Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 139


__ADS_3

“Ayah, aku lapar, buka pintu kamar sialan ini! Aku tidak mau ada di sini lebih lama lagi, buka pintunya ayah!”


Sudah siang bahkan menjelang sore tapi tidak ada tanda-tanda pintu kamar akan dibuka sementara Gesty sudah benar-benar tidak nyaman lagi terkurung di sana. Perutnya lapar, dan keringkongannya juga kering. Lagi-lagi Ia dikurung karena sikapnya sendiri.


Tidak lama Ia berkata seperti itu, tiba-tiba pintu kamar dibuka oleh sang ayah dan itu membuat Gesty senang luar biasa.


Tapi bukan berarti Ia tidak kesal lagi dengan ayahnya. Begitu mereka berhadapan satu sama lain, Gesty melemparkan tatapan tajamnya.


“Ayah benar-benar keterlaluan! Harusnya aku tidak berhak mendapat hukuman apapun!“


“Hei kamu dengar ya!”


Gesty tersentak kaget ketika ayahnya mencengkram dagunya dengan cukup kuat, sambil membalas tatapan tajamnya.


“Seharusnya kamu bersyukur Ayah keluarkan dari sini. Andai saja Ayah tega, kamu sudah ayah biarkan mati membusuk di sini. Kamu jangan kurang ajar pada ayah, kalau kamu tidak mau ini terulang lagi. Paham kamu?!”


*****


“Aku yakin Angel suka,”


“Ya, semoga. Terimakasih sudah membantuku,”


Andrean mengulurkan tangan ingin bersalaman dengan orang kepercayaannya, Abraham. Lelaki itu selalu bisa diandalkan. Tidak sia-sia Andrean langsung mengatakan niat baiknya kepada Abraham.


“Semoga setelah Angel dekat dengan pengawasanku, tidak ada lagi yang mengganggu Angel. Aku ingin hidup istriku itu tenang,”


Andrean menatap jam tangannya. Sebentar lagi saatnya Angel pulang, jadi Ia harus segera ke kafe dimana Angel bekerja sebagai pelayan.


“Aku pergi dulu, sekali lagi terimakasih,”


Abraham tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Abraham tersenyum menatap kepergian Andrean. Ia kagum pada lelaki itu. Kelihatannya saja dingin, tak acuh dengan apapun, tapi ternyata sangat menyayangi istrinya. Tahu kalau sang Istri punya keinginan kuat untuk berkegiatan di luar rumah, menghasilkan sesuatu, Andrean berinisiatif untuk membuka kafe yang dimana Angel akan berperan sebagai pemiliknya nanti.


“Dia begitu menyayangi istrinya dan aku salut. Diluar kelihatan keras, dingin, tapi ternyata di dalam begitu menyayangi istri. Andrean…Andrean….aku kagum dengan cara kamu mencintai Angel. Tanpa banyak omong langsung melaksanakan niat yang bertujuan untuk kebaikan istrinya,”


*******


“Angel, dua hari lagi datang ke party ulang tahunku ya. Aku mohon kamu datang supaya kita bisa bersenang-senang bersama,”


Angel tersenyum mendapatkan undangan melalui lisan agar hadir di sebuah acara yang tak lain adalah acara ulang tahun Gaby, teman sesama pekerja.


“Okay aku akan datang. Terimakasih undangannya ya, Gab,”


“Iya, sekarang kamu mau pulang? Ayo aku antar sampai di rumah,”


“Hmm lain kali ya, Gab. Aku menunggu dijemput,”


“Oh dijemput suamimu ya? Okay tidak apa-apa, kalau begitu aku pulang sendiri,”


“Iya, terimakasih tawarannya. Kamu hati-hati di jalan ya,”


“Jangan lupa datang!”


Angel tertawa mendengar Gaby bicara dengan tegas. Supaya Gaby tenang dan untuk menegaskan, Angel langsung bersikap memberikan hormat.


“Siap, aku tidak akan lupa dengan undanganmu,”


Gaby sudah melajukan motor setelah pamit sekaligus menyampaikan undangan acara ulang tahunnya kepada sang teman.


Sementara Angel masih menunggu suaminya, yang tak lama dari pulangnya Gaby sudah datang menjemputnya. Angel tersenyum ceria. Begitu mobil berhenti Ia langsung masuk mobil dan menyapa suaminya.


“Hai, Ean,”


“Hai, Angelku. Semua aman hari ini?”


“Aman, tenang saja,”


“Okay, tidak ada teror meneror lagi ‘kan, Sayang?”


“Tidak ada, semua aman terkendali. Terimakasih ya untuk perhatiannya. Kamu selalu mau memastikan aku baik-baik saja,”


“Tentu, aku tidak mau terjadi sesuatu padamu. Semua akan aku lakukan demi memastikan kamu aman, kamu baik-baik saja,”


“Termasuk datang ke rumahku lalu memarahi Ayah, Ean?”


Andrean yang tadinya akan melajukan mobilnya meninggalkan kafe Angel langsung menggagalkan niatnya itu.


Andrean langsung menoleh ke sampingnya, dan menatap Angel yang kini tersenyum menatapnya. Angel sudah tahu kalau Ia datang ke rumahnya, tapi ada yang salah dari ucapan Angel. Andrean merasa penting sekali untuk meluruskan kesalahpahaman yang pasti dibuat oleh ayah atau kakaknya Angel.


“Sayang, kamu salah paham. Aku datang ke sana bukan untuk marah-marah, percaya lah padaku,”


“Tapi—“


“Apa yang mereka katakan padamu? Hmm? Setelah mengancam kamu, memaksa kamu untuk memberikan apa yang mereka mau, sekarang mereka berusaha membuat hubungan kita hancur ya?”


“Tidak-tidak, bukan begitu. Aku hanya bertanya padamu, Ean,”


“Kamu bukan lagi bertanya. Kamu pasti sudah tau semuanya, dan itu dari mereka. Aku yakin pasti mereka yang memberitahu kamu kalau aku datang ke rumah ‘kan? Dan pasti mereka juga yang bilang ke kamu kalau aku marah-marah padahal kenyataannya tujuan aku datang ke sana untuk lagi-lagi memberikan peringatan untuk mereka supaya mereka berhenti menyiksa batin kamu, Angel. Aku tidak marah-marah! Kamu jangan percaya pada mereka. Jangan mau hubungan kita dibuat kacau oleh siapapun itu. Sungguh aku paling tidak bisa kalau kamu salah paham padaku, percaya padaku, Angel, aku tidak marah pada mereka, dan aku datang ke sama juga tujuannya untuk kamu, Sayang,” jelas Andrean seraya menggenggam tangan Angel dengan begitu erat.


Angel tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia tahu Andrean datang ke rumahnya karena punya tujuan yang baik, makanya Ia tidak menyalahkan Andrean.


“Aku tidak menganggap bahwa kamu salah, Ean. Aku hanya bertanya, kamu datang ke rumah dan marah-marah atau tidak? Setelah dapat jawaban kamu, aku paham dan aku percaya padamu,”


“Terimakasih ya, aku harap kamu tidak kesal dengan sikap yang aku ambil. Mereka sudah keterlaluan, Sayang. Makanya aku sampai datang ke rumah. Itupun aku tidak tahu ya, apakah mereka masih mengganggu kamu atau tidak,”


“Tidak, mereka tidak mengganggu aku,”


“Aku harap juga teror itu tidak datang lagi,”


“Iya, semoga,”


“Aku takut mereka mengganggu kamu lagi, dan aku takut teror itu datang lagi untuk kamu,”


“Tidak, semoga tidak,”


“Soal teror itu, jujur aku masih penasaran sekali siapa yang mengirimnya. Aku belum ketemu dengan identitas orang jahat itu,”


“Tidak usah dicari, biarkan saja lah dia mau berbuat apa. Aku sudah tidak mau peduli,”


“Bagaimana mungkin kamu tidak peduli, Angel? Kamu saja masih dihantui dengan rasa takut akan teror itu,”


“Aku akan berusaha untuk tidak takut lagi, Ean. Aku janji padamu, asalkan kamu tidak usah lagi mencari siapa pelakunya. Tidak penting juga, nanti dia malah bahagia kalau dicari,”


Mendengar permintaan Angel yang ingin Ia berhenti mencari tahu siapa pelaku dari teror yang Ia terima.


“Kamu tau soal pelaku teror itu ya, Sayang?”


“Hm? Tidak, aku tidak tau siapa yang meneror aku. Kalau aku tau, pastilah aku beritahu kamu,”


“Aneh saja menurutku. Harusnya kamu dukung aku untuk mencari siapa pelakunya tapi kamu malah menyuruh aku untuk berhenti mencari tahu. Makanya aku pikir kamu tau siapa pelakunya,”


“Tidak-tidak, aku tidak tau apapun, Ean,” ujar Angel yang langsung panik mendengar ucapan suaminya. Andrean sepertinya curiga kalau Ia sudah tahu siapa pelaku teror untuk ya. Memang Ia tahu tapi tidak mungkin Ia beritahu pada Andrean. Reaksi Andrean nanti pasti sangat marah. Bisa-bisa Andrean datang lagi ke rumahnya dan memberikan pelajaran untuk ayahnya.


“Tapi aku penasaran siapa yang mengirimkan teror itu. Kenapa dia bisa sejahat itu padamu. Aku benar-benar tidak habis pikir, Sayang,”


“Tidak usah penasaran lagi. Semakin dicari, dia semakin senang berulah. Sudah, biarkan saja ya. Kamu tidak perlu mencarinya lagi. Aku baik-baik saja. Aku tidak akan takut lagi, kamu tenang ya,”


“Okay kalau memang kamu melarang aku untuk mencari tau lagi siapa pelakunya. Tapi aku harap teror itu tidak datang lagi. Karena kalau datang lagi, aku akan tetap cari tau siapa pelakunya biar aku kasih pelajaran untuk dia,”


“Astaga, nggak usah, Ean. Biar saja, dia yang dapat dosa, dia yang dapat balasan. Nggak usah kamu cari tau,”

__ADS_1


*******


“Jangan! Jangan diterima,”


“Tuan yang terhormat, Tolong jangan berikan apapun untuk kakakku Angel kalau nama pengirimnya tidak jelas, karena Angel pernah mendapatkan teror,”


Auristella baru saja sampai di kediamannya. Dan Ia langsung bertemu dengan seorang pengirim barang yang sedang bicara dengan security rumahnya, lelaki itu meminta supaya security mau menerima barang yang Ia antar karena itu tugasnya.


“Tapi saya ditugaskan untuk mengantarkan ini. Dan nama penerimanya Angel,”


“Okay, siapa nama pengirimnya? Tolong sebutkan sekarang, kalau perlu foto orangnya,”


Auristella tidak mau kejadian yang pernah dialami Angel kembali terulang. Ia tidak tega ketika Angel harus ketakutan mendapatkan teror itu.


“Kalau anda tidak bisa memberitahuku siapa nama pengirimnya, bagaimana wajahnya, maaf aku menolak kiriman itu,”


Peringatan dari Auristella berhasil membuat orang itu pergi dengan motornya. Lelaki itu melaju dengan cepat meninggalkan Auristella yang tersenyum miring dan geleng-geleng kepala.


“Saya memang sudah menolaknya, Nona,” ujar Jhon.


“Iya, aku bantu untuk menolaknya. Kita harus lebih pintar menghadapi orang yang punya niat jahat. Enak saja dia mau membuat Angel ketakutan lagi. Aku yakin di dalam kotak yang dia bawa ada sesuatu yang membuat Angel ketakutan lagi. Pokoknya siapapun di rumah ini jangan sembarangan menerima sesuatu ya, apalagi untuk Angel karena dia dalam situasi yang tidak aman sekarang. Seseorang ada yang punya niat jahat pada Angel,”


“Siap, Nona,”


“Sampaikan ucapanku tadi pada semua yang berjaga ya, terimakasih,”


Setelah berkata seperti itu Auristella melangkah memasuki rumahnya dan disambut oleh Lovi dan Devan yang belum berkata pada siapapun kalau Devan sudah menyelesaikan pekerjaannya di Jepang lebih cepat dari rencana. Devan dan Lovi langsung pulang ke rumah tanpa memberitahu anak-anak mereka sehingga menjadi kejutan.


“Wow Mommy dan Daddy sudah pulang ternyata. Kenapa tidak bilang kalau pulang sekarang?”


“Sengaja untuk memberi kejutan, Sayang. Bagaimana? Kamu terkejut ‘kan?”


“Jelas, Mom. Aku terkejut sekali. Aku pikir kalian belum pulang hari ini,”


“Baru kamu yang terkejut dan keliatan senang Mommy dan Daddy sudah pulang, ketiga kakakmu belum,”


“Aku yakin mereka juga akan sangat senang, akan terkejut. Mereka juga merindukan kalian, Mom, Dad. Sama seperti aku yang sudah merindukan kalian. Rasanya lama sekali padahal tidak sampai satu minggu ya. Tapi seperti satu tahun berpisah dengan kalian,”


“Hahahah, kamu berlebihan, Sayang. Serindu itu kah?”


Devan mencium kening putrinya dan kembali memeluk Auristella dengan erat. Auristella benar-benar kelihatan merindukan pelukan ayahnya yang selama ini begitu menyayanginya, menganggapnya ratu, menganggapnya berlian yang perlu dijaga dengan begitu baik.


“Bagaimana suasana di rumah? Semuanya aman, Sayang?”


“Aman, Mom,”


“Tidak ada masalah?”


“Tidak,”


“Tidak ada pertengkaran ‘kan selama Daddy dan Mommy pergi?”


“Oh tidak, jelas semua aman terkendali, semua baik-baik saja,”


“Kalau kamu dan Andrean tidak bertengkar, Mommy percaya. Tapi kalau kamu dan Adrian tidak bertengkar? Wow, itu sesuatu yang mustahil. Apa ucapanmu bisa Mommy percaya, Sayang?”


“Hahahah sejujurnya kalau aku dan Ian memang bertengkar terus, Mommy. Tapi kalau aku dengan Andrean atau Andrean dengan Angel tidak pernah bertengkar,”


“Nah sudah bisa Mommy tebak. Pertengkaran kalian tidak akan pernah bisa dihentikan, kecuali kalau sudah tua sepertinya,”


“Kenapa kalau tua tidak bisa bertengkar, Mom? Bisa, selagi masih ada kekuatan,”


“Jangankan bertengkar, duduk saja sudah susah, Auris, ingat orang juga susah,” ucap Devan yang mengundang tawa Auristella.


“Oh iya benar juga kata Daddy. Orangtua sudah sakit-sakitan ya, tidak kepikiran lagi dengan bertengkar,”


“Tapi nanti kalau kalian sudah sama-sama berkeluarga, punya kehidupan masing-masing, Daddy yakin pertengkaran kalian nantinya akan berkurang. Kenapa? Karena kalian ‘kan sudah sibuk dengan hidup sendiri-sendiri, sibuk dengan pasangan, sibuk dengan anak, sibuk dengan pernikahan masing-masing lah intinya,”


“Jangan, kalau aku tidak bertengkar dengan Ian, hidupku sepi sekali, Mom, Dad,”


“Tidaklah, nanti juga ada yang membuat hidupmu tidak kesepian lagi,” ujar Lovi seraya menaik turunkan kedua alisnya.


“Maksud Mommy?”


“Iya ‘kan sudah punya pendamping hidup nanti, sudah punya anak juga,”


“Ya ampun, Mommy. Itu masih lama, memangnya aku boleh ya menikah sekarang?”


“Hei ngomong apa kamu?”


Auristella terbahak ketika Devan menatapnya dengan tatapan tajam sambil mengangkat dagunya.


“Aku hanya bertanya, Dad,”


“Kamu bertanya hal yang sudah kamu ketahui jawabannya, Sayang,”


“Hanya untuk memastikan saja boleh aku menikah muda?”


“Ya tidak boleh lah, memang siapa yang sudah mau menikahimu sekarang? Hah? Katakan pada Daddy dan Mommy, maka akan kami datangi dia. Apa yang dia punya? Hanya cinta? Tidak ada kerja keras? Semua keperluan masih minta pada orangtua? Oh kalau begitu mohon maaf, Daddy tidak bisa diam saja. Berani sekali dia mengajak kamu menikah muda disaat dia sendiri belum ada persiapan,”


“Ya ampun, padahal aku cuma bertanya, pembahasannya jadi jauh, Dad,”


Auristella menggaruk pelipisnya. Ia takut melihat reaksi Devan yang langsung serius menanggapi pertanyaannya. Devan mengira sudah ada yang berani mengajak putrinya menikah disaat sang putri bertanya apakah boleh dirinya menikah muda.


“Kamu sengaja memancing Daddymu untuk mengaum, Auris. Jadi begitulah kira-kira reaksi Daddy kalau kamu tanya boleh menikah muda atau tidak,”


“Ya boleh sih, asal selesai kuliah dulu. Itu juga masih muda ‘kan? Dan laki-lakinya punya modal, jangan cuma modal cinta. Nanti kamu mau diberi makan apa? Bagaimana dia menghidupi kamu? Dan ingat, kerja keras itu juga harus dimiliki oleh calon pasanganmu,”


“Siap, Dad. Akan aku cari yang sesuai dengan harapan Daddy dan Mommy,”


“Jangan sekarang memikirkan pernikahan, Sayang. Selain karena kamu masih harus fokus dengan pendidikan, pemikiran dan sikapmu juga belum dewasa. Sulit kalau belum dewasa tapi sudah menikah. Ini bukan hanya tentang usia saja ya. Tapi pola pikir dan sikap dewasa itu penting sekali. Ada yang usianya masih muda tapi dua hal itu dia sudah punya, tapi ada juga yang usianya sudah matang dan dia belum punya keduanya. Yang Daddy liat, kamu masih muda, pola pikir dan sikap dewasa belum kamu miliki, Sayang. Jadi nanti ya,”


“Iya, memang siapa juga yang mau menikah sekarang, Dad?”


“Kalau Angel, dia memang terbilang masih muda, tapi pendidikannya sudah hampir selesai, kalau membicarakan bagaimana pola pikir dan sikapnya, kita semua sudah sama-sama tau ya. Makanya tidak heran kita memilih dia untuk menjadi pendamping Andrean. Terbukti dengan kedewasaan yang dia punya, dia bisa menyeimbangi suaminya,”


“Iya aku paham, Dad,”


“Selamat si—“


“Hah? Daddy Mommy sudah sampai di rumah? Ya ampun, aku pikir belum hari ini. Tidak ada kabar apapun dari kalian berdua,”


“Hei, selamat apa tadi? Lanjutkan dulu,”


“Selamat siang eh ini sudah sore, iya sore maksudku, Auris. Maklum, aku terkejut melihat Mommy Daddy sudah pulang jadi lupa melanjutkan kalimat. Jadi kapan Daddy Mommy sampai di rumah?”


“Belum lama, sekitar satu atau dua jam lah,”


“Kenapa tidak meminta aku untuk datang ke bandara? Aku ingin menjemput kalian,”


“Tidak perlu, merepotkan nantinya,”


“Astaga, Mommy jangan bicara begitu. Mana pernah orangtua dianggap merepotkan oleh anaknya sendiri? Tidak pernah lah, kalau ada yang beranggapan begitu, berarti anak itu bukan anak yang baik. Aku lebih merepotkan Mommy Daddy, sudah dilahirkan, dibesarkan, diberikan makanan bergizi dan enak dari dalam kandungan, pendidikan yang layak, tapi kalian tidak pernah mengatakan bahwa aku ini merepotkan. Padahal kenyataannya aku sangat-sangat merepotkan kalian. Sayang sekali aku tidak menjemput kalian di bandara tadi. Seharusnya kirim pesan padaku, Mom, Dad, biar aku datang menjemput,”


“Tidak apa, ada driver juga. Kamu ‘kan sibuk kuliah, kami tidak mau mengganggu. Jadi bagaimana hari-harimu tanpa Daddy, Ian? Hmm?”


“Kesepian, aku rasanya kurang teman. Ean ada sih, tapi ‘kan yang lebih menyenangkan itu Daddy, suasana lebih terasa hidup kalau dengan Daddy ketimbang Andrean,”


Adrian memeluk Devan dengan erat. Walaupun sudah dewasa tapi kalau rindu ingin memeluk, Adrian tidak akan sungkan melakukannya walaupun kata adiknya “Ih manja sekali, sudah bau tanah juga!”

__ADS_1


Adrian tidak peduli yang penting rasa rindunya meluap setelah bisa bertemu dengan Devan yang keadaannya baik-baik saja dan Ia bisa memeluk Devan.


Setelah itu Ia memeluk Lovi. Ia juga senang melihat Lovi baik-baik saja, kelihatan bahagia setelah pergi menemani suaminya bekerja.


“Mommy makin keliatan muda ya,”


“Ah kamu bisa saja. Mau apa ini? Kalau memuji biasanya ada mau ‘kan?”


“Hahahaha Mommy kalau bicara suka benar ya, Ian. Mau apa kamu?”


“Heh sembarangan! Aku emang mau memuji Mommy. Apa yang aku katakan barusan kenyataan. Mommy keliatan semakin muda, semakin bahagia. Mommy mulia sekali menjadi istri. Mau rela pergi ke tempat yang jauh hanya untuk mendampingi Daddy. Wah luar biasa. Aku semakin ingin mencari pendamping hidup seperti Mommy,”


“Kalau bisa jauh lebih baik dari Mommy,” ujar Lovi. Ia yakin di luar sana masih banyak perempuan yang jauh lebih baik darinya, dan Lovi berharap salah satunya bisa dimiliki oleh Adrian.


“Aamiin, tapi seperti Mommy saja sudah lebih dari cukup, aku sudah bersyukur sekali. Karena Mommy itu sempurna,”


“Mommy manusia biasa, Adrian. Tidak ada manusia yang sempurna,”


“Tapi menurut pandanganku begitu, Mom. Makanya Daddy sangat beruntung seharusnya,”


“Oh tentu saja Daddy sangat bersyukur. Tidak ada hal yang tidak Daddy syukuri di dalam hidup ini, Ian, apalagi hadirnya Mommy. Itu berkat luar biasa untuk Daddy,”


“Mommy juga tidak pernah berhenti bersyukur punya suami yang luar biasa, anak-anak yang luar biasa juga. Hidup Mommy ini rasanya sudah lengkap tidak kekurangan apapun. Selagi dengan kalian, Mommy rasa Mommy akan baik-baik saja walaupun dihantam badai apapun,”


Disaat mereka sedang berbincang hangat di ruang tamu, tiba-tiba ada terdengar suara langkah kaki.


Tidak lama kemudian muncullah wajah Andrean dan Angel yang langsung tersenyum melihat keberadaan Lovi dan Devan.


“Wow Mommy Daddy sudah pulang ternyata. Sejak kapan? Sudah lama kah? Tidak mengabari aku padahal aku akan menjemput Mommy Daddy,”


“Kamu sama dengan Ian ya. Sama-sama berniat menjemput kami. Sengaja tidak bilang-bilang supaya bikin kalian kaget,”


“Aku pikir bukan hari ini, Mom,” ujar Andrean seraya tersenyum.


“Hahaha, ini kejutan, Sayang. Memang sengaja tidak mau bilang-bilang kalau akan sampai hari ini. Bagaimana rumah ini? Aman ya tidak ada Mommy dan Daddy?”


“Aman, yang di sini semuanya aman, Dad,”


“Terimakasih ya, kamu selalu bisa diandalkan,”


“Kalian kelihatannya lelah, silahkan masuk kamar masing-masing untuk beristirahat. Nanti malam kita makan bersama seperti biasa. Kalian berdua ‘kan sebentar lagi pindah, jadi tidak boleh melewatkan momen bersama satu kalipun,”


“Hmm Mommy, aku mau bicara sesuatu pada Mommy, Daddy, Ian dan Auris,”


Alih-alih pergi ke kamar, Andrean mengajak mereka yang Ia sebut namanya barusan untuk duduk dan Angel juga mengikuti.


“Sepertinya penting, ada hal apa, Sayang?” Tanya Lovi dengan sorot mata yang penasaran.


“Angel belum siap untuk meninggalkan rumah ini, mengingat belakangan ini ada yang meneror Angel. Di rumah kami nantinya memang tidak hanya kami berdua, tapi sepertinya Angel lebih aman di sini. Sampai aku dan Angel benar-benar siap barulah kami pindah, bolehkah kalau aku ambil keputusan itu?”


“Astaga, Andrean,”


Mereka tidak menyangka kalau Andrean akan bicara seperti itu. Padahal keputusan Andrean itu sudah tepat sekali, dan memang yang diinginkan oleh orang satu rumah yang tidak rela Andrean dan Angel pergi dari rumah itu.


“Memang itulah yang Mommy mau, semuanya mau. Sepi kalau berkurang personel kita. Waktu kamu berkata bahwa kalian ingin pindah, Mommy sedih tapi Mommy tidak bisa berbuat apa-apa karena itu sudah menjadi keputusan kalian sebelumnya. Setelah kalian berubah pikiran, kita semua senang sekali. Keselamatan Angel yang utama. Kalau di sini ‘kan ramai orang, banyak yang akan menjaga Angel,”


“Iya, Mom. Aku memikirkan Angel. Dia masih belum bisa melupakan trauma itu. Masih ada rasa takut, jadi aku tidak mau memaksakan Angel supaya mau pindah. Kami berdua sudah sepakat akan pindah kalau memang sudah sama-sama siap,”


“Iya itu bagus. Jangan dipaksa kalau memang Angel belum siap,” ujar Devan.


“Yeayy Angel tidak jadi pindah. Aku senang sekali. Sudahlah jangan pindah saja sekalian biar kita sama-sama terus, Angel,”


“Akan tetap pindah, Auris. Tapi tidak sekarang,” ucap Andrean yang langsung membuat Auristella merengut.


“Ih kenapa mau tetap pindah sih? ‘Kan di sini lebih menyenangkan karena banyak orang,”


“Ya justru itu kalau ramai-ramai, Mommy dan Daddy kasihan tidak bisa tenang,”


“Jangan bicara begitu, Ean. Kami senang kalau kita berkumpul. Sudah, sekarang tidak usah memikirkan pindah dulu. Di sini rumah kalian, rumah kita, jadi jangan sungkan untuk tetap bertahan di sini. Memang itulah yang Mommy inginkan. Jujur Mommy sulit melepaskan kalian. Mommy ingin bersama kalian lebih lama lagi, ya paling tidak sampai Mommy punya cucu lah jadi Mommy ada kesempatan mengurusnya sebentar sebelum kalian bawa kabur ke rumah kalian,”


“Hahahaha Mommy kenapa menyebutnya kabur? Itu ‘kan anak mereka, Mom,”


Auristella tertawa paling keras mendengar ucapan Lovi yang bicara dengan wajah seriusnya. Sempat merasakan satu rumah dengan cucu pasti menyenangkan, Lovi sudah bisa membayangkannya. Ia sempat berharap Andrean dan Angel pindah ketika mereka sudah punya anak saja, tapi ternyata mereka punya keputusan untuk pindah di akhir pekan ini. Ia bisa apa selain setuju. Ia tahu anak-anaknya punya hak untuk menentukan jalan hidup mereka masing-masing.


Berhubung Andrean sudah menikah dan mau hidup tanpa orangtua, jadi Andrean mengambil keputusan untuk memboyong istrinya keluar dari rumah orangtuanya. Berat sekali untuk Lovi menerima keputusan itu.


Lalu barusan tiba-tiba Andrean berubah pikiran karena memikirkan keselamatan dan juga kenyamanan istrinya yang masih belum berani hidup tanpa adanya keluarga di rumah mereka. Lovi senang karena dengan Angel memilih tetap tinggal di rumah ini, artinya Angel benar-benar sudah menganggap keluarga suaminya itu adalah keluarganya juga yang bisa membuatnya aman dan tenang.


“Ya sudah kalau begitu aku dan Angel pergi ke kamar dulu,”


“Iya-iya, silahkan. Jangan pikirkan pindah dulu ya,” ujar Lovi seraya mengedipkan salah satu matanya ke arah Angel yang langsung tersenyum.


“Iya, Mommy,”


Andrean dan Angel segera bergegas ke kamar mereka, sementara Adrian dan Angel masih bertahan di ruang tamu bersama kedua orangtua mereka.


“Mommy, Daddy, jadi Angel itu masih teringat terus dengan kiriman bangkai untuk dia. Dan sampai sekarang Andrean juga belum tau siapa yang jahat melakukan itu. Kasihan Angel, awal-awal setelah kejadian itu dia menangis. Aku ikut emosi ya pada orang jahat itu. Kenapa sih dia jahat pada Angel? Memang Angel salah apa coba? Aku tidak habis pikir. Seharusnya kalau memang Angel berbuat kesalahan, dibicarakan lah baik-baik, jangan malah mengirim hal-hal negatif seperti itu,” ujar Auristella berapi-api menjelaskan pada kedua orangtuanya tentang teror yang diterima oleh istri dari kakaknya itu.


“Apa itu saingan bisnis Daddy ya? Maksudku, ada orang yang tidak suka dengan pencapaian Daddy, atau tidak suka dengan keluarga Daddy, akhirnya Angel jadi korban,”


“Akan Daddy selidiki. Daddy berharap pelakunya tidak ada sangkut paut dengan Daddy. Karena Daddy akans angat merasa bersalah,”


“Kalaupun memang benar pelakunya melakukan itu karena benci pada Daddy, atau apa yang Daddy punya, ya sudah biarkan saja, Dad yang mengurusi semuanya,”


“Jangan dibunuh, Dad! Kemanusiaan jangan dilupakan,”


Devan tertawa mendengar pesan dari anak keduanya. Ia menepuk kedua bahu Adrian untuk menenangkan.


“Aman-aman, Daddy tidak akan menggunakan cara itu,”


“Ingat punya anak istri di rumah, Dad,”


“Iya selalu ingat, Ian,”


“Jangan bikin ulah yang bikin anak istri jadi kepikiran,”


“Ya ampun, memang siapa sih yang mau bikin ulah? Hmm? Tidak ada, Daddy hanya ingin meminta orang itu untuk berhenti mengganggu keluarga Daddy kalau memang pelakunya itu berulah karena Daddy,”


“Daddy banyak musuhnya, jadi hidup kurang tenang,”


“Ssst tidak boleh bicara begitu. Memang siapa sih yang mau punya musuh? Hmm?”


Lovi menegur anak perempuannya yang baru saja mengeluh kalau hidupnya kurang tenang karena sang ayah punya banyak musuh.


“Heh Auris, asal kamu tau ya. Di dunia ini, mau sebaik apapun, tiap manusia pasti punya haters, alias pembenci. Jadi mau baik mau jahat sebenarnya sama saja. Pasti ada yang tidak suka dengan kita, pasti ada yang benci kita. Bedanya hanya di jumlah saja aku rasa. Kalau orang baik, yang tidak sukanya hanya sedikit, yang benci hanya sedikit, dan kalau orang jahat kebalikannya. Kamu paham ‘kan? Jadi jangan menyalahkan Daddy lah. Daddy kaya, sukses, keluarganya dipandang orang harmonis, mungkin kehidupan Daddy di pikiran orang lain adalah kehidupan yang tanpa celah, akhirnya mereka benci pada Daddy,”


“Iya benar kata Ian dan Mommy. Daddy juga kalau boleh memilih tidak akan mau punya pembenci, Auris. Tidak enak, hidup selalu waspada jadinya, tapi ya mau bagaimana lagi? Yang benci kita itu pasti ada saja. Mereka iri dengan pencapaian kita, mereka iri dengan apa yang kita punya. Akhirnya jadi membenci,”


“Iya aku heran dengan orang-orang yang iri. Kenapa tidak fokus saja dengan tujuan hidup masing-masing? ‘Kan lebih tenang, lebih damai rasanya. Kalau rasa iri dijadikan motivasi untuk lebih maju lagi sih tidak apa-apa, aku mendukung. Tapi masalahnya di dunia ini sebagian besar manusia malah menyalahgunakan rasa iri. Yang harusnya jadi motivasi, jadi cambukan supaya usaha lebih keras dan mencapai apa yang diinginkan, malah rasa iri itu disimpan di hati, lalu akhirnya tumbuh lah rasa benci itu,”


“Sabar-sabar, jangan emosi. Tenangkan dirimu wahai adikku yang jelek seperti ikan nemo,”


Adrian memegang kedua bahu adik satu-satunya itu. Adrian bisa melihat emosi Auristella masih ada setelah bercerita tentang teror yang diterima oleh Angel.


“Kita berdoa saja semoga teror itu tidak datang-datang lagi,”


“Kalau teror itu datang lagi tolong daddy cari tau yang benar, Dad,”


Devan langsung bersikap hormat pada istrinya yang baru saja punya permintaan tolong supaya Ia mencari tahu siapa yang sudah berani meneror Angel hingga membuat Angel ketakutan.

__ADS_1


********


__ADS_2