Sampai akhirnya sang ayah datang dan menawarkan kehidupan yang bahagia padanya.


"Setelah kita menikah, kamu akan tetap bersama mereka?"


Angel terkekeh mendengar pertanyaan Andrean yang menurutnya aneh. Situasinya berbeda dan tentu keputusannya pun akan berbeda.

__ADS_1


"Tentu tidak, Andrean. Kalau aku sudah menjadi istri, aku harus menjadi ekor kamu 'kan? Sementara kalau aku masih sendiri, aku harus bersama ayahku, mengabdikan diriku untuknya,"


__ADS_2