Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 163


__ADS_3

“Jadi kamu serius ini tidak mau ikut liburan bersamaku, Angel?”


Angel tersenyum ketika lagi-lagi Auristella berusaha meyakinkan dirinya. Ia menganggukkan kepala.


“Iya, Ris. Kamu saja yang berlibur ya. Hati-hati di sana, jangan lupa untuk sering memberikan kabar kepadaku, dan selamat bersenang-senang,”


Angel dan Andrean lah yang mengantarkan Auristella ke bandara untuk pergi berlibur seorang diri. Devan dan Lovi terpaksa absen tak mengantar putri mereka karena kerabat dekat mereka ada yang meninggal dunia dan mereka harus segera datang untuk berbela sungkawa.


Tapi sebelum mereka berangkat, tentunya sudah puas dulu memeluk dan mencium putri tunggal mereka itu. Tak lupa juga memberikan pesan yang sebenarnya sama saja tapi sengaja diperdengarkan berulang kali supaya Auristella ingat. Seperti, hati-hati, sering memberi kabar, kalau membutuhkan sesuatu jangan sungkan meminta bantuah, jaga kesehatan, dan nikmati liburan dnegan baik, terakhir adalah tak lupa liburan sambil kuliah kaena itu pilihan Auristella yang andai saja dia mengambil liburan saat libur kuliah maka Ia akan sangat tenang.


“Iya,”


Setelah memeluk Angel, Auristella memeluk kakak tertuanya yang langsung mengusap punggungnya dengan lembut.


“Baik-baik di sana, jaga dirimu!”


“Okay siap, Tuan Andrean yang baik hati. Terimakasih sekali lagi untuk persiapan liburannya ya mulai dari tiket sampai ke penginapan,” ujar Auristella sambil mengerlingkan satu matanya. Andrean ersenyum singkat dan menganggukkan kepalanya.


“Apapun untukmu, adik perempuanku,”


“Ah jadi terharu,”


Auristella langsung pura-pura mengusap pipinya. Ia tidak benar-benar menangis, tentunya hanya acting saja. Kalau ada Adrian, mungkin Ia akan diejek ‘drama queen’ sayangnya Adrian tak hadir karena harus bernyanyi di sebuah kota.


“Sudahlah, jangan beracting seperti itu di depanku,”


“Hahaha, kata-jatamu seperti Ian saja. Sayang dia tidak bisa mengantar aku karsna dia bekerja. Dia semakin senang mencari uang karena kemungkinan sebentar lagi jadi suami Adrina,”


“Doakan saja yang terbaik untuk mereka,”


“Itu pasti, ya walaupun aku sedih ketika tau Adrina menerima Ian. Itu artinya aku akan kehilangan Ian huwaaaaa,”


“Auris, jangan bikin malu tolong!”


Andrean menegur adiknya yang merengek seperti benar-benar ingin menangis. Kalau sampai orang-orang di sekitar mereka salah paham bisa bahaya. Ia tidak mau dituduh telah membuat seorang perempuan menangis tersedu-sedu.


“Ah ya sudahlah, aku berangkat dulu ya, pesawat sudah menantiku,”


“Ya, selamat sampai tujuan ya,”


“Terimakasih untuk doamu, Angel,”


Auristella dan Angel berpelukan sekali lagi setelah itu mulai melangkahkan kakinya menjauh dari Andrean dan Angel.


“Ah sedihnya mau berpisah denganmu, Angel,” ujar Aurisella.

__ADS_1


“Aku juga,”


“Iya, kalau berpisah denganku tdiak sedih? Yang kakakmu Angel saja ‘kan?”


“Oh dia iri rupanya,” ejek Auristella sebelum akhirnya Ia semakin jauh.


Angel terkekeh dan menepuk bahu suaminya sambil berkata “Tentu saja Auris juga sedih mau berpisah denganmu,”


“Kalian memang sudah sedekat itu,”


“Itu harus, Ean. Apa kamu tidak senang adikmu dekat dengan aku?”


“Tentu aku senang, Sayang. Itu bagus, memang sudah seharusnya sekua keluargaku dekat dneganmu ‘kan? Hanya saja aku bingung kenapa dua adikku itu seperti menganggap kamu lah kakak kandung mereka, terutama Auris,” ujar Andrean sambil menggelengkan kepalanya.


“Karena aku dianggap kakak perempuannya,”


“Setelah ada kamu, memang banyak perubahan baik dari Auris. Salah satu contohnya dia mulai mau mandiri, bisa lebih sabar, bisa sedikit mengendalikan emosinya. Dulu sebelum ada kamu, karena dia anak terakhir, dia benar-benar manja dan suka bersikap tergantung suasana hati. Itu tidak bagus utuk orang-orang sekitarnya ‘kan? Setelah hidup dengan kamu, bisa kamu lihat sendiri bagaimana dia sekarang,”


“Itu bukan karena aku, tapi karena memang kemauan Auris sendiri yang mau berubah jadi lebih baik. Dan sepertinya juga karena usia Auris ‘kan sudah dewasa, jadi dia tau mana yang baik atau tidak,”


“Tapi aku rasa kamu ikut andil juga dalam pembentukan karakter Auris, Sayang. Mungkin karena dia merasa sudah punya kakak perempuan yang jauh lebih bisa membimbing dia, menjadi temannya, menjadi pendampingnya juga. Aku ucapkan terimakasih untukmu karena selain Auris, aku juga merasa setelah bersama kamu, aku jadi berubah lebih baik, salah satu contohnya suka senyum,”


Angel tertawa mendengar kalimat terakhir Andrean yang berkata sambil menunjukkan senyum lebarnya.


“Sepeetinya aku belum pernah melihat kamu senyum selebar itu, Ean,”


“Hahaha okay-okay, sudahi senyum lebarmu itu. Sejujurnya aneh melihatmu senyum lebar,”


“Apa benar aneh? Padahal semenjak bersama kamu, aku seirng tersenyum cukup lebar,”


“Tapi senyum yang kamu tunjukkan kali ini benar-benar lebar, selebar jalan raya,”


Seketika ekspresi Andrean berubah menjadi datar kembali. Sudah berusaha senyum setampan dan setamah mungkin tiba-tiba disamakan dengan jalan raya.


“Hahaha seperti otomatis begitu ya. Dari tersenyum lebar tiba-tiba berubah menjadi datar,”


“Kamu tega sekali menyamakan senyum suamimu ini dengan jalan raya, Sayang,”


“Aku bercanda, Ean. Senyum yang kamu tunjukkan selalu membuatmu semakin tampan, percayalah padaku,”


Andrean terkekeh sambil mengusap lembut puncak kepala istrinya. Kemudian Ia merangkul bahu sang istri mengajaknya segera meninggalkan bandara.


“Tapi aku ingin buang air kecil dulu boleh tidak?”


“Tentu saja, Sayang. Kita ke kamar mandi dulu kalau begitu ya?”

__ADS_1


Angel menganggukkan kepalanya. Sebelum benar-benar meninggalkan bandara, Angel dan Andrean bergegas mencari kamar mandi yang bisa Angel gunakan untuk menuntaskan hasrat untuk buang air kecil.


“Kamu tunggu di luar saja tidak perlu masuk ya? Aku hanya sebentar,”


“Yakin tidak mau aku temani sampai ke dalam?”


“Ya tidak perlu, Ean. Ini kamar mandi khusus untuk perempuan,”


Seketika Andrean dibuat tersadar. Ia langsung menatap papan yang tertera tepat di atas kepalanya. Ia hampir saja menemani Angel masuk ke dalam kamar mandi perempuan.


“Okay, Sayang. Aku tunggu di luar kalau begitu,”


Angel menganggukkan kepalanya lantas masuk ke dalam kamar mandi sementara Andrean sedikit menyingkir. Ia tidak mau menghalangi akses orang masuk ataupun keluar kamar mandi.


Tidak perlu menunggu waktu lama, Angel keluar dari kamar mandi. Ia langsung tersenyum lega “Sudah selesai, Ean,” lapornya.


“Okay, Sayang. Ayo aku antar kamu pulang dan aku bekerja,”


“Aku pulang? Aku akan ke kafe. Apa kamu lupa?”


“Ah iya, Astaga aku lupa. Okay kita ke kafe sekarang ya,”


Angel menganggukkan kepalanya. Ia segera meraih tangan Andrean kemudian menggenggamnya erat, langsung dibalas oleh Andrean. Mereka berjalan menuju mobil dan tak sengaja beradu dengan seorang anak kecil yang berlari.


“Astaga,”


Andrean dan Angel panik karena anak itu terjatuh duduk di lantai. Walaupun bukan salah mereka karena mereka juga terkejut tiba-tiba ditabrak oleh anak itu.


“Apa kamu baik-baik saja?” Tanya Angel seraya mengusap wajah anak itu dengan lembut.


“Ya, aku sehat, aku baik-baik saja,”


“Lain kali lebih hati-hati, Cantik. Yang barusan bisa membahayakanmu,”


“Tidak, Uncle. Aku tidak bahaya,” jawab anak itu setelah Andrean menasehatinya.


“Aku baik-baik saja, Aunty dan Uncle tenang ya,”


Setelah dibantu oleh Andrean untuk berdiri, anak itu langsung tersenyum dan mengucapkan “Terimakasih, Uncle yang tampan,”


“Lain kali kamu harus hati-hati,”


“Iya, Uncle,”


“Astaga, Andrean maaf anakku sudah berbuat ulah,”

__ADS_1


Seorang wanita menghampiri Andrean dan Angel yang sedang berinteraksi dengan seorang anak perempuan yang diakui wanita itu adalah anaknya.


“Alesha?”


__ADS_2