
Angel bangun lebih dulu seperti biasanya. Ia melihat kedua anak dan suaminya yang masih terlelap. Perempuan beranak tiga itu tersenyum begitu melihat kakak dan adik yang gemar bertengkar malah saling memeluk ketika tidur.
Axelia terlihat begitu posesif memeluk leher adiknya. Dan Anzelia juga sangat manja, Ia melingkarkan tangan mungilnya di perut sang kakak. Mereka sangat menggemaskan bila sedang akur seperti ini.
Angel keluar dari kamarnya untuk menghampiri anak sulungnya. Axelion tidak ada lagi di kamarnya, mungkin sudah berada di lantai bawah. Angel sekalipun libur, Axelion tetap rajin bangun pagi dan biasanya Ia akan bergabung dengan kakeknya yang gemar lari pagi bersama supir, pengawal dan pekerja laki-laki yang lainnya.
"Lion di bawah?"
Angel bertanya pada pelayan yang tengah membersihkan kamar anaknya.
"Iya, Nona. Tadi sedang disuapi sarapan,"
"Okay, terima kasih,"
Angel pergi ke lantai bawah. Benar, anak pertamanya sudah mandi dan tengah mengenakan kaus kaki.
"Wow, sudah tampan anak mommy," pujinya dengan takjub. Ia mencium pipi Axelion sebagai ucapan 'selamat pagi'
"Sudah makan?"
"Sudah,"
"Ingin olahraga?"
"Ya, ikut Grandpa. Tapi hari ini kita akan naik sepeda,"
"Grandpa nekat ya? sudah tua tapi masih saja ingin naik sepeda," sahut lovi yang belum selesai menata meja makan.
Angel mengusap kepala anaknya lalu datang ke dapur untuk membuat sarapan Anzelia. Sarapan suaminya sudah dihidangkan oleh lovi di meja makan. Angel hanya tinggal membuat teh atau susu hangat, sesuai permintaan suaminya nanti setelah bangun.
"Pergi dulu ya?" ujar Debab pada orang-orang penghuni mansion itu. Ia keluar seraya menggenggam tangan sang cucu.
"Ya, hati-hati."
"Lipn pakai sepeda sendiri? tidak ingin duduk bersama Grandpa saja?"
"Tidak, Lion ingin sendiri,"
Devan mengangguk dan Ia mengisyaratkan pekerjanya untuk menyiapkan dua sepeda miliknya dan Axelion.
"Kalau lelah, katakan pada Grandpa ya?"
__ADS_1
"Aku sudah biasa, Grandpa. tidak akan lelah, tenang saja," ujarnya dengan datar. Devab menanggapinya dengan terkekeh.
*******
"Makan dulu, berhenti main!"
"Kamu belum makan sejak tadi siang. Mommy suapi, ayo."
"Lia..."
Beberapa menit usai berdebat, angel menghampiri anak keduanya yang masih berkutat dengan barbie dan boneka mainan miliknya.
"Tidak, lia tidak nafsu makan,"
"Kenapa? Angel masih merajuk dengan Daddy?"
Angel berdecak mendengar suaminya yang menyahut. Bukannya menyelesaikan pekerjaan, malah membuat Axelia kesal lagi.
"Nanti sakit, Sayang. Makan bersama Mommy. Mommy juga belum selesai makan tadi,"
"Tidak mau! perutku masih penuh,"
"Penuh dengan apa? udara?"
Sementara Andrean yang masih membaca berkasnya di ruang tamu hanya bisa menghela napas pelan. "Baiklah, Daddy diam," ujarnya.
"Maafkan Anzel, jangan marah lagi padanya,"
"Selalu seperti itu. Padahal Anzel yang terkadang mengganggu lebih dulu, tapi aku yang dimarahi," Ia masih mencibir kesal. Ia menekan remot mainannya dengan gerak tidak santai, melampiaskan rasa tidak terima.
"Nanti rusak, Mommy tidak belikan lagi ya?"
"Bisa Aunty Aurus yang belikan. Aku sudah lama tidak diajak ke salon. Nanti pasti dibelikan mainan kalovi aku menjadi temannya saat perawatan," Axelia menampilkan raut angkuhnya yang terlihat lucu di mata Angel. Memang dia pikir Auristella akan tetap membelikan kalau Ia sudah mengatakan 'Jangan'?
"Yang punya anak adalah Mommy dan Daddy. Kalau kami tidak izinkan, artinya Aunty tidak bisa berbuat apapun," ujar Angel seraya tersenyum miring. Axelia berdecak kesal dan langsung bangkit untuk mencubit hidung Mommy-nya yang menyebalkan itu.
Angel segera menghindar. Ia berjalan cepat kembali ke ruang makan untuk menghabiskan makan malamnya. Rupanya Axelia mengikuti. Ia menarik ujung baju yang dikenakan Angel sehingga membuat perempuan beranak tiga itu menoleh kesal.
Angel segera menggenggam tangan Axelia untuk memasuki ruang makan. Ia mengambil piring milik anaknya itu.
"Suapi,"
__ADS_1
"Iya, Mommy ambil dulu makanannya,"
"Di piring Mommy,"
Angel gemas sendiri. Ia mengembalikan piring axelia.
"Okay, anak tampan. Mommy laksanakan,"
"Jangan terlalu banyak,"
"Ini sedikit,"
"Tidak-tidak, itu banyak, Mommy. Sedikit saja udangnya,"
"Biasanya kamu sangat menyukai ini,"
"Aku sedang diet jadi makannya sedikit saja,"
"Huh? apa?"
Angel mulai menyuapi dan Adelia langsung mengunyahnya.
"Berat badanmu sudah ideal. Lagipula anak kecil tidak disarankan untuk diet. Mommy katakan pada Daddy ya?!" Angel menatap Xelia tajam. Yang benar saja anak ini. Tahu apa dia tentang diet? dipikirnya itu bagus untuk anak seusia dia yang sedang dalam masa pertumbuhan?
"Perut lia sudah tidak bagus lagi, Mom."
"Kata siapa? kamu masih rajin olahraga. Berenang, lari pagi, main sepeda juga. Tidak boleh menahan nafsu makan seperti itu!"
"Boleh, Lia yang membolehkannya,"
"Lia--"
Melihat sorot penuh peringatan dari sang Mommy, axelia terkekeh. Suasana hatinya sudah kembali lagi. Bahkan sudah kembali jahil, membuat Angel panik.
"Lia tidak serius, Mom. Hanya kurang nafsu makan saja, bukan Angel diet,"
"Benar?"
"Iya, jarang merasa lapar,"
"Ada apa dengan tubuhmu? biasanya selalu semangat kalau urusan makan. Apa lagi makanan yang manis-manis,"
__ADS_1
"Oh, kalau itu berbeda, Mom."