Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 110


__ADS_3

“Daddy, apa Daddy tau sesuatu?”


“Tau soal apa, Ian?”


“Auristella dapat bunga dari kekasihnya,”


“Hmm?”


Kedua alis Devan terangkat mendnegar ucapan Adrian. Mulut Devan sampai berhenti menghaluskan makan malamnya karena perjataan dari anak keduanya itu.


“Astaga, Ian bohong, Dad! Aku tidak dapat bunga dari kekasih,”


“Coba jelaskan. Memang sejak kapan kamu punya kekasih? Kenapa tidak cerita pada Daddy? Karena takut Daddy minta untuk mengakhiri hubungan itu? Karena tau ya Daddy ingin kamu fokus dnegan pendidikan kamu dulu,”


“Dad, aku tidak punya kekasih. Ian bohong, Dad. Tolong percaya padaku,” jelas Auristella seraya menatap ayahnya dengan sorot mata penuh permohonan agar ayahnya itu percaya.


“Bohong dibagian mana? Bis atolong jelaskan pada Daddy, pada kami semua yang ada di meja makan ini?”


Angel, Andrean dan Lovi hanya menjadi pendengar yang baik saja kalau Devan sudah dalam mode tegas pada anaknya.


“Ya kalau memang sudah punya kekasih, katakan pada Daddy. Walaupun Daddy ingin kamu fokus dnegan pendidikan dulu tapi kamu punya pikihan sendiri, Daddy bisa apa? Paling Daddy hanya bisa berdoa supaya hubungan kamu itu tidak menghambat pendidikan kamu, tidak membuat kamu berubah, tidak menempatkan kamu di posisi yang berbahaya. Berhubung kamu anak perempuan ‘kan, jadi jujur saja itu salah satu alasan Daddy ingin kamu fokus dnegan pendidikan dulu. Daddy anggap kamu belum bisa membatasi diri sendiri tapi kalau memang kamu meras sebaliknya ya sudah terserah. Mungkin memang kamu tidak mau lagi dnegar omongan Daddy, mungkin apa yang Daddy katakan adalah angin lalu untukmu,”


“Astaga, aku tidak berpikir seperti itu, Daddy. Memang aku belum punya kekasih. Itu bunga dari Revano, tapi dia bukan kekasihku, dia hanya temanku saja,”


“Oh Revano, kalau teman kenapa sampai mengirim bunga?”


Auristella melirik kakak keduanya dengan lirikan sinis. Adrian sudah membuat Daddynya jadi salah paham.


“Jadi begini, Dad. Dia kira aku ulang tahun besok tapi ternyata belum. Jadi dia minta maaf terlalu cepat mengirim bunga niatnya untuk aku ulang tahun tapi ulang tahunku masih tiga hari lagi,”


Devan menganggukkan kepalanya. Ia mulai paham, jadi Auristella memang benar mendapat bunga tapi Auristella mengelak tentang pengirim bunga itu adalah kekasihnya padahal masih sebatas teman saja.

__ADS_1


“Wow romantis sekali,”


“Ian diam! Aku tidak meminta kamu berkomentar,”


“Ya memang apa yang aku katakan benar ‘kan, dia romantis, mau memberikan bunga ketika dia tau kalau ulang tahun kamu adalah besok. Usahanya kelihatan, apapun itu dihargai,”


“Iya benar kata Ian, apapun yang kita terima harus kita hargai. Tapi Daddy pikir ucapan Ian benar,”


“Soal bunga memang benar, tapi soal pengirimnya yang merupakan kekasih aku itu salah besar. Kenyataannya aku memang belum punya kekasih. Itu bunga dari temanku, Mom, Dad. Dasar mulut berisik!” Auristella melemparkan tatapan tajam ke arah sang kakak.


“Ya bagaimana aku tidak mengira kalau kamu dan Revano sudah menjadi sepasang kekasih? Bunga itu ‘kan biasanya diberikan untuk pasangannya dalam rangka ulang tahun pernikahan, atau—“


“Tidak, bunga itu bisa diberikan kepada siapapun, Ian. Tidak hanya pasangan,” ujar Angel.


“Hmm iya kamu benar, Angel. Tidak hanya ke pasangan ya? Tapi ‘kan seringnya begitu, kebanyakan untuk pasangan,”


Auristella mendengus kesal. Setelah Ia ada yang membela yaitu Angel, barulah Adrian sepertinya mulai kalah berdebat.


Auristella menjulurkan lidahkan mengejek Adrian. Angel ada di pihaknya. Apa yang dikatakan Angel benar.


Setelah ada Angel, Auristella benar-benar merasa seperti punya kakak perempuan yang mengerti bagaimana perasaannya.


“Iya okay-okay aku kalah. Tapi intinya bunga sering diberikan kepada orang yang disayang ‘kan? Nah berarti—kalian bisa simpulkan sendiri,”


“Ya memang Revano sayang denganku lah. Tidak mungkin tidak sayang dengan teman? Kalau tidak sayang, ya itu artinya dia menganggap aku musuh,”


“Uhuhuh sayang,”


“Ian, jangan mulai ya,”


Adrian terkekeh mendapat peringatan dari Daddynya. Langsung Ia menangkup kedua tangannya dan menunduk sebentar ke arah Devan.

__ADS_1


“Ampuni hamba, Tuan,”


“Jangan mengganggu adikmu. Biarkan dia tau rasanya dikirimi bunga dari teman laki-laki yang menyayangi dia,” ujar Devan seraya menekan dua kata terakhir dan menatap Auristella sambil tersenyum.


“Ah Daddy ini sama saja. Ya sudahlah, aku tarik kata-kata sayang itu. Tidak, dia tidak menyayangi aku. Itu bentuk kebaikan dia sebagai teman. Sudah puas, Tuan muda dan Tuan tua yang terhormat?”


Adrian dan Devan saling menatap mencerna ucapan Auristella yang sempat membingungkan.


“Maksudnya Tuan muda itu Ian dan Tuan tua itu Daddy,”


Lovi terkekeh menjelaskan. Apalagi ketika melihat raut wajah Devan yang berubah. Auristella menutup mulutnya supaya tawanya bisa Ia kendalikan.


“Daddy menggemaskan ya kalau merajuk,”


“Ah baru tau? Bagaimana tidak merahuk, memang Daddy setua itu ya? Bukankah kamu bilang, Daddy kalau sudah pakai baju nonrformal keliahatan awet muda? Ini Daddy pakai baju non formal, Ris,”


“Hmm iya, Daddy benar. Tapi Daddy sendiri juga bilang usia tidak bisa bohong?”


“Duh, kenapa harus dipertegas sih?”


“Memang ya orangtua itu sering mengakui kalau dirinya tua, tapi terkadang suka mengaku kalau dia masih muda. Bikin geleng-geleng kepala saja,”


“Benar-benar bisa dibilang tua nanti sajalah kalau cucu Daddy sudah lahir,”


“Nah itu bukti kalau Daddy sudah tua. Benar, Dad, Mommy dukung,”


Angel selalu merasa terhibur kalau sudah bersama keluarga suaminya. Obrolan hangat, terkadang saling mengejek satu sama lain, tapi sebenarnya slaing menyayangi tak pernah Ia dapatkan setelah Ibu dan neneknya tidak ada lagi.


Kalau bersama kakak dan ayahnya, tidak pernah ada obrolan hangat. Yang ada juga Ia dimarahi. Tapi itu sudah berlalu, sekarang Angel merasa lebih bahagia, lebih bisa menikmati hidup yang sesungguhnya.


*******

__ADS_1


__ADS_2