Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 182


__ADS_3

“Hahahaha aku bercanda, Ean. Baiklah kalau begitu sudah suku ya kita bicaranya?”


“Sudah dapat hadiah untuk—“


“Belum, makanya jangan ganggu dulu! Sudah ya aku tutup,”


Andrean terkejut mendengarkan ucapan tegas adiknya. Andrean spontan menjauhkan ponsel dari telinganya.


Angel yang melihat Auristella menyimpan ponslenya sambil menggerutu did alam tas langsung tertawa.


“Dia kenapa sih hobi seklai mengganggu aku sudah tau aku belum selesai mencari hadiah,”


“Ean hanya penasaran saja kita masih bersama atau tidak, lalu apa kita sudah selesai atau belum,”


“Dia takut sekali istrinya aku culik, padahal mana mungkin aku melakukannya,”


Tawa Angel pecah. Lalu Ia merangkul bahu Auristella. “Dia juga khawatir padamu,”


“Tidak, dia hanya khawatir padamu saja, Angel,”


“Tidak mungkin, Auris. Kamu adalah adiknya, jelas saja sia khawatir padamu juga. Dia ingin memastikan adik baik-baik saja maka dari itu sampai dihubungi bahkan ingin dijemput juga,”


Angel tidak ingin Auristella merasa bahwa kasihs ayang atau perhatian dari kakaknya Ia ambil aluh secara keseluruhan. Padahal yang Auristella harus tahu sampai kapanpun Auristella itu akan menjadi putri kecilnya Devan dan Lovi yang akan selalu mendapatkan kasih sayang juga perhatian sampai kapanpun, Auristella akan selamanya dianggap sebagai adik kecilnya Andrean dan Adrian walaupun Ia sudah dewasa. Sampai kapanpun Auristella juga akan mendapatkan kasih sayang juga perhatian yang utuh dari kedua kakaknya seklaipun kakak-kakaknya itu sudah memiliki pasangan atau bahkan anak.

__ADS_1


*****


“Aku sumpahi Adrina punya kekasih yang tampan sekali, lebih banyak uang, dan yang jelas lebih dari kamu dalam segala hal. Itu doaku karena kamu sudah pergi dengan Adrina sean g-senang berdua sementara saat aku ajak pergi belanja kamu menolak. Dasar kaka yang tidak punya hati,”


Auristella langsung berlalu sambil mengibaskan rambutnya dan sengaja mengenai wajah kakak keduanya itu.


“Astaga, Auris. Kamu memancing rasa kesalku datang ya? Nanti aku balas mau? Aku kibaskan kaos kakiku ini,”


“Eh jangan! Awas saja kalau kamu berani melakukannya,”


“Aku berani,”


Adrian melakukan ancang-ancang untuk melempari adiknya dengan kaos kaki namun adiknya itu sudah berlari menjauh. Adrian tak bisa menahan tawanya lagi.


“Takut ‘kan,”


“Enak saja, kakiku tidak bau. Mau cium sendiri? Kemari, jangan cuma bisa menghina,”


“Iya kamu jangan bicara begitu, Auris. Kakakmu mana ada yang bau. Dari atas sampai bawah semua terurus. Sejak kecil Mommy jamin hal itu. Mommy saja nyaman kalau dekat mereka,”


“Dia bau, Mommy,”


“Tidak, Auris! Aku lempar kaos kaki ini ya kalau kamu bicara begitu lagi,” bantah Adrian.

__ADS_1


“Maksudku bau uang. Tapi kikir, makanya belikan aku make up, biar bau uangnya tidak sampai ke hidungku lagi. Kamu ‘kan baru menyelesaikan project film,”


“Ah rupanya ada maksud terselubung. Hih, jangan harap aku menuruti permintaanmu,”


“Oh begitu?“


“Aku akan simpan uangku baik-baik untuk modal menikah,”


“Ah dari dulu menyiapkan modal untuk menikah terus tapi tidak kunjung menikah,”


“Belum, doakan sebentar lagi,”


“Ada rencana menikahi siapa?”


“Adrina,”


“Hah? Memang Adrina mau? Hmm? Hahaha aku rasa tidak, kamu memiliki wajah yang tidak terlalu tampan,” kata Auristella mengejek kakaknya setelah itu pergi begitu saja.


“Mulutmu itu minta aku putar seratus delapan puluh derajat ya?”


“Kamu harus banyak cerita pada Daddy nanti ketika Daddy sudah pulang,”


Adrian langsung menelan salivanya begitu mendengar ucapan sang ayah. Aura tegas Devan membuat Adrian gugup.

__ADS_1


“Hmm mau bicara apa, Dad?”


“Ya tentu bicara soal sejauh mana hubungan kamu dengan Adrina? Apa kamu hanya bermain-main saja atau sudah punya rencana jauh ke depan? Kalau memang sudah punya, lalu kapan dilaksanakan? Cepatlah, jangan lama-lama supaya Daddy secepatnya juga punya cucu darimu, Ian,”


__ADS_2