Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 118


__ADS_3

“Kamu tidak mau cerita sesuatu padaku? Apa yang membuat kamu kalut? Hmm?”


“Jujur aku cemburu melihatmu dengan Adrina tadi,” ujar Angel seraya terkekeh, dan aebenarnya bukan itu alasan utama kenapa pikirannya jadi kalut.


“Kamu cemburu? Angel, aku dan Adrina hanya sahabat, kamu tau itu ‘kan, Sayang?”


“Iya aku tau, dan itulah kenapa pikiranku jadi kacau sekarang. Aku cemburu, tapi sebenarnya aku tidak mau cemburu. Kamu paham ‘kan? Aku menganggap Adrina itu sahabatku juga, jadi seharunsya memang aku tidak boleh merasa cemburu hanya karena melihat kamu dan Adrina bicara berdua,”


“Astaga, Angel,”


Andrean menggusar rambutnya yang masih lumayan basah itu ke belakang. Ia tidak habis pikir bisa-bisanya sang istri punya rasa cemburu terhadap Adrina yang bahkan dari kecil sampai sekarang selalu bersamanya juga menjalin persahabatan.


“Iya aku minta maaf, Ean,”


“Sayang, cemburu itu wajar. Tapi tolong jangan lagi ya. Aku tegaskan di sini, Adrina dan aku tidak ada hubungan apa-apa, murni sebatas sahabat saja. Jadi kamu tidak perlu cemburu, okay?”


“Iya,”


“Aku hanya milik kamu. Aku suami kamu, dan aku tidak akan berpaling,”


“Terimakasih,”


“Dia bahkan cemburu padaku. Lalu kenapa dia malah mesra dengan laki-laki lain? Aku masih tidak habis pikir,” gumam Andrean di dalam hati.


“Kalu Dia benar selingkuh, tapi dia bersikap seolah cemburu seperti ini padaku, dia jahat sekali,” tambah Andrean.


“Maaf ya, seharusnya aku memang tidak pernah cemburu pada Adrina karena dia sahabatku,”


“Iya, Sayang,”

__ADS_1


Beberapa menit mereka sama-sama terdiam. Andrean mengalihkan tatapannya ke meja yang menjadi pemisah di antara Ia dan Angels aat ini, sementara Angel menatap suaminya dalam diam. Entah kenapa Ia melihat Andrean menghindari untuk saling beradu tatap dengannya.


Entah itu hanya perasaan Angel saja, atau memang begitu kenyataannya. Dan kalau memang Andrean benar menghindar untuk beradu tatap dengannya, pasti ada sebab.


“Hmm Angel,”


“Ya, Ean?”


“Aku mau tanya sesuatu padamu dan aku ingin kamu menjawab pertanyaanku ini dengan jujur ya, Sayang,”


“Okay,”


Angel memperbaiki posisi duduknya, memberitahu bahwa Ia sudah siap diberikan pertanyaan oleh suaminya itu.


“Aku dikirimi foto dan aku tidak tau siapa yang mengirimnya,”


“Foto apa?”


Angel menganggukkan kepalanya. Ia dengan sabar menunggu suaminya masuk ke dalam kamar untuk mengambil ponsel yang diletakkan di atas nakas.


Ketika Andrean akam menghampiri istrinya di balkon lagi, tiba-tiba pintu kamar diketuk. Andrean menghembuskan napas kasar.


“Ada saja halangannya ya. Apdahal aku sudah mau mendengar penjelasan Angel secepat mungkin,” batin Andrean sambil setengah hati berjalan mendekati pintu kamarnya.


“Siapa?”


“Ini aku Auris, Ean. Tolong buka pintunya sebentar,”


Andrean menekan tuas pintu dan Ia menariknya supaya terbuka. Auristella berdiri di depan pintu kamar dengan membawa satu kotak kecil yang entah apa isinya.

__ADS_1


“Angel dimana? Hmm?”


“Angel?”


“Iya, istrimu itu dimana?!”


“Astaga, kamu bisa bicara padaku dnegan pelan tidak? Kenapa nada bicaramu naik?”


Auristella berdecak pelan, lalu bergegas masuk ke dalam kamar kakaknya itu tanpa izin. Auristella sampai mendorong Andrean supaya Andrean menyingkir karena Andrean mengganggu akses masuknya.


Andrean benar-benar bingung sekarang. Ia tidak kengerti kenapa adiknya kelihatan marah, dan ingin tahu dimana keberadaan Angel.


“Angel di balkon,” jawab Andrean smabil berjalan di belakang Auristella.


“Aku sudah tau! Kamu terlambat memberitahu aku yang sudah terlanjur melihat pintu balkon terbuka,” jawab Adrina dengan ketus.


“Angel!”


Auristella tiba di balkon, dan Ia langsung meletakkan kotak yang ada di tangannya itu tepat di atas meja, di depan mata Angel yang langsung tersentak kaget dan bingung.


“Kenapa, Ris?”


Angel tidak tahu kenapa raut wajah adik dari suaminya itu tampak marah kepadanya. Bahkan rahangnya juga mengetat.


“Aku buat salah apa?” Tanya Angel dengan nada lembut seperti biasa.


Auristella langsung mengeluarkan foto-foto yang ada di dalam kotak itu dan membuat Angel maupun Andrean kompak membelalakkan mata.


“Ini apa maksudnya? Hmm? Kamu selingkuh dari kakakku?! Iya? Kalau iya, kenapa kamu tega, Angel? Dia sangat mencintai kamu, aku tau betul sebesar apa rasa cintanya untuk kamu. Kenapa kamu tega? Kalau memang kamu tidak mau lagi bersama Andrean, kamu bisa bicara baik-baik tanpa harus berkhianat seperti ini!”

__ADS_1


Auristella berteriak di hadapan Angel yang duduk, sementara Auristella berdiri di hadapan Angel.


__ADS_2