Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 197


__ADS_3

Sesuai ucapan Andrean tadi. Sore ini mereka bangun dari tidur dan langsung bersiap untuk pergi. Mereka jauh lebih segar dari sebelumnya. Siap untuk keluar dari hotel.


"Daddy, Axelia sudah tampan?"


"Selalu tampan,"


"Asyik, siap bertemu yang cantik-cantik,"


"Aish! Apa-apaan kamu? Ingat tidak kata Grandpa tadi---"


"Kata Grandpa, kalau nakal akan dijemput. Bukan kalau genit," Dia sudah tahu kalau dirinya sendiri genit. Siapa yang mengajarkan? dan kapan dia mempelajarinya?


"Astaga,"


Percakapan konyol itu berlangsung beberapa saat setelah Axelia siap dengan penampilannya. Angel membantu anak kembarnya untuk berpakaian. Andrean dan kedua anak laki-lakinya kompak mengenakan kargo short pants yang menambah kesan kasual mereka untuk sore ini.


Yakin ingin menonton saja? mainnya kapan?"


"Iya, sekarang nonton dulu, Dad. Besok main,"


"Ck! Axelia maunya main dulu di wahana apa itu namanya, Dad? Axelia lupa,"


Terjadi perdebatan karena perbedaan selera. Axelion yang suka menonton, pasti lebih memilih untuk pergi ke bioskop. Sementara Axelia yang hobi bermain, tentulah memilih untuk pergi ke tempat bermain.


"Kidz*nia,"


"Iya itu!"


"Ya sudah tidak perlu tarik urat begitu," angel menenangkan anak bungsunya yang berteriak membenarkan ucapan sang ayah. Urat di lehernya sampai menonjol karena terlalu bersemangat.


Mereka sangat jarang mengunjungi KidZ*nia karena jaraknya yang lumayan jauh untuk sampai. Di banyak pusat perbelanjaan Manhattan memiliki wahana bermain dengan nama yang berbeda. Fasilitasnya sama dan tujuan didirikannya juga tak jauh berbeda. Untuk menciptakan dunia yang ideal untuk anak-anak.


-----


Mereka menonton film yang ramah anak. Menceritakan perjuangan seorang anak yang tinggal di pedalaman dan sukses menjadi seorang dokter spesialis yang mendapat pendidikan dari universitas ternama di salah satu negara Eropa. Anak lelaki itu adalah seorang bungsu. Walaupun demikian, orangtuanya kurang mengutamakan dia, baik dalam hal pendidikan maupun kasih sayang. Di samping tidak ada biaya, dia juga merupakan anak yang nakal saat masih kecil. Kedua orangtuanya kerap membandingkan antara dia dengan kakak-kakaknya yang terbilang banyak itu. Keluarga mereka mencari biaya hidup dari hasil bertani. Namun dia yang diberi nama Yohanes itu berhasil membuktikan kalau semuanya bisa dirubah dengan kerja keras. Meskipun orangtuanya kurang mencurahkan kasih sayang, Yohanes tetap semangat menuntut ilmu. Justru Ia mencari uang untuk menambah biaya sekolahnya sendiri dengan menjadi supir pengangkut padi dari desa menuju kota.


Anak yang selama ini dianggap remeh, dinomor duakan, berubah menjadi yang terdepan setelah berhasil menyabet gelar dokter spesialis dengan nilai tertinggi. Justru, kakak-kakaknya yang selama ini dibiayai mati-matian, diberi perhatian penuh, malah tidak bisa membalas kebaikan kedua orangtuanya. Mereka tidak menggunakan kesempatan sebaik mungkin. Pada akhirnya mereka memutuskan untuk mengikuti jejak Ayah dan Ibu mereka sebagai petani.


Yohanes pulang ke tanah kelahirannya setelah tiga tahun mencari pengalaman bekerja di negara tempatnya menuntut ilmu. Kedua orangtuanya tentu merasa bersalah setelah menyadari kalau perilaku mereka dulu sedikit banyak melukai hati Yohanes. Namun Yohanes mengatakan kalau itu semua Ia anggap sebagai cambukan agar Ia bisa menjadi lebih baik.


"Orang seperti itu yang dicontoh," Angel berbisik di telinga Axelia. Dengan menyaksikan kisah itu, seharusnya Axelion dan Axelia sudah mulai berpikir bagaimana caranya menjadi anak yang berguna, membanggakan, dan juga rendah hati walaupun jabatan dan pendidikan sudah tinggi.


Seperti Yohanes yang tetap menyayangi keluarganya. Serta tidak lupa untuk mengabdikan diri di tanah kelahirannya.


*****


Hari ini Angel gagal mencoba salon spa yang tak jauh dari hotel. Sehingga memutuskan untuk menikmati private spa yang sudah disediakan oleh pihak hotel. Masih ada waktu dua hari untuk mencoba Rafles spa yang jaraknya hanya satu sampai dua kilometer saja dari hotel. Dan lagi sayang juga bila Angwl melewatkan fasilitas spa yang tak kalah menakjubkan dari hotel yang mereka tempati saat ini.


Menjelang malam mereka keluar dari bioskop. Film yang ditayangkan hampir dua jam namun semangat kedua anak kembar itu belum luntur juga. Mungkin karena sudah Istirahat tadi siang, sehingga rasa lelah belum menderanya. Berbeda dengan angel yang sedari tadi sudah merasa penat, ingin cepat-cepat melakukan treatment spa.


Axelia menjadi penonton saat angel mulai dipijat dengan lembut. Andrean dan Axelion memutuskan untuk bermain game bersama. Hanya anak itu saja yang kurang kerjaan.


"Axelia juga mau, Mom."

__ADS_1


****


"Dad mau kemana?"


"Ambil orange juice, kamu mau?"


"Mau, terima kasih, Dad."


Andrean melangkah menuju meja bar untuk mengambil gelas. Lalu mengeluarkan jus dari dalam lemari pendingin super besar yang tak jauh dari tempatnya saat ini.


Axelia menghempas tubuhnya di sofa dengan wajah murung. Axelion yang merasakan hentakan keras di kepalanya yang tengah berbaring di atas sofa pun terkejut. Kepalanya sampai berputar rasanya.


"Sakit kepalaku, Axelia. Kamu bisa duduk dengan pelan bukan?"


"Siapa yang menyuruhmu tidur di sofa ini?"


"Bukan milikmu, terserah aku mau tidur dimana,"


Andrean meneguk sedikit jus yang sudah ada di gelasnya. Lalu dia beranjak untuk mendekati kedua anaknya.


"Sudah selesai melihat Mommy spa?"


"Mommy belum selesai. Axelia tidak dibolehkan spa, Dad."


Axelia merengek dan menenggelamkan kepalanya di dada Andrean setelah ayahnya itu duduk di sampingnya


"Nanti kita cari spa untuk anak-anak,"


Andrean dan Axelion kembali melanjutkan kegiatan mereka yang sempat terhenti tadi. Sementara Axelia hanya diam dengan kebosanan yang mulai melanda. Matanya berkeliling mencari sesuatu yang mungkin bisa Ia kerjakan. Kamar hotel sangat tertata rapi. Belum ada yang berhasil mencuri perhatiannya. Memainkan furnitur yang ada di tengah ruangan rasanya sudah terlalu biasa untuk Axelia. Bahkan kemarin Andrean harus membayar ganti rugi ketika anak bungsunya itu berhasil memecahkan vas bunga karena dibawanya berlari di dalam kamar seolah itu adalah trofi penghargaan.


"Terima kasih atas dukungannya. Mommy, Daddy, tanpa kalian aku bukan apa-apa," katanya sebelum peristiwa naas itu terjadi. Usai mengatakan itu, Ia mulai berlarian dengan vas bunga yang menjadi kebanggaannya. Sesaat kemudian Ia menubruk guci. Beruntung guci tersebut tidak pecah juga.


Axelia menghela napas kasar lalu bersedekap dada. Ia membuang arah pandangnya dari meja yang seharusnya diisi dengan vas bunga yang dirusaknya kemarin.


"Seharusnya Axelia bawa sepeda saja ke sini. Supaya bisa main sepeda di dalam kamar,"


------


Begitu sampai di kota yang terkenal akan makanan khas yang bernama gudeg itu, Andrean beserta keluarga kecilnya langsung pergi ke keraton Yogyakarta. Ini adalah momen yang dinantikan oleh mereka.


Mereka hanya berjalan sedikit setelah turun dari mobil sebelum sampai di keraton. Sepanjang kaki melangkah banyak sekali aneka buah tangan yang mereka lewati. Angel tertarik untuk membeli batik-batik yang begitu menawan.


Di tempatnya tinggal tidak ada kain bercorak cantik seperti itu. Angel tidak boleh membuang kesempatan.


"Bagus ya? Bagian perutnya juga besar," Ia menilik dress santai yang tengah dipajang. Suara pedagang terdengar sahut-sahutan menawarkan dagangan. Ini adalah hal yang menjadi kesukaan Axelia karena Ia bisa mencuci mata. Bukan masalah perempuan untuk kali ini. Melainkan aneka makanan ringan yang belum pernah dilihatnya.


Ia mencengkram baju Angel semetara Axelia dan Fino tengah menghampiri pedagang bakpia.


"Beli saja, Angel kalau kamu suka,"


Andrean menunduk saat ujung kausnya ditarik oleh Axelia. Ia mengangkat sebelah alisnya seolah bertanya 'ada apa?'


"Daddy, Axelia mau itu." Tunjuknya pada kembang gula berwarna merah muda yang begitu banyak. Terlihat menggoda tenggorokannya yang gila akan rasa manis itu.

__ADS_1


Andrean menyentuh lengan Angel dengan singkat sehingga perempuan yang sedang bertanya harga pada pedagang itu pun menoleh.


"Anak kamu boleh beli itu?"


"Boleh, pasti boleh sama Mommy." Axelia memukul lengan ayahnya. Walaupun Ia jauh lebih rendah postur tubuhnya, tapi masih bisa kalau untuk melakukan itu.


Tanpa Tedeng aling-aling Axelia menarik baju ayahnya. Beruntung kualitas kaus yang dikenakan Andrean sangat bagus, sehingga tidak menimbulkan koyak.


"Daddy tidak perlu bertanya. Ayo beli, Dad!"


*******


"Itu Tidak boleh diinjak, Dad?"


"Tidak, itu tempat raja untuk menunggu tamu-tamunya. Dengarkan kalau orang sedang menjelaskan. Tadi kamu terlalu sibuk menatap anak lain,”


Axelia mendengus kesal. Apa salahnya melihat-lihat produk asli Indonesia? yang selama ini ditatapnya hanya anak-anak bersurai coklat keemasan dengan mata yang mayoritas biru.


Selama petugas keraton mengantar mereka ke setiap sudut keraton seraya menjelaskan, semuanya mendengar dengan seksama. Berbeda dengan Axelia yang berkutat dengan kembang gula dan sibuk mengerling nakal pada gadis-gadis kecil di sekitarnya.


Setelah berkeliling mengupas sejarah yang ada di tempat tersebut, Andrean dan Angel memutuskan untuk pergi ke Malioboro. Dan malamnya mereka akan mengunjungi alun-alun. Permintaan angel Tidak bisa ditolak oleh andrean. Turun langsung di dalam keramaian bukan andrean sekali. Namun Ia akui ini adalah pengalaman pertamanya yang sangat menarik dan tidak akan Ia lupakan.


Di dalam mobil angel langsung menyandarkan kepalanya di bahu andrean. Baru satu destinasi dan Ia sudah kelelahan. Tangan angel terangkat untuk mengusap perutnya.


"Tetap mau ke sana? atau besok saja?" Andrean mengecup pelipis sang Istri. Lalu ikut melakukan hal yang sama dengan angel. Saat tangannya berada di perut angel, menyapa anak mereka, andrean selalu merasakan euforia yang tiada habisnya. Seperti lelaki yang belum pernah memiliki anak saja.


"Aku mau sekarang," sekarang apapun yang diinginkannya angel cenderung lebih keras. Kalau Ia masih bisa melawan, maka akan Ia lakukan tidak peduli andrean akan kesal seperti apa. Lelaki itu juga sudah sering merasa khawatir.


"ADA GELATO, DAD! ADA GELATO! LIA MAU!" teriakan Axelia memenuhi mobil. Fino langsung melambatkan laju mobil yang dikendarainya. Semuanya terkejut karena suara bocah itu begitu nyaring.


"Kenapa kamu makan terus? tiga gulung kembang gula belum bisa membuatmu kenyang?"


"Gelato minuman bukan makanan. Beda dengan kembang gula, Dad."


Andrean mengetatkan rahangnya. Berani sekali anak ini menimpali ucapannya. Tidak heran memang. Semakin hari, kemampuan Axelia dalam bidang itu kian meningkat.


"Sekarang panas ya? nikmat sekali kalau gelato itu masuk ke dalam tenggorokanku," dengan gaya tengilnya Ia mengusap tenggorokan secara dramatis. Sebelah tangannya mengipas-ngipas wajahnya sendiri. Padahal mobil ada pendinginnya.


"Supaya tenggorokannya dingin, hirup saja udara dari AC mobil. Lebih nikmat, Sayang. Tidak perlu keluar uang juga,"


Angel menahan tawa saat andrean menjawab ucapan anak bungsunya yang tak pernah kehabisan akal itu.


"Daddy irit! pelit! Tua nya sulit! lihat saja nanti,"


Itu ucapan yang buruk bukan? dan bisa menjadi sebuah doa. Haish! Axelia...Axelia, kalau menyumpal mulut anak tidak dosa, sudah andrean lakukan sejak Ia lahir.


Kalau sudah begitu tidak ada lagi alasan andrean menolak. Ia tidak ingin matinya dipersulit oleh Tuhan hanya karena pelit, seperti apa yang dikatakan oleh anaknya. Dosa andrean sudah berlimpah. Mungkin dengan membahagiakan anaknya yang kurang ajar ini bisa menghapus dosanya sedikit.


Angel memiting bibir anaknya dengan gemas. Ia juga menggigit pipi bulat Axelia hingga anak itu kesakitan.


"Kalau Daddy tuanya sukit, kamu mau makan apa?"


"Harta Daddy sudah banyak. Mommy tidak perlu khawatir. Nanti Axelia juga bisa bekerja. Tenang... Axelia ini tanggung jawab sekali," dengan pongah Ia menepuk dadanya sendiri. Angel dan Andrean kompak mencibir. Pikirannya memang sudah sedikit dewasa, sudah bisa mengetahui apa itu tujuan bekerja. Namun cara penyampaiannya yang seperti itu membuat mereka kesal.

__ADS_1


-------


__ADS_2