Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 201


__ADS_3

Angel bangun lebih dulu seperti biasanya. Ia melihat kedua anak dan suaminya yang masih terlelap. Perempuan beranak tiga itu tersenyum begitu melihat kakak dan adik yang gemar bertengkar malah saling memeluk ketika tidur.


Axelia terlihat begitu posesif memeluk leher adiknya. Dan Anzelia juga sangat manja, Ia melingkarkan tangan mungilnya di perut sang kakak. Mereka sangat menggemaskan bila sedang akur seperti ini.


Angel keluar dari kamarnya untuk menghampiri anak sulungnya. Axelion tidak ada lagi di kamarnya, mungkin sudah berada di lantai bawah. Angel sekalipun libur, Axelion tetap rajin bangun pagi dan biasanya Ia akan bergabung dengan kakeknya yang gemar lari pagi bersama supir, pengawal dan pekerja laki-laki yang lainnya.


"Lion di bawah?"


Angel bertanya pada pelayan yang tengah membersihkan kamar anaknya.


"Iya, Nona. Tadi sedang disuapi sarapan,"


"Okay, terima kasih,"


Angel pergi ke lantai bawah. Benar, anak pertamanya sudah mandi dan tengah mengenakan kaus kaki.


"Wow, sudah tampan anak mommy," pujinya dengan takjub. Ia mencium pipi Axelion sebagai ucapan 'selamat pagi'


"Sudah makan?"


"Sudah,"


"Ingin olahraga?"


"Ya, ikut Grandpa. Tapi hari ini kita akan naik sepeda,"


"Grandpa nekat ya? sudah tua tapi masih saja ingin naik sepeda," sahut lovi yang belum selesai menata meja makan.


Angel mengusap kepala anaknya lalu datang ke dapur untuk membuat sarapan Anzelia. Sarapan suaminya sudah dihidangkan oleh lovi di meja makan. Angel hanya tinggal membuat teh atau susu hangat, sesuai permintaan suaminya nanti setelah bangun.


"Pergi dulu ya?" ujar Debab pada orang-orang penghuni mansion itu. Ia keluar seraya menggenggam tangan sang cucu.


"Ya, hati-hati."


"Lipn pakai sepeda sendiri? tidak ingin duduk bersama Grandpa saja?"


"Tidak, Lion ingin sendiri,"


Devan mengangguk dan Ia mengisyaratkan pekerjanya untuk menyiapkan dua sepeda miliknya dan Axelion.


"Kalau lelah, katakan pada Grandpa ya?"


"Aku sudah biasa, Grandpa. tidak akan lelah, tenang saja," ujarnya dengan datar. Devab menanggapinya dengan terkekeh.


*******


"Makan dulu, berhenti main!"


"Kamu belum makan sejak tadi siang. Mommy suapi, ayo."


"Lia..."


Beberapa menit usai berdebat, angel menghampiri anak keduanya yang masih berkutat dengan barbie dan boneka mainan miliknya.


"Tidak, lia tidak nafsu makan,"


"Kenapa? Angel masih merajuk dengan Daddy?"


Angel berdecak mendengar suaminya yang menyahut. Bukannya menyelesaikan pekerjaan, malah membuat Axelia kesal lagi.


"Nanti sakit, Sayang. Makan bersama Mommy. Mommy juga belum selesai makan tadi,"


"Tidak mau! perutku masih penuh,"


"Penuh dengan apa? udara?"


"DADDY DIAM! BERISIK!" teriakan Axelia melengking, Ia tidak suka mendengar Andrean yang menyahuti terus-menerus.


Sementara Andrean yang masih membaca berkasnya di ruang tamu hanya bisa menghela napas pelan. "Baiklah, Daddy diam," ujarnya.


"Maafkan Anzel, jangan marah lagi padanya,"


"Selalu seperti itu. Padahal Anzel yang terkadang mengganggu lebih dulu, tapi aku yang dimarahi," Ia masih mencibir kesal. Ia menekan remot mainannya dengan gerak tidak santai, melampiaskan rasa tidak terima.


"Nanti rusak, Mommy tidak belikan lagi ya?"


"Bisa Aunty Aurus yang belikan. Aku sudah lama tidak diajak ke salon. Nanti pasti dibelikan mainan kalovi aku menjadi temannya saat perawatan," Axelia menampilkan raut angkuhnya yang terlihat lucu di mata Angel. Memang dia pikir Auristella akan tetap membelikan kalau Ia sudah mengatakan 'Jangan'?


"Yang punya anak adalah Mommy dan Daddy. Kalau kami tidak izinkan, artinya Aunty tidak bisa berbuat apapun," ujar Angel seraya tersenyum miring. Axelia berdecak kesal dan langsung bangkit untuk mencubit hidung Mommy-nya yang menyebalkan itu.


Angel segera menghindar. Ia berjalan cepat kembali ke ruang makan untuk menghabiskan makan malamnya. Rupanya Axelia mengikuti. Ia menarik ujung baju yang dikenakan Angel sehingga membuat perempuan beranak tiga itu menoleh kesal.


Angel segera menggenggam tangan Axelia untuk memasuki ruang makan. Ia mengambil piring milik anaknya itu.


"Suapi,"


"Iya, Mommy ambil dulu makanannya,"


"Di piring Mommy,"


Angel gemas sendiri. Ia mengembalikan piring axelia.


"Okay, anak tampan. Mommy laksanakan,"


"Jangan terlalu banyak,"


"Ini sedikit,"


"Tidak-tidak, itu banyak, Mommy. Sedikit saja udangnya,"


"Biasanya kamu sangat menyukai ini,"


"Aku sedang diet jadi makannya sedikit saja,"


"Huh? apa?"


Angel mulai menyuapi dan Adelia langsung mengunyahnya.


"Berat badanmu sudah ideal. Lagipula anak kecil tidak disarankan untuk diet. Mommy katakan pada Daddy ya?!" Angel menatap Xelia tajam. Yang benar saja anak ini. Tahu apa dia tentang diet? dipikirnya itu bagus untuk anak seusia dia yang sedang dalam masa pertumbuhan?


"Perut lia sudah tidak bagus lagi, Mom."


"Kata siapa? kamu masih rajin olahraga. Berenang, lari pagi, main sepeda juga. Tidak boleh menahan nafsu makan seperti itu!"


"Boleh, Lia yang membolehkannya,"


"Lia--"


Melihat sorot penuh peringatan dari sang Mommy, axelia terkekeh. Suasana hatinya sudah kembali lagi. Bahkan sudah kembali jahil, membuat Angel panik.


"Lia tidak serius, Mom. Hanya kurang nafsu makan saja, bukan Angel diet,"


"Benar?"


"Iya, jarang merasa lapar,"


"Ada apa dengan tubuhmu? biasanya selalu semangat kalau urusan makan. Apa lagi makanan yang manis-manis,"


"Oh, kalau itu berbeda, Mom."


****


"Dimana si kembar? tidak ikut lagi?"


"Tidak, langsung pulang tadi,"


Daisy menyambut kedatangan atasannya dengan pertanyaan itu. Ia kira mereka akan datang lagi seperti kemarin.


"Sering-sering dibawa ke sini bisa menjadi hiburan juga, Boss."


Andrean hanya bisa tersenyum. Sudah sering Ia mendengar kalimat itu dari para karyawan maupun stafnya. Ia senang karena kedua anaknya bisa menciptakan energi yang positif untuk mereka yang terkadang letih bekerja seharian.


"Dimana berkas yang harus aku presentasikan?"


Daisy mengikuti Andrean masuk ke dalam ruangan lelaki itu untuk mengambil berkas yang dimaksud Andrean.


Beberapa detik setelahnya pintu ruangan Devan terbuka semakin lebar. Andrean dan Daisy menoleh. Ada rekan kerjanya di sana. Devan segera mengisyaratkan Daisy untuk keluar dan setelahnya, Ia meminta Lucas untuk duduk.


****


"Aduh rajinnya Daddyku ini,"


Axelia menggeleng takjub melihat andrean yang pagi ini sudah membersihkan mobil. Tidak biasanya Ia serajin itu. Benar-benar kejadian langka. Jadi pantas saja Axelia sedikit heran.


"Ada apa, Dad?"


"Maksudmu?" tangan andrean masih bekerja keras menyabun setiap bagian mobil yang kerap dipakainya untuk bekerja itu.


"Kenapa mau mencuci mobil?"


"Sedang ingin,"


Axelia merendahkan tubuhnya di samping andrean yang sedang membilas ban mobil. "Jangan di sana. Nanti bajumu basah,"


Axelia menarik tangan anaknya. Namun Axelia tetap nyaman pada posisinya. Akhirnya andrean membiarkan.


Sengaja, Ia malah menyiram air mendekati tubuh Axelia. Lama-lama membuat tubuh Axelia basah. Kalau seperti itu, Ia pasti akan menjauh.


"Daddy, kenapa diarahkan ke Axelia airnya? mobil yang lagi dicuci bukan Axelia!"


"Siapa yang menyuruhmu di sana?"


******


Anzelia menyambut kedatangan Auristella dengan tangan terangkat, meminta untuk digendong.


"Aunty belum mandi. Nanti saja gendongnya ya?"


Berhubung Auristella baru saja pulang dari kampusnya juga membantu temannya dalam urusan pekerjaan, ada baiknya Ia membersihkan tubuh terlebih dahulu sebelum menyentuh Anzelia.


Anzelia berontak dari gendongan Serry. Ia tetap pada keinginannya. Auristella menghela napas lalu meraih anak itu.


"Tidak biasanya kamu manja seperti ini,"


"Anzel dan Axelia baru ditegur Mommy, Aunty."


"Memang kenapa?"


"Mereka bertengkar lagi,"


Penjelasan Axelion membuat Auristella geleng kepala. Akhirnya mereka mendapat pelajaran dari Angel.


"Biasanya kamu selalu dibela. Sekarang dapat bagian juga ya?" tawa Auristella meledak hingga Anzel menangis seolah tahu bahwa Ia sedang digoda.


"Axelia dimana?"


"Tadi menghampiri Daddy yang sedang membersihkan mobil. Sekarang entah kemana,"


"Tadi Aunty tidak menemukan mereka di pekarangan,"


Axelion menghela bahunya tidak tahu. Seingatnya Devan sedang mencuci mobil dan karena Axelia ditegur oleh angel, maka Ia memilih untuk mengganggu andrean.


Tidak ada yang tahu kalau andrean dan Axelia tengah pergi membawa mobil yang sudah bersih. Axelia mengajak ayahnya untuk mengeringkan mobil dengan cara berkeliling di lingkungan mansion. Itu alasannya agar bisa keluar dari mansion dan tidak kebosanan lagi.


"Seharusnya setelah mobil bersih, disimpan dengan baik," cibir andrean yang sebenarnya masih menolak ide anaknya itu. Sejujurnya andrean malas sekali keluar, Ia ingin istirahat.


"Kita pulang sekarang!"


"Nanti, Daddy! sekarang boys time. Nikmati saja, jangan marah-marah terus. Bagaimana kalau kita ke--"


"Jangan banyak permintaan, Axelia. Katamu tadi hanya jalan sebentar, sekarang kenapa malah minta ke lain tempat?"


"Bagaimana kalau aku menemani Daddy minum kopi?"


"Di coffee shop?"


"Iya!"


"Tidak, Daddy sudah kurang suka kopi,"


Padahal bukan seperti itu kenyataannya. Bila tidak ada angel, Ia khawatir tidak bisa mengendalikan diri. Aroma kopi yang begitu menusuk hidung akan membuat andrean lupa kalau angel sudah memperingati berulang kali agar sedikit mengurangi kebiasaan buruknya itu.


******


Usai bermain dengan Anzelia sebentar, auristella kembali menyerahkan Anzel pada Serry. Anak itu sedang makan tapi karena meminta pembelaan padanya sampai rela meninggalkan makanan kesukaannya, ikan salmon yang dibuat seperti nugget.


"Nanti kita main lagi," serunya.


Anzelia makan sambil bermain. Sesekali mulutnya akan menghembuskan makanan dari dalam mulut, pertanda Ia sudah tidak ingin lagi melanjutkan makannya.


"Padahal masih banyak," gumam Serry melihat anak itu belum makan setengah dari yang disiapkan.


Anzelian menolak untuk makan lagi tapi malah menggigit mainan berupa boneka jerapah yang bentuknya lentur, pemberian Axelia kemarin. Anzelia lagi sedang-sedangnya menyukai benda menggemaskan itu.


"Nona kecil sudah mau tumbuh gigi ya? wah, Mommy harus tahu itu,"


Serry akan mengatakannya kalau angel sudah selesai menyiapkan makanan di dapur. Serry membuka pelan mulut anzelia, lalu diperhatikannya lamat-lamat.


"Ada apa, Serry, dengan mulut anzel?"


"Oh, Nona angel. Sepertinya Nona kecil sudah mau tumbuh gigi,"


"Ya, memang. Sejak beberapa hari lalu aku sudah menyadarinya. Ada gigi yang mulai terlihat,"


*******


"Lov..."


"Ya? berhubung anak-anak sudah tidur, saatnya kamu memanjakan aku. Punggungku nyeri semua, sayang. Boleh tolong pijit?"


Angel yang tadinya ingin mempersiapkan diri sebelum tidur, langsung berbalik arah. Ia menuruti keinginan suaminya.


"Kamu terlalu lelah bekerja. Hanya punggung saja yang sakit, bukan?"


"Yang lain juga sebenarnya,"


"Apa yang sakit? nanti aku--"


Andrean membalikkan tubuhnya dengan tiba-tiba lalu mencium istrinya tanpa persetujuan.


"Bibir aku yang sakit. Seharian belum bertemu bibir istriku,"


-------


"Dad, aku sudah tumbuh gigi," seru angel dengan senang seraya mengangkat kedua tangan anzelia. Andrean langsung menggendong anaknya.


"Aku baru tahu,"


"Iya, aku lupa memberi tahumu,"


Andrean mencoba untuk membuka mulut anzelia. Tapi Ia menolak, menahan mulutnya dengan kuat.


"Padahal Daddy mau lihat, Sayang." dengusnya kesal. Ia tidak menyadari kalau bukan angel yang mengatakannya. Padahal setiap hari anzelia selalu bersamanya.


"Perlu perayaan tidak, angel?"


"Huh? untuk apa?"


"Karena anzel sudah tumbuh gigi,"


Angel memukul lengan suaminya yang tampak serius. Angel malah tertawa seolah ucapannya tadi adalah guyon.


"Aku serius, Angel."


"Tidak perlu, andrean. Kecuali kalau dia sudah bisa jalan, mungkin bisa dibuat perayaan."


"Itu masih lama, angel."


"Aneh kamu ini,"


*******


Angel sedang menyiapkan semua perlengkapannya dan andrean untuk beberapa hari ke depan.


Rencananya, nanti malam Ia dan suaminya akan terbang menuju London karena andrean harus menyelesaikan urusan pekerjaan di sana, dan andrean minta untuk ditemani. Setelah memiliki anak lagi, andrean tidak pernah manja seperti ini. Biasanya kalau ada perjalanan bisnis, Ia akan pergi bersama orang-orang kantornya yang juga terlibat.


Ketika angel menolak, andrean mengatakan bahwa Ia sangat menginginkan angel untuk ikut, anggap sebagai bulan madu katanya.


"Tapi bagaimana dengan Anzel?"


"Angel, hanya sebentar. Ada kedua neneknya di sini,"


"Tapi aku tidak bisa meninggalkan mereka," angel tampak sedih ditengah bimbangnya. Satu sisi Ia ingin memenuhi keinginan suaminya tapi di sisi lain, angel harus mengemban tanggung jawabnya sebagai Ibu.


"Sudah lama kita tidak pergi berdua, angel. Kamu tidak mau?"


Dengan segala bentuk bujuk rayunya, akhirnya angel menyerah. Ia akan memenuhi permintaan suaminya. Mereka pergi berdua dan meninggalkan ketiga anaknya di mansion.


"Tidak perlu membawa baju banyak, angel."


"Aku juga tahu. Memang aku pernah membawa baju banyak kalau tidak membawa anak pergi?"


Andrean menggeleng seraya menggusar kepalanya. Ia membantu angel dalam menyiapkan peralatan mandi.


Pintu kamar terbuka. Axelion dan adik keduanya masuk. Mereka memperhatikan kedua orangtuanya lamat-lamat. Sulit sekali membiarkan Daddy dan Mommy mereka untuk pergi. Karena sebelumnya mereka hampir tidak pernah berpisah.


"Nanti jangan lupa sering telepon Axelia ya, Mom?"


Axelia mengikuti kakaknya untuk duduk di tepi ranjang. Mereka melihat kesibukan angel dan andrean dalam diam.


"Pasti, Sayang."


"Axelia kesal, kenapa tidak diajak juga. Pasti Daddy dan Mommy akan berlibur,"


"Kamu curiga saja. Daddy bekerja,"


Usai dengan kegiatannya yang ringan-ringan, andrean menghampiri kedua putranya. Ia membawa axelion dan adiknya itu ke tengah ranjang lalu memeluk mereka sangat erat sekaligus memberikan ciuman yang bertubi-tubi.


"Jangan bersedih. Nanti kita akan sering menghubungi kalian. Memberi tahu kalau kita sudah datang ke tempat ini dan itu, sudah berjelajah kuliner, sudah--"


"Daddy, kenapa malah membuat Axelia semakin ingin pergi juga?! sudah cukup, tidak perlu dilanjutkan,"


Andrean terkekeh geli. Ia menggigit bibir bawahnya menahan gemas. Tidak terasa, mereka sudah besar. Dulu saat ingin ditinggal bekerja saja mereka pasti merengek sampai akhirnya andrean menunda keberangkatannya. Sekarang, kedua anak itu mulai mengerti bahwa tidak selamanya andrean dan angel berada di samping mereka. Ada saatnya harus hidup mandiri karena kedua orangtua harus menyelesaikan pekerjaan yang hasilnya juga untuk mereka.


"Daddy dan Mommy hati-hati ya,"


"Kalian juga hati-hati dan jangan nakal," sudah berapa kali pesan itu disampikan. Baik oleh angel maupun andrean.


"Jangan ganggu Anzel ya, Axelia. Kasihan dia kalau menangis tidak ada Mommy," satu lagi kalimat yang sudah beberapa kali diucapkan angel. Karena siapapun tahu bahwa Axelia gemar sekali membuat adiknya menangis. Angel akan kepikiran kalau anaknya saling bertengkar.


Axelia meletakkan tangannya di pelipis seraya berseru, "Siap Mommy!"


Andrean menyisir rambut depan kedua anak kembar itu menggunakan jemari kokohnya. Seraya memperhatikan keduanya yang tampak serius.


"Belajar untuk menjaga Anzel. Kalau nanti Mommy dan Daddy sudah tidak ada di dunia, lalu kalian--"


Axelion segera memeluk ayahnya sangat erat. Ia menggeleng di dada Andrean. Axelia pun melakukan hal yang sama. Mereka tidak ingin mendengar kalimat itu. Walaupun masih kecil, tapi keduanya sudah mengerti kalau yang dimaksud andrean adalah perpisahan untuk selamanya, ketika andrean dan angel tidak ada lagi di sisi mereka sampai kapanpun.


"Tidak boleh bicara seperti itu, Daddy!"


--------


Kedua anaknya yang laki-laki mengatakan ingin melihat keberangkatan mereka. Tapi rupanya rasa kantuk tak bisa ditahan lagi. Mereka tertidur sebelum angel dan andrean pergi. Axelion dan Axelia mengikuti jejak adik bungsu mereka yang sudah terlelap jauh lebih dulu.


Akhirnya untuk berpamitan, andrean dan angel hanya bisa mencium mereka satu persatu. Tidak cukup sekali, mereka melakukan itu berulang kali. Karena beberapa hari ke depan akan merasa sangat rindu dengan ketiga malaikat kecil mereka.


"Mommy dan Daddy pergi ya, Sayang."


Lovi dan Devab akan menjadi teman mereka tidur selama angel dan andrean tidak ada. Usai melepas sepasang suami istri itu pergi menuju bandara, Lovi dan Devan kembali memasuki mansion untuk melanjutkan istirahat mereka. Andrean dan angel sengaja mengambil jadwal penerbangan malam seperti ini karena harus puas memeluk dan mencium ketiga anak mereka sebelum rindu melanda.


******


"Grandpa, tidak bekerja?"


"Memang kenapa? tidak suka melihat Grandpa di sini?"


"Aduh Grandpa sensitif sekali. Aku hanya bertanya,"


Devan yang tengah menikmati kopi paginya segera membawa Axelia ke atas pangkuan. Cucunya itu memperhatikan apa yang sedang Ia baca.


"Kalau Grandpa tidak bekerja, aku senang sekali. Karena sekarang mansion jadi sepi. Tidak ada Mommy dan Daddy," Axelia mulai mencurahkan isi hatinya. Semalaman Ia merasa kesal dan sedih pada andrean serta angel yang pergi tanpa membangunkan dirinya. Seharusnya Ia bisa melihat Mommy dan Daddy-nya pergi.


Andrean yang memberi pengertian padanya. Andrean dan angel sengaja tidak membangunkan karena melihat Axelia yang tidur begitu pulas, kasihan kalau sampai terbangun. Yang terpenting mereka sudah tahu kalau angel dan andrean akan pergi.


"Biasanya memang seperti ini suasana mansion. Daddy dan Grandpa bekerja,"


"Ya, tapi entah kenapa rasanya sangat berbeda dari hari-hari sebelumnya,"


"Grandpa tidak bekerja?" Axelion ikut dalam pembicaraan. Ia bertanya sambil mengunyah pancake yang dibuat Devan.


"Maunya seperti itu?"


"Kalau boleh,"


"Boleh, apa yang tidak untuk cucu Grandpa?"


"YEAAYY GRANDPA LIBUR,"


Devan terkekeh melihat tingkah mereka berdua yang menggemaskan. Devan pikir tidak ada salahnya menghilangkan kesedihan mereka dengan cara seperti ini. Lagipula Ia sangat jarang meninggalkan pekerjaan. Ini permintaan kedua cucunya jadi tidak ada masalah sama sekali. Mereka sedang menyesuaikan diri tanpa andrean dan angel jadi harus ditemani terlebih dahulu.


"Kita hanya diam saja di mansion? ingin pergi kemana?"


"Main!"


"Main?"


Axelion mencibir adiknya yang begitu cepat menjawab. Kalau ditanya seperti itu pasti jawabannya 'main'.


"Dimana?"


"Wahana,"


"Grandpa rasanya tidak sanggup membawa kalian ke sana. Pasti akan sangat Riuh bila sudah melihat wahana. Bisa-bisa Grandpa pingsan," devan menyampaikan rasa khawatirnya. Walaupun belum pernah membawa cucunya ke wahana bermain, tapi devan tahu betul konsekuensinya. Mereka akan sulit diatur. Kalau Ia masih muda, pasti tidak sulit untuk memenuhinya. Tapi Ia sudah renta, akan kesulitan dalam menghadapi kedua anak yang sangat aktif itu.


"Ayolah, Grandpa. Setelah itu kita ke panti,"


"Ke panti?"


"Iya, aku baru sekali ke sana. Dan sekarang ingin lagi,"


"Ke panti saja ya?" sebenarnya devan akan memenuhi permintaan Axelia yang ingin bermain di wahana tapi Ia harus menggoda cucu keduanya dulu.


"Hanya ke panti?"


Devan mengangguk seraya menahan senyumnya. Axelia sudah menekuk wajah sedemikian rupa dan itu terlihat sangat menggemaskan.

__ADS_1


"Ya, sudah, Grandpa. Tidak perlu kalau Grandpa akan kelelahan di sana," putus axelion dengan dewasa, tidak memaksa kehendak.


Axelia menghela napas pelan sebelum menjawab," Iya, Grandpa. Kita ke panti saja."


"Baiklah, kita ke wahana dan panti. Bagaimana?"


"Benar?" tanya Axelia memastikan.


Devan mengangguk dan langsung dipeluk oleh kedua cucunya. "Terima kasih, Grandpa."


*****


Benar dugaannya tadi. Ia dibuat kelelahan dalam menjaga kedua singa kecil itu. Mereka kesana kemari sesuka hati tanpa memikirkan kakeknya yang sudah kepayahan.


"Sudah, yang tadi terakhir."


"Sekali lagi, Grandpa. Masih ada wahana yang belum kita coba,"


Axelia menunjuk wahana yang bukan untuk anak seusianya. Axelion mengangguk setuju begitu adiknya mengeluarkan pendapat bahwa mainan itu sangat menyenangkan.


"Astaga, itu tidak boleh dicoba oleh anak kecil,"


"Boleh, Grandpa." jawabnya keras kepala.


"Coba aku tanya," axelion mendekati salah seorang petugas yang menjadi penjaga di wahana tersebut. Devab dan Axelia memperhatikan keberanian anak itu.


Tak lama axelion kembali lagi. Ia menggeleng lemah pada adiknya. Devab bersorak senang dalam hati.


"Grandpa sudah katakan kalau itu bukan untuk anak kecil. Ayo, kita ke panti."


Walaupun rasanya sudah sangat lelah tapi devan ingin menuntaskan keinginan cucu-cucunya untuk mengunjungi tempat itu. Mereka akan berbagi juga di sana. Devan sudah menghubungi orang-orang suruhannya untuk menyiapkan segala sesuatu yang sekiranya diperlukan oleh penghuni panti.


Sementara kedua kakaknya bermain, Anzelia ditinggal bersama kedua neneknya. Ia memperhatikan Lovi yang sedang merawat kukunya seraya mengajak Ia berbicara.


"Kamu diam saja. Tidak ada Kakakmu jadi kesepian ya?"


Anzelia tersenyum menaik turunkan alis menatap Anzel. Padahal sebenarnya Ia tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan.


"Tidur saja ya? matamu sudah terlihat mengantuk,"


Tanpa menjawab, Ia menjulurkan tangannya pada Lovi. Anak itu sudah menyadari tidak ada Mommy-nya. Sehingga hanya pada nenek dan kakeknya Ia bisa manja. Beruntung Anzelia tidak menyulitkan. Ia tidak pernah menangis saat Lovi dan Devan berbicara melalui telepon. Justru anzelia selalu tersenyum hangat seolah memberikan ketenangan pada kedua orangtuanya yang selalu cemas memikirkan ketiga anak mereka yang ditinggal.


------


"Sayang, aku pergi dulu ya? kamu mau jalan-jalan sendiri atau tunggu aku saja?"


Di hari kedua Andrean dan angel berada di London, pagi-paginya andrean sudah siap untuk menghadiri pertemuan lagi. Ia berusaha semaksimal mungkin dalam menggunakan waktu yang ada untuk terus bekerja. Barangkali bisa pulang lebih cepat dari perkiraan.


Angel sedang meneguk air minum. Sejak kedatangan mereka, angel merasakan sakit di perutnya. Andrean sempat membawa istrinya ke rumah sakit untuk diperiksa dan hasilnya tidak ada yang salah. Angel hanya sedang mengalami konstipasi dan diharuskan banyak minum air putih.


"Tunggu kamu saja," jawab angel. Andrean sudah bersiap keluar. Tapi sebelumnya, Ia menyempatkan diri untuk memberi kecupan di kening angel, hal yang tidak pernah Ia lewatkan.


"Hati-hati ya," pesan lelaki itu pada istrinya.


*****


Queen Mary's garden adalah taman bunga mawar di London yang menyuguhkan suasana romantis dengan lebih dari dua belas ribu koleksi bunga mawar yang beragam bentuk dan jenisnya.


Angel memilih tempat itu untuk relaksasi pikirannya. Ia dan andrean menikmati pemandangan yang begitu menawan itu seraya menyantap makanan di kafe yang ada di Queen marry's garden.


"Anzel pasti senang kalau dibawa ke sini,"


"Iya, dia begitu menyukai bunga,"


"Tapi kalau Axelia, sudah bisa dipastikan cepat-cepat minta pulang. Dia lebih suka wahana bermain daripada melihat pemandangan cantik ini, padahal dia juga perempuan, tapi jiwa laki-lakinya mungkin lebih menguasai hahaha,”


Angel dan andrean sedang membayangkan kalau ketiga anak mereka ikut merasakan suasana di sana. Pasti akan sangat menyenangkan walaupun mereka berbeda selera tempat.


Axelia dan Axelion memang kurang menyukai tempat-tempat yang cantik seperti ini. Apa lagi kalau diajak berfoto, pasti ada saja alasannya. Kalau mengunjungi wahana bermain, akan beda cerita. Diminta foto oleh angel ratusan kali juga tidak akan masalah.


"Nanti malam mau pergi ke tower bridge?"


"Mau!"


Sudah lama sekali andrean tidak melihat istrinya mengeluarkan rengekan seperti tadi. Masih menggemaskan seperti dulu.


*******


Hari ini sekolah Axelia mengadakan lomba kebersihan kelas dalam rangka merayakan ulang tahun sekolah.


Semua anak begitu semangat dalam berpartisipasi. Mereka bahu membahu menjadikan kelas bersih tanpa kotoran sedikitpun.


Axelia tengah mengganti taplak meja. Amalia menawarkan diri untuk membantu Axelia yang tampak kesulitan mengatur posisi taplak agar tepat.


Axelia menerima tawaran itu. Ia dan Amalia akhirnya bekerja sama untuk mempercantik meja guru. Sementara yang lain juga berbagi tugas.


Axelion dan Revin sibuk membuat dinding menjadi bersih dan indah dengan hiasan yang menarik.


"Axelion, aku bantu ya?"


"Ini sudah hampir selesai,"


--------


Andrean dan Angel terbangun menjelang malam. Andrean menjauhi tubuh istrinya yang sedari tadi Ia dekap hangat.


Andrean benar-benar menganggap bahwa ini adalah bulan madu mereka. Sehingga tidak kenal waktu Ia membuat Angel mabuk kepayang akan sentuhannya.


"Terima kasih, Angel...." bisik Andrean sebelum Ia mengecup bibir Angel. Andrean bangkit untuk membersihkan tubuhnya dari jejak percintaan tadi. Karena nanti malam Andrean akan membawa Angel untuk datang ke tower bridge.


Setelah Ia bersih, Angel baru akan dibangunkan. Andrean membiarkan istrinya untuk beristirahat sebentar.


********


"Aunty Auris, memang benar nanti malam Aunty dan Uncle Revano akan datang?"


"Kamu menguping ya? awas telingamu jadi panjang seperti gajah nanti,"


"Benar atau tidak? jawab itu saja jangan malah mendoakan telingaku menjadi panjang,"


"Hmmm... tidak tahu,"


Axelia tiba-tiba merengek dan mengayun lengan Auristella yang tengah makan siang. Lovi yang melihat sikap cucunya itu menegur, "Jangan mengganggu orang sedang makan, Axelia. Tidak sopan, kalau Aunty tersedak bagaimana?"


"Iya, maaf, Grammy." Ia menghentikannya. Axelia masih menatap Auristella seolah meminta penjelasan atas pertanyaan yang tadi.


"Datang atau tidak? tadi aku dengar Aunty bicara tentang itu pada Grammy Lovi,"


"Iya, Aunty Vanilla-mu yang cantik itu akan datang. Tapi hanya sebentar bukan untuk minta ditemani perawatan," sindir Auristella yang sudah melihat tanda-tanda Axelia akan bersorak senang. Mungkin dipikirnya Auristella akan menjadikan Ia sebagai teman ke klinik perawatan lalu setelahnya Ia akan bermain sepuasnya.


"Lagi pula, Aunty tidak mungkin lagi minta ditemani oleh kamu. Sudah ada Uncle Revano yang melakukan itu," Lovi menahan tawa begitupun dengan Auristella. Mereka berdua melihat ke arah Axelia yang menghentak kakinya kesal lalu berlari ke arah Axelia. Anak kedua dari Andrean dan angel itu memeluk adiknya yang tengah menonton dari belakang. Lalu mencium kepalanya bertubi-tubi, sehingga Anzelia merasa sangat terganggu.


"Jangan ganggu Anzel, Sayang. Dia sedang tenang, kamu malah--"


"Aku mencium dan memeluk adikku sendiri memang tidak boleh?"


"Bukan tidak boleh, tapi aneh saja saat melihat kamu melakukan itu. Biasanya juga tidak pernah,"


Yang kerap dilakukan Axelia adalah membuat adiknya menangis setelah itu Ia pergi. Berbeda dengan tadi, Ia baru saja digoda oleh nenek dan Aunty-nya, setelah itu berlari memeluk adiknya dengan erat seolah minta dibela oleh Anselia.


*******


Andrean dan Angel benar-benar menikmati suasana malam di tower bridge. Angel tidak ingin momen istimewanya lewat dari potretan kamera. Sehingga beberapa kali Ia meminta pada Andrean untuk mengabadikan dirinya. Tak jarang juga Angel meminta bantuan pada orang lain untuk memotret kebersamaannya bersama sang suami.


Setelah euforianya habis, Angel sengaja menghubungi Lovi agar bisa berbicara dengan ketiga anaknya.


Tidak membutuhkan waktu lama, panggilannya pun dijawab. Dan wajah yang Ia lihat pertama kali adalah Axelion.


"Hallo, Mommy."


"Hai, Sayang. Kalian sedang apa?"


"Aku menonton televisi, seperti biasa."


"Kedua adikmu?" Andrean ikut menghadirkan wajahnya. Ia tidak melihat keberadaan Axelia dan Anzelia di dekat Axelion.


Axelia yang sedang berkutat dengan boneka-nya langsung berlari mendekati sang kakak. Lalu lovi datang seraya menggendong anzelia yang baru saja mengganggunya menjahit.


"Ini mereka,"


"Mommy, aku rindu sekali," pekik Axelia. Dengan cepat Ia merebut ponsel dari tangan Axelion. Kakaknya itu hanya bisa menghela napas pelan.


Angel dan Andrean tersenyum melihat ketiga anaknya di sana. Anzelia hanya bergumam, tapi senyumnya menggambarkan bahwa Ia senang bisa melihat kedua orangtuanya.


"Mommy dan Daddy dimana?"


Angel mengarahkan kameranya ke sekeliling. Melihat tower bridge, Axelia langsung berseru riuh.


"Bagus, bagus sekali tempatnya. Pasti Mommy sudah ratusan kali berfoto di sana,"


Andrean menahan tawa setelah mendengar kalimat polos anaknya. Entah polos atau memang sengaja membuat Mommy-nya malu.


"Tentu saja, Mommy tidak akan puas berfoto di sini,"


"Aku mau juga," Axelia menekuk wajahnya. Anzelia di sampingnya menatap Axelia. Anak perempuan itu tampak menenangkan Axelia dengan cara mengusap wajahnya.


Angel dan andrean dibuat tersenyum haru di sana. Mereka senang melihat ketiga anaknya baik-baik saja, tidak bertengkar. Walaupun tidak tahu sebelum mereka menelpon tadi telah terjadi apa di antara Anzelia dan Axelia.


"Selamat bersenang-senang, Mommy, Daddy. Cepat pulang ya, kami menunggu dengan setia," axelion tersenyum tipis ketika mengatakannya. Sedingin apapun axelion, bila sudah rindu, pasti akan tetap menjadi mellow juga. Apalagi ini rindu dengan orangtua.


----------


Di perjalanan pulang menuju mansion, Anzelia tidak bisa dipangku oleh Angel. Andrean yang melakukannya sementara sang istri masih harus melewati proses pemulihan luka di dalam mulutnya.


Anzelia menggeliat dalam pangkuan ayahnya, Ia terlihat senang ketika bisa keluar dari rumah sakit padahal anak itu belum mengerti apapun.


Begitu sampai di mansion, Axelion dan Axelia terlihat kaget melihat Andrean sudah pulang. Mereka sontak melonjak senang dan ingin digendong pula seperti Anzelia.


"Tidak bisa digendong dulu, ada Anzel di sini," ujarnya yang membuat mereka sempat kecewa.


"Daddy kapan pulang? lalu Mommy dimana?"


"Mommy tidak ada, Dad?" Axelia mencuri-curi pandang ke dalam mobil, barangkali Mommy-nya masih ada di sana.


Bahkan Axelion tampak mendekati mobil yang sedang diatur posisinya oleh supir di dalam basement. "Mommy tidak ada," gumamnya bingung. Ia kembali lagi. Lalu mengikuti Andrean, Lovi.


"Daddy, Mommy kemana? kenapa tidak ada? belum pulang seperti Daddy?" Ia menuntut penjelasan. Karena tidak biasanya Angel tidak di samping Andrean.


"Biarkan Daddymu duduk dulu," tegur Devan yang akhirnya dituruti anak sulung itu.


Pelayan mengambil baby chair milik Anzelia. Ketika akan diletakkan di sana, Ia menggeleng tidak mau. Sepertinya Anzelia masih ingin dimanja oleh Andrean.


"Kamu sudah berat, Sayang." keluh Andrean dengan candanya. Anzelia tampak melipat wajahnya sebentar tetapi Ia tidak ingin sama sekali diturunkan dari dekapan Daddy-nya.


Semua barang-barang sudah dibawa masuk ke dalam mansion. Sampai saat itu belum ada tanda-tanda kehadiran Angel. Axelion dan Axelia terdiam lama.


"Mommy sedang sakit," jawab andrean dengan pelan. Sontak membuat kedua anaknya yang tadi menunduk langsung mengangkat kepala.


"Ada di rumah sakit?"


Andrean mengangguk, dan mereka tampak belum puas dengan jawaban Andrean. "Sejak kapan, Dad? kenapa tidak ada yang memberi tahu aku?" Axelia terlihat kesal saat Ia tidak diberitahu sama sekali mengenai hal itu.


"Iya, sepertinya hanya aku dan Axelia yang tidak tahu. Benar?"


Semuanya mengangguk bersamaan. Axelia mendengus. Lalu berlari ke lantai atas, sepertinya akan ke kamar.


"Lalu kapan Mommy akan pulang? kenapa Mommy ditinggal sendiri?"


"Grandma butuh istirahat, sebentar lagi Daddy akan ke sana menjaga Mommy,"


"Tidak, siapa yang mengizinkanmu?" Andrean bertanya dengan tegas.


"Dad, aku ingin lihat--"


"Tidak perlu melihat,"


"Karena kamu akan meringis sendiri saat melihat Mommy nanti. Ada perasaan tidak tega, itu pasti,"


"Cukup doakan Mommy. Lagipula kalau kondisi Mommy semakin baik, besok sudah bisa pulang,"


"Daddy hanya menenangkan aku?"


"Memang seperti itu kenyataannya. Doakan Mommy agar segera pulih,"


********


Setelah andrean berangkat kembali ke rumah sakit, Axelia dan Axelion belum sepenuhnya mencair. Mereka sama-sama keras kepala ingin melihat kondisi Angel.


Sementara Anzelia sudah ingin bermain dengan kedua kakaknya. Benar-benar seperti Axelia yang gemar bermain tanpa kenal lelah.


"Istirahat, Anzel. Jangan dulu pegang mainan,"


"No, No, No." Ia menggeleng lucu. Ia yang sudah bisa duduk sedang membongkar boks mainannya sendiri.


"Apakah semua mainan ini sudah bersih?"


"Sudah, Nyonya. Kemarin Tuan sudah mengatakan pada kami untuk membersihkan semua perlengkapan Anzel,"


"Baik, terima kasih,"


"Untuk alat-alat makan, bahan untuk memasak makanan Anzel, kita yang harus menjaminnya, Angel."


"Ya, perlakuan kita yang aku rasa cukup higienis kemarin rupanya masih bisa membuat cucu kita diserang bakteri. Padahal semua piring dan gelasnya sampai kita cuci dengan air panas, begitupun dengan buah dan sayur untuknya makan. Tetap saja dia sakit karena bakteri itu. Huh!"


Kedua nenek Anzelia masih memiliki rasa kesal terhadap penyebab penyakit cucunya walaupun memang sudah waktunya Anzelia diberi penyakit.


"Apa, Anzel? "


Anzelia baru saja meraih mainan yang kemarin diberikan oleh Daddy-nya. Kemudian Ia menunjukkan itu pada kedua kakaknya. Ia memberi tahu pada kakaknya bahwa Ia memiliki mainan baru.


"Bagus dan cantik seperti Anzel,"


Anzelia memandang kakak keduanya aneh. Seolah bicara 'Tidak biasanya kamu memuji aku.'


"Kenapa menatapku begitu? kamu tidak ingin dikatakan cantik? mau jelek saja?"


Anzelia menggeleng polos. Ia segera berhambur dalam pelukan Axelia. Mencium wajah kakak keduanya itu.


"Aku menyayangimu, tidak pernah membuat kamu kesal, tidak dapat cium juga?" Axelion menunjuk pipi kanannya. Adik perempuannya itu segera berpindah posisi. Bergantian mencium kedua kakaknya yang berbeda sifat itu.


"Senang bisa main lagi di rumah?" Devan yang sedari tadi ikut Lovi menjadi penonton, kali ini mendekati ketiga cucunya.


Melihat mereka berpelukan membuat siapapun terharu. Devan sampai meninggalkan iPad yang sedang menampilkan grafik kemajuan perusahaannya.


Anzelia terkekeh menggemaskan, mereka anggap bahwa itu adalah bentuk rasa bahagia anzelia karena tidak lagi berpisah dengan kedua kakaknya.


Pertama kali menyadari bahwa Ia tidak di mansion, anzelia sempat terlihat bingung. Bahkan menangis padahal ada kedua neneknya di samping anak itu. Ia terlihat tidak nyaman berada di dalam tempat asing. Mungkin tangisnya juga disebabkan oleh rasa sakit yang mendera.


Auristella yang baru saja membuat minuman dingin menghampiri ruang keluarga dimana sedang terjadi kehangatan antara Axelion, Axelia, dan Anzelia.


"Anzel, kamu sudah dua kali masuk rumah sakit. Jangan lagi ya, Sayang?" ujar Auristella.


"Iya, Aunty Auris sampai tidak bisa tidur memikirkan kamu. Aunty membayangkan betapa tidak nyamannya kamu berada di sana lalu tidak ada Mommy-mu juga. Tapi kamu hebat bisa melewatinya, sekarang sudah bisa bermain lagi."


*******


Anzelia tidak ingin lepas dari gendongan Auristella saat tahu bahwa Aunty-nya itu harus pulang karena sudah dijemput oleh Revano.


"Masih ingin bersama kamu,"


"Ya, tapi kita harus pulang," jawab Auristella pada Revano yang menatap dalam-dalam anak perempuan itu.


"Belum menyapa Uncle," Revano mengulurkan tangannya ingin menggendong Anzelia. Ia tidak menolak.


"Uncle dan Aunty pulang ya?"


Anzelia mengeratkan jalinan tangannya di leher Revano. Perkembangan Anzelia cukup bagus untuk anak seusianya. Ia sudah bisa merespon apa yang orang lain lakukan padanya. Seperti saat ini, Ia tahu sedang digoda oleh amzelia, walaupun tidak mengerti makna kalimatnya, tetapi Ia bisa melihat gerak tubuh anzelia yang menyebalkan di matanya. Anzelia sengaja melambai dan menyampirkan sling bag di bahunya.


"Sudah ya, Aunty ingin pulang. Kamu bersama Uncle saja. Bye,"


Anzelia merengek setelah sebelumnya menatap Auristella dengan sorot marah.


"Bermain dengan kakakmu dulu. Lihat, mereka sedang bersama kelincinya. Kamu tidak ingin ke sana?"


Telunjuk Revano mengarah pada Axelion dan Axelia yang tengah memberi makanan untuk hewan peliharaan mereka yang baru diberikan oleh Devan dua hari yang lalu.


Auristella memukul pelan lengan Revano seraya menggeleng, "Dia baru sembuh, kamu menyuruhnya bermain dengan kelinci? yang benar saja,"


"Astaga aku lupa. Melihat Anzel yang semangat bermain aku tidak ingat kalau dia baru saja keluar dari rumah sakit. Benar-benar hebat kamu ya,"


Wajah anzelia kembali jadi bahan untuk dikecup. "Biarkan Aunty pulang dulu, Anzel. Ini sudah hampir malam," ujar Lovi yang akan meraih Anzelia dari gendongan Revano.


"Aunty datang lagi besok ya? okay, princess?"


Akhirnya Ia melepaskan leher Revano seraya mengangguk pelan. Ketika Revano dan auristella sudah menjauh, Ia melambai masih dengan wajah sedihnya. Ia merasa kehilangan teman bermain. Hanya Auristella saja. Karena kedua kakaknya selalu berbeda selera bila bermain bersamanya. Ia mengajak untuk main boneka, mereka malah main mobil.


"Sudah-sudah, dia sudah kenyang, Axelia."


Axelia tetap menjulurkan wortel ke mulut kelinci abu miliknya.


"LIA, DIA SUDAH KENYANG!"


Axelia menoleh kesal. Anak itu berdecak seraya melempar wortelnya.


"Kenapa mengurus kelinciku? urus saja milikmu,"


"Dia bisa kekenyangan lalu muntah nanti,"


"Tapi wortel yang aku berikan masih dimakan," bantahnya yang akan kembali meraih makanan kesukaan kelincinya.


"Perutnya kebesaran, jangan dituruti. Kasihan kalau sampai dia terlalu kenyang,"


"Kalau dia masih ingin wortel tandanya belum kenyang, Lion. Kamu begitu saja tidak mengerti,"


Anzelia dan Lovi masih memperhatikan keduanya dari dekat pintu penghubung taman dengan ruang tamu.


"Bertengkar lagi, berdebat lagi. Grammy sakit kepala melihatnya. Kamu juga?"


Lovi terkekeh melihat cucu perempuannya mengangguk polos. Ia akan membawa Anzelia masuk karena sebentar lagi hari akan gelap.


"Grammy hitung sampai tiga, kalau belum masuk juga, akan dikunci pintunya. Kalian tidur bersama kelinci," serunya sebelum benar-benar pergi. Mendengar kalimat itu, Axelion dan Axelia belum bergerak juga. Axelion masih sibuk mengejar kelincinya, sementara Axelia yang keras kepala kembali memberikan makanan untuk kelinci itu.


"Satu..."


Belum. Karena masih ada angka dua, sebelum mereka harus kembali masuk ke dalam.


"Dua..."


Axelion menggendong kelinci miliknya untuk dimasuki ke kandang, begitupun dengan Axelia. Kemudian Axelia membuang wortel yang belum dihabiskan oleh hewan peliharaannya.


Setelah selesai dengan tugas masing-masing yaitu merawat kelinci-kelinci itu, mereka berlari kencang menuju Lovi dan Anzelia.


"Tiga!"


Happ


Tubuh Lovi sampai dibuat berguncang oleh kedua cucunya yang memeluk tiba-tiba. Anzelia terkejut dengan hal itu sehingga Ia menangis.


"Ah kamu sering menangis hari ini. Manja sekali, karena baru sembuh ya?"


---------


Antara perhatian dan mencari kesempatan sepertinya tidak ada beda untuk seorang Andrean. Beberapa kali Ia menghaluskan makanan Angel dengan mulutnya tetapi pada akhirnya Ia paksa angel untuk membuka mulut agar Ia bisa dengan mudah memberikan makanan yang sudah halus itu.


Angel marah sekalipun, Ia tidak peduli. Ia pikir apa salahnya melakukan ini. Selain karena bentuk perhatian, mereka hanya berdua di ruang perawatan Angel, jadi Andrean merasa bebas dalam memperlakukan istrinya.


"Aku tidak sabar bertemu dengan anak-anak kita. Semoga besok hasilnya bagus, jadi aku bisa pulang,"


"Aku juga merindukan saat-saat kita berkumpul, Lov. Tadi mereka terlihat kesal karena tidak tahu kalau kamu sakit,"


Angel tersenyum tipis, tidak menyangka bahwa sebesar itulah rasa sayang kedua anaknya. Reaksinya tidak berbeda jauh ketika Angel mengetahui kalau mereka terluka barang sedikit.


"Sudah, cukup. Perutku penuh,"


"Penuh karena makanan bukan? tidak apa kalau itu, kecuali kalau penuh karena bayi,"


Sontak saja Angel menahan tawa. Ia tidak bisa tertawa terlalu lebar karena belum pulih benar.


"Kalau ada bayi lagi, memang kenapa?"


"Tidak apa-apa, aku senang."


"Ah, jangan bicara aneh-aneh. Usia Auris saja belum genap satu tahun,"


"Aku hanya menimpali ucapan kamu, Angel."


"Ya, ya, tapi itu hanya candaan,"


"Serius juga tidak masalah,"


Mata Angel menatap tajam Andrean yang kini tersenyum lebar. Lelaki itu mengecup bibir istrinya sekilas.


"Kamu tidak bekerja?"


"Bisa memangnya? aku saja tidak membawa apapun yang berhubungan dengan pekerjaan,"


"Kenapa tidak dibawa kalau memang ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan? biasanya tetap bisa meluangkan waktu untuk bekerja walaupun aku lagi sakit,"


Tahu kalau istrinya menyindir, Andrean memeluk Angel dengan erat. Ingin rasanya mendekap perempuan itu di atas bangsal tapi itu adalah hal yang memalukan. Apa lagi kalau sampai ada perawat atau dokter yang masuk mengingat pintu tidak dikunci. Dan ini bukan malam hari, mereka akan berpikir betapa liarnya otak Andrean.


******


Auristella sedang membuat design interior yang baru untuk kamarnya. Ia ingin mengganti suasana baru, bukan dipenuhi dengan biru pastel lagi.


Mansion sudah seperti rumahnya sendiri. Auristella lebih banyak menghabsikan waktu di mansion tepatnya di kamar yang sudah lama menjadi miliknya daripada di rumah orangtuanya sendiri.


Di sini begitu banyak kehangatan. Auristella sudah terlalu nyaman berada di tengah keluarga, uncle-nya sendiri.


Saat menyampaikan keinginannya pada orang yang ahli dalam bidang design interior, Axelion datang menghampiri lalu melihat-lihat ke dalam kamar Aunty-nya yang sedang dirubah itu.


"Jadinya akan seperti apa, Aunty?"


"Bagus, lihat saja nanti."


"Kenapa tidak warna biru lagi? aku suka biru, jadi suka juga saat melihat kamar Aunty,"


"Bosan, Sayangku."


"Ini terlalu girly. Bunga dimana-mana,"


Axelion tampak aneh memandang wallpaper kamar Jane yang sudah dipasang sebagian. Matanya beralih pada beberapa furniture yang juga diganti mengikuti tema.


"Biasanya Aunty hanya menggunakan satu warna yang polos. Sekarang mau mencoba bunga-bunga dengan berbagai warna,"


Axelion dan Auristella sibuk menjadi penonton dua orang yang sedang bekerja mempercantik penampilan kamar Auristella.

__ADS_1


"Wow, kalian makan bersama,"


Auristella duduk di dekat Axelia yang sedang menikmati sarapan mereka. Tiba-tiba Axelia menghentikan kegiatannya. Ia menatap dalam mata Auristella yang terlihat memerah dengan kelopak yang membesar.


"Aunty, habis menangis ya?"


Auristella terlihat gugup. Ia menyentuh matanya sendiri, kemudian menggeleng dengan santai.


"Tidak, semalam tidurnya terlalu malam jadi sedikit sakit,"


"Aku ingat, kalau Auris menangis lama, matanya akan seperti Aunty. Aunty pasti berbohong. Terkadang aku tidur malam kalau sedang tidak bisa tidur, tapi tidak sampai seperti itu saat bangun,"


*******


Andrean membuka gordyn agar sinar matahari masuk ke dalam ruang perawatan Angel yang masih terlelap dalam balutan selimut tebal.


Andrean membersihkan tubuhnya terlebih dahulu sembari menunggu sarapan Angel datang. Setelah itu, baru Ia membangunkan Angel agar segera makan dan melakukan pemeriksaan sekali lagi sebelum benar-benar dipastikan boleh pulang.


"Angel..."


"Engghh,"


"Bangun, Angel,”


"Ya,"


Jawab 'ya' tapi matanya masih tertutup. Benar-benar istrinya ini. Andrean menjepit hidung kecil Angel hingga Angek benar-benar bangun.


"Andrean, aku sulit bernapas,"


"Kamu menggemaskan,"


"Jam berapa sekarang?"


Andrean menunjuk jam yang melekat di dinding menggunakan dagunya. "Sudah menjelang siang. Sarapan dulu, nanti dokter akan datang untuk memeriksa kondisimu,"


Angel bangkit dibantu oleh Andrean. "Aku mau mandi dulu, boleh?"


"Mandi? jangan dulu,"


"Tapi aku tidak nyaman,"


"Aku lap saja bagaimana?"


"Ah tidak mau. Aku malu,"


Alis Andrean langsung menukik. Ia tersenyum miring dan terlihat mengerikan di mata Angel. Seperti predator saja suaminya.


"Malu? aku berhasil membuat kamu hamil tiga kali. Masih malu juga dengan pelaku yang membuat kamu memiliki tiga anak?"


"Andrean!" wajah Angel yang seketika merona membuat Andrean terbahak puas. Lagipula apa yang harus ditutupi? mereka sudah menikah kurang lebih lima tahun. Semua tentang Angel sudah diketahui oleh Andrean.


"Aku yang akan membersihkan tubuhmu menggunakan kain bersih,"


Melihat mulut Angel terbuka untuk kembali membantah, Andrean segera mencuri ciuman. "Jangan membantah!"


********


Selain kelinci, devan juga memberikan hoverboard untuk kedua cucunya. Beberapa hari yang lalu mereka benar-benar kebosanan oleh sebab itu devan melakukan berbagai cara agar rasa bosan itu terusir.


Salah satunya menyediakan mainan yang sekiranya merupakan hal baru untuk mereka berdua. Seperti kelinci yang bisa menjadi teman mereka untuk bermain, juga hoverboard tersebut.


Saat Anzelia baru pulang kemarin, kakak-kakaknya belum mengeluarkan itu. Setelah melihat Axelion dan Axelia mengelilingi mansion menggunakan hoverboard , Anzelia langsung melonjak senang dan selalu menunjuk, seolah sedang mengatakan bahwa Ia juga ingin naik ke atas hoverboard.


"Ayo, naik dengan aku."


"Aku saja, kemari, Anzel,"


"Aku saja, kamu tidak bisa!"


"Apa? aku lebih pintar dari kamu dalam mengendarai ini," ujar Axelion ikut mempertinggi dirinya agar adiknya itu berhenti memperlihatkan kesombongan.


"Jangan, nanti jatuh." Anzelia melarang mereka untuk membawa anzelia.


"Tidak, Aunty. Aku bisa jaga Anzel,"


Anzelia bersiap naik. Ia memilih bersama Axelia. Kakak keduanya menjulurkan lidah pada axelion. Ia yang dipilih, Axelion tidak. Rasanya senang sekali dipilih oleh teman bertengkar.


"Ck! baru sembuh, keinginanmu aneh-aneh saja, Anzel."


Akhirnya Auristella membantu Anzelia untuk berdiri di sana.


"Belum terlalu bisa berdiri. Bagaimana caranya?"


"Belum bisa?"


"Ya, belum! apa dibawa duduk?"


Auristella yang sedang menikmati ayam goreng pedasnya tertawa sampai tersedak. Ia meringis sakit lalu mengusap lehernya.


"Jadi bagaimana?" tanya Axelia.


"Tidak perlu, Anzel turun sekarang!" titahnya pada anak itu. Anzel menggeleng tidak mau mematuhi perintah Aunty-nya.


"Sepertinya Anzel bisa dibuat berdiri,"


"Tidak bisa, Axelia! jangan macam-macam kamu ya," Auristella menatap keponakannya dengan tajam. Akan seperti apa Anzel kalau dibuat berdiri padahal dia belum bisa sepenuhnya.


Axelia mengangkat tubuh adiknya. Anzelia dimintanya untuk membalas genggaman tangannya. Rupanya anak itu sudah lumayan bisa berdiri, terkadang ingin jatuh. Hal itu membuat Anzel meringis.


"Kakinya sakit nanti, Lia."


"Sakit, Zel?"


Ia malah terkekeh ketika ditanyakan seperti itu. Membuat mereka bingung.


"Ya sudah tidak boleh naik," Ketika digendong oleh Anzelia, Ia malah menangis kencang. Anzelia ingin kembali berdiri di atas hoverboard.


"Ty..Ty.." Disela isak tangisnya Anzelia memanggil Aunty-nya seraya menunjuk Axelia dan Axelion yang sudah mulai berkeliling lagi.


"Jangan, kakimu belum kuat, Anzel. Nanti sakit, Aunty yang mendapat semburan lahar panas," Mulai sekarang bahasa halus dari amarah, Devan, dan Lovi adalah semburan lahar panas.


Sebenarnya Anzelia sudah bisa berdiri tapi Auristella tidak tega bila Ia harus selalu bergantung pada tangan kakaknya sementara kaki kecil anak itu belum bisa berdiri dengan kuat.


Auristella kembali menikmati makanannya. Dan Anzelia masih menangis dalam gendongan Auristella. Auristella meneguk air minumnya sejenak, sebelum memanggil Auristella, "Anzel bawa duduk,"


Ketika Auristella melangkahkan kakinya, Anzelia semakin histeris menangis. Auristella memanggil keponakannya.


"Ke sini sebentar!" titahnya yang langsung dipatuhi Axelia. Axelia mendekat dan tanpa disadarinya masih menggunakan sepatu roda sehingga Anzelia fokus lagi pada keinginannya.


Auristella mengarahkan Axelia untuk merendahkan tubuh tetapi tidak sampai duduk di atas sepatu roda. Lalu Auristella meraih Anzelia dari gendongan Lovi. Ia letakkan Anzelia di depan Axelia. Sehingga ada dua orang di sepatu roda milik Axelia itu.


"Pegang adikmu dengan benar!"


"Okay,"


Akhirnya Axelia dan bermain itu berdua. Dengan posisi Auristella berdiri di depan Adrian dan kakaknya itu memegang perutnya dari belakang.


Langsung hilang tangis anak perempuan Andrean dan Angel. Hanya karena mainan Ia bisa histeris. Astaga, Mommy dan Daddy-nya tidak tahu kalau anak mereka banyak mau setelah sakit.


Axelion mengejar kedua adiknya. Anzelia tertawa geli. Axelion sengaja membuat Anzelia seolah sedang dikejar oleh polisi. Mulutnya menimbulkan bunyi seperti sirine.


Kalau sedang rukun seperti ini, siapapun akan tersenyum melihatnya. Ketiga anak Andrean dan Angel yang terlihat sering bertengkar, rupanya juga bisa saling menjaga dan menghibur.


---------


"Sudah cukup bermainnya. Nanti kelelahan,"


Laju sepatu roda dihentikan oleh Lovi. Anzelia cemberut menatap Neneknya itu. Ia belum ingin selesai dikejar polisi.


"Ayo, turun! berikan contoh yang baik untuk adik kalian," titahnya pada kedua anak laki-laki yang sebenarnya berat hati untuk turun dari hoverboard. Tetapi karena adiknya baru saja sembuh, mereka harus benar-benar menjaga kondisinya.


Anzelia menarik ujung kaus yang dikenakan Axelia, Ia menggeleng. Devan menghentak-hentak kakinya di sepatu roda saat Axelia sudah menuruti ucapan Lovi.


"Sudah, besok lagi."


Anzelia merengek tidak mau. Ia mempertahankan posisi Axelia agar tetap berdiri di atas mainan itu.


"Ya, sudah. Satu kali lagi,"


"YEAAYY!" ketiganya kompak berseru. Dengan semangat menggebu Axelia kembali melajukan sepatu roda karena mainan ini akan disimpan dan mereka tidak bisa lagi menyentuhnya kalau bukan esok hari.


"DADDY DATANG. HALLO, SEMUA!"


Anzelia mencari sumber suara. Ketika melihat andrean sedang berjalan bersama angel saling menggenggam tangan, Ia ribut ingin turun.


"Astaga, sejak kapan Anzelia bisa bermain itu?"


"Baru tadi, Angel." jawab Auristella.


Karena adiknya tidak bisa diam lagi, akhirnya Axelia menyelesaikan permainan tadi. Lagipula Mommy dan Daddy mereka sudah datang.


"Duduk dulu, Angel."


"Iya, Ma."


"Kapan periksa lagi?"


"Tiga hari lagi, Dad." Andrean yang menjawab pertanyaan Devan. Angel memang diminta kembali lagi untuk memeriksa perkembangannya.


Anzelia berlari menghampiri Angel dan memeluk erat Mommy-nya itu. Hal yang sama dilakukan kedua kakaknya. Mereka terlihat sangat merindukan Angel. Seperti sudah lama sekali tidak bertemu.


"Rindu Mommy?"


"Rindu sekali," Axelion dan Axelia kompak menjawab.


"Kalau tidak ada Mommy, tidak ada yang cerewet?"


Mereka mengangguk polos. Hal itu mengundang tawa. Sementara Angel mendengus. Jadi sebenarnya rindu dengan sosoknya atau mulutnya yang cerewet?


"Lebih enak tidak ada Mommy ya? bisa bebas melakukan apapun,"


"Huh siapa yang mengatakan itu? mereka juga diatur ketat oleh kami," bantah Lovi yang diangguki oleh Devan.


"Bagus, Grammy. Jangan lengah kalau menjaga tiga anak ini. Apa lagi yang nomor dua," tangan Angel menjawil hidung Axelia yang terkekeh.


"Kamu sudah bisa ikut bermain dengan kedua kakakmu ya? hmm?" Angel gemas sekali melihat pipi bulat Anzelia yang sudah mulai berwarna. Ia kira masih sangat pucat.


"Mommy benar-benar khawatir begitu mendengar kamu sakit. Gemar sekali membuat Mommy khawatir. Jangan lagi ya?"


*******


"Mom, sepertinya ada yang hilang dari diri Mommy,"


"Hmm? apa?"


"Gigi Mommy,"


Andrean tak bisa menahan tawanya. Suara andrean tertawa mungkin sampai ke lantai bawah. Saat ini mereka bersiap untuk tidur. Tetapi tiba-tiba saja Axelia menyampaikan kalimat yang sedari tadi berputar di kepalanya.


Angel memicing tajam pada suaminya. Sial! Ia ditertawakan oleh Andrean karena giginya patah dan anaknya menyadari itu. Tentu saja, mereka hidup selalu berdampingan. Apapun yang terasa janggal akan dicari tahu.


"Ini sebabnya Mommy dirawat,"


Angel tidak menjelaskan lebih detail. Anaknya tidak perlu tahu tentang kecelakaan itu. Cukup sampai dimana angel sakit lalu harus menjalani perawatan di rumah sakit.


"Ya ampun, kenapa sampai seperti itu, Mom?"


Tawa Andrean masih tersisa. Angel memukul lengan suaminya agar diam. Angel malu sekaligus tidak terima ketika andrean menggodanya.


"Bisa patah begitu ya, Mom? untungnya tidak terlalu kelihatan,"


"Iya, kalau kelihatan sekali, kalian akan malu. Benar begitu?"


"Tidak! untuk apa malu? semua manusia memang akan kehilangan gigi. Itu yang Axelia tahu,"


"Dad, mau susu."


"Daddy buatkan dulu, prince."


Andrean memposisikan tangan kanannya di pelipis seperti memberi hormat. Ia segera bangkit untuk menuruti keinginan anak sulungnya.


"Sebenarnya Lipn sudah bisa buat susu sendiri,"


"Lalu kenapa minta dibuatkan?" tanya Angel dengan pelan. Karena anaknya yang bungsu sudah terlelap sejak tadi.


"Ingin dibuatkan, Daddy. Memang tidak boleh?"


"LION manja,"


"Hey lihat diri sendiri dulu sebelum komentar. Kamu saja tidak lepas dari pelukan Mommy sejak tadi," Ia menunjuk Axelia yang tangannya selalu melingkari tubuh kecil Angel.


"Mommy tidak bisa tertawa terlalu lebar ya?"


"Iya, kenapa? kamu mau buat Mommy tertawa malam-malam begini?"


Axelia menggeleng lalu menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Angel. Saatnya Ia berlindung dalam pelukan setelah beberapa hari tidak merasakannya. Ia dan Axelion selalu tidur dengan kedua neneknya setelah Angel dan andrean pergi. Lalu ketika Anzelia sakit, hanya andrean yang menjadi teman mereka tidur.


"Kamu mau minum yang hangat-hangat, sayang?"


"Tidak, aku akan tidur sekarang."


"Ya sudah, nanti aku yang hangatkan."


Angel menggeram pelan. Ia melakukan ancang-ancang ingin melempar bantal ke arah andrean yang tengah menuang susu formula milik sang anak ke dalam botolnya. Andrean menoleh untuk menggoda sampai tidak sadar kalau Ia menuang ke meja, bukan ke botol. Angel yang melihat itu lantas memarahinya.


"Jangan sibuk membuat orang kesal. Lihat apa yang kamu lakukan!"


"Aduh Daddy, sayang sekali susunya. Tidak bisa menuang atau matanya sudah mengantuk?" gerutu anak keduanya. Walaupun hanya satu sendok yang terbuang, axelia tetap perhitungan.


Andrean segera membersihkannya menggunakan berlembar-lembar tisu. Hal itu membuat angel marah lagi.


"Tidak perlu sebanyak itu tisu-nya, Astaga. Kamu selalu membuang sesuatu sia-sia,"


Andrean mencibir pelan, "Anak dan Ibu sama saja. Padahal ini tidak seberapa,"


*****


"Aku kira kalau Anzel sudah sembuh, Aunty tidak datang lagi ke sini,"


"Tidak senang kalau Aunty datang ya?"


"Senang sekali, tapi tidak biasanya Aunty jadi sering datang,"


Auristella tidak lagi membalas ucapan keponakannya. Ia segera masuk ke dalam mansion, meninggalkan Axelion, Axelia, dan Anzelia yang sedang bermain di pekarangan bersama perawat mereka.


"Pagi-pagi sudah datang. Ada apa ini?"


"Tidak ada apapun. Aku hanya ingin datang pagi. Nanti pukul sembilan aku akan pergi ke kampus,"


Devan memperbaiki posisi duduknya, Ia mengisyaratkan Auristella untuk duduk di hadapannya, menemani Ia dan Andrean menikmati sarapan.


"Ada masalah dengan Revano?"


Devan bisa mengetahui beban pikiran putrinya dari sorot mata dan raut wajah Auristella yang sudah dua hari ini terlihat lemah juga rutin berkunjung ke mansion. Padahal setelah menikah, Ia terbilang sangat jarang datang ke mansion.


Kemarin Revano juga tidak menjemput Auristella. Auristella mengatakan bahwa Revano memiliki urusan penting sehingga Ia pulang sendiri ke apartemen.


"Bicarakan, jangan lari ke sini," pesan kakaknya dengan dewasa. Andrean sudah lebih banyak belajar daripada Auristella yang rumah tangganya baru beberapa bulan. Bila terus-terusan menghindar, kapan masalah akan usai?


"Aku ingin cerita, Dad,"


"Silahkan, daddy dengarkan dengan baik,"


Selama aursitella menceritakan rangkaian perdebatannya dengan Revano, Andrean hanya menjadi pendengar. Rupanya benar mereka ada masalah, lantas kenapa tadi mengelak?


Melihat auristella begitu menggebu menceritakan masalah rumah tangganya juga membela diri sendiri, andrean segera menyelesaikan makannya lalu menyeruput air minum sejenak.


"Auris, siapapun akan melakukan hal yang sama dengan Revano bila orang yang disayangi jatuh sakit lalu kita tidak di sampingnya. Dia melakukan itu karena terlalu khawatir dengan neneknya,"


"Seharusnya kamu bersyukur memiliki laki-laki yang begitu menyayangi keluarga," tambah devan yang sedikit membuat Auristella terhenyak.


"Kalian sudah menikah, berpikirlah dewasa. Daddy rasa kemarahan Revano masih wajar. Dia tidak melakukan sesuatu pada kamu,"


"Membentak aku, Daddy. Sampai hampir menangis,"


"Kamu sudah biasa dibentak. Dulu, daddy selalu melakukan hal itu kalau kamu pulang malam. Sudah lupa?"


"Auris biasa diperlakukan dengan lembut oleh Revano, Dad. Jadi dibentak sekali langsung dibawa masuk ke dalam hati. Seharusnya tidak begitu, Auris."


"Aku sudah melakukan hal yang benar. Aku tidak ingin dia kembali berdebat dengan Papanya. Aku pikir lebih baik tidak diberi tahu, daripada mereka kembali adu mulut,"


"Memang ada masalah apa?


Auristella tidak langsung menjawabnya. Ia sedang berpikir. Ia khawatir jawabannya nanti akan menyalahi privasi dalam kehidupan rumah tangganya.


*****


Setelah pulang sekolah, Axelion dan adiknya segera mengganti pakaian lalu menyantap makan siang dengan lahap. Padahal setiap ke sekolah selalu dibekali makanan.


"Serry, siapkan hoverboard aku ya?"


"Tolong siapkan," koreksi Angel dengan tegas. Anaknya akan semakin tumbuh dewasa tetapi hal-hal seperti ini tidak boleh dilupakan.


Serry mengeluarkan apa yang diminta Axelia. Anzelia yang sedang makan di pangkuan Angel, langsung berhenti mengunyah. Ia menatap Axelia dengan dalam.


"Jangan ikut Aku bermain, aku mohon. Kalau ada kamu, kurang menyenangkan," Axelia tahu kalau adiknya ingin kembali bermain bersama.


"Mulai lagi mengganggu adiknya. Tidak boleh seperti itu pada adik sendiri. Sejak kemarin sikapmu sudah berbeda dengan Anzelia. Mommy kira akan bertahan lama,"


"Tergantung, Mom. Kalau Anzel tidak nakal, aku akan baik."


"Auris pernah nakal? bukankah itu kamu?"


"Ya, aku Mom. Tapi anzel sudah mulai mengikuti,"


"Memang iya?"


"Iya, saat disuruh berhenti bermain, Ia mulai melawan,"


Angel mendekap anak bungsunya dengan penuh kasih sayang. Rupanya Anzelia sudah mulai sulit untuk diatur. Padahal usianya belum genap satu tahun. Ini tanda-tanda kalau anzelia akan tumbuh seperti kakak keduanya. Keras kepala, tidak bisa diam, tapi terkadang mampu membuat suasana hati orang lain menjadi lebih baik.


------


"Nanti Daddy yang jemput, seperti biasa. Kalau terlambat sedikit, tunggu ya. Jangan pergi kemanapun,"


"Iya, Axelia hafal dengan pesan itu. Daddy hati-hati di jalan. Semangat bekerja!"


Andrean mengecup kening kedua putranya sebelum mereka keluar dari mobil. Andrean tidak bisa mengantar mereka sampai ke dalam karena Ia sudah sangat terlambat untuk melakukan pertemuan. Anzelia yang banyak melakoni drama pagi tadi membuat semuanya jadi kacau.


Ia tiba-tiba saja tidak ingin ditinggal oleh andrean padahal biasanya tidak seperti itu. Angel sudah membujuknya dengan berbagai cara, kakek dan dan neneknya pun demikian tetapi Anzelia bersikeras ingin terus digendong Andrean.


"Bye, Daddy."


Mereka melambai sebelum andrean pergi. Kedua anak laki-laki yang lahir hanya berbeda hitungan menit itu berjalan memasuki sekolah elite mereka.


"Lion, aduh tampan sekali. Sepertinya ada yang sedang bahagia hari ini,"


"Ada tugas?"


"Ada, dan aku lupa mengerjakannya."


"Oh benarkah?"


Devin mengangguk masih fokus dengan pekerjaan yang dia lakukan. Axelia ikut panik karena seingatnya Ia tidak mengerjakan tugas apapun kemarin. Ia juga lupa ada tugas, oh sepertinya bukan lupa. Tapi karena terlalu sibuk bermain. Kalau Andrean dan Angel tahu, pasti akan diberi nasihat panjang lebar.


"Lion, kamu sudah mengerjakan tugas?"


Acelion sedang minum dan dibuat tersedak oleh adiknya yang menepuk bahu dengan tiba-tiba.


"Lihat seragamku! belum belajar, seragam sudah membuatku tidak nyaman,"


"Kamu sudah mengerjakan tugas?" Ia mengulangi pertanyaan.


"Sudah! aku tidak lupa,"


"Aku boleh--"


"Tidak, berpikir sendiri. Lihat Devin, dia mengerjakan tugasnya sendiri walaupun terlambat,"


Axelia mengerang kesal. Bila sedang panik, Ia akan kesulitan berpikir. Khawatir jawabannya tidak sempurna. Oleh sebab itu meminta bantuan pada Axelion untuk memberikan buku tugasnya agar Ia bisa menyalin.


"Mommy dan Daddy tidak pernah suka dengan caramu yang seperti itu. Kalau lupa, segera kerjakan."


"Ya, Okay. Sudah, tidak usah banyak bicara. Aku ingin fokus,"


******


"Lion, kerjakan soal ini."


Axelion maju untuk mengerjakan soal di papan tulis sesuai titah gurunya. Ia diberikan dua soal dan bisa selesai dalam waktu kurang dari tiga menit. Ini soal yang cukup rumit untuk tingkatan Axelion menurut gurunya. Tetapi anak itu mampu menyelesaikan dengan cepat dan tepat.


"Giliran kembaranmu yang maju."


Guru perempuan yang mengampuh pendidikan matematika menulis soal yang baru lalu meminta Axelia untuk mengerjakannya.


"Ms, Aku tidak bisa secepat Axelion mengerjakannya. Tidak apa?"


Teman-temannya tertawa dan Axelia merasa hatinya tidak terima. Secara tidak langsung Ia tengah diremehkan karena tidak bisa secepat Axelion dalam menjawab soal.


"Jangan tertawa! kalian kerjakan juga di buku masing-masing. Nanti diperiksa,"


Semua mulut langsung terkatup. Axelia tersenyum puas melihatnya. Mereka belum tentu bisa seperti Axelion juga tetapi berani sekali menertawakannya. Biarpun Ia tidak sepintar sang juara sekolah, yang terpenting dari otaknya masih ada yang bisa diandalkan. Axelia tergolong pintar tetapi dalam hal menyerap pelajaran, lebih cepat Axelion dibandingkan adiknya. Dan Axelion mumpuni dalam segala bidang. Sementara Axelia lebih suka berhitung daripada menghafal.


Axelia mulai mengerjakan soal dengan konsentrasi penuh agar Ia tidak malu. Sejujurnya dibanding-bandingkan dengan Axelion yang kemampuan otaknya lebih hebat daripada Ia, sudah biasa Axelia dengar.


Mereka selalu mengatakan, "Axelion lebih pintar dari kamu. Cepat sekali dalam menjawab soal. Pantas saja selalu menjadi juara sekolah. Kamu tidak belajar dari Axelion?"


"Kamu pintar tapi lebih pintar Andrean. Oh bukan pintar lagi, tapi Axelion sudah jenius,"


Namun karena pada dasarnya Axelia bukanlah tipe anak yang terlalu memikirkan ucapan orang apalagi yang negatif dan bisa menghambat langkah dirinya, Axelia selalu santai dalam menanggapi.


"Semua anak memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing,"


Ia tidak pernah memasukkan kata-kata itu ke dalam hati. Karena menurutnya Ia sudah berusaha jadi tidak ada yang perlu dikomentari. Biarkan Ia maju dengan cara dan kemampuannya sendiri. Begitupun dengan Axelion.


Tetapi untuk tawa menggelegar tadi, Axelia sedikit tersinggung. Mungkin karena mereka melakukan itu di depan guru jadi rasa malu lebih mendominasi.


"Ini benar, Axelia. Terima kasih sudah menjawab,"


"Terima kasih juga, Ms, sudah membuat soal seperti ini. Jadi aku bisa mengukur kemampuan,"


"Ternyata..."


Axelia menatap guru matematikanya saat Ia berhenti bicara. "Ternyata kemampuanmu juga sangat baik," lanjutnya yang membuat Axelia tersenyum. Ketika Ia berbalik, kembali menghadap teman-temannya, Anak itu tersenyum miring seolah puas bisa membuat mereka semua menelan bukti kemampuannya.

__ADS_1


------------


__ADS_2