Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 154


__ADS_3

“Nah itu Ian. Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga,”


Adrian melirik Adrina dengan sinis, wajahnya juga tidak ramah. Auristella menyapa Adrina singkat setelah itu bergegas ke kamar.


“Oh jadi Adrina yang menunggu aku, Ean?” Tanya Adrian pada kamaknya yang langsung mengangguk.


“Makanya aku menyuruh kamu untuk langsung pulang, supaya cepat sampai rumah karena Adrina menunggu kamu,”


Setelah bicara sepeeti itu Andrean meninggalkan ruang tamu, begitupun Lovi. Adrina dan Adrian perlu diberikan waktu untuk berbicara.


Setelah tak ada siapa-siap lagi selain Adrina dan Adrian, barulah Adrina memulai pembicaraan.


“Aku mau minta maaf, Ian. Aku benar-benar lupa kalau kamu itu menjemput aku, dan aku juga lupa memberitahu kalau aku sudah sampai di rumah. Tolong maafkan aku ya?”


“Ada usaha juga ya untuk meminta maaf ladaku? Sudah berapa lama menunggu di sini?”


“Sejak tadi, aku semoat menunggu di luar tadi,”


“Ya salahmu semdiri kenapa tidak masuk ke dalam,”


“Aku diajak masuk oleh Uncle Devan, sebelumnya sudah dipersilahkan masuk oleh penjaga tapi aku tetap mau di luar karena lebih cepat bertemu kamu kalau kamu sudah pulang. Tapi berhubung aku sungkan membantah Uncle Devan, jadi aku menunggu di ruang tamu,”


“Aku maafkan,” ujar Adrian dnegan singkat dan jelas.


“Hanya begitu tanggapan kamu?”


“Iya kamu mau aku bagaimana? Aku memaafkan kamu, memang itu masih kurang ya? Bukankah itu yang ingin kamu dnegar dari mulut aku, Drina?”


Adrina berdecak pelan sambil menggaruk pelipisnya bingung. Ia memang ingin mendnegar dari mulut Adrian langaung kalau Adrian sudah memafkannya tapi dari raut wajah Adrian saja kelihatan sekali kalau Adrian belum benar-benar memaafkan dirinya.


“Kamu maish marah ya?”


“Aku thanyankecewa. Aku sia-sia menunggu kamu di area parkir satu jam lebih, Adrina. Dan aku ingat, ini bukan pertama kalinya kamu begini. Sebelumnya sudah pernah. Ya memang kamu tidak minta dijemput, tapi apa salahnya ‘kan mengabari aku kalau memang sudah smapai dir unah jadi aku tidak buang-buang waktu. Kamu tau aku mudah bosan, apalagi cuma dia saja do dalam mobil,”


“Ya harusnya kamu jalan-jalan saja sambil menunggu aku pulang,”


“Okay kalau misalnya aku jalan-jalan, setelahnya aku pasti merasa lelah, lalu dapat kabar kalau kamu lupa dijemput aku. Itu semakin menyebalkan lagi,”


Adrina membuang napas kasar. Kemudian Ia menangkup kedua tangannya meminta maaf pada sahabatnya itu yang sering menyebut bahwa mereka berdua adalah ‘kembaran beda rahim’ karena memiliki nama yang hampir serupa.


“Maafkan aku, Ian,”


“Iya aku maafkan, Adrina,”


“Tapi kanu masih kelihatan kesal. Kamu tidak tlus memaafkan aku ya?”


“Aku harus apa sih?”


“Ya minimal senyum lah. Itu paking minimal,”


“Kalau maksimal?”


“Kamu mengusili aku, buat aku kesal,”


“Aku saja lagi kesal, terlalu malas untuk buat orang lain juga kesal,”


“Berarti kamu masih kesal ya?”


“Lumayan, tapi aku sudah memaafkan kamu. Karena alasan kamu lupa,”

__ADS_1


“Oya aku benar-benar lupa dan wajar ‘kan kalau manusia itu lupa,”


“Nah itu yang aku sayangkan, kenapa manusia harus sering lupa?”


“Ya memang dari sananya sudah diciptakan begitu, Ian. Itulah sebabnya banyak orang terlambat datang ke kampus, tidak bawa keperluan yang harusnya dibawa, tidak sempat naik pesawat, dan macam-macam. Gunanya manusia jadi lupa ya biar ada cobaan hidup mungkin,”


“Hahahahaha tidak lucu,”


Adrian tertawa, dia benar-benar tertawa karena ucapan Adrina tapi anehnya malah berkata ‘tidak lucu’ dan itu membuat Adrina kesal.


“Ya kalau tidak lucu kenapa kamu malah tertawa?! Hah?!”


“Ya memangnya salah kalau aku tertawa? Hmm?”


“Ya salah! Harusnya kalau tidak lucu, kamu tidak perlu tertawa,”


“Ya sukasuka aku lah. Mulut siapa yang tertawa?”


“Kamu,”


“Lalu kenapa kamu kesal kalau aku tertawa?”


*****


“Ya karena kamu bilang ucapanku barusan itu tidak lucu, tapi kenyataannya kamu tertawa. Berarti aku berhasil menghibur kamu, seharusnya. Iya ‘kan?”


“Sudahlah kita sudahi saja obrolan tidak penting ini. Aku mau istirahat, kamu juga harus istriahat karena pasti lelah ‘kan menunggu aku datang?”


“Jadi kamu memaafkan aku atau tidak?”


“Tentu, aku sudah jawab tadi, Drina. Aku memaafkan kamu. Tidak dnegar atau tidak paham sih sebenarnya?”


“Sudah aku tegaskan kalau aku sudah memaafkan kamu, Drina,”


“Ya sudah kalau begitu aku pulang ya,”


“Iya hati-hati,”


“Hati-hati? Memang rumah kita jauh?”


“Ya memang pesan hati-hati itu untuk yang rumahnya jauh-jauh saja?”


“Tidak juga, okay aku pulang dulu ya, jangan marah lagi ya, Ian,”


“Ya,”


Adrian ikut beranjak meninggalkan sofa mengantarkan Adrina sampai keluar dari rumahnya. Setelah itu barulah Ia bergegas ke kamarnya untuk membersihkan badan sekaligus istirahat.


******


Andrean bingung ketika tidak mendapati Angel yang biasanya ada di atas tempat tidur atau sofa kamar.


Lalu mata Andrean mengarah pintu balkon yang terbuka. Ia yakin istrinya berada di sana. Dan begitu Ia mendekat ke arah balkon, ternyata benar Angel sedang menyendiri di balkon.


Andrean langsung berjalan mendekati istrinya yang ternyata sedang menikmati cokelat. Andrean berdiri telat di sebelah Angel.


“Kenapa di sini, Ngel?”


“Eh Astaga,”

__ADS_1


Angel terkejut mendapati keberadaan suaminya yang tiba-tiba. Andrean terkekeh dan merangkul pinggang istrinya dari samping.


“Maaf, aku membuat kamu kaget ya?”


“Iya, tapi tidak apa. Kamu sudah pulang ternyata,”


“Sudah sejak beberapa menit lalu sebenarnya. Tapi aku baru ke kamar karena tadi bicara dulu sebnetar dengan Adrina. Dia datang ke sini ingin meminta maaf pada Ian yang menjemputnya di kampus tapi dia malah pulang bersama teman-temannya karena Ia lupa,” Andrean menjelaskan supaya Angel tahu kalau sebenarnya Ia bukannya baru pulang.


“Ya sudah kamu mandi dulu, nanti kita duduk di sini berdua ya,” ujar Nagel seraya menunjuk dua buah kursi yang berhadapan.


“Memang kenapa? Ada yang mau kamu bicarakan?”


Andrean merasa penasaran dengan alasan istrinya yang ingin Ia duduk di balkon nanti setelah mandi.


“Ya tidak apa-apa, aku hanya ingin kamu duduk aaja di sini,”


“Tidak ada yang mau kamu bicarakan?”


Angel menggelengkan kepala. Andrean menghela napas kecewa. Ia pikir istrinya akan menjelaskan perihal yang ada di foto itu. Tapi ternyata tidak. Angel sepertinya hanya ingin mereka menghabiskan waktu berdua saja di balkon. Andrean akan dnegan senang hati menengarkan penjelasan Angel sebelum Ia yang bertanya.


“Ya sudah kalau begitu aku mandi dulu ya,”


Andrean bergegas ke kamar mandi meninggalkan Angel sendirian di balkon. Di dalam kamar mandi, Andrean sedang berusaha untuk mengendalikan dirinya sendiri. Sejak masuk ke dalam kamar sebenarnya rasa kesal di dadanya meletup-letup apalagi setelah beradu tatap dengan Angel barusan. Tapi Ia berusaha untuk menutupinya dengan sikap dewasa.


Alih-alih langsung melampiaskan emosi, Andrean akan berusaha untuk tetap tenang walaupun cemburu membakarnya. Ia akan cari waktu yang telat, tapi yang jelas secepatnya, untuk meminta penjelasan Angel tentang foto yang dikirimkan kepadanya itu. Dan Ia berharap Angel jujur, tidak menutupi apapun darinya.


Andrean tidak pernah lama kalau mandi. Tidak sampai sepuluh menit biasanya Ia sudah keluar dengan badan segar dan bersihnya. Setelah mengenakan pakaian, Ia langsung menyisir rambutnya yang masih basah, kemudian Ia bergegas ke balkon.


Angel sudah duduk, tidak berdiri lagi. Ia melewati Angel sambil mengusap puncak kepalanya.


“Cepat ya mandinya,”


“Iya, selalu cepat ‘kan?”


“Karena tidak sabar juga mau duduk berdua denganku di sini ya?” Tanya Angel sambil meraih tangannya dan Ia genggam lembut. Andrean untuk tersenyum getir. Angel yang Ia cintai dnegan begitu besar, yang Ia perlakukan sangat baik seperti Ia memperlakukan sebuah barang berharga, apa mungkin selingkuh lalu pura-pura romantis seperti ini di depannya? Andrean sulit untuk percaya. Tapi foto tadi seperti menamparnya.


“Kamu makan cokelat?”


“Sudah habis, satu bungkus aku semua yang makan,” ujar Angel menjawab pertanyaan suaminya yang tadi sempat mepihat Angel menikmati cokelat tapi sekarang tidak lagi ternyata sudah habis.


“Wow, hati-hati batuk, Sayang,”


“Iya, aku rasa aku butuh cokelat untuk membuat pikiranku tidak kalut. Jadi aku turun ke bawah, aku nabil cokelat di dalam lemari es,”


“Apa yang membuat pikiranmu jadi kalut? Hmm? Jelaskan padaku,”


Angel tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. Mana mungkin Ia cerita kalau tadi di kafe tempat Ia bekerja, Ia dihampiri oleh seorang laki-laki asing dan diperlakukan dengan tidak sopan oleh lelaki itu. Kalau Ia cerita, Andrean pasti akan marah besar, Andrean bisa menganggapnya menjijikan juga bahkan.


“Tidak, aku hanya sedang cemburu saja melihatmu mengobrol dengan Adrina. Hahaha itu berlebihan ya?”


Andrean tersenyum mendnegar ucapan istrinya, kemudian Ia mengusap pipi Angel dnegan lembut menggunakan telunjuknya.


“Aku senang kamu cemburu, itu hal yang wajar. Tapi dia itu ‘kan sahabatku, Sayang. Jadi wajar saja kalau kamu memgobrol ‘kan?”


“Iya aku paham dan memang tidak seharusnya aku cemburu, aku terlalu berlebihan. Maafkan aku ya,”


“Tidak perlu meminta maaf. Justru aku senang kamu terbuka seperti ini. Apapun yang ada di hatiny, bagaimana perasaanmu, jangan sungkan mengatakannya kepadaku, Sayang,”


Angel menganggukkan kepalanya. Karena itulah Ia langsung jujur pada Andrean bahwa Ia cemburu, walaupun Ia sadar bahwa cemburu pada Adrina itu berlebihan jarena Ia sendiri tahu Adrina adalah sahabatnya dan Andrean sejak mereka kecil. Taoi rasa cemburu itu datang berlebihan karena Ia ingat Adrina pernah menyuaki suaminya walaupun menurut pengakuan Adrina, itu sudah menjadi masa lalu, terjadinya juga sudah cukup lama. Sekarang Adrina menganggap Andrean murni sebagai sahabat dan Adrina juga tahu kalau Andrean suda menjadi milik orang lain.

__ADS_1


__ADS_2