
“Aku mau cerita sesuatu pada kalian. Aku sudah cerita tentang ini pada Daddy dan Mommy tapi aku ingin kalian tau juga,”
Disela makan, Auristella bersiap dengan antusias untuk bercerita pada tiga teman makannya sekarang.
“Apa itu, Auris?” Tanya Angel dengan penasaran.
“Jadi, aku punya teman dekat baru,”
“Siapa namanya? Laki-laki?”
“Wah langsung ya kedua kakakku ini bertanya tentang jenis kelamin,” sindir Auristella ketika Andrean dan Adrian bertanya siapakah teman barunya itu? Dan langsung pada intinya, yaitu tentang jenis kelamin.
“Ya wajar, kami ingin tau teman baru itu laki-laki atau perempuan,”
“Laki-laki. Namanya Revano. Dia baik, jadi awalnya dia chat aku melalui direct massage, lalu kenalan langsung di kantin,”
“Siapa namanya? Revano?” Andrean berhenti mengunyah makanannya dan kini menatap adik keduanya itu dengan kedua mata yang memicing. Auristella mengangguk gugup. Kalau cerita soal teman laki-laki, Ia pasti akan gugup. Karena kedua kakaknya pasti akan menginterogasi sampai mereka benar-benar puas mendapat jawaban tentang temannya itu.
“Iya Revano, Ean kenal?”
“Tidak mungkin aku kenal dengan anak kuliahan, Auris,”
“Ya barangkali saja,”
“Kenal lewat sosial media, dan sudah bertemu langsung, bagaimana penilaian kamu tentang dia? Kelihatan menyukai kamu? Mengejar kamu?”
“Hmm…penilaianku biasa saja. Dia tampan—“
“Yang aku ingin dengar bukan tentang rupanya. Tapi bagaimana dia bersikap, bagaimana gerak gerik dia di hadapan kamu? Kamu ‘kan pasti bisa punya perasaan kalau dia ingin mendekatimu karena suka dan berharap sijadikan pacar, atau hanya ingin sekedar berteman,” ujar Andrean yang langsung membuat Auristella terkekeh. Bisa-bisanya Ia membahas tentang rupa di depan Andrean. Padahal Andrean ataupun Adrian tidak pernah mau tahu juga bagaimana rupa teman laki-lakinya. Yang biasnaya mereka tanyakan adalah bagaimana dia bersikap, gerak-geriknya ingin menjadi teman atau lebih dari itu. Intinya bukan rupa yang penting bagi Andrean dan Adrian, mereka ingin tahu teman laki-laki adik mereka sosoknya seperti apa.
“Ya menurut aku, kalau sudah chat di instagram begitu, pasti niatnya lebih dari teman sih,”
“Dia bilang, sudah tau aku dari mulut ke mulut. Dia beda jurusan denganku,”
“Nah, artinya dia sidah tau kamu itu siapa. Lalu dia penasaran, dan dia temukan kamu di sosial media. Dia basa basi dulu di situ sambil mengumpulkan nyali lalu setelahnya barulah menghampiri kamu di kantin,”
Andrean menganggukkan kepalanya setuju dengan pemikiran Adrian. Tahu Angel dari mulut ke mulut, mungkin karena tahu Angel itu perempuan yang bukan biasa-biasa saja, dan itu membuatnya penasaran, lalu didekati dulu lewat sosial media, sebelum akhirnya memberanikan diri mendekati secara langsung.
“Duh, aku jadi ikut gugup. Apdahal bukan aku yang lagi di interogasi,” ujar Angel yang tak paham apa-apa di sini, hanya menjadi pendengar yang haik tapi melihat penjagaan Andrean dan Adrian kepada adik permepuan mereka satu-satunya, langsung membuat Angel kagum, sekaligus gugup karena terlihat sekali dua lelaki itu ingin benar-benar tahu soal Revano yang padahal dikenalkan Auristella sebagai teman. Angel tidak bisa bayangkan kalau nanti Auristella izin punya suami. Pasti benar-benar dicari tahu oleh kedua kakaknya.
“Jangan heran, Angel. Memang mereka begitu, kamu bayangkan jadi aku ya. Sudah punya Daddy yang posesif, aku punya dua kakak pun sama saja posesifnya. Uh tidak enak jadi anak perempuan satu-satunya dan jadi anak terakhir,”
“Mereka sangat menyayangi kamu, Auris. Aku harap, kamu bersyukur dengan itu, karena tidak semua anak perempuan bisa seperti kamu,” ujar Angel seraya tersenyum dan menggenggam tangan Auristella yang berada di atas meja dan kebetulan mereka duduk berhadapan.
“Aku tau bagaimana rasanya. Kesal ada karena merasa terlalu dikekang, gugup ada, tapi Daddy, Ean, dan Ian hanya ingin menjaga kamu dengan baik dan memastikan kamu punya teman lawan jenis yang baik juga. Teman kamu saja berusaha disaring dengan baik, apalagi pasangan kamu nantinya. Karena bisa dibilang Revano itu berani, dia tiba-tiba chat kamu, mendatangi kamu di kantin, jadi wajar kalau Ean dan Ian ingin tau soal dia. Karena memang itu sudah menjadi tanda-tanda kalau Revano mau mendekati kamu lebih dari sekedar teman,”
Adrian menjentikkan jarinya mendengar ucapan Angel yang sedang berusaha memberi pemahaman untuk Auristella.
“Angel benar, tujuannya untuk kebaikan kamu, Ris,”
“Iya aku mengerti, dan aku tidak kesal, hanya gugup saja kalau sudah diinterogasi soal teman laki-laki. Tapi terkadang kesal juga sih sebenarnya. Karena aku liat teman-teman aku bebas saja mau dekat dengan siapapun laki-laki ataupun perempuan, mau kemana saja sampai lagi juga tidak masalah, kalau aku ‘kan berkebalikan dari itu,”
“Karena sekarang masalah pertemanan memang harus benar-benar disaring, Auris. Apalagi, kamu ‘kan anak yang cantik, keluarganya pun tak main-main, jadi pertemanan, percintaan kamu pasti sangat dipentingkan. Kamu itu princessnya Mommy, Daddy, Ean, dan Ian. Kalau aku jadi kamu, aku justru sangat senang karena dengan posesifnya mereka terhadap aku, pertemanan dan percintaan sangat dicari tau, itu tandanya mereka sangat menyayangi aku,”
“Ya kamu benar. Justru harusnya aku bersyukur. Karena ada beberapa teman aku yang malah orangtuanya, kakak dan adiknya tidak peduli padanya. Dia dimanjakan dengan fasilitas, dimanjakan dengan uang, tapi tidak mendapat kasih sayang atau perhatian yang cukup. Tidak enaknya anak-anak yang terlahir dengan kekayaan, memang kebanyakan begitu ya? Keluarganya sibuk dengan pencapaian, tapi lupa kalau ada anak yang perlu perhatian, perlu cinta, bukan hanya tentang materi saja. Aku suka ikut sedih kalau mendengar teman-teman aku bercerita soal hampanya dia. Sememtara aku, kadang aku merasa aku ini terlalu dikekang,”
“Kalau sudah punya suami, yang mengekang kamu akan bertambah, siap-siap lah,”
“Eah, jangan menakuti Auris begitu,”
Andrean terkekeh dan mengusap bahu istrinya yang sekararang bisa memposisikan dirinya menjadi Auristella. Dengan lembut Angel memberikan pengertian untuk Airistella supaya mata dan hati Auristella lebih terbuka. Tidak menganggap bahwa perhatian keluarganya itu menjadi sesuatu yang Ia anggap terlalu mengikat sehingga Ia tidak bisa sebenas teman-temannya.
“Kamu sudah mendengar cerita dari temanmu sendiri yang kurang perhatian dari keluarganya, jadi mulai sekarang jangan merasa bahwa perhatian keluargamu itu membuat kamu terkekang ya, Ris. Kamu tetap dibebaskan apa kamu tidak sadar itu? Kamu boleh sekolah, pulang sekolah juga boleh pergi kemanapun yang kamu mau asal tidak membahayakan kamu, dan kamu harus memberitahu Daddy atau Mommy dulu, kamu boleh melakukan apa saja selagi itu positif. Dikekang itu adalah, kamu tidak diberikan kesempatan untuk melakukan semua itu, kamu tidak diberikan hak untuk merasa bahagia dengan cara kamu sendiri,”
Auristella menganggukkan kepalanya mendengar ucapan sang kakak pertama. Ia tidak mau lagi merasa menjadi anak yang kurang beruntung karena merasa tidak sebebas teman-temannya.
Karena pada kenyataannya banyak anak-anak yang mau ada di posisinya saat ini. Tidak perlu melihat jauh, di depannya sekarang saja, adalah anak perempuan yang jauh sekali dari kasih sayang dan perhatian dari seorang ayah dan juga kakak. Angel mengakui kalau Ia ingin seperti Auristella. Karena nampaknya sangat menyenangkan sekali menjadi orang yang disayang oleh ayah dan juga saudara tapi apa boleh buat. Nasib mereka berbeda. Tapi Angel tetap bersyukur dengan apapun yang sudah Ia rasakan selama hidup.
“Jadi menurutmu bagaimana tentang laki-laki itu? Apa yang kamu liat dari dia? Apa dia kelihatan mau mendekatimu lebih dari teman?”
“Entahlah, Ian. Yang aku liat dia hanya baik, mudah akrab denganku,”
“Intens bertemu kamu? Maksud aku, apa dia sering mendatangi kamu?”
“Hmm…setelah ngobrol pertama kali di kantin itu, dia memang sering menghampiri aku kalau misalnya aku di kantin, atau aku lagi menunggu di jemput,”
“Sepertinya iya, Ean,” ujar Adrian seraya menatap Andrean yang paham dan langsung mengangguk.
Auristella dan Angel bingung. Apa sebenarnya yang dibicarakan oleh Andrean dan Adrian? Tanpa banyak kata, mereka berdua sepertinya sudah saling memahami.
“Kalin telepati ya?” Tanya Auristella dengan ekspresi aajahnya yang polos.
__ADS_1
“Hanya kami saja yang tau,”
“Maksudnya bagaimaja? Benar kalau laki-laki itu menyukai Auris ya, Ean?”
Angel menyentuh lengan suaminya. Ia penasaran dengan kesimpulan yang Andrean bisa ambil dari cerita-cerita singkat Auristella tentang lelaki bernama Revano itu.
“Kamu pikir saja, dia sudah tau Auris dari orang lain, lalu dia menghubungi Auris lebih dulu di sosial media, setelahnya dia menghampiri Auris di kantin untuk pertama kalinya. Karena sudah kenal, sudah bisa dibilang dekat, tanggapan Auris ke dia mungkin menyenangkan hati dia, jadi dia lebih intens menemui Auris dimanapun. Kira-kira kalau begitu hanya ingin jadi teman atau bagaimana? Menurut aku yang laki-laki, dia mulai menunjukkan rasa ketertarikannya pada Auris. Dan ada usaha yang dia lakukan, yaitu sering-sering menemui Auris,”
Angel menganggukkan kepalanya paham. Ternyata begitu kesimpulannya. Sekarang Angel melirik Angel yang menatapnya dengan senyum.
“Kenapa kamu senyum-senyum negitu pada Angel? Kamu minta dukungan Angel supaya bisa lebih dekat dengan Revano, dan bisa pacaran dengan dia? Hmm?” Tanya Adrian pada adiknya sambil mencubit kecil siku Auristella. Sesekali melakukan pembalasan.
Jangan cuma Auristella saja yang bisa mencubitnya.
“Ih kenapa aku dicubit sih?”
“Ya biar kamu cepat menjawab,”
“Tidak lah, aku hanya mengajak Angel tersenyum, memang tidak boleh? Ada larangannya ya?”
“Aku curiga,”
“Ian, tenang saja. Aku tidak akan mengambil langkah tanpa ada persetujuan kamu dan Ean dulu sebelumnya. Kalau menurut kalian Auris belum bisa terlalu dekat dengan Revano, aku juga akan mengatakan hal yang sama,”
Adrian memuji Angel dengan ibu jarinya. Sementara Auristella mendengus kesal. Kenapa kakak-kakaknya ini punya sifat yang nudah sekali untuk curiga kepadanya? Padahal Ia belum ada keinginan untuk dekat dengan Revano lebih dari teman.
“Ya memang siaap juga yang mau pacaran dengan Revano?”
“Kamu belum naksir dia ya? Makanya bisa bicara begitu,”
“Kalau kamu sudah naksir Adrina ya makanya sudah mulai bicara mau nikah?”
Adrian membelalakkan matanya. Sekarang kenapa jadi dia yang kena? Alih-alih menjawab pertanyaannya, Auristella malah mengoloknya.
“Bagaimana hubungan kamu dengan Adrina, Ian?”
“Ya…begitulah kurang lebih,”
“Dekati kalau memang suka,”
“Ya masalahnya, dia tipe peremluan yang tidak segamoang itu untuk didekati, Ean. Apalagi kami berdua ‘kan terbiasa bertengkar. Jsdi mungkin akan aneh ya kalau aku mendekati dia,”
“Tidak usah jauh-jauh. Aku dan Angel saja yang sudah kenal dari kecil, dekat, bisa dikatakan sudah menjadi teman, akhirnya malah menikah,”
“Adrina punya kekasih mungkin, benar begitu, Ian?”
“Yang aku tau tidak, tapi entahlah,”
“Kamu saja mendekatinya belum serius, bahkan belum tau kepastiannya dia sudah punya kekasih atau belum ya bagaimana Adrina bisa melihat keseriusan kamu kalau kamu tidak berusaha menunjukkannya?”
“Ean, dia masih malu-malu mungkin,” Auristella menjawil dagu Adrian yang langsung membuat kakak keduanya itu berdecak.
“Diam, tikus kecil. Jangan usil jadi adik,”
“Kamu sudah punya panggilan lebih banyak untuk aku ya, Ean. Sudah tikus kecil, ikan nemo, nanti apalagi? Hah? Kaki gajah? Buntut buaya?”
“Hmm menarik. Akan aku ingat untuk menjadi panggilan kamu selanjutnya,”
“Jangan aneh-aneh, Ian. Nama adikmu itu Auris. Bukan tikus kecil, bukan ikan nemo, dan lain-lain,”
“Iya, Ean tampan. Aku minta maaf. Ya habisnya dia mengejek aku. Siapa yang masih malu-malu coba? Tidak ada, aku tidak malu-malu mendekati Adrina. ‘Kan memang sudah kenal dekat,”
“Apa perlu bantuan aku? Eh tapi jangan, biar kamu menikahnya nanti-nanti saja. Kalau kamu menikah sekarang, aku akan cepat kehilangan teman bertengkarku,”
“Bisa-bisanya berharap aku nikah nanti supaya aku jadi teman bertengkarnya, Astaga ya Tuhan. Anak ini benar-benar ya,”
“Kalau kamu sudah nikah, nanti kita akan saling diam. Aku kesepian, kecuali ya, ini pengecualian. Kalau Ean sudah punya anak, bolehlah kamu segera nikah,”
“Oh jadi aku cadangan ya kalau kamu sudah punya keponakan?” Tanya Adrian dengan sinis.
“Ya tentu saja, aku akan lebih menyayangi keponakan aku,”
Andrean dan Angel tersenyum. Akan beruntung sekali anak mereka nantinya karena belum juga ada tanda-tanda akan lahir, Auristella sudah mengumumkan bahwa Ia menyayangi keponakannya nanti.
“Kalau keponakan darimu disayang juga ‘kan?”
“Ya pasti lah. Keponakan dari kamu atau dari Ean semua pasti aku sayang. Tapi—-“
Auristella mengacungkan garpu ke arah Adrian yang spontan memundurkan kepalanya karena menyeramkan ketika ada dalam bayangannya garpu itu menusuk kedua matanya.
“Kenapa sih?”
__ADS_1
“Tapi kamu belum menikah! Jadi belum waktunya kamu kasih keponakan untuk aku!”
“Ya memang, siapa juga yang mau memberikan keponakan untuk kamu sebelum menikah? Nanti lah, punya anak itu kalau sudah menikah, sudah siap,”
“Bagus!”
“Itu peringatan untuk kamu, Ian. Jangan macam-macam sebelum siap,”
“Tidak terasa makanan kita habis juga walaupun sambil bicara,” ujar Angel seraya menatap piringnya sendiri, suaminya, dan juga dua adiknya,”
“Aku mau ke kamar mandi,” ujar Ausristella setelah menyeruput air minumnya dan membersihkan sudut-sudut mulutnya menggunakan tisu.
“Ayo ke kamar mandi dengan aku,”
“Aku sendiri saja, Angel,”
“Tidak apa, aku juga ingin buang air kecil,”
Auristella akhirnya menganggukkan kepalanya. Ia dan Angel beranjak meninggalkan kursi.
Tiba di kamar mandi yang ternyata penuh tersisa satu bilik yang kosong, Angel mempersilahkan adiknya itu untuk masuk lebih dulu.
“Serius aku yang masuk sekarang?”
“Iya, aku setelah kamu,”
“Okay, terimakasih ya,”
Auristella segera memasuki bilik kamar mandi untuk buang air kecil, sementara Angel menunggu di depan cermin sambil merapikan rambutnya.
“Heh!”
Angel tersentak kaget ketika tiba-tiba ada yang menarik rambutnya dari belakang dan Angel terperangah mengetahui keberadaan kakaknya di sini.
“Kakak, kenapa bisa—arggh sakit, Kak. Kepala aku sakit,”
“Kamu mau tanya kenapa aku bisa ada di sini ya? Hmm?”
“Kak, tolong lepaskan rambutku, sakit, Kak,”
“Enaknya makan bersama suami dan adik-adiknya. Enaknya diterima dengan baik oleh mereka semua. Enaknya jadi kamu ya. Sementara aku harus kerja keras sekarang,”
“Arghh, Kak,”
Angel meringis kesakitan karena rambutnya ditarik oleh kakaknya yang entah darimana datangnya. Tiba-tiba rambutnya langsung ditarik.
“Kakak kerja?”
“Iya! Aku kerja di sini sekarang, sebagai staf kebersihan. Puas kamu?! Hah? Ayah yang memaksa aku untuk bekerja,”
“Kak, tolong lepas, jangan tarik rambutku, Kak. Aku tidak ada salah apa-apa,”
Ketika Auristella keluar dari bilik kamar mandi Auristella luar biasa kaget melihat Angel sedang berusaha melepaskan rambutnya yang ditarik oleh seorang perempuan yang tidak asing bagi Auristella.
“Itu kakaknya Angel ‘kan? Kenapa dia menyakiti Angel?” Batin Auristella sebelum akhirnya memukul tangan Gesty.
“Jangan menyakiti Angel! Apa salah dia padamu? Hah?”
“Diam! Aku tidak ada urusan dengan kamu!”
“Kamu yang diam! Mau aku usir kamu dari sini? Cepat pergi! Jangan ganggu Angel lagi,”
Auristella yang tidak bisa ramah kalau sudah melihat orang yang tega langsung mendorong Gesty supaya keluar dari area kamar mandi.
Setelah Gesty keluar, Auristella langsung mengusap kepala Angel yang kini menangis. “Ya ampun, Angel. Pasti sakit ya? Kenapa dia menyakiti kamu, Angel? Apa salah kamu? Kenapa dia bisa setega itu? Dia tidak punya hati ya menyakiti adiknya sendiri? Astaga, aku tidak habis pikir,”
Angel langsung menghapus air matanya, dan menggenggam tangan Auristella. “Auris, aku tidak apa-apa. Jangan laporkan soal ini kepada siapapun ya, aku mohon. Terutama pada Ean,”
“Angel, Ean berhak tau karena dia suamimu. Dan kakamu itu sudah keterlaluan! Aku membencinya! Aku tidak suka dengan orang yang jahat, tidak punya hati!”
“Jangan, Ean bisa membenci kakakku. Aku mohon jangan ya,”
“Ya bagaimana dia tidak membenci? Kakakmu itu memang pantas dibenci karena dia jahat!”
Auristella tidak habis pikir dengan Angel yang masih saja berusaha melindungi kakaknya,disaat dia sudah tersakiti. Benar-benar tepat di depan matanya rambut Angel ditarik sampai Angel menangis.
“Auris, aku mohon jangan ya. Aku mohon sekali padamu. Lagipula aku baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir, okay?”
“Kamu serius?”
Angel menganggukkan kepalanya. Ia tidak mau memperpanjang masalah. Ia tidak mau Andrean melakukan sesuatu kepada kakaknya, Andrean semakin membenci kakaknya. Walaupun kepalanya pening sekali tapi Ia tidak mau siapapun tahu, apalagi suaminya, bahwasannya penyebab kepalanya pening, dan penyebab air matanya turun adalah kakaknya sendiri.
__ADS_1