Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 124


__ADS_3

“Auris, mau kemana kamu?”


“Ada tugas dan aku ingin mengerjakannya bersama temanku, Dad. Bisa kah? Aku akan pulang tepat waktu,”


“Daddy antar dan Daddy tunggu sampai selesai,”


Auristella membuka mulutnya terperangah mendnegar ucapan Devan. Dan ketika Ia akan protes, Devan langsung menatapnya dengan tegas seraya tersenyum tipis.


“Tidak ada bantahan. Tapi tenang, Daddy tidak menjadi mata-mata, Daddy tunggu di restoran atau kafe yang barangkali ada di dekat rumah temanmu, bagaimana?”


“Ya ampun, Dad. Kenapa Daddy harus mengikuti aku terus?“


“Karena Daddy ingin, itu jawaban yang simple,”


“Dad, aku ‘kan sudah dewasa, untuk apa sih diikuti terus?”


Devan mengangkat salah satu alisnya. Auristella seriuskah bertanya seperti itu? Bukankah sudah sering Ia katakan bahwa Ia adalah tipe ayah yang sangat ingin tahu anaknya dimana, melakukan apa, dengan siapa, semua itu tujuannya cuma satu. Devan ingin memastikan anaknya baik-baik saja, anaknya dalam situasi yang aman. Tidak hanya pada Auristella saja sebenarnya. Tapi pada kedua kakak laki-laki Auristella juga seperti itu. Hanya saja, penjagaannya memang tidak seketat pada Auristella mengingat mereka berdua adalah laki-laki, dan lebih dewasa juga dari Auristella. Ada saatnya ketika Devan benar-benar percaya pada Adrian dan Andrean, Devan akan sedikit melonggarkan penjagaannya. Tapi untuk Auristella yang perempuan, dan anak terakhir, nampaknya sampai dia menikah barulah penjagaan Devan akan sedikit longgar.


Bukan apa-apa, semua manusia di bumi ini juga tahu perempuan lebih rentan disakiti orang lain, jadi Devan sebagai ayah yang baik ingin anaknya selalu aman.


“Sudah, ikuti saja apa mau Daddymu, Auris. Lagipula hanya diantar setelah itu Daddy pergi,” ujar Lovi.


“Dan tidak akan jauh, Daddy pastikan itu,”


Auristella merengut kesal. Tapi Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Daddynya sudah punya aturan sendiri, dan Ia bukan tipe anak yang membangkang, hanya protes saja tapi kalau protesnya tidak diterima, maka Ia akan patuh.


“Ya sudah, aku pergi dulu, Mommy,”


“Ya, Sayang. Semangat mengerjakan tugasnya ya. Mommy bantu doalan dari rumah,”


Auristella menganggukkan kepalanya setelah pelukannya dengan sang Mommy berakhir. Setelah itu Ia berjalan lebih dulu, di belakangnya Devan menahan tawa bersama Lovi.


“Kamu menyebalkan ya,”


“Menyebalkan darimana, Lov? Aku hanya ingin menjaga anakku. Dia anak perempuan satu-satunya dan aku tidak akan tenang kalau membiarkan dia pergi sendirian, mengingat ini juga sudah malam,”


“Ya sudah hati-hati. Teruslah jadi Daddy yang posesif, semoga anakmu tidak ada pikiran untuk kabur ya,”


Devan berdecak dan menatap istrinya dengan jengah. “Jangan bicara begitu, takutnya jadi doa,”


“Tidak-tidak, Auris tidak akan kabur. Ya sudah cepatlah susul anak cantik kita itu, nanti dia badmood karena kamu lama,”

__ADS_1


“Aku hanya ingin menjaganya dengan baik, tapi aku merasa bahwa sejauh ini aku masih wajar. Aku bebaskan dia berteman bahkan dengan lawan jenis sekalipun asal wajar! Aku bebaskan dia mau pergi kemanapun tapi dengan penjagaan, aku masih memikirkan kenyamanan, aku masih memikirkan hak dia sebagai anak, Lo. Kamu tenang saja,”


“Iya, Sayang. Terimakasih ya sudah menjaga anak kita dengan baik. Tapi Auris itu depertinya ingin sesekali kalau dia pergi malam kamu tidak ikut,”


“Susah, Lov. Aku tidak akan bisa tenang,”


Auristella yang semula sudah hampir masuk ke dalam mobil akhirnya masuk lagi ke dalam rumah karena Ia tidak melihat Daddy nya berjalan di belakangnya. Ternyata sedang bicara dengan Lovi, mommy nya.


“Dad, ayo kita pergi. Apa yang dibicarakan Mommy sama Daddy? Kalau masih lama lebih baik aku pergi sendiri—“


“Oh tidak, Sayang,”


Devan berjalan mendekati anaknya dan langsung merangkul bahu sang anak dengan hangat sambil tersenyum.


“Ayo kita pergi,”


“Aku pikir Daddy berubah pikiran,”


“Tidak mungkin,”


“Nanti sepulangnya aku dari rumah teman, kita ke bar untuk party, apa boleh, Dad?”


Auristella mengangkat salah satu alisnya melihat reaksi sang ayah yang nampak kaget. Devan tidak menyangka anaknya akan punya permintaan seperti itu.


“Astaga, jangan aneh-aneh, Auris,”


“Aneh darimana, Dad? Aku ‘kan sudah dewasa, sudah kuliah, lagipula ditemani Daddy, memang tidak boleh ya? Ian saja boleh, Daddy juga dulu waktu muda pasti dibolehkan, kenapa aku tidak?”


“Karena—“


“Karena apa?”


“Masuk mobil dulu, tadi kamu sudah mau cepat-cepat berangkat,”


Devan segera membukakan pintu mobil dan mempersilahkan anak perempuan satu-satunya itu masuk ke dalam mobil.


Setelah itu Devan menyusul. Tak lupa Ia mengingatkan putrinya untuk memasang seatbelt.


“Cepat katakan, Daddy. Apa aku tidak boleh ke bar? Alasannya apa? Karena apa?”


“Karena—“

__ADS_1


“Iya karena apa?”


Auristella tidak sabaran mendengar jawaban dari Devan yang bimbang menjawab atau tidak perlu. Ia tidak menyangka kalau akan tiba di waktu sekarang. Dimana Auristella mulai menunjukkan proses pendewasaannya, mulai tertarik dengan dunia yang digemari oleh sebagian orang dewasa, yaitu mencari kesenangan di bar.


“Karena Daddy belum siap saja,”


“Kenapa Dady yang belum siap? Aku yang mau ke sana,”


“Iya Daddy tau, Sayang. Tapi Daddy belum siap, ternyata kamu sudah dewasa ya? Daddy sedih, jujur,”


“Dad, kalau aku menjadi kekasihnya Revano bagaimana?”


“Huh? Kamu menjadi kekasih Revano? Yang benar saja kamu, Ris,”


Devan terkejut sekali mendengar perkataan anaknya yang tiba-tiba jadi membahas Revano. Ini Ia anggap sebagai tanda-tanda hubungan antara Auristella dengan Revano sudah lebih dari teman.


“Apa kamu dan Revano mau lebih dari teman? Maksud Daddy, kalian saling menyukai satu sama lain dan sudah mengungkapkan perasaan masing-masing kah?”


“Hmm, lebih tepatnya Revano, Dad. Kalau aku—“


“Kamu masih ragu? Tinggal tunggu waktu yang tepat ya? Sebenarnya kamu juga punya perasaan yangs ama dnegannya hanya saja kamu maish ragu. Benar begitu ‘kan?”


“Karena aku sering sekali diberi pesan oleh Daddy dan Mommy untuk tidak memiliki kekasihnya dulu, tidak memikirkan percintaan dulu. Sebenarnya, aku memiliki perasaan untuk Revano, Dad, aku tidak tahu apa itu namanya. Tapi yang jelas aku nyaman bersamanya, aku mengaguminya, dan kalau dia dekat dengan yang lain—-aku akan kesal. Apa itu namanya, Dad?”


“Wow ternyata putri Daddy sudah mulai terang-terangan ya,”


“Apa aku salah, Dad?”


“Tidak, Sayang. Hanya saja menurut Daddy waktunya kurang tepat. Di dunia ini tidak ada yang namanya salah mencintai,”


“Apa yang dia katakan padamu?” Tanya Devan yang penasaran seperti apa pernyataan Revano tentang perasaannya.


“Dia berkata bahwa dia menyukaiku, Dad. Dan dia—bahkan dia ingin aku menjadi kekasihnya. Jujur aku terkejut sekali mendengar itu karena selama ini aku pikir dia hanya menganggap aku sebagai temannya saja,”


“Kamu sendiri menganggapnya teman?”


“Ya, tapi sejujurnya aku memiliki perasaan lebih dari sekedar teman,”


Devan menghembuskan napas kasar. Ternyata anaknya sudah benar-benar dewasa, tak sungkan lagi mengungkapkan perasaannya, bahkan sudah bisa merasakan cemburu.


“Hmm baiklah, Daddy harus terima bahwa princess Daddy tidak menganggap Daddy satu-satunya lagi,”

__ADS_1


__ADS_2