
Dua keluarga yang sudah lama kenal itu masih berkumpul di sebuah meja panjang besar, menikmati makanan masing-masing diselingi dengan obrolan-obrolan kecil sehingga suasana malam yang seharusnya sunyi dan dingin karena udara, berubah menjadi hangat dan tentunya menyenangkan.
"Adrian cari perempuan seperti apa? Kalau boleh Aunty bertanya,"
Adrian berdehem sebentar. Ia mendorong suapan terakhir di mulutnya dengan air minum sebelum menjawab.
"Yang seperti Angel," ujarnya dengan ringan seraya melirik Angel.
Angel dengan cepat melirik ke arah adik suaminya itu. Sementara Andrean menatap adiknya dengan pandangan seperti biasa. Datar dan dingin. Namun saat ini ada sorot tajam yang menghunus. Tapi sayangnya, Adrian tak menyadari itu.
"Oh yang pandai menjadi istri ya?"
"Iya, yang cantik, pintar mengurus suami,"
Dua kali Adrian memuji Angel cantik secara terang-terangan. Tadi di rumah, di hadapan Auristella dan juga Lovi. Sekarang di hadapan mereka semua yang terlibat dinner bersama. Adrian memang frontal seperti biasanya dan seharusnya Andrean tak kaget lagi dengan kebiasaan adiknya yang satu itu.
Tapi entah mengapa Ia merasa tidak nyaman ketika Adrian memuji Angel sebegitu nya sampai-sampai ingin mencari yang seperti Angel meskipun Ia akui istrinya memang pantas dijadikan tolak ukur dalam mencari sosok istri.
"Bagaimana dengan penampilan atau semacamnya?"
"Aunty, aku ini 'kan tampan. Jelas saja serasi dengan wanita yang cantik. Kalau masalah penampilan, terserah dia saja, Aunty. Yang namanya wanita cantik pasti akan berusaha berpenampilan yang baik untuk mempertahankan kecantikannya tentu dengan gayanya masing-masing. Dia percaya diri dengan penampilannya dan dia merasa nyaman, maka aku senang," jawab lelaki itu dengan santai.
Omong kosong kalau Adrian berkata bahwa Ia tidak perlu wanita cantik. Karena pada dasarnya setiap manusia berjenis kelamin laki-laki akan mencari perempuan yang seperti itu.
Paras juga yang menjadi kesan pertama. Akan hadir rasa ketertarikan untuk menentukan apakah harus lanjut untuk mencari tahu kemudian mengajak serius atau berhenti sampai di pertemuan pertama saja.
Bila merasa tertarik dengan paras yang menurutnya cantik (persepsi setiap orang mengenai 'cantik' itu berbeda-beda), maka ada ketertarikan juga untuk tahu tentang sifat, sikap, kebiasaan, dan hal-hal lain tentang si pemilik paras cantik itu.
"Jadi yang penting cantik dulu ya? Cantik parasnya, cantik penampilannya. Karena kamu tampan,"
"Oh iya jelas, Aunty," sahut Adrian dengan gaya khasnya yang pongah. Sheva hanya bisa terkekeh melihat sikap anak kedua Lovi itu.
"Setelah cantik, barulah nilai yang lainnya," ujarnya seraya tertawa.
"Heh kalau kamu bertemu dengan perempuan cantik lalu kamu jadikan dia pasangan mu, tapi ternyata sifatnya buruk. Tanggapan kamu bagaimana? Tetap kamu jadikan pasangan?"
"Ya makanya sebelum menjadi pasangan, dicari tahu dulu secara keseluruhan hal-hal yang ada di dalam dirinya. Barulah ambil keputusan. Sudahlah, anak kecil tidak usah ikut-ikutan,"
Auristella ancang-ancang ingin melempar garpu. Untungnya itu hanya niat saja, tidak sampai Ia lakukan.
"Aku sudah dewasa ya!"
Sejak tadi mulutnya gatal ingin ikut dalam pembahasan sang kakak dan juga Mommy nya Adrina. Tapi tadi Ia masih makan.
"Seperti Andrean saat menikahi Angel. Biarpun dia dijodohkan tentu saja dia tidak menolak. Sebab Andrean sudah tahu bagaimana Angel. Parasnya, sifatnya, dan semua tentang Angel. Karena mereka sudah lama kenal," ujar Adrian seraya menatap sang kakak dengan senyum miring khasnya dan juga kedua alis yang dinaik turunkan.
Lagi-lagi Angel dibawa dalam pembahasan. Kali ini bahkan Andrean juga diikut sertakan. Sengaja Adrian melakukannya agar Auristella paham bagaimana tahapan seseorang sebelum benar-benar siap untuk menikah. Tentu saja Ia tak sebodoh itu hanya menilai dari paras dan penampilan. Sifat dan sikap juga penting bagi Adrian.
"Kamu dan Adrina juga sudah lama kenal ya. Kalau seandainya Mommy mau kalian menikah, kamu tidak keberatan juga 'kan seperti Andrean?"
Adrian menatap Mommy yang tersenyum lebar ke arahnya. Alis Lovi naik turun, berusaha membuat Adrian yang terdiam bisa segera menjawab pertanyaan nya.
"Ah Mommy,"
"Benar kata Mommy kamu, Adrian. Kamu 'kan juga sudah tahu bagaimana Adrina,"
"Ck, Mommy,"
__ADS_1
Sama seperti Adrian, Adrina pun mepakukan hal serupa yaitu protes dengan Mommy mereka masing-masing.
Apa memang jodoh mereka hanya berporos pada circle persahabatan saja?
*****
Andrean mendudukkan tubuhnya di sofa kamar begitu mereka sampai. Usai makan malam dan berbincang dengan Adrina dan kedua orangtuanya, mereka bergegas pulang karena hari juga semakin malam. Tak terasa mereka menghabiskan waktu hampir tiga jam di taman rumah Adrina.
Angel menyusul suaminya masuk. Ia mengunci pintu kemudian mengambil air minum. Ia menawarkan Andrean yang dibalas gelengan oleh suaminya itu.
Angel hanya sekedar membasahi kerongkongan nya saja. Setelah itu bergegas mengganti bajunya dengan pakaian tidur.
Saat Ia akan melepas zipper dress nya, Andrean masuk ke dalam walk in closet hingga Ia terkejut dan tidak jadi membuka dress nya.
"Kamu ingin mengambil baju?"
Andrean mengangguk. Sebelum Ia yang meraih baju dari almarinya, Angel sudah lebih dulu melakukannya. Angel segera mengulurkan stelan pajamas pada suaminya itu seraya mengatakan "Aku keluar,"
Ia tidak mungkin 'kan tetap di ruangan itu saat suaminya akan melepas pakaian?
"Kenapa kamu tidak jadi mengganti baju?"
Angel yang sudah mencapai pintu, langsung menghentikan langkah kemudian berbalik menatap suaminya.
"Kamu dulu, baru setelah itu aku,"
Angel cepat-cepat keluar. Jujur saja pertanyaan Andrean membuatnya gugup. Ia rasa jawaban singkatnya tadi adalah yang paling tepat. Lebih baik suaminya dulu karena Andrean terlihat sudah mengantuk. Sementara dirinya bisa belakangan.
Tanpa mengatakan alasan yang lebih rinci, Angel keluar meninggalkan suaminya yang merasa bingung dengan istrinya. Ia tahu Angel terkejut dan langsung merasa tidak nyaman saat Ia masuk ke walk in closet sampai mengurungkan niatnya untuk mengganti baju.
"Kenapa dia harus malu? Aku juga bukan lelaki yang berotak kotor hanya karena melihat perempuan ganti baju," gumam lelaki itu merasa geli dengan tingkah istrinya. Entah apa yang Ia lakukan di luar walk in closet itu sembari menunggu Andrean selesai, Andrean tidak tahu.
Sesekali Andrean mengerjai istrinya. Ia terbilang jarang atau bahkan hampir tidak pernah jahil seperti ini pada orang lain, berbeda dengan kembarannya. Tapi entah mengapa Angel membuatnya tertarik untuk mengeluarkan sisi jahilnya.
"Andrean, masih lama kah?"
Andrean tak mampu menahan senyumnya saat Angel bertanya dengan suara pelan, Ia bisa mendengar dari suaranya yang begitu dekat. Andrean yakin sang istri ada di balik pintu.
"Andrean,"
"Hmm..."
Andrean hanya bergumam. Angel menghela napas lega saat mendapat jawaban.
"Masih lama ya?"
"Masuk saja kalau sudah tidak sabar menunggu,"
Biasanya Andrean tidak lama bila berganti baju. Kenapa malam ini malah sebaliknya? Dan kenapa juga harus sekarang Andrean lama mengganti bajunya? Tidak bisakah besok saja di saat Ia sedang tidak lelah dan mengantuk?
"Aku ambil bajuku sebentar boleh?"
Mungkin di kamar mandi lebih baik, pikir Angel. Ia segera bergegas masuk saat Andrean lagi-lagi berdehem menanggapi pertanyaan nya.
"Itu kamu sudah selesai berganti baju. Kenapa belum keluar?"
Angel bingung mendapati suaminya sudah berpakaian pajamas yang tadi Ia ambilkan tapi belum juga keluar dari walk in closet mereka.
__ADS_1
"Aku masih mau di sini,"
Angel mengerjap, suaminya aneh. Tidak biasanya Andrean menghabiskan waktu di ruang khusus wardrobe mereka.
"Untuk apa di sini? Lebih baik istirahat,"
"Kurang kerjaan," lanjut Angel dalam hati.
"Aku nyaman di sini. Kamu tidak merasa nyaman juga?"
Angel menarik lipatan pakaian tidurnya dari baris paling atas di almari yang dikhususkan untuknya.
"Kenapa harus ke kamar mandi?" Lanjut Andrean kembali bertanya.
"Ya--ya-- aku malu," jawab Angel terbata dan hal itu membuat perut Andrean tergelitik ingin tertawa. Tapi Ia menahannya. Menikmati wajah merah padam Angel lebih menyenangkan daripada Ia tertawa lalu Angel bisa dipastikan keluar dengan wajah kesalnya karena merasa dikerjai oleh sang suami.
"Kenapa malu?" Dengan suara berat dan datarnya Andrean lagi-lagi bertanya. Angel kesulitan bernapas.
"Andrean apa-apaan sih. Kenapa dia jadi seperti ini? Aku malu, sungguh!" Batin Angel berteriak kesal.
"Malu, Andrean,"
Ditanya alasan kenapa malu, Angel malah mengulang jawaban sebelumnya. Itu bukan jawaban yang diinginkan Andrean.
"Ya, kenapa kamu malu?"
Tak hanya Angel yang mampu mengulang, Andrean pun mengulang kalimat pertanyaan nya. Wajah Angel semakin merah padam.
Menggoda Angel ternyata se-menyenangkan ini dan Andrean tak merasa menyesal sedikitpun. Mungkin Ia akan sering menggoda istrinya yang masih saja merasa malu dengan suaminya itu.
"Kenapa? Hm?"
Andrean maju, mendekati Angel yang berdiri kaku memeluk pakaian tidurnya. Kedua ibu jari kakinya saling bertaut menandakan Ia sangat gugup.
Rongga dadanya terasa penuh dan sesak saat suaminya berdiri sangat dekat dengannya. Ia kesulitan bernapas karena rasa asing yang begitu menggebu di dada saat suaminya bersikap tak seperti biasa. Sesaknya semakin bertambah saat tak ada riang banyak untuk nya bisa meraup oksigen karena posisi Andrean benar-benar dekat dengannya.
Tangan Andrean terangkat menyentuh lengan istrinya. Ia juga sama gugupnya dengan sang istri. Andrean tidak pernah seperti ini sebelumnya.
Tapi Ia berusaha menghapus rasa gugup itu dengan terus membuat istrinya salah tingkah dan semakin gugup.
"Eee--Adrian--eh--Andrean, Aku---"
Andrean langsung menjauh mendengar Istrinya menyebut nama sang adik.
"Adrian?"
"Yang ada di hadapan mu sekarang Adrian kah?" Tanya Andrean dengan satu alis terangkat.
Angel menggeleng cepat. Ia bersumpah, lidahnya jadi belok menyebut nama Adrian karena Ia terlalu gugup. Jangan salahkan dirinya. Salahkan saja lidahnya.
"Maaf, aku salah menyebut nama. Lagipula yang aku sebut 'kan adikmu. Bukan orang lain," ujar Angel seraya tertawa meringis. Gadis itu mengusap tengkuknya, kemudian berdehem.
Andrean mengalihkan pandangan sekaligus membuang wajahnya ke samping, tak lagi membidik Angel dengan matanya.
"Aku ganti baju dulu ya,"
"Di sini,"
__ADS_1
"Hah?"
"Ya, di sini. Apa salahnya?"