
Kehilangan sosok yang berharga dalam hidup Angel di saat hari pernikahannya telah dekat, benar-benar tidak pernah terbesit dalam benak Angel.
Wanita tua yang sempat mengurusnya sejak sang Ibu sakit sampai akhirnya meninggal, kini telah dibawa menuju pemakaman seiring tangisan Angel yang tidak pernah berhenti.
Angel mendapatkan kabar mengenai kematian neneknya dari seseorang yang tinggal berdekatan dengan sang nenek. Sejak saat itulah Angel merasa dunianya runtuh.
Bahkan ponsel yang baru diperbaikinya pada malam hari, kembali dibuat rusak saat Angel tak kuasa tetap mempertahankan ponsel ditelinga. Ia terlalu terkejut mendapat berita duka itu menjelang hari pernikahannya.
Dadanya terasa sesak saat mendapati kenyataan bahwa neneknya tak bisa melihat pernikahannya digelar. padahal Ia begitu antusias dan selalu mendoakan kebaikan untuk Andrean dan Angel.
Auristella memeluk bahu Angel yang masih setia dengan sengguk tangisnya. Usai dari pemakaman, Angel dibawa ke rumah neneknya untuk melihat kenangan sang nenek dengan dirinya, atas permintaan Angel sendiri.
Angel menyesali dirinya yang tak ada di samping Nenek ketika Nenek bertemu dengan takdir kematiannya.
"Sudah, Angel. Jangan menangis lagi. Nenek mu sudah tenang di sana," ujar Auristella seraya mengusap bahu Angel. Meskipun Auristella sering merasa kesal pada Angel apalagi pernikahan itu semakin dekat yang artinya sebentar lagi Ia akan kehilangan satu orang kakaknya, namun Ia tetap menunjukkan rasa dukanya atas kepergian Neneknya Angel yang juga selalu baik padanya.
Lovi dan Devan saling menatap setelah tidak pernah luput memperhatikan Angel. Mereka mengerti betapa besar kesedihan Angel ketika harus ditinggalkan neneknya, wanita yang sudah seperti ayah sekaligus ibu untuknya.
"Kamu tenang saja, Angel. Rumah ini akan tetap terawat dan kamu bisa kapan saja datang ke sini," ujar Devan pada calon istri Andrean itu.
"Meskipun Nenek tidak bisa hadir di pernikahan mu dan Andrean, tapi Nenek pasti menyaksikannya dari surga,"
Adrian ikut menenangkan Angel yang sedari tadi diam saja di kursi sofa yang menghadap kamar neneknya. Tatapan Angel kosong, mencoba untuk kembali memutar ulang kenangan nya bersama Nenek. Sangat banyak, karena memang mereka sangat dekat.
"Aku akan menginap di sini," ujar Angel setelah hampir satu jam Ia diam melamun dan mereka yang ada di dekatnya tetap setia menemaninya.
"Kamu yakin?" Tanya Andrean. Sepertinya Angel tidak dibiarkan sendiri bila kondisinya seperti sekarang ini.
"Iya, aku belum ingin meninggalkan tempat yang menjadi tempat terakhir Nenek sebelum pergi,"
"Tapi jujur kami khawatir, Angel,"
"Aku akan baik-baik saja, Aunty. Aku hanya ingin mengenang masa lalu kami di sini,"
Bila memang keputusan Angel seperti itu, maka mereka tidak bisa mengatakan apapun lagi. Mereka memberikan Angel waktu untuk sendiri. Angel perlu mengenang, kemudian menyimpan semuanya dengan baik agar terus menjadi kenangan yang tidak pernah luput dari ingatannya, sebelum akhirnya Ia benar-benar rela untuk melepas kepergian sang nenek.
*****
Flashback
Angel yang baru kehilangan Ibunya tak pernah lepas memeluk foto sang Ibu. Angel kecil sulit sekali menerima kenyataan bahwa Ibunya telah tiada.
__ADS_1
"Nenek, kenapa ya Ibu meninggalkan aku? Padahal aku tidak pernah nakal. Kalau Ibu minta tolong ambilkan makan, minum, atau obat, pasti aku lakukan. Aku juga selalu belajar tanpa disuruh Ibu. Tapi kenapa Ibu pergi?"
"Ibumu sakit, Angel,"
Nenek yang sedari tadi berdiri di depan kamar yang kini menjadi tempat favorit Angel, memutuskan untuk menghampiri cucunya itu.
"Iya, Angel mengerti. Tapi kenapa Ibu menyerah dengan penyakit itu? Apa penyakit Ibu terlalu jahat ya hingga akhirnya Ibu menyerah?"
Nenek memeluk Angel dengan hangat. Ia tak bisa menahan air matanya. Ia menangis di atas kepala Angel yang masih bertanya-tanya kenapa Ibunya memutuskan untuk menyerah dengan penyakitnya. Padahal sudah cukup lama Ia berjuang. Apakah tidak sia-dia perjuangannya selama ini?
"Ibu sudah tidak kuat lagi. Ini takdir Tuhan,"
"Tapi, Nek, aku tidak bisa membayangkan seperti apa hidupku tanpa Ibu. Ayah meninggalkan aku, lalu sekarang Ibu. Apa Nenek juga akan meninggalkan aku?"
"Tidak, Sayang. Nenek akan selalu ada untuk kamu,"
Angel masih kecil dan Ia belum begitu mengerti bahwa semua manusia pasti akan berakhir dengan kematian. Ia senang ketika Neneknya bicara seperti itu. Ia anggap Neneknya berjanji tidak akan pernah meninggalkannya.
Flashback Off
Angel yang duduk di tepi ranjang milik neneknya menggerakkan tangan untuk mengusap bantal yang biasa dipakai sang nenek.
"Pada akhirnya Nenek juga meninggalkan aku," gumam Angel dengan pedih. Kemudian gadis itu memutar arah pandangannya ke seluruh penjuru kamar sang nenek.
Ia yang terkadang takut tidur sendiri, selalu memutuskan untuk tidur bersama Neneknya. Tak jarang Neneknya juga minta ditemani. Mereka akan terlelap setelah Nenek membacakan dongeng untuk Angel.
"Tidak ada lagi yang bisa menyayangi aku sebesar kasih sayang Nenek terhadapku,"
******
"Adrian, Ada Adrina di bawah. Dia menunggu kamu,"
"Adrian!"
"IAN, BANGUN!"
Darr
Darr
Darr
__ADS_1
Auristella membangunkan kakaknya tidak sabaran. Melihat wajah Adrina pagi-pagi di depan pintu rumahnya ditambah lagi niat Adrina datang ke rumah karena ingin bertemu Adrian, benar-benar membuatnya kesal.
Ia yakin sekali mereka berdua akan berangkat ke kampus bersama. Sementara tadi malam Adrian sudah berjanji akan mengantarnya ke kampus.
Beruntung Angel tidak hadir juga di sini untuk mencari Andrean. Bisa-bisa asap dari hidungnya kian menebal.
Adrian sudah diusik tidurnya pagi-pagi seperti ini, sementara Andrean masih tenang dalam tidur karena semalaman Ia tidak bisa tidur. Matanya baru terpejam kira-kira satu jam yang lalu. Selama matanya terbuka, yang dilakukan Andrean hanyalah membaca buku tentang apapun yang Ia punya. Pernikahan semakin dekat, Ia jadi gelisah. Padahal kata Lovi, semuanya sudah siap.
"IAN, SAYANGKU. KAKAK KU YANG TAMPAN, CEPAT BANGUN!" Ucapan Auristella manis namun tetap saja tidak terdengar manis kalau diucapkan dengan menggebu-gebu penuh emosi.
Sebenarnya Adrian sudah bangun dari tidurnya sejak tadi. Tapi Ia sengaja tidak menjawab panggilan adiknya. Terlalu malas untuk menciptakan keributan di pagi hari.
Dengan santai, lelaki itu menata rambutnya di hadapan cermin sementara sang adik sudah benar-benar kesal.
"Ah biar Mommy saja lah yang membangunkan dia,"
Auristella menghampiri meja makan dan Ia langsung mengangkat kedua tangannya ketika Lovi menatapnya yang datang tanpa Adrian.
"Dimana kakak kamu?"
"Mati, Mom,"
"Astaga, mulut mu, Auris,"
"Dia tidak bangun-bangun. Hanya ada dua kemungkinan. Pingsan atau mati. Kalau pingsan, apa suaraku ini tidak bisa membuat dia sadar? Jadi aku rasa, kemungkinan kedua yang paling tepat,"
Devan menggeleng pelan. Alisnya terangkat saat melihat sang putri menarik kursi lalu duduk dengan gerak tidak santai.
"Aku hampiri Adrian dulu," ujar Lovi pada suaminya.
Devan mengangguk kemudian menatap punggung Lovi yang sudah menjauh.
"Adrina sudah pulang,"
"Oh, kenapa?" Tanya Auristella. Sebenarnya Ia tidak peduli, hanya saja sang ayah tengah bicara padanya, jadi harus Ia tanggapi.
"Mungkin dia takut dengan pawang Adrian,"
"Siapa yang Daddy maksud?"
Sudut Devan terangkat, Ia tersenyum miring lalu menggerakkan dagunya ke arah Auristella.
__ADS_1
"Kamu, siapa lagi?"
"Iiihhh Daddy,"