
“Kamu tidak mau cerita sesuatu padaku? Apa yang membuat kamu kalut? Hmm?”
“Jujur aku cemburu melihatmu dengan Adrina tadi,” ujar Angel seraya terkekeh, dan aebenarnya bukan itu alasan utama kenapa pikirannya jadi kalut.
“Kamu cemburu? Angel, aku dan Adrina hanya sahabat, kamu tau itu ‘kan, Sayang?”
“Iya aku tau, dan itulah kenapa pikiranku jadi kacau sekarang. Aku cemburu, tapi sebenarnya aku tidak mau cemburu. Kamu paham ‘kan? Aku menganggap Adrina itu sahabatku juga, jadi seharunsya memang aku tidak boleh merasa cemburu hanya karena melihat kamu dan Adrina bicara berdua,”
“Astaga, Angel,”
Andrean menggusar rambutnya yang masih lumayan basah itu ke belakang. Ia tidak habis pikir bisa-bisanya sang istri punya rasa cemburu terhadap Adrina yang bahkan dari kecil sampai sekarang selalu bersamanya juga menjalin persahabatan.
“Iya aku minta maaf, Ean,”
“Sayang, cemburu itu wajar. Tapi tolong jangan lagi ya. Aku tegaskan di sini, Adrina dan aku tidak ada hubungan apa-apa, murni sebatas sahabat saja. Jadi kamu tidak perlu cemburu, okay?”
“Iya,”
“Aku hanya milik kamu. Aku suami kamu, dan aku tidak akan berpaling,”
“Terimakasih,”
“Dia bahkan cemburu padaku. Lalu kenapa dia malah mesra dengan laki-laki lain? Aku masih tidak habis pikir,” gumam Andrean di dalam hati.
“Kalu Dia benar selingkuh, tapi dia bersikap seolah cemburu seperti ini padaku, dia jahat sekali,” tambah Andrean.
“Maaf ya, seharusnya aku memang tidak pernah cemburu pada Adrina karena dia sahabatku,”
“Iya, Sayang,”
Beberapa menit mereka sama-sama terdiam. Andrean mengalihkan tatapannya ke meja yang menjadi pemisah di antara Ia dan Angels aat ini, sementara Angel menatap suaminya dalam diam. Entah kenapa Ia melihat Andrean menghindari untuk saling beradu tatap dengannya.
Entah itu hanya perasaan Angel saja, atau memang begitu kenyataannya. Dan kalau memang Andrean benar menghindar untuk beradu tatap dengannya, pasti ada sebab.
“Hmm Angel,”
“Ya, Ean?”
“Aku mau tanya sesuatu padamu dan aku ingin kamu menjawab pertanyaanku ini dengan jujur ya, Sayang,”
“Okay,”
Angel memperbaiki posisi duduknya, memberitahu bahwa Ia sudah siap diberikan pertanyaan oleh suaminya itu.
“Aku dikirimi foto dan aku tidak tau siapa yang mengirimnya,”
“Foto apa?”
“Aku ambil ponselku dulu sebentar ya,”
Angel menganggukkan kepalanya. Ia dengan sabar menunggu suaminya masuk ke dalam kamar untuk mengambil ponsel yang diletakkan di atas nakas.
Ketika Andrean akam menghampiri istrinya di balkon lagi, tiba-tiba pintu kamar diketuk. Andrean menghembuskan napas kasar.
“Ada saja halangannya ya. Apdahal aku sudah mau mendengar penjelasan Angel secepat mungkin,” batin Andrean sambil setengah hati berjalan mendekati pintu kamarnya.
“Siapa?”
“Ini aku Auris, Ean. Tolong buka pintunya sebentar,”
Andrean menekan tuas pintu dan Ia menariknya supaya terbuka. Auristella berdiri di depan pintu kamar dengan membawa satu kotak kecil yang entah apa isinya.
“Angel dimana? Hmm?”
“Angel?”
“Iya, istrimu itu dimana?!”
__ADS_1
“Astaga, kamu bisa bicara padaku dnegan pelan tidak? Kenapa nada bicaramu naik?”
Auristella berdecak pelan, lalu bergegas masuk ke dalam kamar kakaknya itu tanpa izin. Auristella sampai mendorong Andrean supaya Andrean menyingkir karena Andrean mengganggu akses masuknya.
Andrean benar-benar bingung sekarang. Ia tidak kengerti kenapa adiknya kelihatan marah, dan ingin tahu dimana keberadaan Angel.
“Angel di balkon,” jawab Andrean smabil berjalan di belakang Auristella.
“Aku sudah tau! Kamu terlambat memberitahu aku yang sudah terlanjur melihat pintu balkon terbuka,” jawab Adrina dengan ketus.
“Angel!”
Auristella tiba di balkon, dan Ia langsung meletakkan kotak yang ada di tangannya itu tepat di atas meja, di depan mata Angel yang langsung tersentak kaget dan bingung.
“Kenapa, Ris?”
Angel tidak tahu kenapa raut wajah adik dari suaminya itu tampak marah kepadanya. Bahkan rahangnya juga mengetat.
“Aku buat salah apa?” Tanya Angel dengan nada lembut seperti biasa.
Auristella langsung mengeluarkan foto-foto yang ada di dalam kotak itu dan membuat Angel maupun Andrean kompak membelalakkan mata.
“Ini apa maksudnya? Hmm? Kamu selingkuh dari kakakku?! Iya? Kalau iya, kenapa kamu tega, Angel? Dia sangat mencintai kamu, aku tau betul sebesar apa rasa cintanya untuk kamu. Kenapa kamu tega? Kalau memang kamu tidak mau lagi bersama Andrean, kamu bisa bicara baik-baik tanpa harus berkhianat seperti ini!”
Auristella berteriak di hadapan Angel yang duduk, sementara Auristella berdiri di hadapan Angel.
*****
Napas Angel langsung tersengal-sengal karena kaget sekaligus takut. Ia sangat takut melihat amarah Auristella yang seperti ini. Walaupun Ia tidak merasa telah melakukan kesalahan. Apa yang ada di depan mata mereka sekarang adalah foto-foto yang sudah diatur sedemikian rupa supaya Ia berada di pihak yang salah.
“Aku bersumpah, aku tidak selingkuh, Auris. Aku juga mencintai Andrean. Aku tidak mau menyia-nyiakan dia. Aku tidak selingkuh, aku mohon percaya padaku. Di foto ini memang aku saat tadi datang ke kafe dengan niat menyerahkan surat pengunduran diri. Semuanya terjadi begitu saja. Aku pun kaget saat tiba-tiba ada lelaki yang datang menghampiri aku, lalu bersikap seolah kami saling mengenal satu sama lain dan dia ingin menciumku tapi aku langsung menamparnya. Aku tidak selingkuh,” ujar Angel yang tidak ingin Andrean maupun Auristella salah paham. Maka dari itu Ia jelaskan kronologinya dari awal sampai akhir.
“Ean aku mohon percaya padaku ya,”
Angel meraih tangan Andrean yang membeku. Ini yang Ia butuhkan sejak tadi, penjelasan Angel. Alih-alih Ia yang bertanya, justru malah didahului oleh adiknya yang langsung menuntut penjelasan setelah mendapat kiriman berupa foto-foto yang sama dengan yang diterima Andrean tadi pagi.
“Apa aku bisa mempercayai ucapanmu, Angel? Hmm?”
Angel langsung menatap Auristella yang bertanya masih dengan wajah kerasnya pertanda emosi masih menguasai Auristella.
“Auris, aku tidak bohong. Apa yang aku katakan barusan semuanya benar. Aku tidak selingkuh, aku tidak mengkhianati Ean. Aku mencintainya, aku menyayanginya dan aku tidak mau pernikahan kami hancur. Foto-foto ini hasil dari rencana seseorang yang mau menghancurkan pernikahanku dan Ean. Buktinya aku tiba-tiba didatangi oleh laki-laki yang tidak aku kenal, dan dia langsung bersikap tidak sopan padaku. Aku tidak tahu dia siapa, Ris,”
“Apa kamu sudah jujur pada Ean? Apa San tau soal ini?”
“Tidak, aku tidak mau menjelaskannya pada Ean karena aku takut Ean marah, dan Ean jijik padaku,”
“Astaga, bisa-bisanya kamu menutupi ini dari Ean, Angel? Daripada dia tau itu bukan dari kamu, lebih baik kamu yang beritahu dia lebih dulu. Kamu mau dia salah paham? Hmm?”
Pertanyaan Auristella mewakili isi hati Andrean sekali. Seandainya saja Angel langsung menjelaskan pada dirinya setelah kejadian tadi, pasti Andrean tidak kesal dulu.
“Aku takut Ean marah besar padaku, bahkan Ean jijik, aku tidak mau hal itu terjadi,”
Andrean langsung merengkuh Angel yang menangis terisak. Andrean tidak tega melihat istrinya sudah selemah ini.
“Sayang, sudah ya. Berhenti menangis, aku mohon,”
“Aku mohon padamu, Ean. Tolong maafkan aku. Iya aku salah tidak menjelaskan dari awal apdamu. Tapi aku punya tujuan, aku takut kamu marah, aku takut kamu merasa jijik dneganku. Aku tidak siap bila harus menghadapi kebencian kamu,”
“Angel, hei denagr aku baik-baik,”
Andrean langsung melepaskan pelukannya, dan sekarang Ia merangkum wajah sang istri. Ia minta Angel untuk menatap matanya.
“Benar kata Auris. Lebih baik kamu langsung cerita padaku. Tujuannya supaya aku cari laku-laki bajingan itu sampai dapat! Aku tidak akan marah padamu karena aku tau bukan kamu yang salah setelah kamu jelaskan semuanya. Kamu berpikir aku akan marah, aku akan jijik? Hmm? Tidak, Angel! Aku tidak mungkin marah apalagi jijik padamu. Justru kalau kamu langsung cerita, aku pasti akan langsung mencari pelakunya, aku akan selidiki apa maksud dia melakukan itu. Intunya smeua akan aku cari tau,”
“Aku terlalu takut membuat kamu kecewa. Kecewa karena aku sudah diperlakuan tidak sopan oleh laki-laki lain,“
“Tidak, Sayang,”
__ADS_1
“Memang dia berhasil mencium kamu?” Tanya Auristella pada Angel yang langsung menggelengkan kepalanya.
“Lalu kenapa kamu takut Andrean jijik padamu? Kenapa kamu takut Andrean kecewa karena kamu disentuh pria lain? Dia ‘kan tidak berhasil mendapatkan apa yang dia mau,”
“Tapi tetap saja aku sudah disentuh oleh dia, Auris,”
“Ya sudah, itu bukan keinginan kamu. Kalau ada kejadian serupa terjadi lagi padamu, ingat ya Angel, kamu harus segera menceritakannya pada Ean supaya apa? Supaya Ean tau, kamu dilecehkan, supaya Ean bisa mencari pelakunya dan tidak akan ada lagi kesalahpahaman seperti ini. Ean tadi kaget ‘kan?” Tanya Auraitella apda Andrean yang langsung menganggukkan kepalanya.
“Dan apa kamu salah paham setelah melihat foto-foto itu?”
“Tentu lah, Auris. Aku suaminya, dan ketika aku mepihat foto-foto istriku mesra dengan lelaki lain tanpa oenjelasan aku pasti langsung salah paham,”
“Nah kamu dengar sendiri, Angel,”
Angel menganggukkan kepalanya. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk belajar dari kesalahan. Ia sudah salah kali ini karena tidak jujur pada Andrean sedari awal, sebelum foto ini dikirim.
“Jujur sebenarnya ini yang mau aku tanyakan tadi, Sayang,” ujar Andrean yang langsung membuat Angel terkejut. Jadi hal penting inilah yang akan sitanya oleh Andrean baik-baik. Ia semakin mencintai lelaki di depannya ini. Karena Andrean masih bisa mengendalikan dirinya, masih bisa mengatur emosinya padahal Angel tahu sangat sulit disaat Andrean sedang menanti-nantikan penjelasannya setelah melihat foto mesranya.
“Intinya kamu harus cerita semuanya ya, Angel. Jangan ragu, Andrean itu suamimu,”
“Iya, Auris,”
“Seandainya kejadian ini terulang lagi, kamu tidak boleh menutupi. Kalau bisa cerita juga padaku, supaya aku tidak salah paham lagi. Tiba-tiba dibuat kaget melihat foto mesra kamu dnegan yang lain; sementara aku tau betul kakakku begitu mencintai kamu. Bagaimana aku tidak emosi kalau langsung disuguhkan dengan foto-foto kamu dengan lelaki brengsek itu,”
“Iya, Auris. Aku benar-benar minta maaf sudah membuat kamu jadi marah,”
“Aku marah karena merasa dikecewakan. Aku tau sebesar apa cinta yang Andreqn berikan untukmu, dan setelah melihat foto-foto ini aku jadi merasa ikut dikhianati juga. Karena apa yang Andrean rasakan, pasti akan adik-adiknya rasakan juga. Dia bahagai, aku dam Ia akan ikut bahagia, dia hancur, dia kecewa, maka aku dan Ian pun merasakan hal yang sama,”
“Tapi kamu percaya padaku ‘kan sekarang?”
Auristella menatap Angel lalu tersenyum. Ia menganggukkan kepalanya, dan merengkuh Angel dengan hangat.
“Aku juga minta maaf sudah marah padamu, Angel. Tapi kamu tau ‘kan alasan aku marah apa?”
“Iya aku tau, aku tau kamus angat menyayangi Ean. Kamu marah padaku karena kamu menganggap bahwa aku sudah kengecewakan hati Ean,”
“Aku minta maaf, dan aku mohon padamu lain kali apapun yang kamu alami jangan sungkan untuk mengatakannya pada Ean, padaku, pada semuanya supaya kesalahpahaman seperti ini tidak terjadi lagi,” lagi-lagi Auristella berpesan pada Angel tentang keterbukaan. Auristella tidak mau Angel kembali menutupi apapun yang bisa menimbulkan keselahapahaman kalau tidak disampaikan secepat mungkin.
“Ya sudah aku keluar dari akmar kalian, sekali lagi aku minta maaf padamu, Angel,” ujar Auristella sambil mengusap bahu Angel kemudian Ia menatap kakaknya dan meminta maaf juga.
“Kenapa kamu minta maaf padaku?”
“Jarena tadi aku tidak sengaja mengeluarkan nada tinggi. Dan aku juga minta maaf karena aku sudah membentak istrimu,”
“Okay aku maafkan,”
Auristella tersenyum kemudian berlalu meninggalkan sepasang suami istri di kamar mereka. Setelah Auristella pergi, Andrean langsung memeluk istrinya dan mencium kepalanya berulang kali.
“Sudah ya jangan sedih lagi. Semuanya ‘kan sudah selesai. Aku tidak salah paham lagi, dan kamu tidak ada yang ditutupi lagi, atau masih ada?” Tanya Andrean dengan senyumnya yang menenangkan Angel, tidak ada sedikitpun ekspresi yang arogan atau menghakimi ketika tadi Angel berbuat kesalahan yaitu menutupi kejadian yang menimpanya.
“Tidak ada, Ean. Aku sudah cerita tadi,”
“Okay bagus, aku senang mendnegarnya. Ingat pesan Auris tadi, dia sampai mengingatkan kamu lebih dari sekali ‘kan? Kami semua tidak ingin kamu memendam semuanya sendiri, laku kamu menyimpulkan semuanya hanya dari sisi kamu sendiri. Misalnya tadi, kamu berpikir kalau kamu cerita, maka aku akan marah dan jijik. Itu hanya kesimpulan yang datangnya dari pikiran kamu semdiri, Sayang. Padahal kenyataannya tidak akan seperti itu. Aku saat mendapat kiriman foto-foto itu mencoba untuk sabar, walaupun aku rasanya ingin marah, karena apa? Aku ingin tetap menghargai kamu sekalipun dadaku panas sekali rasanya,”
“Apa karena masalah ini, kamu jadi menghindari tatapan dengabku ya?”
“Iya, aku memyimpan marah, Sayang. Aku mau
Meluapkannya tidak bisa, aku takut nenyesal nantinya. Lagipula aku belum dengar penjelasan dari kamu. Tapi tetaps aja rasa kesal itu ada sejak aku terima foto mesra kamu dengan lelaki lain. Ini aku tunjukkan ya,”
Andrean langsung membuka pesan dari nomor tidak dikenal yang isinya adalah foto-foto Angel dengan pria asing itu.
“Astaga, sesaat setelah kejadian, foto ini langsung dikirim ke kamu, Ean. Aku tau bagamana perasaan kamu. Pasti kamu marah, kamu kecewa padaku karena mengira aku berkhianat. Aku minta maaf ya,”
“Iya, Sayang. Sudahlah jangan dibahas lagi. Aku sudah memaafkan kamu. Sekarang tugasku adalah mencari siapa yang melakukan ini,”
******
__ADS_1