Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 78


__ADS_3

“Aku selesai siap-siap, tapi kamu masih di tempat tidur, Sayang. Kamu sepertinya mengantuk ya?”


Andrean bersiap di walk in closet dan ketika kembali ke kamar Ia mepihat istrinya yang berbaring di tempat tidur. Sementara Ia sudah siap dengan kemeja putih dan juga celana polos silvernya.


“Iya aku mengantuk, kamu cepat sekali bersiapnya. Tiba-tiba sudah selesai saja. Aku terlalu fokus tiduran sambil menonton televisi,”


“Aku ‘kan laki-laki, Sayang. Tidak banyak yang diurus,”


“Okay kalau begitu aku akan bersiap sekarang ya,”


Angel beranjak meninggalkan tempat tidur, gantian Andrean yang duduk di tepi tempat tidur sambil menonton televisi.


Angel memoles wajah dan menata rambutnya sebentar. Hanya polesan tipis, dan mengikat rambutnya menjadi satu. Tidak butuh waktu lama Ia langsung berganti baju.


Selesai berganti baju, Angel langsung menghampiri Andrean yang sedang fokus dengan televisi. Angel menepuk pundak suaminya beberapa kali dan itu berhasil membuat Andrean menoleh.


Andrean membelalakkan kedua matanya melihat penampilan sang istri. Kening Andrean juga mengernyit.


“Sayang, kamu yakin pakai baju ini? Apa tidak terlalu seksi ya?”


“Hmm…apakah aku jelek memakai baju ini? Tadi kamu sudah membolehkan aku untuk pakai baju yang aku dapat dari Auris,”


“Astaga, aku tidak tau kalau bajunya seperti ini. Aku minta maaf, seharusnya aku liat dulu ya bajunya seperti apa baru aku jawab iya. Sekarang aku minta, kamu ganti baju kamu ini ya, Sayang,”


“Memang kenapa? Tidak cocok ya?”


“Bukan tidak cocok, Sayang. Tapi—tapi menurutku ini berlebihan, terlalu mencolok mata siapa saja yang melintas di dekatmu,” ujar Andrean yang tidak mau membuat hati istrinya kecewa dan malah berpikir bahwa dirinya tidak cantik mengenakan baju itu. Sebenarnya Andrean suka dengan penampilan Angel ini karena kelihatan beda dan semakin menawan dengan sisi ‘berani’ nya. Tapi jujur saja Andrean tidak nyaman melihat istrinya berpenampilan seperti ini.


“Apa aku jelek pakai baju ini?”


“Tidak jelek sedikitpun, Angel. Kamu bahkan sangat cantik memakai baju itu, makin kelihatan menawan, anggun, tapi menurutku lebih baik ganti baju saja, itu dipakai di kamar saja bagaimana?”


Angel tertawa mendengar ucapan suaminya yang Ia tahu sedang berusaha untuk memilih kata yang tepat supaya tidak menyinggung perasaannya ketika meminta supaya Ia berganti pakaian.


“Jadi aku tidak cocok ya pakai ini sekarang?”


“Kalau ditanya cocok atau tidak, maka aku akan menjawab sangat cocok, hanya saja lebih baik tidak mengenakan baju ini untuk pergi ke pesta, Sayang. Kamu tetap cantik tanpa menunjukkan bahu dan dadamu, percaya padaku. Kamu boleh memakai baju ini di kamar, jadi cuma aku saja yang melihatnya. Jujur aku tidak suka berbagi. Kalau kamu pakai ini ke pesta sekarang, otomatis pasti banyak yang melirikmu, bukan hanya melirik aku yakin akan ada banyak orang terutama laki-laki menatapmu dengan terang-terangan karena mereka menyukai penampilan kamu. Aku tidak rela kalau itu sampai terjadi. Kalau aku minta kamu untuk berganti baju, kamu tidak keberatan ‘kan?” Tanya Andrean yang langsung dijawab dengan gelengan kepala oleh Angel. Andrean tersenyum senang karena istrinya tidak keberatan.


“Okay, aku ganti baju sekarang. Tadinya memang aku ragu mau pakai ini karena aku rasa ini tidak cocok untuk aku yang sangat jarang memakai baju terbuka, aku tidak percaya diri. Tapi Auris meyakinkan aku bahwa aku akan semakin cantik dengan gaun ini makanya aku terima. Aku tanya kamu dan kamu tidak masalah. Jadi ya sudah, aku pakailah ini,”


Andrean menghembuskan napas pelan. Ia yang salah, seharusnya Ia tidak langsung mempersilahkan Angel untuk mengenakan baju yang Angel terima dari adiknya itu. Ia salah karena sudah mempersilahkan sebelum lihat dulu bentuk bajunya seperti apa.


Andrean langsung menempatkan tangannya di kedua bahu sang istri. Kemudian Ia menyatukan kening mereka sambil berucap “Maaf ya, Sayang. Lain kali aku akan benar-benar lihat dulu, barulah mengeluarkan ucapan. Aku pikir baju yang diberikan Auris itu wajar, tapi ternyata—pantas saja dia belum pernah memakainya. Dia pasti takut ditegur Mommy, Daddy, Ian, dan aku. Awas ya anak itu, aku tegur nanti,”


“Ssstt sudah-sudah, jangan ditegur. Auris tidak salah, aku yang salah seharusnya aku tidak memakai ini dengan yakin padahal—“


“Kamu cantik pakai ini, aku tidak bohong. Hanya saja situasinya belum tepat, kamu paham ‘kan? Tidak sakit hati ‘kan kalau aku minta ganti baju?”


“Iya, ini aku bagaimana mau ganti kalau kamu memeluk pinggangku dan kening kita—“


“Oh iya,”


Andrean terkekeh dan langsung melepaskan pelukannya di pinggang Angel, dan juga memberikan jarak untuk kening mereka.


“Silahkan ganti baju, Nona Angel. Saya tunggu ya,”


“Okay, sabar ya,”


“Tentu,”


Angel langsung mengambil gaun miliknya yang tak jadi dipakai tadinya, tapi ternyata sekarang jadi dipakai karena permintaan Andrean yang ingin Ia ganti baju.


******


“Wow bisa-bisanya kita bertemu di sini. Memang jodoh menjadi keluarga ya sepertinya?” Ujar Lovi seraya terkekeh.


Ketika makan sudah selesai, tiba-tiba ada yang menghampiri meja dimana Devan, Lovi, Adrian, dan Auristella tadi menikmati makanan mereka.


Yang datang menghampiri mereka itu ada Adrina dan kedua orangtuanya Sheva dan Jino. Devan langsung mempersilahkan mereka bertiga untuk bergabung di meja yang sama, karena kebetulan stok kursi juga masih ada yang kosong.


“Sudah selesai makan?” Tanya Adrian pada Adrina yang langsung dijawab oleh Adrina. “Sudah, kamu sudah belum?”


“Oh sama kalau begitu, aku pikir kamu lagi mau makan. Kamu diam-diam mengikuti aku ya? Jujur saja, kita ‘kan tinggal berdekatan, mungkin kamu mau ketemu aku jadi—“

__ADS_1


“Ya ampun sembarangan kalau bicara ya. Untuk apa aku mengikuti kamu? Aku, Mommy, dan Daddy memang sudah sepakat ingin makan di sini,”


“Oh sama berarti ya?”


Adrina merotasikan bola matanya. Ia tidak terima ketika Adrian mengira bahwa Ia sengaja mengikuti Adrian pergi supaya bertemu Adrian.


“Aku pikir kamu sengaja mengikuti aku supaya bertemu dengan aku tapi pura-puranya tidak sengaja,”


Jino tertawa menyaksikan aksi tatapan tajam dari Adrina, sementara Adrian hanya tersenyum lebar menaik turunkan alisnya.


“Sembarangan kalau bicara. Kamu sepertinya yang mengikuti aku ya? Jangan-jangan lokasi di handphone aku, masuk juga ke handphone kamu,”


“Oh itu tidak mungkin,”


Adrina membalas dengan tak kalah menyebalkan. Mereka seolah sama-sama tidak terima atas pertemuan tidak sengaja ini.


“Kalian pergi tanpa Ean dan Angel ya?” Tanya Jino.


“Iya, mereka akan hadir di sebuah acara malam ini jadi tidak ikut kami,”


“Oh acara apa kalau boleh tau? Rekan kerjanya Ean?”


“Bukan, acara ulang tahun temannya Angel,”


“Oh begitu,”


“Uncle kenapa bertanya soal Ean? Rindu padanya ya? Nanti aku sampaikan,”


“Hahaha boleh, tolong sampaikan ya, Uncle rindu dengan dinginnya dia, hemat bicaranya dia,”


“Okay siap nanti aku sampaikan,”


Antar orangtua mengobrol, Adrian dan Adrina juga sesekali akan terlibat obrolan, sementara Auristella paling bingung ingin mengobrol dengan siapa dan mengangkat topik obrolan yang seperti apa.


“Sepertinya mereka belum mau pulang. Ah ya sudah, aku sibuk dengan ponselku saja,” gumam Auristella sambil meraih benda persegi panjang dan tipisnya yang berada di dalam sling bag yang Ia letakkan di atas meja.


Setelah Ia membuka kunci layar, tiba-tiba ada pesan masuk dari kakak tertuanya. Angel langsung membacanya.


-Auris, kamu keterlaluan ya. Kamu sengaja mengerjai Angel? Hmm? Kenapa kamu berikan baju seperti itu padanya? Asal kamu tau, dia cocok pakai itu, tapi akan lebih cocok kalau tidak dipakai saat pesta-


Auristella segera mengetik balasan sambil masih menahan tawa. Ia sudah bisa membayangkan raut kesalnya Andrean seperti apa.


-Ean, kakakku tersayang. Baju yang aku serahkan pada Auris tadi adalah baju untuk pesta, jadi apa salahnya aku memberikan baju itu untuk dia? Hmm? Aku adik ipar yang baik ‘kan?-


*******


Andrean dan Angel sedang duduk menikmati suasana pesta yang mereka hadiri sekarang. Usai menemui Gaby, memberikan hadiah juga, mereka berdua memutuskan untuk duduk sebentar sebelum pulang.


Tidak ada yang mau dibicarakan dengan Angel karena Angel juga sibuk mengamati sekitar akhirnya Andrean memilih untuk melihat ponselnya.


Andrean gunakan kesempatan yang ada untuk menegur adik bungsunya. Tadi belum sempat mengirimkan pesan kepada Auristella yang berisi luapan rasa kesalnya. Ia yang memulai obrolan dan langsung dibalas oleh sang adik.


Setelah membaca pesan dari adiknya itu tentang baju yang diberikan olehnya memang baju pesta, Andrean langsung berdecak pelan dan bergegas cepat membalas.


-Ya memang baju pesta. Tapi itu tidak pantas kalau dipakai Angel ke pesta-pesta. Terlalu terbuka, Ris. Kamu yang benar saja, kamu pikir aku akan membiarkan istriku untuk menunjukkan badannya yang luar biasa itu? Hah?-


Sangat jarang sekali Andrean mengirimkan pesan yang menurut Andrean lumayan panjang kepada adiknya. Mungkin karena ini bentuk rasa kesalnya pada Auristella yang sudah memberikan baju bagus tapi sayangnya tidak bagus kalau dipakai Angel keluar rumah.


-Hahahaha ya sudah simpan saja, nanti dipakai kalau ada pesta lain-


Andrean berdecak pelan membaca pesan balasan dari adiknya. Andrean kembali mengetik balasannya.


-Tidak akan aku biarkan dia memakai baju itu ke pesta manapun. Yang aku bolehkan hanya di kamar saja-


-Apa? Wow, posesif, Kakakku?-


Andrean mendengus ketika diolok oleh adiknya. Alih-alih menjawab, Andrean memutuskan untuk menyimpan ponselnya di saku lalu bicara pada Angel.


“Ayo kita pulang sekarang,”


“Okay ayo,”


Setelah minum dan mengamati suasana pesta sebentar, sepasang suami istri itu memutuskan untuk pulang.

__ADS_1


“Ean, semoga Auris tidak tersinggung ya kalau misalnya nanti dia melihat aku tidak pakai baju yang dia berikan padaku,”


Setelah duduk di dalam mobil dan menggunakan sabuk pengaman, tiba-tiba Angel kepikiran dengan tanggapan adik dari suaminya itu nanti setelah melihat Ia tidak jadi mengenakan baju yang sudah diberikan kepalanya.


“Angel, Auris tidak akan marah,”


“Tapi kalau dia kecewa bagaimana?”


“Tidak akan, karena sebelum dia kecewa atau dia marah, aku sudah lebih dulu menegurnya,” ujar Andrean.


“Hah? Maksud kamu?”


“Ya, aku sudah menegurnya barusan lewat pesan,”


“Astaga, jangan katakan kalau kamu memarahi Auris? Ya ampun, Ean. Kamu tidak seharusnya marah-marah pada Auris. Dia sudah sangat baik memberikan baju untuk aku jadi seharusnya jangan kamu marahi,”


“Siapa suruh dia memberikan itu padamu? Hmm? Aku tidak suka dengan baju yang dia berikan itu, walaupun kamu memang cocok memakainya, kamu terlihat semakin cantik, tapi tetap saja aku tidak suka,”


“Karena terlalu—“


“Iya terbuka sekali, Angel. Aku tidak biasa melihat penampilan kamu yang terbuka,”


“Iya okay tapi apa kamu marahi Auris?”


“Tidak, aku hanya tegur dia saja. Aku tidak memarahinya tapi kalau dia menganggap aku marah okay nanti aku akan minta maaf,”


“Jangan tunggu nanti, sekarang saja kalau perlu minta maafnya. Aku takut Auris terlanjur sakit hati gara-gara aku, Ean,”


“Ya sudah nanti saja, Sayang. Kita ‘kan sudah di jalan pulang,” ujar Andrean.


“Jangan lupa ya,”


“Iya, lagipula aku tidak memarahinya, kamu percaya lah padaku. Kamu boleh tanyakan nanti ke Auris aku marah atau tidak. Tapi karena kamu sudah meminta aku untuk meminta maaf jadi ya sudah, aku akan minta maaf nanti di rumah,”


“Aku senang kamu punya niat yang baik seperti itu, terimakasih ya, aku hanya tidak ingin Auris jadi sakit hati karena baju darinya tidak aku pakai dan kamu malah menegurnya,”


“Aku wajar lah kalau menegur Auris, Sayang. Dia aneh, kurang kerjaan memberikan gaun itu untukmu. Padahal dia tau bagaimana tipe berpakaian kamu selama ini,”


********


“Adrina, menginap di rumahku saja,”


“Tidak, aku takut dengan ketusnya kamu, berhubung kamu takut kakakmu diambil olehku,”


Auristella mendengus mendengar ucapan Adrina. Sementara orang tua mereka tertawa. Mereka tahu Auristella begitu posesif pada kedua kakaknya, jadi ketika ada perempuan yang mendekati atau didekat kedua kakaknya itu, Ia akan berubah menjadi buaya betina.


“Aku bercanda, Auris,” ujar Adrina seraya terkekeh sambil merangkul bahu Auristella.


“Aku lagi baik ini, Drina,”


“Tidak, lain kali saja ya,”


“Okay kalau begitu,”


“Kita sama-sama istirahat ya,”


Devan dan teman dekatnya di lingkungan rumah, Jino saling menepuk bahu satu sama lain sebelum akhirnya masuk ke rumah mereka masing-masing yang letaknya sangat dekat, diikuti oleh istri-istri mereka yang sebelum pisah sempat saling berpelukan.


“Bye! Kalau kamu tidak mau ya sudah,” ujar Auristella sambil Ia menghentakan kakinya lalu masuk mengikuti Lovi dan Devan yang sudah lebih dulu. Tinggalah Adrian dan Adrina.


“Kamu kenapa belum masuk? Menungguku ya? Ah manisnya sikapmu,”


“Apa sih? Terlalu percaya diri. Ini aku mau masuk,”


“Selamat malam, kembaran beda rahim. Mimpi indah ya, akan lebih indah kalau kamu memimpikan aku,”


“Berisik! Sana masuk rumah,”


“Iya aku akan masuk kalau aku sudah memastikan kamu menghilang di balik gerbang rumahmu,”


Adrina geleng-geleng kepala mendengar ucapan Adrian yang tak lupa melempar senyum. “Hati-hati jadi stres, jangan terlalu banyak senyum,” pesan Adrina dengan suara yang lumayan keras sambil berjalan.


“Kenapa aku tidak boleh senyum? Kamu takut kena diabetes ya karena senyumku terlalu manis?”

__ADS_1


“Astaga, ada ya laki-laki menyebalkan macam dia di muka bumi ini? Benar-benar aneh, menyebalkan!”


__ADS_2