
"Ada apa Adrina datang ke sini?"
"Ck! Ryn, kalau kamu pemasaran, silahkan tanya sendiri pada Ian. Jangan tanya aku. Lagipula untuk apa sih membahas Adrina. Lebih baik kita selesaikan tugas,"
"Iya, Ryn. Kamu ini benar-benar," sahut ---
"Benar-benar apa?! Hey kalian 'kan tahu, kalau aku itu menyukai Adrian. Jadi wajarlah kalau aku penasaran kenapa Adrina datang ke sini bersama Adrian,"
"Yang pasti diajak oleh Adrian,"
Ryn menatap tajam ----yang menyahutinya begitu. Sangat membuat hatinya panas, tentu saja.
Apa mereka sedekat itu sampai Adrian tidak sungkan lagi mengajak Adrian ke rumah?
"Astaga, tentu saja mereka dekat, bodoh! Mereka sudah bersahabat dari kecil," sisi lain dalam dirinya mengolok rasa cemburunya.
"Jangan menyerah, Ryn. Tetap semangat!"
Auristella menepuk bahu Ryn menyemangati Ryn yang begitu mendambakan kakaknya.
__ADS_1
"Artinya kalau aku bersama dengan Kak Adrian, kamu tidak keberatan 'kan? Tidak kesal denganku 'kan?"
Auristella menggerakkan salah satu telunjuknya ke kanan dan kiri. Ryn yang melihat itu langsung terpekik senang.
"Tidak semudah itu, Ryn,"
Ryn berdecak saat mendengar Auristella bicara seperti itu seraya menatap dirinya dengan tajam. Ia sudah senang sekali tadi. Tapi ternyata Auristella belum mengartikan gerak telunjuknya sehingga Ia sempat salah paham.
*******
"Jadi kenapa kamu berubah pikiran, Angel?"
Andrean tidak lagi bersandar di headboard melainkan duduk menghadap Angel yang kini nampak gugup.
"Maafkan aku,"
"Aku ingin mendengar penjelasan kamu. Aku kira, kamu sudah berpikir matang sebelum memutuskannya tadi pagi,"
"Aku sudah memikirkan semuanya dan aku sudah yakin. Tapi sayang, Kak Gesty tidak mengizinkan aku berhenti bekerja,"
__ADS_1
Angel hanya bisa mengatakan itu dalam hatinya. Ia tak bisa jujur pada Andrean bahwa tadi kakaknya datang lalu memarahi dirinya yang memutuskan untuk bekerja.
"Kenapa?"
"Aku hanya ingin menyibukkan diri saja, Andrean. Aku sudah terbiasa bekerja,"
Angel begitu lancar menjawabnya. Ia sudah mempersiapkan jawaban klise itu sebagai pertanyaan yang memang sudah Ia duga akan keluar dari mulut suaminya untuk kedua kalinya, setelah di telepon tadi.
"Bukankah kamu sudah sibuk? Kamu mengurus aku, lalu kuliah. Aku rasa itu sudah cukup menyita waktu kamu,"
Angel menggeleng, jujur sebenarnya apa yang Andrean sebutkan tadi tidak ada apa-apanya dibandingkan kegiatan Ia sebelum menikah. Ia merasa setelah menjadi istri Andrean, Ia berubah menjadi perempuan yang hidup tenang sekali tanpa disibukkan dengan kegiatan ini dan itu, waktunya benar-benar lengang.
Tapi Ia memang merasa perlu untuk meluangkan waktu, tidak seperti saat sebelum menikah. Ia sudah menikah dengan Andrean dan Ia tidak ingin ketika Andrean berada di rumah, selesai dengan kesibukannya, justru Ia tidak ada di samping Andrean. Komunikasi mereka pasti akan terbatas jika dibandingkan bila Ia di rumah saja.
"Ya sudah, kalau memang itu pilihanmu, aku tidak bisa melakukan apapun. Hanya satu yang aku pinta, kalau kamu merasa lelah dan terlalu sibuk, jangan sungkan untuk berhenti,"
Andrean menekan kata sibuk, sebab itu yang Angel inginkan. Sibuk menjadi topik pembahasan mereka kali ini karena Angel menjadikannya sebagai alasan untuk bisa kembali bekerja.
"Apa kamu yakin hanya karena itu? Bukan karena merasa kurang dengan yang aku berikan?"
__ADS_1
"Tidak-tidak, aku jujur, Andrean. Semuanya sudah lebih dari cukup,"