
"AAKKHH,"
Telinga Andreab menangkap suara teriakan Angel dari kamar mandi. Ia berlari dan membuka pintu yang beruntung tidak dikunci oleh Angel.
Terlihat Angel yang sedang kesakitan seraya menyentuh tangannya yang hampir melepuh. Kepulan asap dari air panas bahkan mengembun di kaca pembatas area mandi.
Andrean menutup keran dengan cepat. Mematikan pemanas air digital yang melekat di dinding. Andrean membawa Angel duduk di atas closet yang tertutup. Tangannya bergegas mengambil handuk bersih lalu membasahinya dengan air di wastafel.
Tanpa banyak bicara Andrean membalut tangan Angel yang memerah. Menekan dengan lembut dan penuh kesabaran.
Angel merasa jantungnya berdetak semakin cepat disaat Andrean menyentuh tangannya lebih intens. Ia ingin menarik, namun Andrean menahannya. Angel menatap keseriusan yang tergambar di wajah Andrean dalam mengobati lukanya. Termasuk saat mengoleskan salep anti nyeri untuk luka bakar yang dialaminya.
Pikiran Angel buyar ketika mata legam Andrean terangkat ke atas. Sorotnya membingkai manik Angel. Angel melarikan pandangannya dengan cepat walaupun tangan Andrean masih berusaha meringankan rasa sakitnya.
"Kamu kesulitan menggunakan alat itu, Angel?" tanya Andrean seraya menunjuk alat pemanas air digital menggunakan dagunya.
Angel tidak menjawab. Ia lebih memilih untuk membuang wajahnya. Tak ingin menatap Andrean yang memandangnya penuh kelembutan.
"Aku ajari ya?"
Angel masih nyaman dalam keterdiamannya.
"Ada masalah dengan mulut cantikmu itu hingga tidak bisa menjawab pertanyaanku?" sindiran Andrean membuat Angel mendengus kesal.
"Akan aku ajarkan cara menggunakannya. Agar tidak melukai dirimu lagi,"
Ketika Andrean membawa tangannya untuk bangkit, barulah Angel bergerak.
"Tombol kanan untuk panas, warna indikatornya merah. Perhatikan tulisan Hot. Tombol kiri untuk air suhu ruang, warna indikatornya hijau. Untuk yang tengah, kamu bisa memilih suhu yang di inginkan,"
Angel menunduk karena malu dan gugup. Matanya juga salah fokus terhadap cengkraman jari Andrean di lengannya.
Andrean mengangkat jalinan tangan mereka. Menyudutkan Angel di dinding. Tubuh tegapnya membuat Angel seakan terkungkung. Punggung Lovi sampai terbentur dibuatnya.
"Sekarang sudah paham?" bisik Andrean dengan mata yang meneliti setiap inci wajah istrinya. Hadirnya rona di wajah cantik itu membuat Andrean menahan senyum.
"Sudah mempunyai anak dua tapi masih bisa merona? kamu seperti remaja yang sedang dimabuk cinta saja,"
"ANDREAN!!"
*****
Andrean mengangkat sebelah alisnya begitu mendapat kode dari Lovi. Angel menatap Lovi yang berbalik dengan Axelion dalam gendongannya.
"Memangnya kenapa anak-anak tidak boleh ikut?" tanya Angel dengan raut sedihnya. Malam ini Andrean memintanya untuk tampil lebih menawan karena Andrean akan membawanya ke suatu tempat. Namun Andrean dan Angel pergi tanpa adanya kedua anak mereka.
"Ini waktunya mereka beristirahat," jawab Andrean dengan tenang. Tangan kekar itu membawa Istrinya masuk ke dalam ruangan yang khusus digunakan untuk berdandan. Dimana sudah ada Nemi di sana yang siap merubah penampilan Angel.
"Berikan karya terbaikmu untuknya!"
Nemi menelan ludah seraya mengangguk patuh. Ia menghela napas lega saat Andrean meninggalkannya bersama Angel di ruangan itu.
"Ada apa denganmu?" tanya Angel.
"Saya memang seperti itu bila berhadapan dengan Tuan Andrean. Segan dan...sedikit takut," ucap Nemi dengan nada yang semakin rendah di akhir ucapannya. Angel terkekeh maklum.
Nemi menatap Angel khawatir. Statusnya sebagai seorang perancang busana dan perias akan punah bila Angel menyampaikan semua ucapannya pada Andrean.
__ADS_1
"Nona tidak akan melaporkannya pada Tuan bukan?" tanya Nemi memastikan. Raut wajahnya sulit dibaca. Angel bisa melihat ketakutan di matanya.
"Sepertinya itu bisa aku lakukan,"
Dengan senyum jahilnya, Angel menggoda Nemi. Namun dalam waktu sekejap Nemi langsung menarik tangannya dan menggengam sangat erat.
"Nona orang yang baik hati. Tidak mungkin tega denganku," ucap Nemi dengan raut wajah memohon. Angel tersenyum sangat manis menenangkan wanita itu.
"Kamu terlalu serius," jawab Angel seraya duduk di depan meja rias yang besar tersebut. Wajahnya sudah siap untuk di poles. Ia tidak sabar untuk segera sampai di tempat yang menjadi tujuan Andrean malam ini.
Sebenarnya apa yang akan dilakukan lelaki itu malam ini?
"Aku tidak ingin warna merah menyala itu," ucap Angel saat Nemi akan mempercantik bibirnya. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan hingga Nemi tertawa. Sikap Angel masih seperti anak kecil.
"Kalau begitu aku akan menggunakan warna hitam,"
Mata Angel membulat dengan mulut yang sedikit terbuka. Ia menatap Nemi yang ada di sampingnya.
"Aku akan terlihat seperti vampir," gumam Angel dan bodohnya Ia benar-benar membayangkan hal itu. Angel menggeleng dengan wajah panik.
"Kamu tidak akan melakukan itu. Karena kalau sampai aku buruk rupa, Tuanmu akan marah besar,"
"Oh Tuhan kenapa Nonaku berubah menjadi sosok yang pintar mengancam?" ucap Nemi seraya menengadahkan wajahnya ke atas. Angel kembali dibuat terhibur.
************
"Tidak ada baju lain yang lebih sopan, Nemi?"
Mata Andrean seolah menilai setiap bagian tubuh Istrinya yang sudah dibalut dengan gaun elegan itu.
"Aku tidak suka dengan bagian bahunya. Ini terlalu seksi," gumam Angel yang diam-diam juga menyetujui kalimat Andrean.
"Menurutku gaun ini yang paling baik di antara yang lain, Tuan,"
Andrean akhirnya mengangguk. Ia mengibaskan tangannya pertanda meminta Nemi untuk keluar dari ruangan, meninggalkannya hanya berdua dengan sang istri.
"Aku benar-benar tidak boleh tahu kita akan kemana?"
Andrean tersenyum menyadari rasa penasaran Angel yang belum juga menguap.
"Tidak, Sayang. Malam ini akan menjadi waktu paling indah dalam hidupmu,"
Angel mengangkat sebelah alisnya.
"Benarkah?"
Andrean tidak menjawab karena langsung meraih bibir manis Angel yang sudah dibalut dengan lipstik berwarna peach itu.
*************
Andrean dan Angel memasuki sebuah restoran megah dengan gaya romawi yang penuh dengan nuansa klasik. Andrean membuka pintu mobil dan menggenggam lembut jemari Angel. Angel tak henti berdecak kagum ketika melihat desain di setiap sudut restoran itu. Bangunan dirancang dengan sangat baik. Yang menambah kenyaman Angel adalah, tidak adanya pengunjung di sana kecuali mereka berdua.
"Kamu memesan restoran ini hanya untuk kita?" tanya Angel yang langsung dijawab oleh Andrean dengan bangga.
"Tentu saja. Untukmu, semuanya harus sempurna,"
Hati Angel menghangat saat Andrean berkata demikian. Apakah malam ini adalah saat yang tepat untuknya membuka hati?
__ADS_1
Begitu keduanya memasuki area restoran lebih dalam, alunan musik yang merdu menyambut mereka. Semua lelaki yang berada di balik alat musik itu memberikan penampilan terbaiknya.
Angel menatap tidak percaya ketika matanya menangkap sosok Lovi dan Devan bersama dengan kedua putranya.Yang membuat Angel kian terkejut adalah, semua teman-teman dekatnya semasa sekolah juga hadir memberikan senyuman terbaik.
"Selamat ulang tahun, sayang," bisik Andrean yang ternyata sudah berada di belakang Angel dengan tangan yang melingkari pinggang ramping itu.
"Memangnya sekarang aku berulang tahun?" tanya Angel seperti orang bodoh.
Lovi tertawa lalu mendekati Angel untuk memeluknya.
"Kamu melupakan hari penting dalam hidupmu, Angel?"
Angel bingung dengan perempuan itu. Usianya masih muda tapi kenapa hari ulang tahunnya saja Ia bisa lupa?
"Kamu juga melupakan hari pernikahan kita?" tanya Andrean dengan pandangan menyelidik.
"Kurasa itu lebih penting dari hari ulang tahunku. Maka tidak mungkin aku melupakannya,"
Andrean tersenyum lalu bergantian dengan Lovi untuk memberi pelukan pada Istrinya yang sudah menangis terharu. Angel menenggelamkan kepalanya dalam dada bidang Andrean. Hanya dengan cara itu Ia bisa mengucapkan rasa terima kasihnya pada Andrean.
"Terimakasih, malam ini kamu membuatku kembali mengingat hari ulang tahunku. Aku tidak bisa memberikan apapun yang lebih dari ini untukmu," bisik Angel yang mampu didengar jelas oleh Andrean. Lelaki itu melepas rengkuhannya dan merangkum wajah Angel dalam balutan tangannya.
"Kamu tidak perlu memberikan apapun. Aku hanya ingin kamu selalu ada di sampingku, Axelion dan Axelia. Itu sudah cukup, Angel,"
Mata Andrean menatap penuh cinta. Ia menembus pertahanan Angel dengan segala perasaan cinta yang dimilikinya. Hingga malam ini Angel mengaku kalau Ia tidak bisa lagi menjaga hatinya terlalu lama dari sentuhan Andrean.
"Aku mencintaimu, Ean,"
Andrean berkaca mendengarnya. Setelah sekian lama ia menunggu kalimat itu dari mulut Angel.
Andrean berlutut lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. Mata Angel menatap isi dari kotak tersebut. Cahaya yang dipantulkan berlian mewah itu berhasil membuat Angel kagum.
"Malam ini aku akan mengulang momen pernikahan kita dulu,"
Angel mengerinyit. Ia tidak mengerti dengan ucapan Andrean.
"Dulu, aku memberi perhiasan padamu tidak sekarang itu akan aku lakukan lagi,”
Andrean terdiam sebentar. Sementara para tamu yang sengaja di undang oleh Andrean sudah menatap gemas ke arah mereka.
"Untuk kedua kalinya aku menginginkan kamu sebagai pendamping hidupku selamanya,"
Angel menggigit bibir bawahnya berusaha menahan isak haru. Perlakuan Andrean sangat manis. Setelah sekian lama kebahagiaan dalam hidupnya terenggut, kini Andrean berhasil mengembalikannya.
"Kamu akan selalu menjadi penerang dalam hidupku yang kelam ini, sayang,"
**********
Andrean dan seluruh keluarganya keluar dari restoran penuh kebahagiaan. Tawa menghiasi wajah mereka. Seluruh tamu masih bisa menikmati malam mereka di restoran itu.
Sementara Andrean dan Angek harus membawa Axelion dan Axelia kembali ke mansion karena hari sudah semakin larut.
"Mereka haus, Angel," ucap Andrean yang menggendong Axelia sementara Angel di sampingnya berusaha menenangkan Axelion yang mulai menangis. Dapat dipastikan sebentar lagi adiknya, Axelia akan mengikuti apa yang dilakukan kakaknya itu.
Adelion menangis seraya mengusap matanya. Terlihat sangat mengantuk. Ferro membuka pintu mobilnya agar Tuannya bisa masuk ke dalam.
Setelah memastikan pembatas antara kursi penumpang dan kemudi aman, Andrean mengisyaratkan Angel membuka kancing bajunya untuk menyusui Axelion yang terlihat sangat tidak sabar itu.
__ADS_1
Putra sulungnya menyesap rakus dengan mata yang mulai tertutup perlahan. Axelia mulai merengek di atas pangkuan Ayahnya.
"Sabar, Sayang. Kakakmu belum tidur," bisik Andrean lalu merebahkan Axelia di dadanya. Andrean melepaskan jemari kecil Axelia dari mulut kecilnya. Rupanya si bungsu itu sudah haus juga setelah ikut merasakan kemeriahan pesta yang diadakan Andrean.