Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 76


__ADS_3

“Erghm ayo kita pulang,”


Devan sengaja berdehem seraya menatap tajam ke arah tangan Revano yang sedang merangkul Auristella. Tahu kalau apa yang dilakukan olehnya mengundang perhatian Devan, Revano langsung menjauhkan tangannya dengan cepat dari bahu Auristella.


“Halo, Paman,”


Revano menyapa sambil mengulurkan tangan ingin berjabat tangan dengan Devan yang tersenyum tipis tapi kaku.


“Aku pulang dulu, Revano,”


“Okay, hati-hati,”


Auristella menganggukkan kepalanya. Devan membukakan pintu mobil mempersilahkan putri tunggalnya itu masuk ke dalam mobil. Devan mengangguk singkat ke arah Revano sebagai isyarat pamit pulang lebih dulu.


“Hati-hati,” pesan Revano pada Devan sesaat sebelum Devan masuk ke dalam mobil dan langsung melajukan mobil dengan kecepatan normal.


“Semakin akrab kalian ya kalau Daddy lihat,”


“Iya, Dad. Teman yang akrab denganku jadi bertambah,”


“Ah begitu, tapi ingat ya jangan berlebihan,”


“Iya aku selalu ingat, Daddy,”


“Masih berteman ‘kan?”


Pertanyaan yang dilontarkan oleh Devan membuat Auristella bingung. Devan tadi sudah tahu kalau Ia dan Revano semakin akrab, lalu tiba-tiba Devan bertanya apakah Ia dan Revano masih berteman? Apa akrabnya mereka itu tidak dianggap sebagai teman melainkan musuh? Auristella tidak paham.


“Masih, Daf. ‘Kan semakin akrab, kalau akrab tidak mungkin musuhan ‘kan?”


“Maksud Daddy, masih berteman saja ‘kan? Belum lebih?”


“Oh pertanyaannya begitu, jawabannya iya masih berteman, Dad,”


“Okay bagus, Daddy kira sudah lebih dari teman,”


“Tidak, aku dan Revano berteman saja sekarang, Dad. Akrab, sudah seperti sahabat bisa dibilang,”


“Jaga perasaan, jangan akrab sedikit langsung suka, langsung jatuh cinta. Takutnya kamu terbawa perasaan, lalu dia malah mengecewakan. Daddy tidak mau kamu kecewa, sedih, sakit hati. Daddy hanya ingin mengingatkan kamu supaya kamu tidak merasakan apa yang Daddy sebut barusan, Sayang,”


“Iya, Dad,”


“Apa yang kalian bicarakan kalau lagi bersama?”


“Hmm…banyak hal. Apa saja dibicarakan, aku tidak ingat,”


“Bagaimana sosok Revano menurutmu?”


“Laki-laki biasa saja, aku bingung kalau disuruh mendeskripsikan dia. Ya intinya dia baik, menyenangkan,”


“Wow sudah bisa memuji seorang laki-laki di depan Daddy rupanya,” ujar Devan seraya terkekeh dan mengacak lembut puncak kepala anak perempuannya yang duduk tepat di sebelahnya saat ini.


“Ya karena Daddy bertanya, lalu aku jawab. Itu jawaban aku apa adanya, Dad. Aku jujur,”


“Ya tidak apa-apa, memuji teman sendiri itu memang hal yang wajar,”


“Lalu kenapa Daddy bicara seperti tadi? Aku ‘kan jadi merasa bersalah,”


“Daddy hanya sedang menggoda kamu, Auris,”


“Tapi aku ‘kan sering juga memuji teman-temanku yang lain, Dad. Laki-laki atau perempuan sama saja,”


“Memuji Daddy sepertinya sudah jarang Daddy dengar ya,”


“Ya ampun, padahal setiap melihat Daddy aku selalu memuji Daddy. Ah sayangnya Daddy tidak tahu,”


“Oh ya? Daddy tidak mendengarnya,”


“Ya karena aku memuji dalam hati,”


Devan tertawa, jawaban putrinya itu menghibur dirinya yang sedang mengemudi dengan fokus. “Ya kalau begitu pantas saja Daddy tidak tau kalau kamu masih suka memuji Daddy. Entah benar atau tidak juga pujian itu ya,”


“Benar, Dad. Aku selalu katakan dalam hati wow Daddy ku tampan sekali, keren sekali, banyak uangnya,”


“Hahahaha yang terakhir pujiannya beda ya. Cukup puji Daddy tampan saja sudah cukup, Auris,”


“Tapi ‘kan Daddy memang benar banyak uang,”


“Tidak boleh bicara begitu, apa yang kita miliki sekarang asalnya bukan dari kita, jadi jangan merasa tinggi dan jangan lupakan orang-orang yang perlu bantuanmu,”

__ADS_1


“Iya, Dad,”


Sempat tak ada obrolan apapun lagi di antara ayah dan anak itu sampai kemudian Auristella punya permintaan pada Devan.


“Dad, kita jangan langsung pulang dulu ya? Jalan-jalan, terserah Daddy mau kemana,”


“Jalan-jalan? Mommy di rumah menunggu kita, Sayang. Sekalian ajak Mommy saja kalau mau,”


“Oh ya sudah, kita ke rumah jemput Mommy ya semoga saja Mommy mau,”


Setelah Auristella bicara seperti itu, tiba-tiba ada panggilan masuk di ponsel Devan. Lelaki itu langsung menghentikan mobilnya di pinggir jalan untuk menerima telepon masuk itu.


“Iya bagaimana, Nath?”


“Aku sudah tau siapa yang melakukan teror kepada anak menantumu itu,”


“Oh wow secepat itu kau tau?”


“Iya, barusan dia datang ke rumahmu ingin berbuat ulah juga cuma gagal karena istrimu. Peneror itu sudah main agresif. Yang biasanya datang untuk mengirimkan paket, ini orang suruhannya datang untuk meletakkan paketnya berupa teror itu langsung di dalam rumah. Sudah gila ‘kan?”


“Astaga, lalu apa yang terjadi?”


“Aku tidak tau pastinya bagaimana kejadian di dalam rumah. Aku hanya mengamati dari luar, intinya dia diusir oleh Lovi dan langsung pergi,”


“Dia bukan pencuri? Dia benar-benar pelaku teror itu?”


“Tidak, dia bukan pencuri. Memang benar-benar dia yang meneror. Aku dengar jelas pembicaraan Lovi dan orang itu. Nanti lebih jelasnya kamu tanyakan langsung pada Lovi, tapi yang aku liat orang yang diusir oleh Lovi itu sempat menghampiri seorang laki-laki dan mereka kelihatan bicara sebentar. Aku yakin laki-laki itulah dalangnya,”


“Okay, siapa orangnya? Kamu kenal wajahnya?”


“Aku pernah melihatnya bersama Angel, sepertinya dia ayah Angel,”


Devan membelalakkan kedua matanya. Berita mengejutkan Ia terima ketika Ia sedang berada di jalan usai menjemput putri satu-satunya itu.


“Ya sudah kalau begitu, terimakasih untuk informasinya ya, Nath,”


“Sama-sama,”


Sambungan telepon antara Devan dan Nathan berakhir. Devan pikir pelaku teror itu tak akan mengulangi kesalahannya lagi tapi ternyata kali ini malah semakin berani.


“Dad, ada apa? Kenapa Daddy kelihatan marah sekarang?”


“Astaga, okay kita pulang ke rumah sekarang, Daf. Semoga Mommy baik-baik saja,”


“Mommy yang mengusir peneror itu, dia mau masuk ke rumah,”


“Audah gila! Berani sekali dia, lagipula kenapa penjagaan di tempat tinggal kita jadi lengah?”


“Ya namanya juga manusia, Sayang. Ada lengahnya, sama seperti mesin ada kalanya tidak berfungsi,”


“Jadi Daddy mencari tau soal peneror itu ya? Bukankah Daddy bilang, Daddy akan mencari tau kalau peneror itu mengganggu lagi, tapi ‘kan dia sudah tidak mengganggu lagi, Dad,”


“Daddy tetap penasaran makanya Daddy cari tau. Ternyata bukan tidak mengganggu lagi, tapi dia sedang cari waktu yang pas mungkin,”


“Kenapa ya Ayahnya Angel sejahat itu? Dia sudah membuat anaknya sendiri merasa terancam, merasa tidak tenang. Kakaknya Angel juga pernah aku dapati menyakiti Angel, Dad. Rambut Angel pernah ditarik oleh kakaknya itu. Aku sampai terkejut sekali, dan aku sedih melihat Angel berusaha baik-baik saja padahal aku yakin hatinya tidak. Angel tidak mau aku cerita pada siapapun sebenarnya, tapi karena kita sekarang lagi membahas Angel, ayah, dan kakaknya itu, mulutku jadi gatal ingin menceritakannya pada Daddy,”


“Seharusnya kamu ceritakan itu pada Andrean supaya Andrean lebih tegas pada keluarga Angel, makdud Daddy pada ayah dan juga kakaknya itu. Cuma mereka yang Angel punya, seharusnya mereka bisa menyayangi Angel, seperti Angel menyayangi mereka, bukan malah menyakiti. Apalagi Angel itu bagian dari darah mereka juga,”


Devan ikut kesal mendengar cerita dari putrinya. Ternyata Auristella sudah pernah melihat dengan mata kepalanya langsung Angel disakiti fisiknya oleh sang kakak.


“Maaf, Dad, aku belum cerita pada Ean atau siapapun itu, kecuali Daddy. Karena aku merasa tidak tega kalau tidak menuruti permintaan Angel. Setelah kejadian itu, Angel memintaku untuk tutup mulut, aku sebenarnya berat sekali untuk mengiyakan, tapi akhirnya aku sanggup untuk jawab iya karena tidak tega melihat Angel seperti memohon padaku, Dad. Padahal saat itu aku ingin sekali bercerita pada Ean dan Ian karena kebetulan kami sedang pergi berempat. Tapi karena aku sudah janji untuk memenuhi permintaan Angel, akhirnya aku tidak cerita tentang perilaku apa yang sudah Angel terima dari kakaknya,”


“Kamu tidak perlu merasa bersalah sudah cerita pada Daddy. Apa yang kamu lakukan ini sudah benar,” ujar Devan seraya mengetatkan rahangnya dan sorot matanya yang sedang fokus menatap ke depan terlihat tajam menusuk.


“Dad, tapi jangan jujur pada Angel kalau aku yang cerita pada Daddy ya. Aku tidak dnak karena mulutku sudah bocor. Aku geram, aku tidak bisa menahan mulutku supaya tidak cerita karena pembahasan kita memang tentang Angel,”


“Sayang, tenang saja. Daddy tidak mungkin membuat kamu ada di posisi yang membuat kamu jadi merasa bersalah. Angel tidak akan tau kalau kamu yang cerita pada Daddy. Lagipula, sebelum menikah, Daddy memang sudah tau sedikit banyak tentang dua orang itu. Walaupun Angel berusaha menutupi. Daddy pikir sudah berubah, tapi ternyata tidak ya, masih jahat juga,”


Mobil Devan tiba di rumah, Devan dan putrinya langsung bergegas keluar dari mobil. Langkah Devan bisa dibilang cukup cepat sehingga Auristella sedikit kesulitan menyamakan langkah ayahnya.


“Lov,” Devan memanggil istrinya dengan suara yang lumayan keras.


“Daddy kalau sudah khawatir pasti begini,” gumam Auristella melihat Devan melangkah sambil memanggil Lovi.


“Lov, aku pulang. Kamu baik-baik saja?”


Tidak lama kemudian Lovi datang menyambut kedatangan suami dan putrinya yang baru tiba. Lovi tersenyum menatap mereka.


“Hai, akhirnya pulang juga,”

__ADS_1


“Kamu baik-baik saja ‘kan?” Tanya Devan seraya menyentuh kedua lengan istrinya, dan menatap sang istri dari atas sampai bawah.


“Iya aku baik-baik saja,” ujar Lovi seraya tersenyum.


“Apa yang terjadi tadi, Lov?”


“Kamu tau ada kejadian di rumah ini ya?”


“Tau, aku tau dari mata-mata yang aku suruh untuk mencari tau siapa yang sudah mengganggu Angel,”


“Iya memang ada yang hampir masuk rumah kita tadi, dia membawa kotak yang entah isinya apa, tapi aku yakin itu isinya bukan yang baik-baik,”


“Memang para penjaga dimana sih, Mom?”


“Memang kebetulan lagi tidak ada yang menjaga, Sayang. Ada yang ke kamar mandi, ada yang makan, ada yang istirahat. Mommy tidak menyalahkan mereka. Ya namanya manusia pasti pernah lengah sesekali ‘kan? Jadi Mommy langsung usir orang yang hampir masuk ke rumah kita itu, dan untungnya dia pergi tidak ada perlawanan,”


“Astaga, aku tidak habis pikir kenapa ada saja orang yang sejahat itu ya? Niat sekali dia sampai mau masuk ke dalam rumah. Beruntungnya Mommy liat, kalau tidak mungkin dia berhasil meneror Angel lagi,”


“Tapi kamu yakin dia mau meneror Angel, Sayang? Apa yang dia bawa?”


“Dia bawa kotak dan di kotak itu ada tulisan nama Angel. Ya makanya aku yakin dia bawa kotak itu untuk Angel, isinya ya teror lagi,”


“Aku dengar dari Nathan, orang yang kamu usir tadi, adalah suruhan ayahnya Angel, Lov,”


“Apa? Kamu serius? Kenapa—maksudku kenapa dia? Apa masalah antara dia dan Angel? Kenapa dia sampai meneror Angel begitu?”


“Iya itu dia yang aku pikirkan sekarang, Lov. Aku juga tidak tau kenapa dia bisa meneror Angel padahal selama ini yang kita tau Angel sangat baik pada ayahnya,”


“Ya ampun, kasian sekali anak itu. Benar-benar hidupnya hancur setelah ibu dan neneknya meninggal,”


“Aku mau pergi sebentar ya,”


“Dad, kita ‘kan mau jalan-jalan ajak Mommy, kenapa Daddy malah pergi?”


Auristella kecewa ketika ayahnya pamit ingin pergi lagi padahal mereka sudah sepakat tadi di jalan menuju rumah bahwa setelah pulang sebentar menjemput Lovi, mereka akan pergi.


“Nanti Daddy pulang lagi, kamu dan Mommy bersiaplah ya,”


“Okay, ajak Ian juga?”


“Iya boleh,”


“Ajak Ean dan Angel? Eh tapi mereka mau pergi malam ini untuk hadir di acara ulang tahun temannya,” ujar Lovi sekedar memberitahu suaminya bahwa Andrean dan sang istri ada agenda berdua nanti malam.


“Oh kalau begitu mereka tidak usah, ajak Ian saja kalau memang dia mau. Kita makan di luar. Tapi sekarang Daddy akan pergi sebentar,”


Usai mencium puncak kepala Lovi dan Auristella bergantian, Devan langsung bergegas pergi meninggalkan kediamannya menggunakan mobil.


“Aku harus pastikan lagi bahwa apa yang dikatakan Nathan tadi adalah kebenaran,”


*******


Andrean diam-diam mengabadikan kegiatan istrinya sekarang menggunakan kamera belakang ponsel genggamnya. Andrean tersenyum melihat Angel tidak menoleh kanan kiri karena sibuk mengemas hadiah untuk Gaby.


Angel sengaja tidak minta dikemas dari tokonya karena Ia ingin berkreasi sendiri. Andrean awalnya heran, istrinya malah mau menyusahkan diri sendiri ketimbang minta bantuan jasa orang lain dan membayarnya. Tapi ketika melihat hasil yang hampir jadi, Andrean jadi tahu bahwa istrinya memang ada bakat juga dalam hal menghias.


“Ean,”


“Hmm?”


“Menurutmu, ini menarik atau tidak? Belum jadi tapi—“


“Ean kenapa videokan aku? Aku jelek! Stop-stop! Tolong jangan videokan aku, Ean. Aku—“


“Hei, kamu itu tidak jelek, kamu cantik. Jangan bicara begitu okay? Aku hanya ingin mengabadikan kesibukan kamu saja, memang tidak boleh ya?”


“Ya boleh tapi ‘kan—“


“Okay aku sudahi,”


Andrean menutup kamera, video langsung tersimpan dan setelah itu Andrean meletakkan ponselnya di nakas.


“Sudah, Sayang. Aku sudah selesai memvideokan kamu,”


“Kamu kurang kerjaan? Sini, lebih baik bantu aku,”


“Yang ada, apa yang sudah kamu buat sekarang bisa hancur karenaku. Makanya aku bantu mengabadikan saja barangkali nanti Gaby tanya siapa yang bungkus kadonya,”


“Hahaha mana mungkin, orang kalau dapat hadiah itu tidak mungkin bertanya siapa yang membungkus kadonya,”

__ADS_1


“Bisa saja, Sayang. Karena ini bagus, barangkali Gaby penasaran kenapa bisa sebagus ini? Dan siapa yang membuatnya? Ya sudah nanti aku yang jawab kalau istriku yang cantik inilah pembuatnya,”


__ADS_2