
“Aku selesai siap-siap, tapi kamu masih di tempat tidur, Sayang. Kamu sepertinya mengantuk ya?”
Andrean bersiap di walk in closet dan ketika kembali ke kamar Ia melihat istrinya yang berbaring di tempat tidur. Sementara Ia sudah siap dengan kemeja putih dan juga celana polos silvernya.
“Iya aku mengantuk, kamu cepat sekali bersiapnya. Tiba-tiba sudah selesai saja. Aku terlalu fokus tiduran sambil menonton televisi,”
“Aku ‘kan laki-laki, Sayang. Tidak banyak yang diurus,”
“Okay kalau begitu aku akan bersiap sekarang ya,”
Angel beranjak meninggalkan tempat tidur, gantian Andrean yang duduk di tepi tempat tidur sambil menonton televisi.
Angel memoles wajah dan menata rambutnya sebentar. Hanya polesan tipis, dan mengikat rambutnya menjadi satu. Tidak butuh waktu lama Ia langsung berganti baju.
Selesai berganti baju, Angel langsung menghampiri Andrean yang sedang fokus dengan televisi. Angel menepuk pundak suaminya beberapa kali dan itu berhasil membuat Andrean menoleh. Tatapan kagum pangsung Andrean layangkan ketika melihat penampilan sang istri.
“Wow, seperti biasa, istriku selalu tampil cantik. Aku berharap kamu tidak lari kemana-mana,”
Mendengar ucapan Andrean, Angel langsung tertawa. Lalu Ia menepuk bahu suaminya itu. “Kenapa kamu bicara seperti itu? Hmm? Aku tidak akan lari kemana-mana, Andrean yang tampan,”
Andrean terkekeh dan langsung mengecup hidung istrinya yang menggemaskan. Ia langsung mengulurkan lengannya supaya Angel segera merangkulnya.
“Ayo kita berangkat sekarang, Tuan putri,”
“Okay,”
Mereka diundang oleh salah satu rekan Andrean yang dengan senang hati turut mengajak istrinya supaya menjadi teman untuknya menghadiri acara ulang tahun rekannya itu.
*****
“Astaga, mahalnya dia membeli cincin ini. Kira-kira untuk siapa ya? Hmm aku jadi penasaran,”
“Heh tikus kecil! Kenapa kamu tiba-tiba ada di kamarku? Hah?”
Aurisella tersentak kaget saat Adrian menepuk bahunya dari belakang. Tanpa menghabiskan banyak waktu Ia langsung meraih bantal Adrian kemudian melemparkannya ke arah Adrian.
“Jangan membuatku kaget, Adrian!”
“Apa yang kamu lakukan di kamarku, Ris? Jangan bilang, kamu mau mencuri barang-barang berharga milikku ya? Huh?”
“Maaf, tapi lebih banyak barang berharga milikku sepertinya, karena aku anak perempuan satu-satunya, warisanku mebih banyak,” ujar Auristella sambil mengibaskan rambut panjangnya ke belakang, Ia berjata seperti itu dengan arogannya. Adrian merotasikan bola mata.
“Tidak juga, Daddy dan Mommya dil asal kamu tau!”
“Ya ya ya, apa katamu lag, aku tau kamu iri,”
“Tidak! Sembarangan sekali mulutmu ya,”
“Okay lupakan soal harta. Sekarang aku mau tanya, barusan aku melihat surat pembelian cincin berlian di nakasmu, kamu membeli cincin untuk siapa? Di sini keterangannya cincin untuk perempuan,” ujar Auristella seraya mengembalikan selembar kertas di atas nakas. Ia sudah selesai membaca surat tersebut dan sekarang Ia perlu jawaban yang jelas dari Adrian.
“Untuk Adrina,”
Kedua mata Auristella membelalak terkejut. Bahkan mulutnya juga terbuka sedikit. “Oh wow! Kamu membelikan cincin berlian untuk Adrina? Ini mahal sekali, Ian. Memang ada apa sebenarnya? Dia ulang tahun? Seingatku—“
“Tidak, dia tidak berulang tahun, aku hanya ingin memberikan cincin saja untuknya, sekaligus memintanya untuk menjadi istriku,”
“Astaga! Apa-apa? Aku tidak salah dengar? Secepat tu? Tidak ada obrolan dulu dengan Mommy dan Daddy?”
Adrian terkekeh lalu menyimpan kedua tangannya di dalam saku celana. “Mereka sudah sejak lama menyuruhku bergerak, Ris. Mereka sangat setuju kalau aku dengan Adrina. Dan perlu kamu tau, sebelum aku bicara dengan Drina, aku sudah bicara pada Mommy dan Daddy. Mereka menyambut baik niatku itu,”
Auristella menganggukkan kepalanya sambil memainkan lidahnya di dalam mulut dan mengamati kuku-kuku jari tangannya.
“Jadi kalan kalian menikah? Aku tidak tahu apa-apa. Bagus sekali ya! Padahal aku ini adikmu!”
“Ini aku beritahu, kurang apalagi sih? Aku salah terus di matamu,”
__ADS_1
“Ya kalau aku tidak menemukan surat cincin ini, aku tidak akan tau kalau kamu sudah benar-benar serius mengajak Adrina untuk menikah,”
“Okay kalau begitu aku terlambat?”
“Iya! Kenapa harus bertanya lagi! Sudah tau terlambat,”
Sengaja Aurisella berseru tepat di depan wajah kakak keduanya hingga terkejut. Adrian langsung mendorong mulut adiknya itu.
“Benar-benar tidak ada sopan santun sekali anak ini ya. Kenaoa kamu datang ke kamarku? Hah? Kamu belum menjawab pertanyaanku wahai tikus kecil,”
“Aku diminta Mommy untuk mengajakmu makan malam bersama, Tikus besar,”
“Aku baru pulang, beruntungnya aku tau ya kamu datang ke kamarku, coba kalau aku tidak tau dan baranhku tiba-tiba ada yang hilang. Wow itu gawat sekali,”
“Aku bukan pencuri,”
Auristella menginjak kaki kakaknya dengan kejam tanpa perasaan kemudian pergi begitu saja meninggalkan sang kakak yang meringis kesakitan.
“Astaga, uji kesabaran terus kalau berinteraksi dengan anak kecil satu itu,”
*****
“Istrimu cantik, dimana kamu mendapatkannya?”
Alih-alih senang mendnegar perkataan itu, Andrean justru kesal. Entah kenapa kalau ada orang lain yang jenis kelaminnya laki-laki memuji istrinya, Ia tidak senang mendengarnya padahal kenyataannya memang Angel cantik jadi wajar kalau ada yang memuji.
“Carikan aku juga, Andrean,”
“Cari sendiri, pasti dapat,”
“Aku terlalu lemah kalau urusan cinta atau mencari jodoh, bantu aku lah,” pinta rekannya itu sambil tertawa.
“Aku berjodoh dengan Angel juga tanpa ada bayangan sebelumnya,”
“Aku mengincar pasangan yang seperti Angel. Selain cantik, sepertinya dia tak banyak menuntutmu ya? Tidak aneh-aneh dalam bersikap, sulit mendapatkan yang seperti itu,”
“Atau mungkin Angel punya teman yang seperti dirinya? Hmm tidak perlu sama persis juga tak apalah yang terpenting mirip, bukan hanya soal rupa yang cantik, tapi aku mencari perempuan yang baik, tidak banyak menuntut aku,”
“Tidak ada, istriku tak punya teman,” ujar Andrean yang langsung mengundang tawa Nathaniel selaku orang yang berharap dibantu oleh Andrean ataupun Angel dalam mencari pasangan hidup.
“Apa kamu pikir aku akan percaya ketika kamu berkata bahwa Angel tidak punya teman?
Hahahaha perempuan tulus tidak mungkin tidak punya teman,”
“Ya sudah kalau tidak percaya,”
Angel menggerutu dalam hati. Karena mungkin selama ini Andrean jarang melihat Ia berinteraksi dengan teman, Andrean sampai menyangka bahwa Ia tak memiliki teman.
“Bisa-bisanya kamu bicara seperti itu. Aku punya teman, Ean! Erghh menyebalkan sekali sih!”
“Kalau amu mendapat jodoh seperti Angel, maka kamu harus menjadi seperti aku dulu. Ya tidak perlu sama persis tidak masalah, yang terpenting mirip lah,”
“Aduh itu yang berat, aku jauh darimu, Andrean,”
“Ah terlalu merendah itu tidak bagus juga, Nath,”
******
“Ean, mukamu kenapa beda?”
“Beda maksudmu, Sayang? Mukaku berubah jadi muka robot kah? Tidak kan? Tetap muka manusia?”
“Hahahaha, bukan robot maksudku, Ean!”
Andrean mendekat pada istrinya secara tiba-tiba dan itu membuat Angel menelan salivanya gugup.
__ADS_1
“Kenapa?”
“Aku akan memasangkan sabuk pengaman, Sayang. Jangan gugup seperti itu, tenang saja,” ujar Andrean sambil mengunci sabuk pengaman setelah itu mencium bibirnya singkat.
“Kamu berpikir aku akan melakukan apa, Sayang? Hmm?”
“Hahaha tidak,”
“Hmm apa kamu berpikir kalau aku akan menciummu?”
“Sudah barusan,”
Andrean terkekeh kecil, sekali lagi dia mencium bibir istrinya setelah itu mulai melajukan mobilnya meninggalkan area parki tempat dilaksanakannya pesta ulang tahun Nathaniel.
“Aku lihat mukamu berubah,”
“Iya berubah sepeeti apa yang kamu maksud, Sayang?”
“Terlihat kesal,“
“Oh, iya memang. Aku kesal karena Nathaniel memuji kamu, Sayang. Ya walaupun kamu memang benar-benar cantik tapi aku tidak senang ketika ada yang memujimu selain aku, cukup aku saja,”
“Ya ampun, padahal dia tidak memujiku, aku rasa,”
“Dia menilai kamu cantik, itu memang kenyataan tapi aku kesal mendengarnya,”
“Cemburu? Hmm? Jangan cemburu lah, aku ini milikmu, Ean,”
“Iya aku tau, tapi wajar kan kalau aku cemburu?”
“Iya boleh saja cemburu, aku juga terjadang merasa cemburu tapi Nathaniel hanya bicara seperti itu, kenapa kamu sampai secemburu itu?”
“Kamu memang cantik dan aku ingin hanya aku saja yang memuji kamu, hanya aku saja yang bisa menikmati kecantikan kamu,”
“Ya sudah lain kali kalau aku keluar, aku akan menggunakan penutup wajah supaya tidak ada yang bisa melihat wajahku,”
Andrean terkekeh mendengar ucapan istrinya. Andrean menggerakkan tangannya mengusap puncak kepala perempuan di sebelahnya ini.
“Tidak perlu, Sayang. Aku memang berlebihan sekali. Seharusnya aku tidak perlu cemburu ya? Wajar lah kalau kamu dipuji seperti itu. Karena kenyataannya memang kamu cantik, baik, tulus. Aku memang berlebihan. Aku akan hilangkan rasa cemburu itu, Sayang. Maklum ya, aku ini terlalu takut kamu diambil oleh orang lain,”
“Tenang saja, aku tidak akan kemana-mana. Siapapun yang memuji aku, tetap pujian kamu lah yang berkesan bagiku dan akan selalu aku ingat,” ujar Angel menghibur suaminya.
“Ini kita langsung pulang?”
“Iya, memang mau kemana lagi?”
“Barangkali kamu mau ke suatu tempat, Sayang,”
“Tidak, aku tidak mau kemana-mana, hanya ingin istiraha,”
“Sama denganku kalau begitu. Aku juga perlu istirahat dan perlu satu hal lagi sebenarnya,”
“Apa itu? Manti aku siapkan saat sudah sampai di rumah,”
“Aku butuh—-pelukanmu, Angel,”
“Ya ampun, aku pikir apa. Misalnya perlu segelas teh hangat, makanan, atau yang lainnya. Ternyata pelukan,”
“Iya memang pelukan yang aku perlukan, Sayangku, bukan yang lain,”
“Hmm okay nanti aku persiapkan ya,”
“Kalau untuk yang satu itu aku rasa tidak perlu dipersiapkan ya. Nanti begitu sampai di kamar, aku bisa langsung memeluk kamu. Tadinya mau sekarang, tapi aku lagi mengendarai mobil, jadi pasti akan sulit,”
“Sudahlah, Ean, fokus mengendarai mobil dulu, jangan memikirkan pelukanku yang tidak ada apa-apanya ini,”
__ADS_1
“Aku tidak sabar memeluk kamu dan juga anak kita, Angel, kebahagiaanku akan semakin lengkap. Aku benar-benar menunggu momen itu. Semoga kita terus bersama-sama ya,”
Angel tersenyum sambil mengusap perutnya yang semakin membesar. Ia juga sama tak sabarnya menunggu kehadiran malaikat kecil mereka.