
*******
Devan sampai di rumah dan sudah menemukan Lovi yang duduk di depan televisi. Menatap layar tidak fokus.
"Bagaimana dengan Angel?"
"Aku tidak menunggu sampai prosesnya selesai. Karena khawatir dengan si kembar,"
Devan dan Lovi memasuki kamar kedua cucu mereka. Axelia rupanya bangun, Ia terduduk di tepi ranjang seraya menatap sang kakak yang masih lelap dalam tidur.
Axelia tampak melamun, lalu mengusap rambutnya dengan kasar sambil merengek.
"Kenapa sudah bangun? sekarang belum pagi, Sayang."
"Mommy dimana?"
Devan melirik Lovi yang kini tersenyum pada Axelia. Mereka mendekati Axelia yang rupanya memiliki firasat kurang nyaman. Rasa sakit yang sedang dialami Angel mungkin sampai padanya.
"Sebentar lagi adik bayi keluar dari perut Mommy,"
Mulut kecil Axelia membulat seiring dengan matanya yang juga terkejut.
"Hah?! memang sudah waktunya ya?”
Ia menatap serius kedua neneknya untuk menantikan jawaban yang jelas.
"Iya, sekarang kamu tidur. Jadi besok tidak mengantuk saat ingin bertemu dengan adik bayi,"
****
"Lion! bangun cepat! sebentar lagi kita punya adik,"
Belum ada kabar apapun dari Andrean namun Axelia sudah rusuh sendiri malam-malam seperti ini. Sampai mengganggu tidur kakaknya.
"Lion cepat bangun!"
Teriakannya sampai membuat Lovi dan Devan menegur anak itu.
Di saat kakek dan neneknya sibuk memikirkan Lovi, dan kedua anak kembar itu sibuk adu mulut karena Axelia yang membuat Axelion kesal, tiba-tiba saja telepon dari Angel masuk.
Lovi langsung mengangkatnya tanpa menunggu lama. Ini yang dinantikan sejak tadi.
"Ma, bayinya perempuan."
Devan dan Lovi menghela napas lega. Axelion dan Axelia pun otomatis terdiam. Mereka sudah mengerti apa yang dibicarakan Andrean.
Rasa bahagia tentu saja menyelimuti Lovi dan Devan yang diam-diam sangat menginginkan cucu perempuan untuk teman cucu perempuan pertamanya, Axelia . Selama kehamilan, Angel dan Andrean memang lebih memilih untuk tidak ingin tahu jenis kelamin anak mereka.
"Syukurlah, Kami senang mendengarnya."
******
Ferro datang ke ruang perawatan Angel bersama dengan beberapa rekan bisnis Andrean. Tepat di hari ke empat, Anzelia sudah diperbolehkan satu ruangan bersama Angel.
Dan rencananya esok, Angel dan Andrean sudah bisa pulang ke rumah. Kedua anak mereka di rumah sudah tak sabar bertemu dengan Anzelia.
Banyak sekali hampers sebagai buah tangan untuk Anzelia, bayi perempuan atau anak ketiga dari Angel dan Andrean yang dilahirkan dengan selamat oleh Angel.
*****
"Mommy ingin sekali mencium pipinya itu,"
Lovi menggeram gemas saat melihat cucu perempuannya melalui sambungan video. Lovi tidak pernah absen bertanya mengenai cucu dan anaknya. Karena Ia hanya bisa bertemu lovi sekali setelah anaknya itu melahirkan. Sementara untuk melihat wajah Anzelia, saat itu Ia belum merasa puas.
"Besok Mommy sudah bisa menciumnya, Mom."
Andrean yang sedang membaca sesuatu di laptopnya terdengar menyahuti. Ia menatap sebentar pada Angel seraya tersenyum. Perempuan itu merona. Andrean sangat tampan dengan kacamata yang membingkai manik hitam legam miliknya. Hidung bangirnya sangat bisa diandalkan dalam menopang frame di sela kacamata itu.
"Dimana mereka?"
"Seperti biasa, lagi bercocok tanam di taman,"
Angel menggeleng pelan. Sementara bibir Andrean berkedut karena tertawa pelan di sela kegiatannya.
"Apa yang mereka tanam?"
"Axelion menjadi Tuan tanah jadi dia tidak melakukan apapun. Hanya memastikan petaninya bekerja dengan baik. Petaninya tentu saja anak kalian yang cantik dan cerewet itu,"
*****
Devan dan Lovi membawa kedua cucunya ke tempat tinggal mereka. Baru saja menginjak lantai mansion, suara Axelia sudah memenuhi semua sudut ruangan. Sangat nyaring, Ia berteriak layaknya di ruangan yang terbuka.
"AUNTY AURIS, LIA DATANG. MAIN SEKARANG AYO!"
"Aunty di kamarnya. Pasti tidak mendengar,"
"Hei, mau kemana?" Tangan Lovi menahan gerak cepat Axelia yang sudah melangkahkan kaki untuk menaiki undakan.
"Bertemu Aunty di kamarnya,"
"Kalau lagi istirahat jangan diganggu ya,”
Axelia meletakkan tangan kanannya di pelipis, memasang sikap hormat, layaknya pada atasan.
"Siap, Grammy."
******
"Banyak sekali,"
Axelia tidak peduli. Ia tetap mengambil makanan ringan yang disukainya. Revano mengikuti anak itu dari belakang dengan dua paper bag besar berisi mainan yang tadi sudah dibayarnya.
Revano benar-benar mengajak Axelia untuk berburu makanan dan mainan yang Ia inginkan agar Axelia tidak mengganggunya dengan Auristella nanti. Rencananya Ia akan mengajak Auristella ke sebuah restoran klasik untuk menikmati makan malam. Semoga saja Axelia menepati janjinya yang mengatakan tidak akan menjadi penyebab kerusuhan.
"Tolong ambil yang itu!" titahnya seraya menunjuk cookies cokelat yang letaknya ada di rak atas.
Revano mendengus pelan. Selain menjadi dompet berjalan, Ia juga menjadi asisten Axelia. Bukan hanya karena Auristella, Revano melakukan ini karena Ia juga sayang pada Axelia dan Axelion. Mereka berdua adalah anak dari Andrean, kakak dari Auristella gadis yang Ia cintai. Revano yakin kalau Ia memiliki anak, Andrean pun akan melakukan hal yang sama. Royal dan tidak perhitungan selama yang mereka inginkan tidaklah menyalahi aturan.
"Uncle, yang itu juga."
"Lia, kenapa kamu membeli makanan yang berbahan cokelat semua? biar saja gigimu berlubang seperti digigit tikus,"
Axelia memukul lengan sahabat ayahnya itu. Ia selalu protes padahal sudah berjanji untuk menuruti.
Revano terkekeh dan mengacak pelan rambut anak kembar yang lahir setelah Axelion itu. Sangat menyenangkan bila berdekatan dengan Axelia. Sesekali Ia akan berubah menjadi menyebalkan, tapi bisa dijadikan teman juga.
"Punya Lion yang mana?"
"Ya tidak ada,"
"Hei! mana bisa seperti itu? ingat kakakmu juga,"
Revano mengernyit tidak mengerti saat Axelia terbahak. Revano mengusap tengkuknya bingung sekaligus bergumam dalam hatinya, "Andrean...Andrean... anakmu benar-benar abstrak sekali tingkahnya. Kau minta seperti apa pada Tuhan sebelum membuatnya? Astaga,”
****
Andrean memasukkan segala perlengkapan Anzelia ke dalam tasnya. Sementara Angel sedang memakaikan putrinya itu jaket sebelum mereka pulang.
Rencananya Andrean akan menjemput Axelion dan adiknya di mansion lalu setelahnya mereka akan kembali ke rumah. Namun bila anak-anaknya itu masih belum mau pulang, andrean mencoba untuk mengerti. Dan lagi Lovi mengatakan ingin membantu Angel dalam mengurus Anzelia. Mungkin sampai kondisi Angel benar-benar stabil, baru setelah itu mereka benar-benar kembali ke rumah. Menginap di mansion untuk beberapa hari ke depan sebenarnya tidak masalah. Karena sebelumnya Andrean sudah menyelesaikan pekerjaan yang memiliki deadline cepat. Sehingga tidak menumpuk dan membuat otaknya penat.
"Sudah siap?" Andrean menarik resleting tas berwarna merah muda milik Anzelia setelah memasukkan botol susu milik anaknya itu.
Angel mengangguk dan Andrean segera meraih putrinya dalam balutan tangan. Ia mengisyaratkan orang-orangnya untuk membawa semua barang milik Angel dan Anzelia.
Mereka berjalan bersisian. Andrean sangat berhati-hati dalam memperlakukan putrinya itu. Ia sudah lama tidak menggendong bayi, sehingga di awal sempat merasa kaku.
Angel tersenyum saat ada beberapa perawat yang menyapanya. Melihat angel dan andrean yang hangat seperti itu membuat siapapun merasa senang. Mungkin hanya beberapa orang yang tahu kalau mereka sudah memiliki tiga anak. Karena angel dan andrean terlihat seperti pasangan yang baru menikah.
*****
"Aku lapar,"
Angel menyandarkan kepalanya di bahu Andrean yang tengah bergurau dengan Anzelia.
"Itu ada buah. Kamu mau?"
Angel segera meraih kotak makan yang ada di dalam tasnya. Buah yang selalu dibelikan Andrean selama angel berada di rumah sakit memang belum habis hari ini.
"Jadi kita menginap dulu di mansion?"
"Terserah Axelia dan Axelion. Aku mengikuti kemauan mereka saja. Pulang ke rumah pun tidak masalah. Jadi aku punya lebih banyak waktu untuk bersama kamu,"
Angel mencibir geli mendengar kalimat itu. Devan tidak cocok lagi mengatakan hal yang manis-manis seperti itu. Telinga Angel hampir lepas mendengarnya.
"Kemarin Auristella baru berusia seminggu. Jangan aneh-aneh, Ean!"
Andrean terkekeh lalu mengecup hidung istrinya dengan gemas. Bahagia sekali berada di samping angel seperti ini. Keadaannya berbeda dari proses kelahiran si kembar dulu dimana andrean masih kesulitan untuk menerima angel walaupun kedua anaknya sudah benar-benar menempati hati andrean. Rasanya tidak sebahagia ini.
Andrean merasa hidupnya semakin lengkap. Di limpahkan kebahagiaan tiada henti. Ia menginginkan anak ketiganya seorang perempuan, ternyata Tuhan bermurah hati untuk memenuhi keinginan andrean.
Dari semua peristiwa yang datang silih berganti andrean belajar untuk lebih mendekatkan diri lagi pada penciptanya. Tuhan sangat baik padanya. Sementara Ia bukanlah manusia yang suci dan sering sekali lalai atas perintah Tuhan.
--------
"Anzel takut dengan ini tidak?"
Anzelia langsung menangis kencang saat Axelia dengan jahilnya mendekatkan binatang yang merayap di dinding pada adiknya itu.
Axelia diberi tugas oleh Angel untuk menjaga adiknya. Karena Axelion sedang mengerjakan tugas. Anak itu sangat berbeda dengan adiknya yang sekali atau dua kali mencoba sudah menyerah. Biasanya setelah itu Ia tinggal menyalin milik Axelion.
Ketika dibilang malas dan tidak bisa oleh Andrean, Anak itu akan menjawab "Lia bukan malas atau tidak bisa. Tapi itu terlalu mudah untuk Lia. Lia butuh yang sulit dan menantang. Kalau yang mudah itu bagian Lion,"
Kalau andreab biasanya hanya diam saja setelah dibalas telak oleh anaknya itu. Berbeda dengan angel yang langsung menjawab dengan tegas,"Tidak boleh mengandalkan kakak terus-menerus. Kalau kamu bisa, coba tunjukkan! jangan menjadi anak malas, Sayang. Kamu mau jadi apa nanti?"
"Kalau dari lahir sudah jadi manusia ya sampai kapanpun jadi manusia, Mom."
Huh! Angel harus apa? ingin sekali memberikan mulut kecil itu dengan cabai yang sangat pedas agar Ia jera dan tidak lagi mengeluarkan kalimat yang membuat orang lain kesal. Namun angel masih waras.
Angel yang sedang menyiapkan makanan untuk Anzelia di dapur langsung menghampiri ruang tengah dimana putrinya itu sedang menangis. Dan Ia tahu siapa penyebabnya.
"Apa yang kamu lakukan, Lia? kenapa Anzel menangis?"
"Aku tidak tahu. Jangan tanya aku, Mommy."
Angel menggeram kesal. Ia segera membawa Anzelia dalam gendongan lalu menimangnya. Ia menatap Andrean dengan pandangan memicing.
"Itu yang kamu sembunyikan di belakang apa?"
Axelia langsung gugup. Namun memasang wajah setenang mungkin agar kejahilannya tidak diketahui Angel.
"Bukan apa-apa. Axelia hanya ingin berbaris dengan rapi, jadi tangannya harus di belakang,"
Devan dan Raihan baru saja tiba setelah satu jam lebih berlari pagi di sekitar mansion. Sudah lama mereka tidak melakukan itu. Bahkan untuk melakukan gym saja Andrean tidak ada waktu. Sebelum memiliki anak, Ia sangat rajin. Sekarang bila ada waktu luang sedikit, Andrean akan menggunakannya sebaik mungkin dengan mengajak anak-anaknya bermain sampai lupa dengan tubuhnya sendiri.
"Lia, kenapa kamu pegang cicak?"
"DADDY!"
Andrean tersenyum miring sehingga Axelia benar-benar kesal. Andrean sengaja mengatakan itu agar angel tahu kelakuan anak perempuan bungsunya. Beruntung Ia sempat melihat itu saat tadi masih berada di belakang Axelia.
Begitu sampai di dekat Axelia, Devab menatap cucunya itu dengan datar. Berbeda dengan andrean yang justru kesenangan karena berhasil membuat Axelia semakin disudutkan oleh Mommy-nya sendiri dan Kakeknya.
"Pantas saja Anzel menangis. Kamu itu kenapa jahil sekali sih? kasihan adikmu,"
"Lia hanya menunjukkan ini pada Anzel, Mom. Barangkali dia juga suka sama seperti Lia,"
"Ya Tuhan, anak ini." Devan berujar dengan gemas. Ingin sekali memarahi tapi Ia tidak kuasa untuk melakukannya. Lagi pula ini belum seberapa. Tidak lebih parah dari apa yang dilakukannya semalam dimana Axelia hampir menggendong Anzel dengan lancang. bukan hanya Axelia yang dimarahi oleh Devan. Devan dan angel pun mendapat semburan lahar panas dari Devan. Andrean menganggap mereka lalai dalam menjaga Anzelia sehingga Axelia bisa melakukan sesuatu dengan bebas. Beruntung tubuh Acelia tidaj diangkat oleh kakaknya itu. Sangat bahaya bila itu sampai terjadi. Tidak bisa dibayangkan apa yang akan Axelia alami. Mengingat tujuan Axelia bukan hanya untuk menggendong tapi bisa jadi adiknya itu dijadikan robot yang bisa diperlakukan semaunya.
*****
"Daddy lupa ingatan ya?!"
"Sembarangan kalau bicara,"
"Lalu kenapa lupa menjemput Lia?! sudah ditunggu lama, malah tidak datang-datang,"
Andrean bahkan baru sampai di mansion, dan Axelia langsung menyerangnya. Benar dugaannya tadi. Ia akan diserang dengan Axelia secara membabi buta.
Beruntung Devan belum sampai. Sehingga Devan tidak diejeknya seperti tadi saat Devan mengunjungi kantornya dan mengatakan kalau kedua anaknya sudah sampai di rumah tanpa Ia yang menjemput.
"Beruntung ada Uncle yang baik hati,"
Andrean mendengus saat anaknya memuji orang lain. Ia tahu betul siapa yang dimaksud anaknya itu.
Andrean segera menghampiri istrinya yang tengah memberi susu dalam botol untuk putri mereka. Sejak kemarin Axelia harus mengonsumsi susu formula karena susu dari angel tidak mencukupi.
"Makannya lahap sekali anak Daddy yang cantik ini,"
Axelia merasa diacuhkan. Sehingga dengan kesal Ia menghampiri Andrean lalu menarik jas Daddy-nya itu.
"Daddy, Lia sedang kesal ini. Kenapa malah tidak didengarkan?!"
"Kalau mau marah silahkan. Daddy dengarkan,"
Axelia baru ingat sesuatu. Sehingga Ia menghembuskan napasnya, sabar. Ia hanya bisa menunjukkan rasa kesalnya melalui raut wajah. Tidak bisa berkutik.
"Tidak jadi marah. Karena sebentar lagi hari libur, takutnya Daddy tidak mau ajak Lia jalan-jalan,"
Angel dan suaminya terkekeh mendengar itu. Janji Andrean untuk jalan-jalan atau bermain, dan minum es krim memang akan selalu melekat di otak Axelia. Anak itu tidak mungkin lupa.
Andrean menarik Axelia untuk duduk di pangkuannya setelah Ia bersandar di sofa. Posisinya berdampingan dengan angel.
__ADS_1
"Lion, tidak menyambut Daddy?"
Merasa namanya dipanggil, Axelion langsung menghampiri Andrean, meninggalkan kegiatan menggambarnya. Ia menerima pelukan lelaki yang sangat berarti dalam hidupnya itu.
"Kamu tidak menyapaku?" Angel menoleh dan tersenyum pada andrean. Suaminya terkekeh pelan lalu mengusap kepalanya dengan lembut.
"Aku menyapa kamu kalau sudah di kamar saja,"
Angek segera memukul paha suaminya yang baru saja mengerlingkan matanya. Ia melirik Axelia dan Axelion yang memasang raut aneh menatap kedua orangtuanya.
Axelia memiting telinga Andrean. Tidak kencang namun berhasil membuat Andrean kesal.
"Tidak boleh kedip mata seperti itu pada Mommy! menjijikan tahu tidak?"
---------
"Tidak sakit?"
"Tidak, aku kuat."
Axelia bertanya dan duduk di samping kakaknya yang saat ini sedang berbaring di ruang khusus untuk siswa yang sedang sakit.
Axelion baru saja jatuh saat bermain sepak bola dengan teman-temannya. Ini bukan pertama kali terjadi. Bagi Axelion terjatuh dalam sebuah permainan adalah hal biasa. Ia justru senang karena nilai perjuangannya lebih terasa.
"Tapi ini yang paling parah,"
"Biasa saja," jawab Axelion acuh saat adiknya berkomentar seraya memperhatikan lutut nya yang sudah dibalut perban oleh guru. Axelia sengaja menemani kakaknya di sini setelah meminta izin tidak mengikuti pelajaran dari guru yang sedang memberi materi di kelasnya.
Saat Miss Acha menawarkan diri untuk mendampingi mereka berdua, Axelion menolak tegas.
"Ada Lia yang menjaganya di sini. Miss Acha tidak perlu khawatir," Kalimat bermakna sebuah permintaan agar gurunya pergi. Tak hanya meminta pergi, anak itu jugameminta Acha untuk menghubungi Andrean dan menyampaikan kondisi kakaknya saat ini.
*****
Hari ini angel sudah berani membawa putrinya keluar. Ia akan belanja kebutuhan Anzelia bersama dengan kedua Mamanya.
Setelah itu, rencana mereka adalah menjemput Axelia dan kakaknya. Andrean sudah menyetujui hal itu. Sehingga Ia bisa tenang bekerja di kantornya tanpa memotong waktu kerja untuk menjemput kedua anaknya.
"Kenapa Axelia sudah tidak ingin minum susu lagi, Mom?"
"Iyalah? Mommy baru tahu,"
"Sudah hampir seminggu dia seperti itu. Katanya dia sudah besar, jadi tidak perlu susu lagi,"
"Tapi tetap kamu buatkan?"
Angel mengangguk. Bahkan setelah membuat susu, biasanya Ia juga memaksa Axelia untuk meminumnya walaupun akan ada perdebatan karena anaknya itu sulit diberi tahu.
Kalau berat badannya tidak menurun, angel tidak begitu mempermasalahkan. Tetapi walaupun bobot tubuhnya berkurang, semangat anak itu tidak pernah surut.
Beruntung angel sudah membiasakan anak-anaknya untuk mengonsumsi makanan yang penuh nutrisi. Sekalipun Axelia tidak meminum susu, tubuhnya tetap kuat untuk berkegiatan.
Anzelia menunjuk makanan manis kesukaan kakaknya. Ia menatap angel dengan raut memohon yang sangat menggemaskan.
"Anzel, belum bisa makan itu," ujar angel dengan lembut.
Lovi tengah memilih sayur, daging, serta bahan makanan pokok yang lain. Sementara angel langsung membawa putrinya untuk mencari susu bayi. Agar Anzelia tidak lagi melihat marshmellow dan teman-temannya yang lain.
Padahal hanya melewati sekilas. Tetapi mata anzelia cepat sekali melihatnya. Benar-benar seperti kakaknya. Sekalipun tengah mengantuk, mata Axelia akan terang benderang bila melihat makanan sejenis itu.
Angel memasuki beberapa kotak susu ke dalam troli. Anzelia menjelajahi matanya ke segala penjuru. Ini pertama kalinya Ia keluar bahkan merasakan yang namanya berbelanja. Terasa aneh sekaligus menyenangkan untuknya.
Ia belum bisa berjalan namun saat melihat anak perempuan berjalan mendekatinya, anzelia sangat ingin turun dari gendongan hingga membuat Mommy-nya itu kebingungan.
Setelah angel menyadari kalau anzelia sangat sumringah saat ini dan itu membuat Angel tersenyum.
*****
Acha tidak benar-benar menuruti keinginan Axelia. Entah Ia memang khawatir dengan muridnya. Acha memutuskan untuk menghubungi Andrean setelah Ia keluar dari ruangan yang ditempati Axelia.
Tidak sampai tiga puluh menit Andrean berhasil tiba di sekolah kedua anaknya. Ia tidak peduli lagi dengan pekerjaan dan kesepakatannya bersama Angel. Mendengar anaknya terluka, Ia tidak bisa berpikir jernih lagi.
"Terima kasih sudah mengatakan ini padaku,"
Andreab langsung keluar dari sekolah setelah membawa Axelion dalam gendongannya dan Axelia mengikuti dari belakang.
Melihat perbannya Andrean tidak tega membiarkan Axelion berjalan sendiri. Tidak peduli anak itu memberontak karena malu. Yang terpenting Andrean bisa memastikan kondisi anaknya baik-baik saja.
"Sudah dibilang kalau luka ini tidak sakit sama sekali. Jadi Daddy tidak perlu khawatir, apa Daddy dengar?”
Andrean tidak menanggapi bentuk protes Axelion. Ia langsung melajukan mobilnya agar segera sampai di mansion lalu bertanya pada angel mengenai alasan keterlambatannya dalam menjemput kedua anak kembar itu. Bukankah seharusnya mereka sudah pulang sedari tadi?
"Kapan pulangnya?"
"Hampir dua puluh menit yang lalu, Dad. Belum terlalu lama," jawab Axelia yang membuat Andrean menghembuskan napas. Terlambat dua puluh menit sangat menjadi masalah untuk Andrean. Ia lupa pernah terlambat menjemput mereka lebih dari satu jam.
"Kemana Mommy kalian? lama sekali belum menjemput," gumamnya. Ketika lampu lalu lintas menghentikan laju mobilnya, andrean menggunakan kesempatan itu untuk menghubungi angel yang katanya akan belanja bersama Lovi.
"Ya namanya perempuan pasti lama kalau belanja. Daddy seperti tidak mengenal wanita saja,"
Axelion mengangguk setuju dengan adiknya. Tidak bisa disalahkan juga. Karena seharusnya andrean tahu kebiasaan yang sering dilakukan oleh kebanyakan perempuan.
"Tapi Mommy tidak terlalu lama kalau belanja. Dia tidak seperti Grammy Lovi, asal kalian tahu."
Dengan bangga Ia menunjukkan bahwa sudah sejauh itu Ia mengenal Angel. Seiring dengan datangnya berbagai kendala dalam rumah tangga, angel dan andrean bisa lebih mengenal satu sama lain walaupun pernikahan mereka terbilang masih singkat. Belum menginjak puluhan tahun seperti halnya Devan dan Lovi.
"Ya sudah tidak usah dipermasalahkan. Kemarin Daddy terlambat menjemput juga. Ingat tidak?! dua puluh menit belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan keterlambatan Daddy kemarin!"
---------
Sampai di rumah, pemandangan yang didapati andrean semakin membuatnya kesal. Perkara angel yang terlambat menjemput saja sudah berhasil membuat rasa kesal hadir. Sekarang auristella malah mencari masalah dengannya. Gadis itu pulang bersama Revano. Entah darimana mereka.
"Sudah merajut kasihnya?" sindir Andrean pada sepasang manusia itu. Auristella sedang mengobrol dengan Revano di living room. Seolah waktu yang mereka habiskan sebelumnya masih kurang.
******
“Mommy pergi?”
"Ya, dan belum datang, Nona. Tadi pergi bersama Nyonya Lovi,"
Auristella menghela napas pelan. Padahal Ia ingin mencurahkan isi hatinya pada Lovi. Auristella ingin mommy nya tahu bahwa sampai saat ini Auristella masih kesulitan untuk mengendalikan perasaannya terhadap Revano. Tidak peduli apa reaksi lovi nanti, yang jelas auristella hanya ingin Mamanya itu juga jujur pada devan. Ia dan Revano semakin dekat, Ia semakin nyaman dengan Revano tapi Ia ingat perkataan Devan yang berharap Ia tak memikirkan cinta dulu, hanya saja sulit sekali.
******
"Belanja membutuhkan waktu berapa lama, Angel?" belum juga Angel tenang, andrean keluar dari kamar mandi dan langsung melempar kalimat bermakna sindiran.
Angel meletakkan Anzelia di dalam boksnya. Dia tertidur dan sebaiknya memang seperti itu. Agar angwl bisa berbicara sebentar dengan suaminya. Setelah itu barulah waktunya anzelia untuk berganti pakaian.
"Lion terluka. Kamu tahu?"
"Iya, aku tahu. Maaf aku terlambat menjemput mereka,"
Angel mengikuti lelaki itu ke walk in closet. Suasana hati Andrean belum baik. Angel bisa tahu dari tatapan jengkelnya.
"Kamu tidak mengatakan apapun padaku saat di telepon tadi. Aku kira kalian semua sudah di rumah," ujar Andrean menyampaikan alasan Ia kesal. Ia dan Angel kurang komunikasi.
"Itu di perjalanan menuju sekolah mereka,"
"Dan aku ada di kantor. Kenapa aku yang lebih cepat sampai?"
Angel menghembuskan napas untuk menggantikan luapan kesalnya.
"Tadi aku bincang-bincang dulu dengan Grace, perempuan yang pernah dekat denganmu itu, Ean?”
Angel pikir sekalian saja Ia membuat suaminya geram. Ia penasaran dengan reaksi Andrean setelah mendengar alasan keterlambatan Angel menjemput mereka karena Grace.
"Apa?! untuk apa lagi kamu berbicara dengan dia, Angel? Ya Tuhan, aku tidak habis pikir dengan istriku,”
Andrean berbalik setelah mengenakan celananya. Ia bertolak pinggang seraya mendekati Angel yang kini menahan senyum.
"Menyerahkan kamu. Aku sudah bosan,"
Setelah mengatakan itu angel berbalik. Namun tangannya dicekal oleh andrean yang memaki. Entah mengapa angel rindu dengan makian suaminya yang tidak pernah lagi Ia dengar.
"Jahat sekali kamu, Sayang!”
Angel tersenyum miring menunggu kalimat lanjutan dari suaminya.
"Apa yang kamu katakan, sayang? kamu bosan denganku lalu menyerahkan aku dengan dia? yang benar saja? memang aku barang?”
"Bosan dengan gaya bercintamu,"
Andrean mengernyit dalam. Rahangnya mengeras, masih belum mengerti dengan kalimat Istrinya.
"Sayanh--"
Angel menepuk lembut kedua wajah suaminya yang tampan. Ia terkekeh setelah Ia mengerling.
Andrean mendengus saat mengerti. Ia segera menahan langkah angel yang ingin melarikan diri lagi. Andrean tidak akan membiarkan perempuan itu lolos setelah membuatnya emosi.
Andrean membawa istrinya dalam gendongan. Angel berontak di atas bahu suaminya. Punggung Andrean di pukulnya agar Ia dilepaskan.
"Berhubung Anzel sedang tidur, dan kedua anak kembar kita lagi mandi, aku akan menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin. Kamu berhasil mengusik ketenangan seekor singa, Angel. Saatnya balas dendam!" bisik Andrean penuh gairah di telinga sang istri.
Angel berbaring pasrah di bawahnya. Andrean bukan laki-laki pemaksa. Bila memang angel tidak menginginkannya maka Ia tidak akan melakukan itu. Andrean mengerti bahwa rumah tangga bukan hanya tentang hubungan di atas ranjang seperti pemikiran sebagian orang. Kehangatan bisa diperolehnya dari hal-hal lain yang membahagiakan dalam sebuah pernikahan.
Prinsip andrean sebelum bertemu dengan Angel, mungkin tidak akan ada pernikahan karena Ia ingin fokus dengan dunianya sendiri. Mengenal gadis itu, lalu mengetahui semua hal-hal dalam dirinya membuat Angel menginginkan perubahan di hidupnya. Setelah mengenal Lovi, bukan hanya prinsip yang berubah. Pola pikir pun demikian. Sekarang Angel tahu seberapa pentingnya cinta dalam kehidupan seseorang.
Sudah seminggu lebih Angel tidak membantunya dalam melepas hasrat karena periode datang bulannya dan Andrean merasa biasa saja.
Mengakhiri kegiatannya, lelaki itu mengecup bahu polos Angel. Ia menatap perempuan di bawahnya dengan penuh kelembutan.
"Sudah? aku mau menggantikan baju Auris. Kalau dia tidak merajuk, aku mau memandikannya,"
Andrean mengangkat alisnya lalu menampilkan raut menyebalkan. "Kenapa bertanya sudah? kamu memberi aku kode agar aku tahu kalau ini semua masih kurang?"
Angel membalikkan posisi sekuat tenaga setelah Ia memukul dada suaminya. Angel seperti memegang kendali saat ini dan Andrean suka dengan posisinya.
"Kamu sudah siap membuat aku terbang untuk yang kesekian kalinya, Angel. Cepat lakukan!"
Andrean menggerakkan bagian bawah tubuhnya untuk memancing perempuan itu agar melakukan sesuatu.
Sebelum Angel protes, lelaki itu ******* bibir angel dengan cepat. Andrean berusaha untuk menyulut gairah angel secara pelan agar sang istri mau memberinya kepuasan tanpa dia yang terlihat sangat meminta. Andrean bosan menjadi pihak yang menyedihkan, sementara angel selalu tampil dengan gaya arogannya seolah Ia tidak begitu menginginkan hal yang sama dengan suaminya, kepuasan.
"Lima kali pelepasan lagi baru aku lepaskan kamu,"
"Andrean, tidak!"
"Baiklah, empat saja kalau begitu,"
"Gila kamu! aku tidak mau!"
lucu sekali mereka. Bercinta tetapi sambil berbincang. Topiknya pun menggelikan. Bergerak, berusaha meraih puncak diselingi dengan perbincangan memang terasa berbeda.
Andrean mengeluarkan ekspresi andalannya ketika sedang merayu angel. Biasanya Ia selalu bisa meluluhkan Angel. Semoga saja keberuntungan masih berpihak padanya yang sedang haus akan kepuasan itu.
"Empat, angel. itu sedikit, bahkan tidak sebanding dengan hari liburku yang sudah satu minggu lebih. Boleh ya?"
------------
"Angel, aku masih ingin lagi,"
Plakk
"Sakit, Sayang. Ya ampun kamu tega sekali denganku,"
"Kamu tidak punya otak lagi atau bagaimana? tadi katamu hanya empat. Tapi kenyataannya enam kali kamu keluar. Sekarang masih kurang lagi?! minta disembelih kamu ya?"
Andrean terbahak kencang. Sekali lagi Angwl memukul tangannya yang bergerak liar tanpa aturan. Angel menatap suaminya dengan tajam sebagai tanda peringatan.
Setelah Andrean turun dari tubuhnya, angel segera menghampiri Anzelia yang sudah melenguh dalam tidur pertanda Ia akan segera bangun.
*****
Makan siang hari ini Andreab dan Devab tidak kembali ke mansion. Mereka menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin agar esok hari dan lusa tidak lagi memikirkan itu.
Selama makan, Axelia masih saja menangis usai kakinya diobati oleh Angel. Ia menyusul kakaknya yang sebelumnya sudah terjatuh di sekolah. Ia jatuh di halaman ketika bermain. Setiap ingin di berikan obat, Axelia memang seperti itu. Merengek kesakitan padahal angel sudah mengobatinya dengan hati-hati. Luka di kaki sebelah kanannya sudah mulai membaik. Sudah dua hari Axelia mendapatkan luka tersebut dan selama dua hari itu pula angel tidak absen untuk memberikannya obat agar kondisinya tidak lagi memar dan mengeluarkan darah.
"Sakit, Mommy." Ia menangis sesenggukan di sela mengunyah makanannya.
"Karena kamu tidak bisa diam jadi darahnya keluar lagi. Harus dibersihkan kalau tidak, nanti infeksi,"
Angel tidak bisa menahan cibirannya. Ia terlalu kesal dengan sikap anaknya yang selalu tidak tahu kondisi tubuhnya sendiri. Ia bermain lagi tanpa sepengetahuan angel yang sedang menemani anzelia tidur. Selama itu Ia tidak menangis malah tertawa senang saat berhasil mengalahkan kakaknya. Ketika diobati malah menangis. Kemana tawanya yang bergema tadi? Angel gemas sekali rasanya. Ingin menelan anak nya itu bulat-bulat.
"Ini sudah sembuh,"
Angel menghentikan suapannya pada anak itu. Lalu dengan pelan Ia menarik kaki Axelia agar naik di pangkuannya.
Ia menunjuk luka basah itu pada Axelia lalu menatap tajam, "Ini yang kamu katakan sudah sembuh? luka seperti itu tidak bisa sembuh cepat,"
Axelia kembali menurunkan kakinya seraya mendengus kesal. Ia mengambil piringnya lalu makan sendiri. Gerakannya dibuat kasar karena Ia terlalu kesal.
"Jadi tidak mau Mommy suapi lagi?"
"Tidak, terima kasih. Lia bisa sendiri,"
Angel tersenyum miring sambil menggelengkan kepalanya heran. Benar-benar anak Andrean. Bila sudah marah sikapnya terkadang mampu mengundang geli.
*****
"Ya Tuhan, apa yang kamu lakukan Anzel?"
__ADS_1
Seruan angel membuat suasana kian riuh. Suara Axelia yang berteriak begitu serasi dengan angel sementara tawa Anzelia sangat tidak kontras.
Anzelia sedang memeluk boneka seraya berbaring dan Axelia berdiri di sampingnya. Ia akan melempar boneka kedua ke arah luka Axelia namun angel buru-buru mencegahnya.
"Kamu kenapa tidak menyingkir?"
Axelia mendengus kesal. Nasibnya sekarang berbeda dengan yang dulu. Ia sudah menjadi kakak sehingga bila ada masalah sekecil apapun pasti dilimpahkan ke dirinya. Berbeda dengan dulu dimana Axelion lah yang lebih dewasa dan harus bisa mengalah sementara Ia bisa senang hati bila sudah dibela oleh kedua orangtuanya.
Tadi Ia membantu Anzelia untuk mengambil boneka. Tapi niat baiknya itu justru dibalas dengan kejam oleh adiknya. Lagi-lagi lukanya disentuh. Tadi oleh angel yang mengobati. Sebenarnya anzelia bukan lagi menyentuh, Ia sudah menyakiti.
"Auris, usiamu bahkan belum satu tahun tapi kenapa sudah berbuat ulah, Sayang?"
Angel menjauhkan boneka-boneka dari jangkauan Anzelia. Anak perempuannya itu langsung merengek. Karena tidak ada lagi mainan dan kakaknya juga sudah pergi menjauh.
"Aku yang di salahi. Enak sekali jadi Anzel," Ia tak henti mencibir. Ketika masuk ke dalam kamar, Axelion menoleh padanya.
Axelion membanting tubuh di sebelah sang kakak yang sedang melukis di atas ranjang. Axelion kembali fokus pada kegiatannya.
"Kenapa?"
Axelion bertanya tanpa menoleh.
"Diam! aku kesal,"
Axelion kembali menoleh saat pertanyaannya ditanggapi dengan tidak santai. Ada apa dengan adiknya ini?
"Dimarahi Mommy?" tebakannya pasti benar karena tadi axelion mendengar nama Auristella dibawa-bawa oleh axelia. Mungkin axelia melakukan sesuatu lagi pada adiknya sehingga membuat angel geram.
"Berhenti jadi orang jahil, lia. Kamu tidak bosan dimarahi terus?"
"Siapa yang jahil?!"
"Kamu, siapa lagi?"
"Lihat lukaku! Anzel melemparinya dengan boneka. Dia yang jahil. Bukan aku!"
----------
Pulang sekolah, Axelia dan Axelion dijemput oleh andrean tapi setelahnya andrean kembali lagi bekerja.
"Serry, ini warna apa?"
Ia bertanya pada pengasuh yang sedang menyuapi Anzelia. Ia menunjukkan sebuah buku berisi gambar-gambar binatang dan tumbuhan yang dipenuhi berbagai warna.
"Hijau," Serry terkekeh setelah sengaja mengucapkan jawaban yang salah. Ia ingin tahu sampai dimana kemampuan Axelia. Biarkan Axelia yang menjawab.
"Salah, ini warna cokelat. Sama dengan yang aku makan ini warnanya," Ia memperlihatkan cokelat besar yang sedang dinikmatinya.
Anzelia merengek dan menjulurkan tangannya ke arah Axelia.
"Sejak kapan ranting pohon warnanya hijau," gumamnya yang mengundang tawa Serry. Kali ini Ia yang mengajukan pertanyaan seraya menunjuk gambar bunga.
"Ini warna apa?"
"Merah,"
"Nama bunganya apa?"
"Hmmm..." Axelia tampak berpikir seraya mengetuk dagunya pelan.
"Seingatku namanya Mawar. Tapi entahlah. Aku baru belajar sedikit tentang nama-nama tanaman, Serry. Tanaman dan hewan sangat banyak,"
"Benar, namanya bunga mawar,"
"Huh! Ya!” Anzel sudah bisa memanggil dengan artikulasi yang sedikit jelas. Yang Ia sebut hanya panggilan di akhir saja.
"Apa, Zel?"
Anzelia menunjuk makanan yang sedang digigit oleh kakaknya. Mulut anak perempuan itu maju sangat berharap Axelia menyuapinya cokelat.
"Tidak boleh, Anzel makan bubur saja. Ini punya Lia,"
"Lia, kalau mau makan cokelat jangan di dekat Anzel,"
"Tidak, Serry. Ini jauh. Anzel matanya terlalu tajam sampai melihat ke arah aku,"
Ia masih bisa menyalahkan adiknya. Padahal jelas-jelas jarak mereka tidaklah jauh, hanya sekitar lima meter. Jelas saja Anzel bisa melihat kakaknya yang jahil itu.
"Adrian, makan apa itu? cokelat?"
"Iya, Mom." Axelia menyambut Mommynya yang baru selesai masak dengan senyum lebar.
"Mom, anzel mau cokelat."
"Tidak boleh,"
"Anzel, kata Mommy tidak boleh makan cokelat,"
"Kamu juga tidak boleh makan banyak-banyak,"
Axelia langsung mengeluarkan raut merajuknya. Walaupun sebenarnya sudah terlambat angel mengatakan itu. Karena sudah lebih dari setengah cokelat dimakan oleh Axelia hanya dalam waktu hitungan menit.
"Anzel, bonekamu saja yang boleh makan cokelat. Jadi dia yang mewakilkan kamu ya?"
Axelia melihat boneka berwarna merah muda sedang duduk di sampingnya tepatnya di ujung sofa. Ia segera mengambil boneka tersebut lalu disuapinya cokelat itu ke mulut boneka.
Anzelia berteriak marah karena dua hal. Yang pertama, kenapa harus bonekanya yang diberikan cokelat sementara Ia tidak? yang kedua, bonekanya jadi kotor karena Axelia!
"Lia, bisa berhenti menggoda adikmu?"
"Tidak, Mom. Lia sedang melakukan kebaikan. Kita sebagai manusia harus selalu berbagi tapi berhubung Anzel tidak boleh makan cokelat, jadi aku beri bonekanya saja,"
"Ck! anak ini benar-benar," Angel sampai mengusap dadanya berusaha sabar. Ia akan meraih cokelat Anzelia namun secepat kilat anak itu menyembunyikan di balik punggungnya.
"Mom, ini cokelat Lia."
"Katanya harus berbagi? kenapa kamu tidak mau memberi cokelat itu untuk Mommy?"
Axelia diam dengan mata mengerjap bingung mencari alasan. Ia menggeleng kuat-kuat saat tangan Lovi berada di depan wajahnya, meminta cokelat.
"Mommy, tidak boleh makan punya anak, Nanti dosa. Lagipula orang tua tidak boleh makan cokelat nanti giginya sakit,"
"Hey, kata siapa dosa?"
Dan apa katanya tadi? Ia tua?
"Kata Axelia. Mommy tidak dengar Axelia mengatakannya tadi?"
"HAAAAAA!" teriakan Anzelia memutus perdebatan Mommy dan anak keduanya itu. Angel menoleh pada anaknya yang sudah menatap sendu ke arahnya dengan wajah memerah.
Ia menggeleng pada Serry, mengisyaratkan untuk berhenti menyuapi Anzelia. Anak itu tengah merajuk karena tidak diberi cokelat dan angel malah sibuk berdebat dengan Axelia, bukannya cepat-cepat memberi Ia cokelat.
"Kalau sakit gigi, jangan merengek pada Mommy,"
"Tidak akan sakit gigi. Ini makanan kesukaan anzel,"
Anhel menghela bahunya seraya mengatakan, "Ya, semoga cokelatnya tidak jahat padamu yang pelit itu,"
"Tidak, lia baik jadi tidak ada yang akan menyakiti,"
"Cuci boneka anzel sampai bersih. Itu hukuman untukmu,"
"NO, MOMMY! LIA TIDAK MAU,"
Angel meraup wajahnya anaknya dengan gemas lalu berbalik tidak memedulikan Axelia yang sedang merengek menolak hukumannya.
Angel mendekati Anzelia untuk digantikan bajunya, lalu dibawa tidur siang agar melupakan perkara cokelat. Mata anak perempuannya juga terlihat sudah berat.
"Berani berbuat maka harus berani juga bertanggung jawab apa lagi kamu laki-laki. Cuci boneka Anzel sampai bersih!"
"Momm--"
Angel meletakkan satu telunjuknya di depan bibir, "Sstt! tidak ada penolakan. Lakukan saja."
Axelia melonjak-lonjak kesal dan tidak terima saat angel meninggalkannya bersama Anzelia dalam gendongan usai memberi hukuman itu.
Serry menahan tawa saat melihat Adrian. Benar-benar aneh tingkahnya. Ia sudah menjahili Anzelian bertubi-tubi tapi ketika diberi pelajaran oleh Mommy-nya malah tidak terima seperti ini.
"Serry, caranya mencuci bagaimana?"Serry menepuk dahinya, "Astaga." ujarnya keheranan.
"Aku tidak pernah melihat orang mencuci,"
Serry mengusap daun telinganya yang tidak gatal. Ia bergumam untuk berpikir. "Nanti dibantu mau?"
"Mau-mau,"
Sebenarnya wajar karena selama ini axelia memang tidak pernah melihat pekerja atau Lovi mencuci pakaian yang kotor. Paling yang biasa Ia lihat adalah orang yang sedang mencuci piring.
"Sebenarnya caranya tidak jauh berbeda dengan mencuci piring. Kamu hanya perlu menyikatnya,"
"Dengan sikat cuci piring?"
"Bukan,"
"Nanti aku masukkan saja lah ke dalam mesin cuci biar aku tidak lelah,"
Tawa Serry pecah sesaat. Lucu melihat ekspresi Axelia yang belum apa-apa sudah terlihat hampir menyerah.
"Tidak boleh. Nanti Serry katakan pada Mommy,"
"Errggh Serry. Kamu bukan temanku lagi!"
---------
Andrean sampai di mansion dan Ia langsung terkejut saat melihat anaknya keluar dari ruang mencuci dengan pakaian yang basah.
Di belakangnya ada Serry, sehingga Andrean meminta penjelasan dari pengasuh anaknya itu.
"Axelia dihukum oleh Nona, Tuan, karena mengganggu adiknya lagi. Axelia mengotori boneka Nona kecil Anzel dengan cokelat jadi Nona Angel menyuruhnya untuk mencuci boneka itu,"
"Ya, Tuhan, Axelia... Axelia. Kenapa kamu tidak pernah jera? Daddy dan Mommy yang lelah, kamu tetap saja selalu buat ulah,"
Axelia berlari ke sofa karena kesal lalu menenggelamkan kepalanya di sana. Ia berteriak untuk meluapkan perasaannya.
Andrean menggeleng setelah mengisyaratkan Serry untuk pergi. Andrean menatap anaknya sekali, lalu memutuskan untuk membiarkannya. Ia naik ke lantai atas untuk memasuki kamar.
Anzelia tengah menemani Axelion belajar. Ia berusaha menggangu Axelion namun Axelion tetap fokus. Paha Axelion ditepuk-tepuknya, lalu Ia menarik ujung kaus yang dipakai Axelion juga.
"Zel, jangan ganggu kakakmu!" Andrean memperingati lalu membawa putrinya ke dalam gendongan. Ia menimang-nimang Amzelia ke segala arah hingga anak itu terkekeh geli. Andrean juga mengusap dagunya yang ditumbuhi bulu-bulu halus di wajah anzelia yang langsung merengek tidak ingin.
"Iya-iya. Maafkan, Daddy."
Andrean mencari istrinya di toilet dan angel tidak ada. Rupanya Ia sedang berada di walk in closet mengenakan pakaian lalu menyisir rambutnya.
"Angel, lain kali kalau lion sedang belajar, jangan minta Ia untuk menjaga anzel,"
Angel menoleh untuk menatap Suaminya yang berjalan mendekat. "Aku tidak menyuruhnya, Ean. Lipn yang menginginkan itu, dia membiarkan aku mandi dan anzel juga tidak mau dengan perawatnya tadi,"
Andrean mengangguk paham. Lalu keluar dari ruangan besar itu bersama anzelia yang masih dalam gendongannya.
"Kita lihat kakakmu yang kedua sedang merajuk,"
"Hey, mandi dulu. Mau dibawa kemana Anzel?"
Andrean menghentikan langkahnya lalu tersenyum meringis. Ia segera menyerahkan anzelian pada angel lalu berjalan memasuki kamar mandi.
"Lion, tadi anzel mengganggumu belajar?"
"Tidak, Mom. Ia malah membantuku agar tidak mengantuk saat belajar,"
Angel terkekeh geli mendengarnya. Ia mengusap kepala axelion yang memang terlihat mengantuk padahal belum memasuki waktu malam hari.
****
"Daddy, bantu Axelion buat video menyanyi ya?"
"Okay, Prince."
Andrean segera meraih kamera yang tergantung di tempatnya lalu mulai mengatur posisi. Axelion berlatih sebentar sebelum mulai.
Anzelia dan angel memperhatikan. Andrean baru selesai mandi dan anaknya langsung meminta bantuan sebelum Ia makan. Tidak apa, andrean senang bisa menjadi salah satu orang yang mendukung semua kegiatan anaknya selagi itu positif.
Axelion memiliki tugas kesenian dimana Ia harus bernyanyi satu lagu tanpa melihat lirik. Setelahnya Ia juga harus memainkan alat musik. Axelion memilih piano kecil.
Tugas Axelion sudah hampir selesai sementara adiknya masih merajuk karena masalah tadi siang dimana Ia harus mendapat hukuman. Ketika dihampiri oleh angel, Ia malah enggan untuk berbicara padahal biasanya sangat hobi mengeluarkan kalimat sekalipun tidak penting.
Hanya berbicara ketika ditanya saja. Setelah itu, Ia lebih intens berkomunikasi dengan kakek dan kedua neneknya.
Sedari tadi juga Ia belum masuk ke kamar orangtuanya. Mungkin sedang bermain bersama Devab atau mengganggu kakeknya itu bekerja.
"Sudah bagus, Sayang. Coba lihat hasilnya," andrean mengisyaratkan anaknya untuk mendekat, melihat hasil videonya. Angel dan anzelia pun tidak ingin kalah.
Anzelia tiba-tiba bertepuk tangan riang ketika melihat kakaknya yang tampan itu bernyanyi walaupun dengan ekspresi yang terbilang aneh, mungkin karena tidak terbiasa berada di depan kamera dan bernyanyi seperti itu.
"Thank you, Daddy."
"You're welcome,"
Andrean mengecup pipi sang anak lalu minta balasan. "Hebat, Lion. Bagus juga suaramu. Ya, Zel?" Anzel mengangguk cepat. Ia tersenyum lebar pada Axelion sampai matanya menyipit.
------
__ADS_1