
Andrean menemukan istrinya di ruang laundry. Ia memanggil Angel dan gadis itu langsung menoleh, terkejut mendapati Andrean yang sudah bangun.
"Kita sarapan bersama. Sudah ditunggu Mommy,"
"Iya, sebentar,"
Angel menghentikan kegiatannya yang hampir selesai. Nanti, Ia bisa melanjutkannya.
"Lain kali tidak perlu melakukan itu," ujar Andrean seraya keluar dari ruangan, diikuti Angel di belakangnya.
"Melakukan apa?"
"Memasak, mencuci,"
"Oh, tidak apa. Justru aneh kalau aku tidak melakukan apapun,"
"Kamu boleh melakukan apapun asal jangan pekerjaan rumah ini. Karena semuanya sudah ada yang mengerjakannya,"
Angel diam mendengarkan suaminya yang sudah bicara panjang lebar pagi-pagi begini.
"Hmm kalau aku bekerja di restoran boleh?"
Andrean berbalik hingga Angel di belakangnya menubruk punggung lebarnya. Angel meringis sembari mengusap keningnya.
"Maaf, Andrean,"
Angel mendongak menatap Andrean yang lebih tinggi darinya. Jantung Angel berdetak tidak beraturan melihat Andrean sedekat ini dan dengan penampilan Andrean yang benar-benar berbeda dari yang biasa Ia lihat. Andrean baru bangun tidur tapi ketampanan nya tidak berkurang sedikitpun.
"Ini benar suamiku? Semakin tampan kalau baru bangun tidur," batin Angel takjub.
Angel menggeleng seraya mengetuk-ngetuk pelan keningnya. Andrean yang sedari tadi menunduk untuk menatap Angel pun bingung melihat Angel yang tiba-tiba menggeleng.
"Sakit?" Tanya nya dengan datar, seperti biasa.
"Ah? Tidak, Andrean,"
Angel tersenyum salah tingkah. Ia menjauhkan tangannya dari kening. Andrean menatap kening Angel dengan lamat sekilas seperti ingin memastikan bahwa Angel benar baik-baik saja.
"Tadi kamu bicara apa?"
Mereka sepertinya belum jadi-jadi ke ruang makan sementara orang-orang di sana sedang menunggu mereka berdua.
"Kalau tetap bekerja di restoran boleh?"
"Kalau aku jawab tidak boleh, apa kamu keberatan?"
"Hmm?"
Angel bingung ketika pertanyaannya malah ditimpali dengan pertanyaan juga.
"Apapun pekerjaan tidak boleh kamu lakukan. Pekerjaan di rumah maupun di luar rumah. Kalau aku bicara seperti itu, kamu keberatan?"
Angel bergumam bimbang. Ia benar-bebar memikirkan jawaban yang sekiranya pantas untuk didengar Andrean.
"Kalau aku boleh tahu, kenapa kamu meminta aku untuk tidak bekerja?"
Andrean menghela napas kemudian mundur satu langkah. Posisi mereka tadi terlalu dekat. Dan jujur saja Andrean merasa tidak nyaman. Sebelumnya Ia belum pernah seintim itu dengan Angel.
"Aku hanya ingin kamu fokus kuliah agar cepat selesai. Selebihnya, tidak perlu kamu pikirkan,"
Andrean berhak mengaturnya selagi Ia punya alasan untuk itu. Sekarang Andrean adalah suaminya. Apa wajar kalau Angel menentang ucapan Andrean?
Tapi kalau Ia tidak bekerja, Ia tidak bisa membayangkan sejenuh apa hidupnya nanti. Ia yang merupakan seorang perempuan aktif tiba-tiba hanya diminta fokus untuk kuliah. Tanpa bekerja di restoran dan juga bekerja mengurus rumah. Begitu kata Andrean tadi 'kan?
"Tapi tugas istri mengurus semuanya,"
"Mengurus suami. Bukan semuanya,"
Angel terdiam ketika Andrean menyanggah ucapannya. "Habis mencuci, pasti dalam otakmu itu sudah ada pekerjaan yang kamu rencanakan. Apa? Mengepel rumah ini yang besarnya luar biasa? Atau mengurus taman yang begitu luas? Hmm?"
__ADS_1
Angel tersenyum kikuk. Berhubung hari ini Ia sengaja diberikan libur oleh restoran dan juga tidak ada jadwal ke kampus, Ia memang berencana akan membantu-bantu pekerjaan maid.
"Kalau aku tidak lelah, tidak masalah 'kan?"
Andrean mengendikan bahunya, "Terserah kalau tidak mau menuruti ucapanku,"
Andrean akan melangkah, namun Angel cepat-cepat menahan lengan suaminya.
"Hmm okay aku hanya mengurus keperluan kamu saja,"
Andrean mengangguk pelan. Ia senang karena Angel yang terlalu rajin ini mau mendengar ucapannya.
"Lalu pekerjaan kamu di restoran?"
"Hari ini aku diberikan libur karena aku bilang ingin menikah,"
"Lanjut atau berhenti?"
"Ha---har--harus sekarang aku jawab? Aku perlu waktu untuk berpikir,"
"Okay, tapi aku harap, kamu hanya fokus pada pernikahan kita dan juga pendidikan kamu,"
Ucapan itu tentu akan menjadi pertimbangan besar untuk Angel. Meskipun Andrean membebaskan Ia dalam menentukan pilihan, tapi terlihat sekali kalau Andrean ingin Ia benar-benar tidak fokus menjalankan perannya sebagai istri.
******
"Masakan kamu lezat sekali, Sayang. Tapi boleh kah Mommy minta kamu untuk berhenti memasak?"
Lovi benar-benar tidak enak hati bila Angel sebegitu baiknya pada mereka sampai sarapan saja dibuatkan.
"Tidak apa, Mommy. Aku senang melakukannya,"
"Kamu tidak perlu mengurus apapun di rumah ini. Sudah ada yang mengerjakannya, Angel. Jangan kelelahan. Okay?"
"Dia tidak terbiasa hidup tenang tanpa kegiatan, Mom. Jadi biar saja lah. Suka-suka Angel,"
Sahutan santai Auristella membuat Angel tersenyum menyetujui. Bangun lalu tidak mepakukan apapun pasti akan terasa aneh untuknya.
*******
Usai sarapan bersama, Andrean akan bergegas ke kamar untuk membersihkan dirinya.
Andrean mengajak istrinya untuk ikut dengannya ke kamar, sebab Ia melihat Angel akan mencuci piring mereka sampai-sampai Lovi memarahinya.
"Siapkan pakaian untukku. Seharusnya itu yang kamu kerjakan. Bukan malah mau cuci piring,"
Angel terkekeh meringis saat suaminya yang dingin itu menyindirnya telak.
"Aku akan mengecek management hari ini,"
Andrean jadi lebih aktif mengajak istrinya komunikasi karena Ia sadar bahwa Angel adalah tipe orang yang tidak akan memulai lebih dulu. Kalau Ia terlalu kaku, maka Angel pun akan ragu untuk akrab dengannya hingga pernikahan mereka tidak terlalu dingin.
"Baju formal?"
Angel bertanya seperti itu karena Ia belum benar-benar paham tentang style suaminya.
Andrean menggeleng, Ia beranjak ke salah satu almari lalu mengambil satu celana jeans dan kaus berwarna putih.
"Biasanya aku hanya pakai celana dan baju seperti ini,"
Angel mengangguk ketika suaminya memberi tahu. Ia akan menghafal satu dari kebiasaan suaminya yang kalau ingin mengecek management mengenakan style non formal yang terbilang sangat nyaman. Hanya jeans dan kaus.
Saat Andrean keluar dari kamar mandi, kamar mereka sudah rapi. Sprei ranjang sudah terpasang jauh lebih kencang.
Andrean melihat Angel sedang melipat selimut, Angel belum menyadari bahwa Ia telah selesai mandi. Angel berdiri untuk membentangkan bed cover, barulah Ia melihat Andrean yang berdiri di depan pintu kamar mandi dengan kimono handuk yang membalut tubuhnya.
Selesai dengan kegiatannya, Angel beranjak ke sofa untuk mengambil pakaian Andrean kemudian Ia memberikannya pada Andrean.
"Letakkan saja di walk in closet biar sekalian aku pakai di sana,"
__ADS_1
Angel mengangguk, lain kali Ia akan menuruti kata suaminya itu. Ia pikir akan lebih nyaman kalau langsung diberikan pada Andrean. Rupanya kalau sudah diambil dari almari, Andrean biasanya membiarkan bajunya di dalam ruang wardrobe itu karena Ia akan mengenakannya di sana.
******
"Bagaimana kamu bisa menyetir kalau kondisimu seperti ini?"
"Aku bisa,"
"Baiklah,"
Gesty akan diantar pulang oleh teman lelakinya. Mereka baru saja menghabiskan waktu semalaman di sebuah night club. Mereka mabuk, namun Lionel yakin kalau masih bisa membawa mobil dengan benar sementara Gesty juga berusaha yakin bahwa Lionel akan mengantarnya sampai di rumah dengan selamat.
"Kalau kamu merasa tidak sanggup menyetir, beri tahu aku ya. Biar aku yang menggantikan kamu,"
Ucapan Gesty membuat Lionel, teman lelakinya itu tertawa. Lucu saja saat mendengar Gesty menawarkan diri sementara diantara mereka berdua tidak ada yang dalam kondisi sadar sepenuhnya.
"Aku bisa,"
Gesty mengangguk, berusaha tenang. Memacu mobil dalam kondisi mabuk adalah hal yang benar-benar salah. Tapi tidak ada pilihan. Mereka harus pulang.
Lionel mendesis seraya memegang keningnya hingga Gesty bertanya padanya. "Lionel, kenapa? Kamu baik-baik saja 'kan?"
"Kepalaku sakit,"
"Ya sudah, kita berhenti dulu. Atau aku yang akan menyetir,"
"Aku masih bisa,"
Lionel menolak, kalau Ia harus mengehentikan mobil terlebih dahulu, maka keinginannya untuk segera tidur tidak akan terlaksana.
"Hati-hati, Lionel. Aku belum ingin mati," ujar Gesty dengan tawa kecilnya. Mabuk masih melanda Gesty maupun Lionel.
Agar suasana tidak hening yang bisa membuat mata semakin berat, Gesty memutuskan untuk menghidupkan playlist musik.
Belum juga tangannya menyentuh playlist di depannya, Lionel sudah marah.
"Jangan terbiasa menyentuh sesuatu yang bukan milik kamu,"
"Supaya tidak sunyi, Lionel,"
"TAPI KAMU TIDAK BERHAK!"
Gesty terkejut saat dibentak. Ia menatap Lionel yang kini terkekeh padahal sebelumnya terlihat sangat marah.
"Kamu mabuk jadi menyeramkan,"
"DIAM!"
Sekali lagi Lionel menaikan nada bicaranya. Gesty berdecak pelan. Ia memilih untuk menyandarkan tubuhnya dengan nyaman tapi sedetik kemudian tubuhnya terdorong ke depan karena mobil yang Ia dan Lionel tempati baru saja menabrak sesuatu.
"Ya Tuhan, Lionel!"
Gesty berteriak terkejut. Beberapa saat Ia hanya diam kemudian matanya mengerjap berusaha untuk menatap ke depan dengan fokus, dimana Lionel sudah keluar dari mobil dan tengah bicara dengan pemilik mobil yang baru saja ditabrak oleh Lionel. Beruntungnya hanya kecelakaan kecil.
Lionel masuk ke dalam mobil sementara pemilik mobil yang ditabraknya masih berdiri di depan mobil Lionel dengan wajah yang terlihat masih marah.
"Gesty, aku minta uang,"
"Apa? Kamu gila?! Aku tidak ada uang!"
"Untuk ganti rugi,"
"Tidak! Kamu yang berbuat kesalahan, kenapa aku yang harus tanggung jawab?"
Angel menjawab dengan kesal dan artikulasi yang tidak begitu jelas karena pengaruh dari mabuknya. Ia nampak tak peduli.
"Hey!" Lionel mendekati Gesty. Lionel menatap Gesty dengan sorot emosi yang benar-benar menyeramkan karena saat ini Lionel marah dan dalam kondisi mabuk meskipun bukan mabuk berat.
Lionel mencengkram dagu Gesty dengan kasar hingga Gesty meringis dan berusaha melepaskan diri.
__ADS_1
"CEPAT BERIKAN AKU UANG!"
Lionel menghempas dagu Gesty hingga kepalanya terantuk di kaca mobil.