
“Tadi Daddynya Ian meminta izin Daddy untuk membawamu berlibur,”
“Iya barusan Lovi juga bicara padaku di telepon,”
“Wow diajak berlibur? Aku mau, Mom, Dad,”
Adrina bahagia sekali ketika orangtuanya memberitahu bahwa Lovi dan Devan mengajak dirinya untuk berlibur disaat Sheva dan Jino pergi mengurus pekerjaan.
“Daddy izinkan,”
“Mommy juga, tapi terserah padamu ya. Kalau kamu menolak, akan Mommy sampaikan pada Aunty Lovi. Seandainya kamu menerima pun Mommy akan menghubungi Aunty Lovi lagi dan bicara padanya,”
“Aku mau, Mom. Katakan pada Aunty Lovi, aku mau ikut berlibur. Dengan siapa saja?”
“Ean, Ian, Auris, dan Angel,” jawab Sheva.
“Nah aku sudah duga mereka semua ikut. Makanya aku semangat, selain karena aku suka berlibur, aku juga sudah rindu menghabiskan waktu dengan mereka,”
“Ya sudah berarti kamu mau ya?”
Adrina menganggukkan kepalanya antusias. “Tapi ingat ya jangan menyulitkan mereka, Sayang. Maksud Daddy, jangan merepotkan. Dan harus bersiap-siap sejak malam menuju keberangkatan atau kalau perlu sekarang supaya kamu tidak membuat mereka menunggu. Daddy dengar dari Uncle Devan mereka akan berangkat pagi saat masih gelap,”
“Kalian akan ke pedesaan,”
“Ya ampun, aku suka ke sana. Suasana sudah pasti berbeda, tenang, asri, tidak macet dan polusi, waj aku tidak sabar,”
“Jaga diri baik-baik ya. Dan jadi anak baik juga,”
“Siap, Daddy. Aku akan menjaga diriku dengan baik dan aku tidak akan merepotkan Uncle Devan, Aunty Lovi, Ean, Ian, Auris, dan Angel,”
“Iya, Sayang. Baik-baiklah dengan mereka ya. Selamat berlibur, jangan lupa sering berkabar dengan Mommy,”
“Siap, Mom. Aku selalu ingat pesan itu setiap kali aku akan pergi sendiri tanpa kalian,”
Sheva mengusap puncak kepala anaknya lalu mencium keningnya. “Ya sudah lebih baik sekarang persiapkan apa saja yang perlu kamu bawa. Ayo Mommy bantu,”
“Mommy, tidak usah. Biar aku saja yang menyiapkannya,”
“Benar kamu bisa melakukannya sendiri, Sayang?”
“Iya aku bisa, Mommy,”
“Okay kalau begitu selamat menyiapkan keperluan liburan. Nanti kalau sudah selesai jangan lupa panggil Mommy biar Mommy cek dulu, dan Mommy akan memastikan tidak ada keperluan kamu yang tertinggal,”
“Okay, Mom. Oh iya berapa hari kira-kira?”
“Tiga atau empat hari. Bawa seperlunya saja, Sayang,” ujar Jino yang langsung dijawab dengan anggukan oleh anaknya itu.
Adrina langsung bergegas ke kamarnya untuk mempersiapkan semua hal yang Ia perlukan selama berlibur.
“Aku senang sekali bisa berlibur dengan mereka. Wow tidak menyangka aku diajak. Jadi ingat dulu pernah liburan bersama mereka juga,” gumamnya sambil memilih-milih baju di dalam lemari.
“Hmm aku pikih yang simple saja lah, yang mudah dibawa, tidak makan tempat,“
Adrina mengambil stelan-stelan baju dan celana. Menurutnya pakaian seperti itulah yang nyaman kalau dipakai untuk berlibur. Tidak makan tempat karena bahannya tidak tebal, Ia tidak merasa gerah ketika mengenakannya, dan yang paling penting Ia tidak bingung mencocokan antara baju dengan celana karena Ia sudah punya yang satu stel atas dan bawah.
“Ah untung saja aku baru dibelikan Mommy yang baru-baru, lumayan ada empat pasang,”
Satu stel atau satu pasang itu terdiri dari celana panjang dengan karet di ujungnya, baju lengan sepanjang siku. Warnanya ada cokelat muda, biru tua, hijau pastel, dan juga putih. Itu semua polos tidak ada corak.
“Oh iya perlu bawa jaket juga,”
Adrina mengambil jaket yang tak terlalu tebal barangkali di sana Ia memerlukannya. Setelah itu Ia mulai bingung perlu apalagi.
“Hmm…baju renang perlu tidak? Memang ada tempat berenang di sana? Ah ya sudahlah bawa saja satu, barangkali berenang ‘kan,”
Adrina sibuk sendiri jadi tidak sadar kalau Sheva tersenyum mengamatinya di depan pintu kamar.
“Sibuk sekali anakku itu,” gumamnya.
“Jangan lupa pakaian dalam, Sayang,”
Adrina spontan menoleh ketika mendengar suara Mommy nya yang tiba-tiba sudah ada di depan pintu kamarnya.
“Kaget aku, Mom. Aku tidak tau kapan Mommy datang,”
“Barus saja,”
“Oh iya, yang barusan Mama ucapkan belum aku ambil,”
“Iya jangan sampai lupa pakaian dalam, Sayang. Bahaya kalau tertinggal,”
“Iya terimakasih, Mommy,”
“Skincare kamu juga jangan sampai lupa, alat mandi, terus—“
“Mommy jangan diberitahu semua. Aku pengen belajar mandiri, dari mulai mengingat-ingat apa saja yang diperlukan sampai menatanya di dalam koper.
__ADS_1
“Okay baik-baik, Mommy perhatikan saja kalau begitu. Nanti seandainya sudah selesai, Mommy akan periksa ya, boleh ‘kan?”
“Tentu boleh, Mommy. Aku masih butuh bantuan Mommy meskipun mau mandiri,” ujar Adrina seraya terkekeh.
Adrina sudah mengumpulkan pakaian pilihannya, perlengkapan untuk mandi, produk perawatan wajah dan badannya, powerbank, adaptor pengisi daya ponsel, setelah itu Ia akan mulai menata di dalam koper.
Saat akan duduk mulai menata, tiba-tiba ada panggilan masuk di ponselnya. Begitu Ia lihat ternyata Adrian.
Adrina menerima panggilan dari Adrian sambil duduk di sebelah Mommy nya yang kebetulan saat ini duduk di tepi ranjang.
“Halo kenapa, Ian?”
“Kamu sudah tau rencana Daddy dan Mommy?”
“Iya aku tau, aku lagi mempersiapkan semua keperluanku untuk berlibur dengan kalian. Terimakasih ya sudah mengajakku berlibur. Jadi aku tidak bosan di rumah selama Mommy dan Daddy pergi,”
“Oh lagi bersiap ya? Aku ganggu?”
“Tidak, kamu hanya ingin bertanya soal itu?”
“Ya, aku pikir kamu belum tau. Mommy dan Daddymu sudah bicara ya?”
“Sudahlah, kalau mereka belum bicara bagaimana aku tau kalau aku diajak berlibur,”
“Iya sekarang kita liburan bersama. Nanti lain waktu liburan berdua,”
“Apa maksudmu, Ian? Aku takut berlibur hanya dengan kamu saja karena kamu predator,”
Sheva berdesis menegur anaknya yang bicara seenak hati. Sementara Adrian malah tertawa keras di dalam kamarnya.
“Ya kalau sudah menikah apakah kamu masih berpikir kalau aku ini predator? Hmm?”
“Iya, aku takut,”
“Kenapa takut pada orang yang tampan dan baik hati seperti aku? Lagipula perlu kamu tau ya, aku tidak akan membahayakan kamu,”
“Aku tidak percaya, semua laki-laki sama saja,”
“Aku yakin kalau aku berhasil menikahimu, kamu tidak akan menolak untuk berlibur denganku,”
“Astaga, Ian. Omonganmu itu terlalu jauh!”
“Ya sudah jangan kesal. Kalau tidak senang mendengarnya, kamu bisa pura-pura tidak dengar,”
“Hih mana bisa, telingaku syukurnya masih berfungsi dengan normal, mana mungkin aku pura-pura tidak dengar. Sudah dulu ya, aku lagi mau menata semua keperluan aku di dalam koper. Kamu daripada mengganggu aku lebih baik siapkan juga keperluanmu,”
“Oh ya? Wow hebat. Mempersiapkannya sendiri atau—“
“Sendiri lah, kamu pikir aku masih disiapkan oleh Mommy? Tidak, Mommy hanya mengeceknya saja nanti,”
“Wah sama dengan Mommyku juga,”
“Kenapa sih mau disama-samakan?“
“Ya memang Mommyku juga akan mengecek persiapanku nanti kalau aku sudah selesai,”
“Selamat berkutat dengan pakaian dan segala macamnya. Aku tutup teleponnya ya, bye kembaran beda rahim,”
Sambungan telepon mereka berakhir. Adrina mendengus mendengar salam perpisahan Adrian. Lagi-lagi kalimat ‘kembaran beda rahim’ yang Ia dengar.
“Apa yang Ian katakan? Kurang jelas Mommy mendengarnya,”
“Biasa lah, Mom. Jangan ditanya, Mom. Karena obrolan dia itu bikin kepala sakit,”
“Tapi Mommy penasaran,”
“Dia juga sedang mempersiapkan semua keperluannya, Aunty Lovi yang akan persiapannya nanti, ya sama seperti Mommy,”
“Lalu dia mengajakmu untuk liburan berdua?”
“Iya, tapi aku menolak. Tidak mungkinlah, dia itu predator,”
“Sstt jangan bicara seperti itu. Dia hanya bercanda,”
“Lagipula aneh-aneh saja omongannya. Liburan berdua itu ‘kan untuk sepasang suami istri saja,”
“Ya mungkin karena dia mau menikahimu, makanya dia bicara begitu,” ujar Sheva seraya terkekeh.
“Duh Mommy jangan bicara jauh-jauh dulu,”
“Hmm baiklah,”
Adrina segera turun ke lantai. Di sana sudah ada kopernya dan juga semua keperluannya. Ia membuka kiper dan mulai bekerjq.
“Drina,”
“Iya, Mom?”
__ADS_1
“Hubungan kamu dan Ian itu masih sebatas teman saja ‘kan ah maksud Mommy, sahabat,”
“Iya, Mom. Astaga, lupa cerita pada Mommy tentang satu hal,”
“Apa itu?”
“Ian pernah menyatakan perasaannya padaku, Mom. Tapi aku tegaskan padanya, hubungan kita untuk saat ini tidak bisa lebih dari sahabat. Karena aku belum punya perasaan apa-apa pada Ian,”
“Oh ya? Dia sudah menyatakan perasaannya?”
“Iya, Mom,”
“Kamu memangnya tidak punya perasaan apa-apa pada Ian? Bukankah dia anak yang baik, tampan sudah pasti, orangtuanya juga baik. Asal usul keluarganya jelas. Daripada kamu menyukai laki-laki lain, lebih baik dengan Adrian saja, kalau Mommy boleh menyarankan,”
“Tapi aku juga tidak menyukai laki-laki lain untuk saat ini, Mom,”
“Oh Mommy pikir karena kamu sedang menyukai yang lain atau bahkan diam-diam punya hubungan dengan dia tanpa cerita pada Mommy,”
“Tidak, Mom. Aku tidak punya hubungan apa-apa dengan yang lain,”
“Menurutmu Ian serius atau tidak menyatakan perasaannya?”
“Serius, Mom. Aku juga sempat meragukan ekseriusannya itu tapi dia menegaskan kalau dia tidak main-main,”
“Hmm Mommy pikir Ian lagi bercanda,”
“Iya aku juga sempat berpikir seperti itu, Mom. Karena dia suka bercanda. Tapi sebenarnya sudah lumayan lama aku menyadari kalau Ian itu seperti menyimpan perasaan padaku tapi aku berusaha untuk menepis dugaanku itu. Dia baik, dia terkadang juga kelihatan cemburu kalau aku sedang dekat dengan seseorang, dia pernah juga posesif. Tapi setelah dengar pengakuan dia, ternyata benar apa yang aku duga selama ini,”
“Lalu bagaimana perasaanmu saat dia mengakui perasaannya?”
“Hmm..biasa saja, Mom,”
Adrina mengobrol dengan mommy nya sambil sibuk dengan pakaiannya yang Ia tata satu persatu.
“Mom, ini caraku menata sudah benar belum?”
“Sudah, kamu sudah bisa tapi kamu tidak percaya diri dengan hasil sendiri, Sayang,”
“Iya karena aku belum terbiasa, Mommy. Apa-apa selalu Mommy,”
“Tidak apa, nanti kalau sudah memiliki suami pasti akan handal sendiri. Mommy juga dulu begitu, Sayang. Belum bisa dibilang mandiri, tapi setelah menikah syukurnya bisa belajar apa-apa sendiri,”
“Rasanya aku belum siap untuk menikah, aku belum siap menjadi istri apalagi punya anak. Aku tidak bisa membayangkan. Pasti aku akan sangat kesulitan. Tapi ibu-ibu di luar sana kenapa bisa ya, Mom? Termasuk Mommy, kenapa bisa mandiri? Kenapa bisa jadi ibu dan istri yang baik? Aku membayangkannya saja sudah pusing,”
“Memang semua ibu di dunia ini hebat. Mereka semua juga belajar, Sayang. Dan biasanya setelah menikah itu benar-benar fase belajar menjadi istri dan ibu yang sesungguhnya,”
“Yang tadinya tidak bisa apa-apa, perlahan jadi bisa setelah menikah. Karena tidak bisa mengandalkan orangtua seratus persen lagi ‘kan. Jadi mau tidak mau ya belajar untuk bisa menjadi perempuan yang mandiri. Tapi ada juga perempuan yang sudah mandiri jauh sebelum menikah,”
“Kalau aku sepertinya akan mandiri setelah menikah, Mom. Karena sekarang saja belum mandiri-mandiri,”
Sheva tertawa mendengar Adrina bicara seperti itu. Menurut Sheva tidak ada yang salah. Yang terpenting anaknya mau belajar.
“Mommy juga dulu begitu. Beruntungnya punya suami yang pengertian. Jadi dia paham, dia maklum kalau Mommy ini masih suka butuh bantuan orangtua tapi lama kelamaan bisa juga. Sebenarnya kita ini bisa mandiri kalau terbiasa, dan situasi mendukung. Kalau seandainya kita sudah berusaha mandiri tapi orang tua memanjakan ya susah juga untuk jadi mandiri,”
“Nah itu aku, Mom. Aku selalu mau jadi anak yang mandiri tapi susah karena punya orangtua yang selalu mau turun tangan. Akhirnya aku belok lagi, tidak jadi lagi belajar mandiri. Ah sudahlah pusing aku,”
“Nanti kalau sudah menikah juga pasti bisa lepas dari orangtua dan jadi mandiri. Dan beralih pada suami. Tapi ingat, jangan terlalu bergantung. Nanti kalau jauh jadi susah,”
“Iya, Mom,”
*******
“Ris, kamu habis memakai parfum kesukaanku waktu itu. Sekarang dimana? Kenapa tidak ada di mejaku? Belum kamu kembalikan ya?”
“Iya belum, buat aku saja lah. Kebetulan aku suka dengan parfum kamu itu, Ian,”
“Beli sendiri lah,”
“Ih Ian kenapa kamu kikir sih? Jangan begitulah. Aku ini ‘kan adikmu,”
“Lagipula itu parfum untuk laki-laki, Auris. Kenapa kamu malah suka? Kamu aneh, dimana-mana perempuan itu suka dengan parfum perempuan, sesuai dengan jenis kelaminnya,”
“Ya tapi aku suka juga dengan parfum milikmu. Biar saja lah. Itu untuk koleksi aku. Jarang dipakai, tapi yang penting punya,”
Adrian berdecak kesal karena adiknya itu tidak mau menyerahkan parfum miliknya. Akhirnya Ia masuk ke dalam kamar Auristella yang sedang berbaring telungkup menatap laptopnya.
“Ian jangan diambil!”
Adrian berhasil menemukan parfum miliknya sendiri yang dipinjam oleh sanga dik tapi tidak dikembali rupanya karena mau dimiliki.
“Ya sudah nanti aku belikan yang seperti ini,”
“Tidak usah, aku mau yang itu saja,”
“Astaga anak ini menyebalkan sekali sih. Ya sudah lah! Aku berikan padamu, terpaksa!”
ujar Adrian seraya menekan kata ‘terpaksa’. Mana tega Ia merebut apa yang sudah disukai oleh adiknya sekalipun itu miliknya. Dibelikan yang baru, Auristella tidak mau. Jadi Adrian biarkan saja.
__ADS_1