
"Ayah, aku yakin dia bukan lelaki yang hanya bermodalkan cinta saja. Aku itu bisa membedakannya, Ayah. Karena aku berpengalaman di bidang itu,"
Gesty terkekeh disela ucapannya. Gesty dan Geno tengah duduk di meja makan sementara Angel tengah menyiapkan makan malam namun telinga nya bisa menangkap isi pembicaraan mereka berdua karena sesekali dirinya meletakkan hasil masakannya di meja makan.
"Ayah perlu memastikannya sendiri. Untuk apa dia menikah dengan laki-laki yang tidak bisa menjadi ladang uang untuk Ayah?"
Angel menghela napas sesak mendengar ucapan ayahnya itu. Rasanya sakit sekali ketika Ia tak lebih dari uang dan uang. Ayahnya tidak akan membiarkan Ia menikah dengan lelaki yang tidak memiliki banyak uang. Sekalipun Ia merasa bahagia, apakah ayahnya akan tetap pada keputusannya itu?
'Ah bodoh! Tentu saja, Angel. Sekalipun kamu bahagia dengan pria miskin, ayahmu tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Ayah akan mencari pria yang lebih menguntungkan untuknya,"
Padahal bahagia menurut pandangan Angel tidak melulu soal harta. Sekalipun tidak kaya, kalau Ia dibuat bahagia, Angel rasa itu tidak menjadi masalah. Apa Angel terlalu naif?
"Ayah luar biasa," puji Gesty dengan senyum bangganya. Ia bangga, karena ayahnya pintar mencari celah diantara banyaknya kesulitan dalam mencari kekayaan di zaman sekarang tanpa bekerja.
******
Andrean sudah bersih-bersih setelah itu Ia menuju ruang makan. Sementara kedua adik dan kedua orangtuanya sudah makan lebih dulu. Mereka mengira Andrean masih lama datangnya.
Bosan menonton, Lovi memutuskan untuk beranjak ke ruang makan, menemani putra sulungnya makan. Sementara anak bungsu dan suaminya di ruang keluarga dan Adrian yang sudah beranjak ke kamarnya.
"Bagaimana makanan nya? Lezat?"
Andrean mengangguk dan tersenyum simpul, "Seperti biasa, selalu lezat,"
Pujian anaknya yang irit bicara itu membuat Lovi tersenyum. Ia memperhatikan Andrean terus-menerus hingga anaknya itu bingung.
Tapi Andrean memilih untuk bertanya pada Mommynya nanti saja, setelah makan malamnya habis.
Setelah semua isi piring pindah ke perutnya dan Ia minum, Ia berdehem membalas tatapan Ibu yang telah melahirkan dan membesarkan dengan kasih sayangnya yang sepenuh hati itu.
"Ada apa, Mom?"
"Mommy ingin bertanya padamu,"
"Tentang?"
"Angel,"
Andrean mengangguk, menunggu mulut Mommynya kembali mengeluarkan suara.
"Tadi kamu sudah bertemu dengan Ayahnya Angel dan bicara padanya?"
"Sudah,"
"Bagaimana tanggapannya mengenai rencana kamu?"
"Ia ingin menilai dulu aku ini besar atau tidak potensinya," ujar Andrean dengan nada gelinya. Biarpun Ia baru mengenal Geno, tapi Ia seakan tahu betul bagaimana sifat Geno. Karena Ia tidak sebodoh itu dalam menilai orang yang bahkan jelas-jelas sudah menyakiti anaknya sendiri di hadapannya dirinya, yang merupakan orang lain bagi mereka.
"Aku tahu, Mom, bahwa dia menginginkan keuntungan dari pernikahan aku dan Angel. Angel sendiri khawatir akan hal itu,"
"Dengan dalih ingin memastikan bahwa Angel akan hidup bahagia bersamaku, Ia berencana akan mencari tahu sendiri siapa aku ini dan bagaimana aku yang sebenarnya,"
__ADS_1
"Lalu kamu keberatan dengan itu?"
"Tidak, aku membiarkan Ia melakukan apapun yang terpenting aku bisa menikahi Angel secepatnya,"
Ucapan Andrean membuat Lovi ingat kembali dengan pembicaraan nya bersama Devan tadi.
"Kamu belum siap bila pernikahan terjadi dalam waktu dekat. Tapi kamu merubah keputusan itu. Sebenarnya karena apa? Semata hanya ingin memenuhi keinginan Mommy dan Daddy atau karena tidak tega melihat kehidupan Angel hingga kamu ingin sekali cepat-cepat menolongnya?"
Sudut bibir Andrean terangkat. Ia melipat kedua lengannya di atas meja lalu menatap Ibunya lamat-lamat.
"Karena kedua alasan itu,"
"Andrean, apa Angel tidak sakit hati? ketika tahu kalau kamu menikahi dia selain karena keinginan Mommy, kamu juga merasa kasihan padanya,"
"Dia juga menerima ini karena dia tidak kuasa menolak keinginan Mommy dan Daddy yang sudah baik padanya. Tadi, dia mengatakan hal itu padaku. Artinya alasan kami sama. Dan untuk alasan kedua yang tadi Mommy sebutkan, memang apa salahnya, Mom? aku ingin teman kecilku terlepas dari rasa sakitnya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana dia hidup selama ini setelah aku melihat sendiri perlakuan orang yang disayanginya itu kepadanya dirinya,"
"Dengan alasan itulah aku ingin membahagiakannya. Aku ingin menghapus rasa sakitnya. Sebenarnya bukan kasihan, Mom. Aku menyayangi dia karena dia teman kecilku, sahabatku. Aku hanya ingin dia bahagia. Dan aku pikir dengan pernikahan ini aku bisa menghadirkan rasa bahagia itu. Aku ingin menyembuhkan lukanya,"
Meskipun Ia dengan Angel tidak sedekat Ia bersama Adrina, dan Ia terbilang jarang bermain dengan Angel tapi tetap Ia mengakui Angel adalah sahabat yang sudah sepatutnya Ia sayangi dan Ia merasa mampu untuk membahagiakan Angel dengan caranya sendiri, maka akan Ia lakukan.
*******
Usai lepas tugas di restorannya, Angel menyambangi rumah sang nenek. Begitu pintu terbuka, Ia memeluk neneknya yang bahagia sekali melihat kedatangannya.
"Nenek, aku rindu,"
"Kita sering bertemu, Sayang,"
"Iya, tapi tidak setiap hari,"
"Nenek saja yang ikut aku, ayo. Tinggal bersama ayah dan Kak Gesty,"
Nenek menggeleng, tidak mungkin Ia bisa tinggal bersama lelaki brengsek yang telah meninggalkan putrinya dalam kondisi sakit bahkan sudah selingkuh sebelumnya hingga hadirlah Gesty.
"Nenek masak makanan kesukaan kamu. Makan dulu sebelum kita mengobrol,"
Angel mengangguk dan mengikuti langkah neneknya ke ruang makan. Matanya berbinar menatap apa yang dimasak wanita berusia senja itu.
"Woahh cream soup. Aku sudah lama tidak makan ini, Nek. Terimakasih ya, Nek. Kenapa bisa kebetulan seperti ini ya? Padahal Nenek tidak tahu kalau aku akan datang tapi Nenek kebetulan masak makanan kesukaan ku," ujar Angel sebelum akhirnya duduk menghadap soup itu dan menu lainnya seperti ----
"Nenek sudah makan?"
"Kebetulan belum,"
"Yeayy, ayo, Nek. Kita makan bersama,"
Melihat antusias cucunya, Nenek terkekeh pelan. Ia duduk di hadapan Angel. Mereka berdoa bersama sebelum akhirnya menyantap makanan.
******
Angel duduk merenung di taman kecil yang berada di sisi samping rumah Neneknya. Itu adalah tempat favoritnya sejak kecil. Karena tidak ada tempat lain yang bisa Ia pakai untuk bermain, berlari-larian sepuasnya. Berhubung rumah Neneknya tidak begitu luas, jadi taman adalah pilihan terbaik ketika ingin bermain.
__ADS_1
Tiba-tiba ingatannya tentang masa kecil terlintas. Dan Ia tidak paham kenapa nama Andrean ikut memenuhi kepalanya saat ini.
Sejenak Ia menoleh di sisi samping kursi yang Ia duduki. Hanya untuk memastikan apakah nama yang pernah dirinya buat beserta Andrean, Adrian, dan Auristella masih ada atau tidak saat ini.
Ia tersenyum mendapati nama mereka yang sengaja dibuat dengan cara mengerik cat kursi besi yang sudah menghuni taman itu sangat lama.
Saat mereka kecil, Andrean, Adrian, Auristella, dan Adrina beberapa kali datang ke rumah Neneknya. Mereka datang bersama Lovi dan Devan yang memang sering mendatangi Angel hanya untuk mengetahui kabar Angel dan Neneknya tak lupa juga selalu memberi uang. Mereka berdua jarang sekali membawa kedua anaknya ke rumah itu. Sehingga ketika dibawa, mereka senang sekali dan langsung bisa berbaur dengan Angel.
"Angel, kursi ini boleh aku coret-coret tidak?"
Angel kecil tersenyum mengangguk, "Boleh, lagipula tidak akan terlihat juga. Karena akan diduki,"
"Okay,"
Adrian kecil mengambil satu buah batu kemudian mulai mengerik cat kursi dengan batu tersebut. Anak yang memang sudah tidak bisa diam sejak kecil itu tidak akan pernah kehabisan akal agar dia ada kesibukan. Dan kebetulan saat itu mereka sudah kehabisan permainan. Sehingga didapatlah ide mencoret-coret itu oleh Adrian.
"Tulis juga nama kalian di sini," Adrian menyerahkan batu itu pada Andrean yang saat itu malas sekali memenuhi permintaan adiknya. Ia pikir adiknya itu kurang kerjaan sekali. Kenapa tidak mencoret kertas saja daripada kursi? Tapi melihat Adrian yang terus memburunya agar menurut, akhirnya Ia menulis namanya di sana. Disusul Adrina, Auristella, kemudian Angel. Berhubung saat itu Auristella masih sangat kecil, Adrian lah yang menuliskan nama adiknya. Sang adik hanya bagian bersorak saja saat melihat hasilnya.
"Yeayyyy,"
"Bagus ya," ujar Adrina yang diangguki oleh Angel dan Auristella.
"Kira-kira ini akan bertahan sampai kita dewasa tidak?"
"Hmm sepertinya iya," jawab Adrina antara yakin dan tidak yakin.
"Iya-iya," sahut si paling kecil, Auristella.
"Entah, aku tidak bisa menjawabnya," kini giliran Angel yang mengeluarkan suara.
"Menurutmu, Andrean?"
Andrean hanya mengedikkan bahunya saat sang adik bertanya. Ia tidak memiliki jawaban. Tapi kalau dipikir secara logika rasanya tidak mungkin tulisan itu bertahan. Karena akan ada iklim yang mungkin akan menghilangkan coretan mereka di kursi itu. Atau mungkin juga kursinya tidak ada lagi ketika mereka dewasa.
Angel tersenyum sembari mengusap coretan nama-nama teman kecilnya. Ternyata kenangan kecil namun berharga itu masih ada hingga kini.
Angel tersentak saat bahunya diusap dari belakang oleh Neneknya. Angel tersenyum, kemudian meminta Neneknya untuk duduk di sampingnya.
"Nenek masih dan akan terus bahagia 'kan?" Hampir setiap kali Angel datang, selalu itu Ia tanyakan pada Neneknya, seolah Ia takut sang Nenek tidak bahagia.
"Iya, Nenek selalu bahagia selagi memiliki kamu, Angel. Meskipun kamu tidak bersama Nenek lagi, tapi Nenek tahu kamu tetap menyayangi dan mencintai Nenek,"
"Iya, Nek. Aku memilih untuk bersama ayahku dan berbakti padanya. Tapi Nenek tetaplah sosok yang sangat berarti buatku. Kalau tidak ada Nenek, mungkin tidak akan ada Angel yang tangguh seperti yang sedang Nenek lihat saat ini," ujar Angel dengan kekehannya. Ia memeluk Neneknya dari samping, menyandarkan kepalanya dengan manja.
"Kamu juga harus terus bahagia ya. Karena kamu berhak mendapatkan itu,"
Angel mengangguk masih dengan memeluk Neneknya. "Iya, Nek,"
Nenek tersenyum kemudian mengusap kepala cucunya dengan penuh kasih sayang. Ia juga meninggalkan kecupan hangat di puncak kepala Angel. Ia begitu menyayangi gadis ini, gadis versi kecil dari putrinya, Lianne.
"Oh ya, Nek. Aku ke sini juga ingin memberi tahukan Nenek tentang sesuatu,"
__ADS_1
Angel melepas pelukannya kemudian menggenggam tangan Neneknya, menatap Nenek dengan sorotnya yang syahdu.
"Aku akan menikah, Nek."