
“AYAH CEPAT KELUARKAN AKU DARI KAMAR INI!”
Gesty berteriak sambil memukul-mukul pintu kamar yang fungsinya menjadi tempat penyimpanan barang-barang tidak terpakai.
Ia tidak terima ketika ayahnya langsung mengurung Ia di kamar itu sebagai hukuman karena sudah pergi begitu saja ketika sang ayah minta dibuatkan makanan, ditambah lagi Gesty pulang hampir pagi.
“AYAH BUKA PINTU KAMAR INI SEKARANG!”
Ketika lelah, Gesty akan berhenti, dan setelah merasa cukup kuat untuk berteriak, maka Gesty akan berteriak supaya ayahnya itu mau membukakan pintu kamar dimana Ia berdiam sekarang.
“Sesekali kamu perlu dihukum,”
Gesty masih ingat ayahnya bicara seperti itu sesaat setelah Ia berhasil didorong hingga terjatuh kemudian sang ayah keluar dari kamar yang ukurannya sangat kecil itu dan setelahnya pintu langsung dikunci.
“AYAH!”
Gesty menangis pada akhirnya. Ia tidak tahu harus mengadu pada siapa sekarang, Ia lelah berteriak, kesal pada ayahnya. Semua perasaan itu campur aduk dan akhirnya membuat Ia menangis.
“Sialan! Seharusnya yang di sini Angel! Bukan aku! Kenapa harus aku yang dibukum?! Biasanya juga dia! Ayah benar-benar keterlaluan. Dia pikir dia bisa menjadikan aku sebagai pengganti Angel?! Hah?”
Gesty menendang pintu kamar dengan amarah yang sudah mencapai di ujung kepala.
Setelah itu Ia menghapus air matanya dengan kasar.
Ketika Ia dihadapkan dengan situasi seperti ini, Ia tentu tidak akan melupakan adik tirinya itu. Dimana menurut Gesty, seharusnya Angel lah yang ada di posisinya saat ini, seharusnya Angel yang dihukum dengan cara dikunci di kamar yang ukurannya kecil, bukan dirinya yang harus merasakan ini semua.
“Sialan! Ini bukan tempatku! Kenapa aku yang dihukum?! Seharusnya bukan aku! Aku anak yang tidak pantas mendapat hukuman apapun,”
**********
“Adrian, tolong perbaiki laptop aku dulu!”
“Itu tidak rusak, hanya sedang lambat, ‘kan sama saja dengan pemiliknya, lambat dalam segala hal, lagipula laptop itu bermasalah terus ya sepertinya,”
“Ian! Kamu benar-benar ya,”
“Aku ada siaran langsung, jadi buru-buru,” ujar Adrian tanpa menoleh lagi ke arah adiknya yang langsung beraksi pura-pura menangis karena Ia yakin Adrian akan menghentikan langkahnya.
“Kenapa kamu sangat jahat padaku? Harusnya kamu bantu aku dulu, kenapa laptopku jadi lambat begini? Huwaaaa kamu jahat padaku, Ian. Kamu keterlaluan, tidak mau membantu adikmu sendiri,”
Adrian langsung menghentikan langkahnya tapi masih memunggungi Auristella. Ia hela napas panjang, berusaha sabar menghadapi adiknya itu disaat Ia harus segera melakukan pekerjaannya hari ini. Ia diundang untuk menjadi bintang tamu di sebuah acara yang akan disiarkan secara langsung.
“Astaga, aku harus sabar, tahan, jangan emosi. Adikmu itu memang menyebalkan, Adrian. Tenang-tenang, hadapi dengan senyuman,” gumam Adrian masih belum memutar tumitnya dan berjalan ke arah Auristella yang masih berpura-pura menangis dan senang sekali ketika melihat kakaknya tidak jadi pergi. Dalam hati Auristella tertawa puas.
“Hahahaha aku kerjai kamu,” batin Auristella.
Adrian menghampiri adiknya dan tanpa bicara apapun langsung memeriksa apa yang salah dari laptop adiknya yang katanya berubah menjadi lambat dan Adrian sendiri jyga belum tahu lambat dalam hal apanya.
“Jaringan aja ini sepertinya,”
“Ya sudah perbaiki. Tapi itu aku barusan mengetik materi tugas kenapa keyboard lama juga? Biasanya tidak,”
“Keberatan mungkin,”
“Berat apa sih? Memang aku kasih dia beban, Ian? Hmm?”
“Ya terlalu banyak isinya, jadi kerja dia melambat. Minta beli baru pada Daddy, aku dukung,”
Auristella langsung menampar lengan kakak keduanya itu yang seenak hati menyuruhnya untuk minta belikan laptop pagi pada Devan. Kedua orangtuanya memang tidak ada yang pelit, tapi bukan berarti Ia bisa memanfaatkan itu.
__ADS_1
“Apa salahnya? Pasti dibolehkan Daddy, dia banyak uang,”
“Bagaimana kalau kamu saja? Aku minta uang padamu, untuk belikan laptop,”
“Tidak ada, untuk modal nikah, modal masa depan,” ujar Adrian dengan ketus. Lagi-lagi Auristella menampar lengan kakaknya.
“Sekalian saja lepas tanganku ini, Auris, jangan tanggung-tanggung cuma dipukul,”
Auristella tidak bisa menahan tawanya mendengar ucapan Adrian yang sudah kelewat kesal. Sedang dibantu malah disakiti.
Adiknya itu benar-benar memancing emosi.
“Cepat kasih uang untuk aku. Akan aku belikan laptop, aku janji,”
“Minta Daddy lah, uangnya banyak, atau minta pada Mommy karena Mommy jyga tidak kalah banyak uangnya,”
“Tidak, nanti mereka bingung kenapa aku tiba-tiba minta uang,”
“Ya katakan pada mereka kalau kamu perlu laptop baru,”
“Tapi apa mereka akan memberikannya? Mereka tau laptop aku baik-baik saja,”
“Kalau mereka liat laptop kamu benar-benar harus diganti, tidak mungkinlah mereka diam saja,”
“Tapi ini tidak rusak, ini cuma eror sebentar saja ‘kan?”
Adrian mengangkat kedua bahunya. Ia sudah coba untuk menyambungkan jaringan internet di laptop Auristella tapi tidak tersambung juga. Ia lihat jaringan internet di ponselnya baik-baik saja.
“Coba lihat di handphone kamu, Wifi tersambung tidak?”
Auristella segera memeriksa jaringan di ponselnya sendiri dan Ia mengangguk. “Iya, tersambung. Jaringannya baik-baik saja tapi kenapa laptopku tidak?”
“Kamu jangan mengajariku untuk menghabiskan uang Daddy dan Mommy ya!“
Adrian terbahak mendengar ucapan adiknya itu. Adrian pikir aeiknya akan langsung menghubungi Devan meminta uang untuk mebeli laptop baru.
“Daddymu banyak uang. Kirim saja uangnya ke aku, nanti aku carikan yang bagus,”
“Tidak usah! Aku bisa beli sendiri. Nanti kalau kamu yang pegang uangnya, kamu belikan laptop bekas untukku,”
“Hahahaha kamu tau saja niatku,”
“Errghhh keterlaluan!”
“Tidak-tidak, aku bercanda. Aku carikan yang bagus, serius,”
“Aku tidak percaya,”
Auristella sekarang mencubit lengan Adrian yang langsung berseru kesakitan. Auristella kalau sudah mengeluarkan jurus cubitan mautnya, bisa langsung membuat Adrian angkat tangan jarena benar-bsnar meninggalkan perih di kulit.
“Kasian yang jadi suamimu nanti ya. Bisa-bisa belum seminggu kamu jadi istrinya, badan dia sudah biru-biru akibat kamu cubit,”
“Kamu berlebihan. Lebih kasian yang jadi istrimu nanti. Setiap hari harus menghadapi laki-laki yang tidak jelas seperti kamu, Ian,”
*******
Angel mengernyit ketika mengetahui nomor kakaknya diblokir padahal Ia tidak pernah melakukan itu. Seketika Ia langsung punya dugaan kalau yang telah memblokir nonor sang kakak adalah suaminya. Angel langsung membatalkan blokiran itu kemudian menghela napas pelan.
Andrean keluar dari kamar mandi dengan penampilannya yang sudah segar karena sudah mandi. Kemudian makanan datang ke kamar mereka. Pagi ini mereka memutuskan untuk sarapan di kamar saja.
__ADS_1
“Ayo kita makan, Ean,” ajak Angel pada suaminya yang saat ini sedang menyisir rambut di depan cermin. Andrean menganggukkan kepalanya lantas berjalan ke sofa kamar.
Mereka berdua makan di sofa dengan menghadap jendela yang telah dibuka bersama dengan pintu balkoni sehingga udara segar langsung bisa mereka rasakan.
“Aku berhasil membuatmu kembali tertidur semalam, Angel,”
“Iya, terimakasih ya atas bantuanmu. Kalau aku tidak dipeluk olehmu, aku rasa tidak akan tidur sampai pagi ini karena aku memang tipe orang yang akan sulit tidur kalau sudah bangun,”
“Tidak perlu terimakasih, Sayang. Aku hanya tidak ingin kamu kurang istirahat, aku tidak ingin kamu kelelahan, dijahati, aku tidak ingin kamu merasa terganggu, semua itu jangan sampai terjadi,”
Dari ucapan Andrean barusan, yangs epertinya sedang menyinggung sesuatu, nampaknya ada yang dilakukan oleh Gesty yang Andrean anggap bisa mengganggu Angel. Oleh sebab itu nomornya diblokir oleh Andrean.
“Hei kenapa kamu melihatku seperti itu? Apa yang kamu pikirkan tentang aku?” Tanya Andrean yang sudah mulai menikmati sarapannya sementara sang istri malah menatapnya dalam diam.
Angel langsung mengerjapkan kedua matanya ketika ditegur oleh suaminya itu. Ia sedang menerka-nerka benarkah Andrean yang memblokir nomor kakaknya? Karena yang Ia ingat, Ia tidak pernah melakukan itu.
“Kenapa, Angel?”
Angel menggelengkan kepalanya sambil tersenyum dan mulai menyantap sarapannya juga.
“Kamu baik-baik saja?” Tanya Andrean yang tak akan bisa tenang kalau sudah melihat istrinya tidak fokus.
“Iya, tapi ada yang mau aku tanyakan padamu, kamu kira-kira keberatan atau tidak ya menjawab pertanyaanku?”
“Tidak, apa yang mau kamu tanyakan, Sayang? Tanyakan saja, jangan ada yang dipendam, tidak baik. Kita sudah menikah, dan komunikasi dalam sebuah pernikahan itu benar-benar sangat penting,”
“Kamu yang memblokir nomor kakakku ya, Ean?” Tanya Angel dengan hati-hati dan senyum meringis. Sebenarnya tidak enak juga bertanya soal itu, tapi Ia ingin tahu kalau memang Andrean yang melakukannya, apa alasan yang melandasi Andrean bertindak seperti itu. Karena bukan hanya sekali Andrean melakukannya.
Andrean menghembuskan napas kasar kemudian menyeruput air minum sebelum menjawab pertanyaan sang istri. Angel mengamati suaminya yang nampaknya tidak keberatan untuk menjawab, karena setelah minum Andrean langsung membuka mulutnya untuk memberikan jawaban “Iya, aku yang sudah memblokir nomor kakakmu itu,”
“Kenapa? Aku boleh tau tidak? Aku tidak pernah melakukannya, karena aku tidak mau hilang komunikasi dengan kakak ataupun ayah setelah aku menikah,”
Andrean langsung meraih tangan istrinya kemudian Ia genggam dengan erat. Ia tatap istrinya dalam-dalam dan menatap Angel dengan serius.
“Sayang, aku melakukannya ada tujuan, tentu saja. Dan aku yakin kamu sudah menerka jawabanku,” ujar Andrean yang tidak mau istrinya salah paham.
“Apa yang kakak kirim ke aku dan kamu melihatnya? Apa itu membuatmu kesal?”
“Oh tentu saja, makanya aku blokir langsung nomor dia. Jadi aku punya alasan, Sayang. Aku kesal ketika dia mengusik kamu, dan tujuan aku memblokir nomor dia supaya dia tidak punya akses untuk mengusik kamu. Kalau dibiarkan terus menerus, dia bisa semakin parah mengusikmu,”
“Tapi—“
“Tidak usahlah kamu pikirkan tentang itu. Dia memang pantas diblokir nomornya, bahkan dia sendiri pun pantas diblokir dari hidup kamu,”
“Tapi aku tidak punya siapapun selain ayah dan kakak, aku menyayangi mereka. Bagaimana kalau mereka ingin menghubungiku dan tiba-tiba tapi tidak bisa karena diblokir nomornya,”
“Mereka menghubungi kamu tujuannya apa? Mau memastikan kamu baik-baik saja? Mau bertanya kabar? Tidak ‘kan? Coba jawab apa yang mereka katakan kalau mereka menghubungi kamu?”
Angel menunduk, apa yang dikatakan pleh suaminya benar. Kalau mereka menghubunginya, tidak ada yang namanya menanyakan kabar, mereka tidak pernah memastikan Ia baik-baik saja. Yang ada justru meminta dan meminta. Sebenarnya tidak masalah bagi Angel karena Angel tahu hasil kerja kerasnya itu untuk mereka juga. Makanya Ia sampai rela bekerja lagi demi mendapatkan uang supaya Ia tetap bisa menghidupi ayah dan kakaknya itu. Tapi yang membuat Angel sedih, terkadang mereka sampai memaksa sampai tidak paham bagaimana keadaannya sekarang. Ia memang dicukupi oleh Andrean, akan tetapi Ia tidak bisa bersikap seenak hati dengan semua yang diberikan Andrean untuknya.
“Daripada mereka membuat kamu sakit hati, sedih, lebih baik blokir saja kontak mereka. Dengan begitu hidup kamu akan tenang, tanpa diganggu oleh mereka, Angel,”
“Tapi aku tidak bisa benar-benar meninggalkan mereka karena mereka perlu aku, Ean,”
Andrean memijat pangkal hidungnya. Ia benar-benar tidak paham kenapa istrinya bisa sebaik ini. Memang ayah dan kakaknya itu keluarga untuk Angel tapi kalau jahat, wajar kalau Angel kecewa dan memilih untuk menjaga jarak daripada hatinya terus-terusan disakiti. Tapi yang terjadi justru Angel membuka akses untuk mereka bersikap seenak hati. Angel selalu pura-pura kuat dan itu membuat Andrean kesal.
“Kamu tidak perlu meninggalkan mereka, kamu hanya perlu jaga jarak, kamu boleh baik, tapi jangan lupa utamakan perasaan diri sendiri,”
Andrean mengusap pipi Angel dengan lembut setelah itu lanjut menikmati sarapannya. Andrean berharal istrinya paham kenapa Ia sampai bebruat seperti itu yang mungkin kesannya jahat, tapi Andrean hanya ingin menjaga istrinya dari hal buruk apapun itu.
__ADS_1
********