
Angel terpaksa membuka mata saat ponsel di nakas bergetar kemudian Ia bangkit untuk duduk.
Ia melihat sekilas sosok yang menelponnya dini hari begini. Rupanya sang kakak yang menelponnya.
"Ada apa, Kak?"
"Aku minta uang!"
"Hah?"
Angel terkesiap. Mata yang sebelumnya sangat mengantuk langsung berubah menjadi terang.
"Kak, aku tidak bisa memberimu uang se-sering dulu,"
"AKU TIDAK PEDULI! SEKARANG AKU BUTUH UANG,"
"Ya Tuhan, Kak..."
Angel menatap cemas suaminya. Ia khawatir Andrean terbangun karena mendengar pembicaraannya bersama Gesty. Akhirnya Angel memutuskan untuk melangkah menuju balkon kamar Andrean untuk melanjutkan pembicaraan dengan Gesty.
"Aku minta maaf, Kak. Aku tidak ada uang,"
"ANGEL! SIALAN KAMU!"
"CEPAT BERIKAN AKU UANG! AKU BUTUH UANG! ANGEL! ANGEL!"
Angel terpaksa menutup panggilan karena merasa terganggu dengan suara kakaknya yang berteriak.
Untuk kali ini Ia tidak bisa memenuhi permintaan kakaknya. Darimana Ia punya uang sementara semuanya sudah habis bahkan sebelum pernikahannya digelar. Ayah dan kakaknya kompak menghabiskan uang Angel karena mereka pikir tidak lama lagi Angel menjadi pendamping hidup Andrean yang banyak uang.
Suara berdehem dari arah belakang nya membuat Angel terlonjak kaget. Ia tersenyum pada Andrean yang rupanya mengetahui keberadaannya di balkon kamar.
Angel menyembunyikan ponsel di belakang tubuhnya. "Kamu sedang apa di sini?"
"Hmmm hanya mencari udara segar, Andrean,"
"Angin malam tidak baik untuk kesehatan. Apalagi sekarang mulai musim semi,"
__ADS_1
"Iya, aku masuk sekarang,"
******
"Maaf, Tuan. Aku hanya bisa memberikan kartu identitas diriku saja. Tapi aku janji akan bertanggung jawab,"
"Aku tunggu tanggung jawabmu!"
"Ba--ba--baik, Tuan,"
Lelaki yang tidak sengaja mobilnya dirusak oleh Lionel bergegas kembali ke mobilnya.
Gesty menangis dan terduduk di lantai. Ia tak henti memaki Lionel dalam hati. Lionel yang berbuat kesalahan, tapi Ia yang dituntut untuk bertanggung jawab.
"LIONEL SIALAN!" Ia berteriak marah. Kemudian melangkah cepat ke mobil Lionel.
Ia mengambil clutch di kursi samping kemudi dimana Lionel duduk memperhatikannya sejak tadi dari kaca depan mobil.
"Mau kemana?"
"Bukan urusan kamu!"
Sangat brengsek Lionel. Tidak hanya Lionel yang membuatnya marah. Angel pun demikian. Bisa-bisanya Ia mengatakan tidak ada uang sementara sekarang statusnya adalah seorang istri Andrean.
Apa dia tidak bisa meminta uang pada suaminya untuk dirinya? Padahal Gesty yakin Andrean pasti akan memberikannya secara cuma-cuma pada Angel.
*******
Seperti pagi-pagi sebelumnya, Angel bangun tepat waktu. Bahkan sekalipun Ia sempat dibangunkan oleh Gesty pukul dua dini hari tadi, tapi pukul empat Ia sudah bangun lagi.
Ia memasak tapi kali ini ada maid yang membantunya. Lovi yang biasanya tidak mempermasalahkan jam berapa maidnya bangun, maka semenjak mendapati Angel yang memasak sarapan, Lovi langsung meminta tolong pada maid agar paling tidak ada satu atau dua orang yang bangun lebih pagi dari biasanya agar bisa membantu Angel memasak.
Lovi sudah meminta Angel untuk berhenti memasak namun Angel tidak bisa menuruti ucapan Lovi karena Ia memang benar-benar suka dengan kegiatannya itu.
Usai memasak, Ia bergegas untuk meletakkan baju-bajunya dan Andrean yang kotor ke dalam mesin pencuci. Barulah setelahnya Ia mandi sambil menunggu suaminya bangun.
Tepat pukul enam pagi Andrean membuka matanya. Ia melihat Angel yang tengah membersihkan nakas. Angel merasa bosan menunggu Andrean bangun akhirnya Ia melakukan itu.
__ADS_1
"Selamat pagi, Andrean,"
Setelah menikah, baru kali ini Angel menyapanya seperti itu di pagi hari. Sama halnya dengan Andrean yang mencoba untuk tidak terlalu dingin pada istrinya, Angel pun mulai belajar untuk bersikap biasa saja, tidak terlalu kikuk jika ada Andrean.
"Lekas mandi setelah itu sarapan,"
"Aku akan joging. Mau ikut?"
"Hmm..."
Angel menatap suaminya ragu. Ia sudah mandi. Haruskah Ia ikut berkeringat lagi?
"Aku sudah mandi,"
Andrean mengangguk sekilas, tak ada niat memaksa. Ia akan melangkah menuju kamar mandi namun panggilan istrinya membuat Ia mengurungkan niat.
"Aku tidak bekerja di restoran lagi. Menurutmu bagaimana?"
Andrean berbalik dan sudut bibirnya terangkat sedikit. Rupanya Angel mengambil keputusan yang memang sesuai dengan keinginannya juga.
"Aku senang mendengarnya. Kamu sudah puas bekerja selama ini,"
Angel tersenyum mengangguk. Ia akan fokus pada pendidikannya dan juga pernikahan mereka.
"Tapi, kalau sewaktu-waktu aku ingin bekerja lagi. Kamu keberatan tidak?"
"Tergantung,"
Angel mendekati suaminya. Mereka berdiri berhadapan. Andrean mengalihkan pandangannya yang sempat bertemu dengan Angel. Sorot lembut milik gadis itu benar-benar membuatnya hilang akal pagi ini. Ia salah tingkah sendiri! Sialan!
Ia jarang sekali dekat dengan perempuan. Mungkin ini yang membuat reaksi tubuhnya berlebihan tatkala ada Angel di sisinya.
"Tergantung alasan kamu apa,"
"Hmm begitu. Sebenarnya aku sempat bimbang, Andrean. Aku merasa masih punya tanggung jawab terhadap ayah dan kakak, tapi aku ingat bahwa sekarang---"
"Mereka bukan tanggung jawabmu. Lagipula, apa selama ini masih kurang?"
__ADS_1
Andrean tak habis pikir dengan Angel yang masih saja merasa bahwa ayah dan kakaknya adalah anak baginya yang harus dihidupi dengan layak. Padahal seharusnya mereka yang melakukan itu pada Angel.