
Auristella duduk di dekatnya. Ia mengangkat kaki Andrean lalu meletakkan kaki kecil itu di atas pahanya.
"Adikmu dimana?"
"Di taman tadi. Tapi sekarang sedang membuat ulah sepertinya. Aunty dengar sendiri 'kan suaranya yang berisik itu?"
Memang seharusnya Auristella tak bertanya. Karena pekikan heboh Axelia sudah terdengar sejak Ia menapakkan kakinya di rumah ini.
"DADDY JAHAT!"
"Daddy jahat? Ya sudah besok-besok tidak usah minta mainan pada Daddy,"
"Mommy, Daddy jahat. Mommy saja yang belikan Lia mainan ya?"
"Ean, masakanku belum selesai. Jangan ganggu Lia lagi. Kamu bisa lebih dewasa, tidak?"
Andrean merengut. Padahal niatnya baik. Ingin membersihkan kening Axelia yang juga berlumuran tanah. Namun anak itu malah mengiranya ingin balas dendam. Biar Angel saja yang membersihkan katanya. Ya Tuhan. Sampai-sampai Ia dikatakan jahat.
Andrean menurunkan anaknya dari gendongan. Lalu pergi meninggalkan dapur. Daripada Ia membentak, itu lebih jahat lagi. Angwl menggeleng pelan. Semenjak memiliki dua anak memang terasa mengasuh tiga anak. Tidak terbayang kalau anak dalam kandungannya yang satu lagi sudah lahir, Saat ini Angel mengandung anaknya yang ketiga. Pasti akan semakin rusuh dan setiap harinya Angel akan naik darah. Karena Andrean yang biasanya dingin dan datar sering sekali menyebalkan pada anak-anaknya.
Acelion melewati adiknya. Ia masuk ke dalam ruang kerja. Auristella hanya bisa menatap bingung.
Andrean membanting tubuhnya di kursi kebesaran yang selalu menjadi tempatnya menyelesaikan pekerjaan.
Di sana Ia menghela napas kasar seraya mengusar wajah. Suasana tenang dari ruangan ini mampu meredakan sedikit rasa kesalnya.
Andrean memilih untuk berkutat dengan pekerjaan. Kalau sudah waktunya makan malam, Angel pasti menghampirinya di sini dan berusaha membujuknya.
***
Angel melanjutkan masak ditemani anak bungsunya yang selalu menjadi ekor Angel. Membuat Ang risih namun mau bagaimana lagi? Dia sedang tidak memiliki teman untuk bertengkar sehingga memilih untuk sibuk bersama Ang.
"Duduk di sana saja, Putri kecil,"
Axelia menggeleng tegas saat ditawari duduk di meja bar oleh Serry. Netta tampak menyenggol lengan Serry lalu menggelengkan kepalanya memberi isyarat 'jangan ganggu anak itu'.
"Awas, jangan terlalu dekat Mommy. Nanti kamu terkena minyak panas,"
Angwl mendorong lembut anak bungsunya yang tengah memeluk pinggang Angel. Angel takut tangannya terkena minyak panas yang sedang bersatu dengan udang di atas katel.
"Lia mau udangnya," masih terdengar ketus ia memaksa Angwl mengangkat udang yang belum matang itu.
Tingginya belum mumpuni untuk melihat apa yang dimasak. Namun Ia tahu dari aromanya kalau itu udang asam manis. Itu olahan udang kesukaan Axelia.
"Nanti ya. Sebentar lagi matang," diberi pengertian seperti itu Ia mengangguk. Sebenarnya bosan berada di dapur. Tapi kalau bergabung dengan Axelion juga pasti Ia lebih bosan lagi.
Auristella memasuki dapur. Dan Axelia belum menyadari. Karena terlalu sibuk menatap punggung Ibunya yang sedang memasak.
"Suamimu kenapa?"
Ang menoleh saat suara Auristella singgah di telinganya. Begitu pula Axelia yang langsung terpekik senang. Mood buruknya setelah bertengkar dengan Andrean langsung hilang entah kemana.
"YEAAY AUNTY DATANG,"
"Bertengkar dengan Lia," Angel menjawab pertanyaan itu lalu mematikan kompor karena masakannya sudah selesai.
Auristella beralih pada keponakannya. Ia menatap Axelia yang kini tersenyum lebar.
"Axelia, ada apa dengan Daddy?"
"Ean hanya ingin membasuh keningnya yang terkena tanah. Lalu dia marah,"
Angel yang menjelaskan biduk permasalahannya. Angel mengajak Auristella dan Axelia untuk meninggalkan dapur.
Axelia menggenggam tangan Auristella seraya berjalan riang, mereka mengikuti Angel.
"Kalian jangan keterlaluan memancing emosi Daddy,"
Angel duduk di sofa yang berseberangan dengan Axelion, Auristella dan Axelia segera menyusul.
"Okay, anak-anak Mommy?”
“Ya, Mom,”
------
"Tadi Axelia dilarang masuk oleh bapak itu, Dad. Padahal ini kantor Daddy, jadi suka-suka Axelia. Kenapa dia melarang? Dasar menyebalkan!"
Oh rupanya dia yang bersikeras untuk masuk ke dalam ruangan. Tentu saja lelaki itu menyerah. Lebih baik membiarkan Axelia berlaku sesukanya daripada Ia yang dipecat karena anak itu laporan pada sang ayah. Namun caranya itu dianggap Andrean sebuah kesalahan. Karena pekerjaan tetaplah pekerjaan dan tidak seharusnya Axelia seperti ini. Ia akan semakin menganggap remeh semuanya.
"Siapapun tidak boleh masuk ke ruangan itu apa lagi sedang rapat. Axelia jangan seperti ini, Sayang."
Axelia melempar mobil-mobilan yang ada di sofa hingga berserakan di lantai. Kemudian Ia membanting tubuh kecilnya di sofa.
Andrean berusaha menahan diri. Jangan sampai Ia berbuat kesalahan di hari kerjanya ini. Sekalipun Axelia yang salah, pasti di mata Angel Ia tetaplah pihak yang bersalah dan egois. Oleh sebab itu untuk menghindari perdebatannya dengan Angel, Andrean harus banyak-banyak mengalah. Ia tidak mau Istrinya terlalu banyak beban pikiran. Axelia pasti mengadu setelah ini.
"Kangen Mommy. Axelia mau pulang saja!"
Andrean mengangkat anaknya dalam pangkuan. Tidak mungkin Ia mengantar Axelia pulang sementara rapat sudah Ia tunda seenak hati. Diwakilkan oleh Ferro pun tidak bisa karena proyek Ini lebih penting daripada sekedar meladeni rajukan anak itu.
Ia mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana kerjanya. Lalu menekan nomor relepon sang istri. Barang kali setelah mendengar suara Angel, Axelia bisa berhenti membuat Andrean hampir stress.
"Hallo Mommy,"
"Hai, Sayang. Ada apa menelpon Mommy?"
"Daddy marahi Axelia. Axelia mau pulang saja,"
Benar apa kata Angel. Mengadu 'kan? Andrean kembali diuji kesabarannya.
"Hallo, Angel. Bagaimana keadaanmu hari ini?" Andreanmengeluarkan suaranya dan juga menampilkan sedikit wajah karena layar ponsel sudah dipenuhi wajah sang anak.
"Aku baik-baik saja. Ada apa dengan Anakmu?"
"Anakmu, Angel."
Anhel terkekeh mendengar suara pelan suaminya. Terlalu putus asa menghadapi Axelia atau bagaimana?
"Dia datang ke ruang rapat hanya untuk mengatakan kalau dia mengantuk dan ingin pulang. Coba kamu bayangkan berada diposisi aku sekarang,"
Andrean hanya bisa memandang Istrinya yang tergelak. Kenapa semua orang terlihat bahagia di atas kesulitannya? Menghadapi anak empat tahun ini benar-benar menguji kesabaran.
"Sabar, Ean."
"Aku sudah berusaha untuk itu. Tapi---"
Axelia mendorong wajah ayahnya tak mengizinkan Ia bericara lagi dengan Angel. Ia sudah cukup paham kalau Andrean tengah mencuri start lebih dulu untuk melapor pada Angel.
"Lia mau pulang, Mom,”
"Katakan pada Daddy. Karena Mommy tidak akan diizinkan untuk menjemputmu,"
"Aku tidak mungkin mengantarnya pulang sekarang. Dan lebih tidak mungkin lagi kalau aku menyerahkannya pada orang suruhanku. Mereka kurang aku percaya selain diriku sendiri,"
Angel tersenyum menyadari kekhawatiran Devan. Sekeras apapun hati lelaki itu, kalau sudah berurusan dengan anak pasti akan lembut juga.
"Axelia diam di sana dulu. Tunggu sampai Daddy selesai bekerja. Setelah itu, kalian akan pulang,"
"Terlalu lama, Mommy."
Andrean menengadahkan kepalanya ke atas mengumpulkan kesabarannya lebih banyak lagi.
"Axelia sayang dengan Mommy?"
Sontak Ia langsung mengangguk pasti. Dan Angel tersenyum melihat anaknya yang mulai mencair.
"Ya sudah, dengar apa yang Mommy katakan. Ini juga salah Axelia. Kenapa mau ikut Daddy ke kantor kalau tidak nyaman berada di sana?"
Andrean bersorak dalam hati. Tidak biasanya Lovi berada di pihaknya. Namun tidak seperti Adrian, Andrean lebih memilih untuk menyembunyikan kebahagiaannya. Kalau tidak, Axelia pasti akan semakin kesal.
"Itu Axelia, Mom?" Suara Axelion terdengar tak jauh dari Angel.
"Ya,"
"Kapan pulang?"
"Mau sekarang, Lion." Adrian menjawab dengan lantang seolah melupakan ucapan Angel tadi.
"Jangan sekarang. Daddy bahkan baru bekerja sebentar,"
Huh! kenapa tidak ada yang menyetujui keinginannya?padahal Axelia belum puas membuat ayahnya kesulitan. Ini belum tengah hari dan pekerjaan Andrean masih menumpuk, tapi Axelia sudah berhasil membuat energi Andrean terkuras karena berusaha tenang.
------
Angel tengah merajut baju untuk bayinya. Seperti saat mengandung Axelion dan Axelia. Dihari mereka keluar dari rahimnya, setelah dibersihkan oleh perawat, Angel meminta perawat untuk memakaikan baju hasil karyanya pada bayi baru lahir itu.
"Mom, Lia masih lama pulangnya?"
Angel menoleh pada Axelion yang sedari tadi memperhatikan kegiatannya tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Mommy tidak tahu, Sayang. Tapi sepertimya tidak lama lagi. Daddy pasti menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat sebelum adikmu merajuk lagi,"
Axelion mengangguk singkat. Ia meraih makanan ringan kesukaannya yang biasa Ia nikmati ketika menonton televisi. Pemandangan kali ini jauh lebih menarik. Dimana Angel dengan telaten menjahit kain hingga menjadi baju yang menggemaskan.
Sebentar lagi sore dan Angel serta Axelia baru saja makan siang. Mereka menunggu Andrean dan Axelia yang Angel kira akan pulang untuk makan siang. Namun ternyata suaminya sangat sibuk. Angel mengerti karena Andrean memang sudah lama tidak berkutat di kantor, mungkin banyak pekerjaan yang belum terselesaikan. Andrean mengatakan kalau Ia dan Axelia makan siang di kantor. Akhirnya angel dan Axelion makan siang sedikit terlambat. Andrean sempat merasa bersalah karena Ia kurang berkomunikasi dengan angel. Andrean memang selalu seperti itu kalau kesibukan sedang melandanya.
***
Tak ada yang membelanya kali ini sehingga Axelia menyerah. Ia memilih untuk tetap bersama Andren di kantor. Andrean sudah kembali ke ruang rapat sementara Ia sibuk menggulir layar ipad yang diberikan Andrean tadi. Semenjak sakit, Andrean memang melarang anaknya untuk bermain dengan benda tipis yang canggih itu. Namun saat ini Andrean tahu kalau anaknya sangat membutuhkan itu untuk mengusir kebosanannya.
"Ayo ayo cepat!"
"Arrggh Kenapa kamu seperti siput sih? Larinya payah," anak itu berbicara pada pemain andalannya yang baru saja kalah dalam berlari. Padahal levelnya sudah lumayan tinggi. Kalau seperti ini Ia harus mengulang dari level awal.
Axelia menghela napas pelan dan memasang ancang-ancang untuk membanting ipad di tangannya. Namun tidak jadi. Kalau itu rusak sekarang, lantas Ia bermain apa? berhubung rasa kantuknya hilang, dan niat Axelia yang ingin membuat ayahnya kesal pun sudah tidak ada lagi, maka Ia butuh kesibukan yang lain.
Selang beberapa waktu, anak itu tiba-tiba saja mengusap tenggorokannya. Mata bulat itu menatap langit-langit seraya membayangkan minuman dingin yang nikmat.
"Aku haus. Mau es krim kira-kira Mommy dan Daddy nanti tahu tidak ya?"
Telunjuknya mengetuk-ngetuk dagu dengan wajah serius berpikir. Ah daripada Ia bosan, haus, badmood, lebih baik menikmati es krim.
Ia berdiri dan melempar asal Ipad yang dipegangnya ke atas sofa dan hampir terjatuh.
Axelia melenggang santai ke arah pintu untuk membukanya. Ia mengeluarkan sedikit kepalanya untuk mencari bodyguard ayahnya yang ditugaskan untuk menjaganya.
Salah satu lelaki berbadan kekar dan berpakaian serba hitam itu menyadari kalau pintu terbuka. Ia menunduk terkejut, menatap Axelia yang jauh lebih pendek darinya.
"Ada apa, putri kecil?"
Tiga lelaki lainya pun kini beralih fokus pada Axelia yang tengah tersenyum lebar. Itu ciri-ciri Axelia kalau sedang ada maunya.
"Aku mau es krim. Boleh tidak?"
Mereka menelan ludah gugup. Kenapa harus bertanya pada mereka? memang mereka bisa menolak keinginan anak Tuannya?
"Saya belikan dulu, putri kecil yang cantik."
Axelia melepas tangannya pada daun pintu, Ia keluar dari ruangan lalu bersorak senang.
"Jangan lama-lama ya,"
"Baik, Tuan kecil."
Axelia masuk ke dalam ruangan Andrean lagi. Raut senangnya benar-benar menggemaskan. Ia tidak sabar merasakan minuman dingin itu di tenggorokannya. Kalau tahu sebebas ini, sepertinya Axelia akan menyukai kantor Andrean yang tadi dianggapnya sangat membosankan. Besok-besok Ia harus ke sini lagi dengan alasan mau menemani Daddy ke kantor!
***
"Daddy..."
Andrean menoleh pada anaknya. Ia bisa melihat Axelia yang tampak menunduk. Seperti ada yang ingin disampaikan.
"Ada apa, Sayang?"
"Hmmm... Axelia mau..."
Alis tebal Andrean menukik. Ia tak bisa memperhatikan wajah anaknya terlalu lama karena sedang mengemudi.
Andrean masih menunggu kelanjutan kalimat anak itu dengan perasaan tak menentu takut Axelia meminta yang aneh-aneh.
"Axelia mau es krim," akhirnya keluar juga suara dari mulut anaknya. Bagi Axelia, dua cone es krim tidak akan cukup. Berhubung tadi Andrean tidak tahu kalau Ia sudah menikmati es krim, pasti kali ini Andrean menurutinya. Hitung-hitung sebagai penghargaan atas kesabaran Andrean yang sudah rela menunggunya bekerja hingga sore hari seperti ini.
Andrean mengangguk dan Axelia langsung memekik senang. Akhirnya Ia bisa minum es krim banyak. Biasanya Angel tidak mengizinkan Ia dan Axelion untuk terlalu sering mengkonsumsi es krim. Perkara terserang batuk dan radang tenggorokan, Axelia tidak peduli.
--------
Sebelum masuk ke dalam komplek perumahannya, Andrean memutuskan untuk menghentikan mobilnya di supermarket.
Ia menoleh pada Axelia yang sejak mengutarakan keinginannya langsung fokus bermain game di ipadnya.
"Axelia mau ikut Daddy masuk?"
Anak itu hanya menggeleng pelan tanpa beralih. Andrean memiting kulit putih wajah putranya hingga Ia mengeluh karena Ia kalah.
"Daddy ganggu!"
"Kalau diajak bicara, bagaimana sikap yang seharusnya?"
Axelia meletakkan ipad di atas paha lalu menatap mata Andrean. Tak hanya itu Ia memajukan wajah agar berbenturan dengan wajah Andrean.
"Ikut Daddy masuk ke dalam,"
Tak bisa dipungkiri Andrean merasa khawatir bila harus meninggalkan anaknya di dalam mobil. Ia tidak tahu apakah di dalam sana ramai atau tidak. Bisa jadi Andrean membutuhkan waktu lebih lama untuk membeli es krim. Dan Axelia ini tidak bisa dipercayai lagi. Ia terlalu berani menentang. Andrean takut anaknya keluar dari mobil tanpa sepengetahuannya.
Andrean membawa Axelia dalam gendongan. Mereka memasuki supermarket. Axelia langsung menghirup aroma roti yang menguar begitu andrean membuka pintu supermarket.
Andrean meraup gemas wajah anaknya. Ia tidak tahan melihat hidung Axelia yang berkedut seperti kelinci.
"Enak aromanya,"
"Kamu mau?"
"Mau tapi kenyang,"
Andrean mulai menjelajahi supermarket. Apapun yang ditunjuk Axelia, Ia ambil lalu dimasukkan ke dalam troli.
"Beli saja, makannya nanti kalau kamu sudah lapar,"
"Dad, mau beli permen karet boleh?"
Devan menggeleng singkat. Axelia pasti belum terlalu mengerti kalau permen karet tidak bisa ditelannya. Ia sekedar melihat gambar di kemasan yang kelihatannya memang menarik dengan berbagai warna. Apa lagi Axelia penyuka rasa manis, bisa-bisa langsung ditelannya permen karet itu.
Dalam gendongan ayahnya Ia bersedekap dada. Siapapun yang melihatnya pasti akan menggeram gemas.
****
Axelia langsung berlari memasuki rumah dengan dua kantung belanjaan di tangannya. Sementara andrean sedang mengamankan mobilnya di carport rumah. Penjaga di sini tidak sebanyak di mansion tempatnya tinggal dulu. Angel selalu melarang andrean untuk menambah penjaga rumah mereka. Sehingga andrean dituntut untuk lebih mandiri. Supir pribadi saja andrean hanya memiliki satu orang dan ditugaskan oleh andrean untuk mengantar angel kemanapun. Dan lagi andrean sudah terbiasa membawa mobilnya sendiri. Untuk hal itu Ia tidak begitu keberatan.
"Bawa apa itu?"
"Es krim. Mommy mau?"
Angwl menerima kantung yang diserahkan Adrian. Ia keberatan membawanya sehingga dibalik tawaran itu terselip maksud lain. Biar angel yang membawanya ke ruang makan.
__ADS_1
Angel menyambut suaminya di depan pintu. Ia tersenyum geli melihat wajah andrean yang terlihat begitu lelah.
"Bagaimana hari ini? Anakmu berbuat apa saja?"
Andrean mengecup singkat bibir Istrinya lalu merangkul pinggang angel memasuki rumah.
"Apapun yang membuatku kesal, pasti dia lakukan,"
Andrean duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan hidangan makan malam. Rasa laparnya sudah berteriak sejak tadi. Biasa saja Ia mendatangi restoran terlebih dahulu sebelum pulang, namun Ia ingat kalau ada angel dan Axelion yang menunggunya pulang untuk makan malam bersama. Tadi siang Ia sudah melewatkan makan siang di rumah. Sehingga malam ini andrean tidak akan mengecewakan istrinya.
Axelia dengan menarik kantung yang ada di tangan angel. Lalu Ia mendekati kakaknya yang sedang menatap kehangatan orangtua mereka.
"Lia beli es krim. Lion mau? Pasti mau lah. Kalau es krim, lion pasti tidak menolak,"
Ia bertanya juga menjawab. Mulutnya berceloteh dan mulai membuka kantung.
"Aku mandi lalu makan ya?"
Axelion sudah bergabung dengan adiknya. Mereka mengeluarkan seluruh makanan dan minuman yang dibeli Andrean.
"Aku suka ini,"
"Itu punyaku. Punyamu yang ini," Axelia merebut es krim red velvet yang ada di tangan kakaknya lalu menunjuk varian mangga. Axelion menghela napas mengalah lalu Ia mencari es krim yang lain. Rupanya es krim seperti itu tidak hanya satu. Andrean tentu saja adil.
Axelion mengangkat es krimnya tinggi-tinggi lalu tersenyum miring pada axelia yang menatap miliknya.
"Aku juga punya,"
"Itu punyaku!"
"Tidak, kita sama-sama punya satu red velvet. Masih ada es krim lain,"
Angel dan Andrean hanya menatap kedua anaknya yang sedang berdebat. Mereka biarkan saja asalkan tidak saling menyakiti.
"Semuanya sudah aku siapkan," ujar angel memberi tahu segala hal yang dibutuhkan andrean sudah Ia siapkan. Mulai dari pakaian hingga air hangat di dalam bath up serta lilin aromaterapi yang menenangkan.
Andrean mengusap wajah angel yang mulai berisi lalu tangannya juga menyematkan sentuhan di perut sang Istri.
"Terima kasih, Sayang."
Andrean segera pergi setelah mengecup singkat bibir angel. Angel hampir saja berteriak marah. Di sana masih ada anak mereka. Andrean memang tidak tahu tempat atau sengaja membuat mata anaknya tercemar?
---------
Kehamilan angel sudah masuk trimester kedua. Intensitas mualnya di pagi hari sudah mulai berkurang. Hanya di kesempatan tertentu Ia mengalaminya. Seperti saat menghidu aroma sesuatu yang menyengat, aroma masakan yang terlalu menampilkan rempah-rempah.
Pagi ini andrean tidak lagi bekerja karena tubuhnya tumbang. Sejak dini hari Ia sudah meriang, dan seluruh tubuhnya terasa kebas.
Angwl dengan sabar mengayomi suaminya yang lebih manja bila sedang sakit seperti ini. Ia tak ingin melepaskan pelukannya pada angel sementara perempuan itu harus menyiapkan santapan andrean sebelum minum obat.
Namun setelah andrean berhasil tertidur lelap kembali, angel turun dari ranjang dengan pelan. Lalu Ia mulai membuat bubur dan teh hangat untuk suaminya.
Serry keluar dari kamarnya seraya mengikat asal rambutnya. Ketika memasuki dapur, Ia terkejut melihat punggung kecil seorang perempuan yang sedang berada di depan kompor.
"Ya Tuhan, Nona sedang apa?"
Angel sama terkejutnya. Mengingat ini masih pagi buta dan suasana masih sunyi sehingga angel sedikit was-was.
"Membuat bubur, Serry."
"Nona menginginkannya? Biar aku saja yang membuatnya,"
"Ini untuk andrean karena dia sakit,"
***
Adelion dan Acelia kompak terbangun setelah sama-sama terjatuh dari ranjang di kamar mereka. Padahal sudah ada pembatasnya namun Axelia yang penguasa berusaha melewati teritorial ranjangnya sendiri. Andrean mendorong Axelia dengan kesal dan Axelia pun tak ingin kalah. Mereka saling mendorong dalam keadaan mata yang masih terpejam.
Setelah terpelanting di lantai, mereka langsung membuka mata. Axelion sudah siap untuk menyemburkan amarahnya pada sang adik.
"Kamu serakah! Kenapa harus ke tempatku?"
"Namanya juga tidur, pasti tidak sadar,"
Angel yang baru saja meletakkan nampan di nakas samping ranjang pun mendengar sayup-sayup keributan anaknya. Kamar mereka bersebelahan sehingga apapun yang terjadi dengan mereka, andrean dan angel akan mengetahuinya.
Andrean mengerjap dan melenguh pelan. Ia cukup terganggu dengan suara anaknya yang saling melempar teriakan.
"Angel, kamu mau kemana?"
Angel menghentikan tangannya yang ingin membuka pintu, kemudian menoleh.
"Aku melihat keadaan mereka dulu,"
Andrean mengangguk dan membiarkan Istrinya menghampiri sumber keributan. Mata andrean beralih pada mangkuk dan segelas teh. Ia tahu itu disiapkan angel untuknya, Ia tersenyum namun belum ingin menikmati bubur buatan angel karena ingin disuapi perempuan itu.
***
"Aku sudah minta maaf, Lipn. "
"Kamu selalu mengulanginya. Aku bosan mendengar 'maaf'mu,"
Angel membuka pintu kamar kedua anaknya. Mereka menoleh pada angel. Mata Axelion dan Axelia saling menatap tajam. Axelion sudah cukup sabar. Axelia selalu mengganggu tempat tidurnya. Seolah ranjang besar untuknya tak cukup.
"Ada apa ini? Kenapa bertengkar pagi-pagi? Biasanya kalian belum bangun,"
Angel menurunkan besi pembatas ranjang lalu duduk di antara kedua anaknya.
Telunjuk axelion mengarah pada sang adik, Ia mengeluarkan suaranya dengan menggebu, "lia selalu tidur di tempatku, Mom. Aku merasa sesak karena ditindih tubuhnya,"
Angel terkejut mendengarnya. Pembatas itu sudah tinggi tapi Axelia masih bisa mengambil wilayah kakaknya? Anak ini bukan main sifatnya.
"Lia sengaja menganggu tidur kakakmu?" Angel menatap anak bungsunya dengan memicing. Ia tahu betul kadar jahil anak itu. Barangkali Ia sengaja membuat axelion kesal pagi-pagi.
Axelia menggeleng dan tangannya terangkat untuk menarik daun telinga kakaknya namun sebelum itu terjadi, angel segera menghalangi.
"Biar Mommy gigit nanti tangannya ya? Mau?"
Angel mendekatkan giginya pada jemari kecil itu. Axelia tidak akan jera kalau belum diperingati dengan tegas.
"Jangan! Memang tangan lia roti?"
****
"Dimana mereka, Netta?"
Lovi disambut oleh Netta setelah memasuki kediaman putranya. Mata lovi berkeliling mencari anak dan cucunya.
"Tuan andreab sedang sakit, Nyonya. Nona angel sedang memberikannya makan dan obat sepertinya,"
Lo i duduk dengan tenang di atas sofa. Ukiran alisnya menukik saat mendengar kalimat Netta.
"Bisa sakit juga dia," gumamnya seorang diri. Netta segera pergi setelah lovi mempersilahkannya melanjutkan pekerjaan.
"Wow rumah ini kedatangan Grami cantik,"
------
Angel membawa anak-anaknya ke kamar Ia dan andrean. Membutuhkan waktu cukup lama untuk membuat keduanya berdamai mengingat mereka sama-sama keras kepala.
Setelah menutup pintu, angel melihat andrean sudah tertidur kembali. Matanya langsung membulat panik saat Axelia duduk di atas dada andrean dan menghentaknya tanpa tedeng aling-aling.
"Arghh sakit," Suaminya meringis dan angwl semakin khawatir. Bukan andrean terlalu manja atau bagaimana, tapi siapapun yang berada di posisinya pasti melakukan hal yang sama. Ia sedang sakit dengan suhu tubuh tinggi, seluruh tubuhnya lelah dan tiba-tiba saja Axelia yang bobotnya sudah berat bermain-main di atasnya.
"Lia, Daddy sedang sakit. Jangan seperti itu, Sayang." Seru angel mendekati anak dan suaminya.
Axelion menarik tangan adiknya yang malah marah ketika diberi tahu.
"Ayo kuda bawa aku lari! Cepat-cepat!"
Angel mau tidak mau mengangkat anaknya tak peduli Axelia akan merajuk seperti apa.
"Kamu tidak sayang dengan Daddy ya? Daddy sedang sakit malah dianggap kuda," angel mendengus dan memilih untuk mengacuhkan axelia yang mulai terisak. Ia merasa dimarahi angel.
"Mommy jahat! Daddy yang baik,"
Axelia, si anak yang suka mengatakan orangtuanya jahat kembali lagi. Kemarin andrean yang dicap jahat sekarang angel. Entah besok siapa lagi.
Kali ini andrean dianggap baik karena tidak membuatnya kesal. Malah kemarin membelikan Ia es krim. Nanti kalau angel membelikannya mainan, mungkin sosok jahatnya bukan angel lagi.
Andrean menarik anaknya dalam pelukan. Axelia berbaring di sampingnya dan Ia usap punggung bergetar itu.
"Maafkan Mommy ya?"
Axelia menggeleng dan tangisnya semakin kencang. Ia menahan andrean untuk bangkit. Padahal angwl akan menyuapi bubur untuk andrean.
Andrean mengisyaratkan istrinya untuk menunggu sebentar. Andrean berusaha mendengar racauan anaknya yang tak henti mengatakan angel jahat.
"Sudah selesai dramanya. Sekarang Daddy mau makan," Axelion berbicara dengan dingin. Ia menarik pelan lengan andrean. Ia mengerinyit tak suka saat andrean malah menyuruhnya untuk diam. Seharusnya Axelia yang diam.
"Sebentar, Sayang." Bisik andrean pada anak sulungnya. Tangan kokoh yang dulu hanya menimang anaknya sesekali kini tampak terbiasa menenangkan.
"Daddy sakit?" Tanpa mengangkat kepalanya Axelia bertanya. Andrean tersenyum walaupun Axelia tak melihatnya. Ia mengangguk pelan, kini tangannya mengusap wajah kecil yang dipenuhi air mata itu.
"Daddy harus makan supaya cepat sembuh. Setelah itu kita berlibur,"
Mendengar kata 'berlibur' beragam reaksi langsung didapat andrean. Angel yang langsung meletakkan kembali semangkuk bubur di nakas untuk memukul pelan lengan andrean yang baru saja berkata sembarangan pada Axelia, Axelia yang langsung melepas pelukan seraya memekik senang, dan axelion yang kini memicing ke arahnya.
"Dia akan terus menerormu, ean."
Andrean terkekeh dan Ia bangkit dengan bantuan angel. Apa kalimatnya terdengar meragukan?
"Kita memang akan liburan. Aku pikir seperti babymoon,"
Andrean melirik mangkuk dan angel, "Ayo suapi aku. Aku sudah lapar," Ia membuka mulut padahal angel belum siap dengan buburnya.
Axelia menghapus jejak air mata dan cairan dari hidungnya menggunakan tangan. Angel yang melihat itu berdecak pelan.
"Axelia yang suapi Daddy,"
"Aih! dengan tangan kotor seperti itu? yang benar saja kamu sayang!" Andrean pun membatin dengan senyum menggelikannya.
"Mommy saja,"
"Lia, pokoknya!"
Angel menghembuskan napas pelan sebelum memutuskan, "Cuci tanganmu dulu. Kalau tidak, Mommy tidak akan mengizinkan kamu untuk menyuapi Daddy,"
Axelia mengangguk semangat. Ia segera turun dari ranjang, "Dan jangan biasakan mengelap lendir hidung menggunakan tangan. Ada tisu di dekatmu,"
Axelia hanya mendengar dan mengingatnya baik-baik walaupun percuma karena anak itu punya kebiasaan masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.
Andrean menatap Istrinya dengan pandangan protes. Keinginannya yang ingin makan dengan angel kini hanya tinggal harapan.
Disuapi axelia? oh god! Andrean yakin anak itu punya rencana lain dibalik kebaikannya ini. Buka Ia terlalu curiga, tapi axelia memang tidak pernah seperhatian ini terhadapnya kecuali terhadap angel. Oh atau jangan-jangan Ia baik karena andrean akan mengajaknya liburan?
---------
Setelah berhasil membuat kedua mata anaknya terpejam, angel menghabiskan waktu di balkon sampai kantuknya datang. Andrean sedang mengganti pakaian untuk tidur.
Terpaan angin malam terasa menyapu wajah angel. Ia memejam, meresapi ketenangan yang ada.
Andrean membuka pintu balkon dengan pelan. Ia berjalan mendekati angel. Kemudian melingkarkan tangannya di pinggang perempuan yang tengah mengandung itu.
"Udara sangat dingin. Seharusnya kamu tidak di sini, sayang." Deru napasnya terdengar menggelitik telinga angel. Tubuhnya menegang saat lelaki itu semakin mengeratkan tautan tubuh mereka.
Sudah lama rasanya tidak berada di dalam suasana yang menenangkan seperti ini. Setelah mereka sempat berpisah karena Andrean harus mengurus pekerjaan, tak ada lagi yang bisa menikmati waktu dengan benar. Yang ada hanya sibuk dengan kegiatan masing-masing dan supaya tidak terlalu ketergantungan.
"Ada yang kamu pikirkan?"
Karena setelah andrean mengatakan rencananya pada Devan, Lovi, dan tadi, andrean perhatikan angel banyak melamun. Bahkan saat mengusap punggung kedua anaknya agar tertidur, perempuan itu hanya memandang kosong tubuh anak-anaknya.
*******
Axelia menarik tangan angel dan andrean untuk masuk ke dalam kamar menuruti permintaannya malam ini.
Angel bisa merasakan tangan anaknya yang panas. Rupanya bukan hanya batuk, anak itu sepertinya demam juga.
Angel melepas tautan tangan Axelia dan sebelum Ia protes, angel menjelaskan,
"Mommy ambillkan obat demam dulu."
"Untuk siapa? Daddy sudah sembuh bukan?"
"Daddy belum sembuh dan sekarang kamu yang sakit,"
Axelion segera menyentuh kening dan leher putri bungsunya. Benar, suhunya sangat tinggi.
Ia segera membawa Axelia ke ranjang sementara angel meraih sirup penurun demam di kotak obat.
"Memang Lia sakit ya, Dad? Batuk saja tadi. Itu bukan sakit namanya,"
Masih mengelak dan berusaha menenangkan kedua orangtuanya yang tampak khawatir.
"Kenapa sakit, Sayang? Bukankah kita ingin berlibur?"
Angel duduk di tepi ranjang dan melarang Axelia untuk berbaring. Kali ini Axelia tidak menolak untuk meminum obatnya karena tubuhnya memang tak bisa diajak kompromi. Ia butuh obat sekarang.
Setelah satu sendok cairan berwarna merah muda diteguk anaknya, angel mengangsurkan gelas berisi air putih.
"Ini karena minum es krim terlalu banyak. Dan terlalu lelah bermain. Besok-besok ulangi lagi ya?"
Angel memang begitu kalau sudah marah. Ia akan mengungkit dan justru membiarkan anaknya untuk melakukan hal itu lagi. Karena percuma kalau dilarang, pasti akan berakhir ditentang. Lebih baik Ia persilahkan saja dari awal.
Namun Axelia menangkap maksud lain. Ia justru senang ketika angel mengizinkannya banyak minum es krim lagi.
"Axelia akan datang sering-sering ke kantor Daddy. Nanti minta penjaga Daddy untuk belikan es krim lagi,"
Ia terlalu senang sampai tidak sadar kaau mulutnya sudah membongkar rahasia yang kemarin sangat dijaganya. Saat ini tanpa ditekan, Ia malah terbuka. Dasar Axelia!
Andrean dan angel kompak melotot. Tak menyangka dengan keberanian anak itu. Tidak ragu berbohong demi mewujudkan keinginannya.
"Untuk apa kamu ke kantor Daddy lagi? Daddy tidak mau membawa anak nakal yang suka berbohong,"
****
Angel terbangun di tengah malam saat Axelia yang tidur di sampingnya kian memeluknya erat dengan bibir yang meracau.
"Mommy, Axelia sakit."
Tak heran memang. Anak-anaknya selalu seperti ini jika sedang sakit. Terkadang meringis sampai-sampai angel merasa tidak tega.
Yang biasanya angel lakukan adalah memijat lembut tubuh kecilnya sampai mereka kembali tertidur lelap.
Dengan perut yang mulai membuncit dan sedikit kesulitan, angel bangun dan meraih minyak aromaterapi untuk membuat anaknya tidak sakit lagi. Biasanya meracau adalah salah satu cara mereka memberi tahu kalau tubuh mereka sedang tidak baik-baik saja selama tertidur.
Axelion dan Andrean masih nyaman dalam tidur. Anak dan ayah itu saling memeluk. Andrean menjadikan lengannya sebagai bantalan untuk axelion. Pemandangan yang dari dulu hingga sekarang membuat angel tersenyum senang.
Axelia mengerjap pelan. Ia merentangkan tangannya ingin dipeluk angel.
"Masih sakit?"
Ia mengangguk polos dan mengulurkan salah satu lengannya yang terasa kebas untuk kembali dipijat oleh angel.
__ADS_1
"Terima kasih ya, Mommy."
***
"Kamu tidak bawa ke rumah sakit? Sudah tahu anak sakit---"
"Hari ini aku ada meeting, Dad. Angel sudah membawanya untuk periksa,"
Tanpa basa-basi Devan masuk ke dalam ruangan putranya. Hal pertama yang Ia tanyakan adalah mengenai keadaan Axelia yang semalam Ia tahu sudah batuk parah padahal rencananya besok sudah berlibur ke Indonesia.
"Diundur saja lah. Setelah benar-benar pulih, kalian bisa langsung liburan. Membawa anak sakit untuk bepergian rasanya sangat mengkhawatirkan, Ean."
Andrean duduk di kursinya dengan tenang. Membenarkan apa yang dikatakan Devan. Memang hal itu sudah bersarang di kepalanya sejak Axelia sakit semalam. Wacana berlibur itu bisa dilaksanakan kalau mereka dalam kondisi baik. Mungkin angel juga punya keinginan seperti itu hanya saja belum sempat mengutarakannya pada Andrean mengingat Ia sangat sibuk mengurusi Axelia yang tadi pagi sangat lemas.
Suara ketukan pintu membuat pembicaraan mereka terhenti. Andrean dan Devab kompak menoleh ke arah pintu. Seorang wanita berpakaian kantor tampak berdiri di depan pintu dengan canggung.
"Sebentar lagi rapat dimulai, Boss."
Andrean mengangguk singkat dan mengibaskan tangannya di udara, mengusir sekretaris yang baru beberapa hari bekerja mendampingi Ferro sebagai orang kepercayaan andrean.
Setelah wanita itu keluar, Devab tampak berdecak. Sementara andrean mulai menyiapkan berkas yang tadi dibukanya untuk dibawa ke ruang pertemuan.
"Kamu yakin mempekerjakan dia sebagai sekretarismu, Ean? Memangnya Ferro kurang profesional?"
Andrean yang tahu maksud ucapan Devab tampak mengangkat sebelah alisnya.
"Ferro sangat profesional. Tapi dia juga harus mengurus perusahaannya sendiri disamping menjadi orang kepercayaanku,"
“Baiklah semoga dia benar-benar profesional ya,”
--------
"Istirahat yang banyak ya. Jangan bermain dulu. Nanti kalau sudah sehat, jangan terlalu kelelahan lagi,"
Axelia mengangguk saat dokter yang memeriksanya memberi ultimatum.
Seperti kata Andrean, Angel membawa anak bungsunya ke rumah sakit untuk diperiksa. Padahal tiga hari lalu mereka baru saja melakukan pemeriksaan rutin pasca kecelakaan yang menyebabkan mereka gegar otak. Yang membuat Andrean semakin yakin untuk membawa anaknya berlibur adalah, kondisi mereka sudah dipastikan baik-baik saja oleh dokter yang biasa menangani Axelion dan Axelia selama dirawat di rumah sakit. Bahkan mereka sudah diizinkan untuk beraktivitas seperti biasa seperti sekolah dan bermain. Tidak ada lagi pembatasan aktivitas yang harus mereka patuhi.
Rupanya hal tersebut dianggap sebuah kebebasan oleh kedua anak kembar itu. Mereka bermain tanpa kenal waktu. Terkadang mengacuhkan perintah Angel untuk tidur siang. Dan akhirnya Axelia yang tumbang. Semoga Axelion tidak mengikuti jejak adiknya.
Sekarang Axelia kembali dengan alasan yang berbeda. Demamnya turun dan naik tak beraturan, batuk pun semakin parah, ditambah lagi dengan banyaknya lendir di hidung yang membuat Ia tidak nyaman.
"Kalau mau liburan ya harus sehat dulu," imbuh dokter perempuan berwajah manis itu. Memberi pengertian untuk pasien seusia Axelia memang butuh cara yang halus agar mereka menurut dengan suka hati.
"Jadi kalau besok Axelia tidak sembuh, liburannya batal?"
"Iya, tidak ada liburan." Keputusan Angek yang final diangguki oleh dokter bername tag 'Stilla' itu.
***
Angel berada di perjalanan pulang. Ia dan Adrian diantar oleh supir. Sementara Devab di rumah bersama dengan Axelion.
Anak sulungnya itu sempat mau ikut ke rumah sakit. Dan Angwm melarangnya. Untuk apa juga menemani adiknya ke rumah sakit? Lebih baik beristirahat di rumah tanpa membuat Angel khawatir.
Angel mengeluarkan ponselnya yang terasa bergetar dari dalam sling bag yang dibawanya. Ia menyerahkan benda tipis itu pada Axelia.
"Daddy telepon ini,"
Axelia yang sedari tadi merasa bosan karena kemacetan langsung berubah menjadi antusias saat melihat nama Andrean di layar.
Sebelum Axelia mengangkatnya, tiba-tiba panggilan terputus. Ia mendesah kecewa dan mengembalikan ponsel Mommynya pada sang pemilik.
Sedetik kemudian Andrean kembali menghubungi dan kali ini menggunakan sambungan video juga. Axelia kembali menarik ponsel itu.
Tangan kecilnya dengan lincah menggulir layar. Tidak jadi murung lagi. Dengar suara Andrean, Ia kembali semangat.
"Hallo, Sayang. Apa yang dikatakan dokter padamu? Kamu baik-baik saja bukan?" Andrean melempar pertanyaan sekaligus. Axelia bisa melihat kalau saat ini Andrean sedang berada di ruangannya. Ia duduk di kursi kebesarannya. Suasana yang persis saat Axelia datang ke sana.
"Kata Dokter, Lia tidak boleh liburan kalau belum sembuh. Memang begitu ya, Dad? Kita gagal liburan?"
"Iya, Daddy tidak mau mengajak anak yang sakit,"
Bibir mungilnya maju beberapa senti. Mata bulat itu berkaca menatap Andrean yang kini merasa terenyuh.
"Harus sembuh ya, Sayang."
Axelia mengangguk sebelum menjawab, "Iya, Dad. Tapi liburannya belum besok?"
"Belum, Sayang. Kita tunda liburannya,"
Angel tersenyum puas. Ini yang ingin Ia dengar. Rupanya tanpa perlu Ia mengatakan pada Andrean, lelaki itu sudah mengerti apa yang dikhawatirkan Angel.
"Letak di sana!" Andrean menunjuk meja yang tak jauh darinya saat berbicara pada seseorang. Ferro baru saja masuk dan menyerahkan berkas yang harus Andrean pelajari sebelum dibahas dalam pertemuan besok.
"Itu siapa, Dad?"
Ferro terlihat tertarik saat mendengar suara Axelia yang jelas menanyakan dirinya. Namun Andrean yang arogan malah mengusirnya dari ruangan itu. Ferro menghela napas, sabar. Ini bukan pertama kalinya Andrean menyebalkan. Segala perilaku buruk lelaki itu sudah menjadi makanan sehari-hari Ferro.
"Ferro,"
"Teman baru?"
"Siapa teman baru Daddy?" Angel ikut masuk dalam perbincangan anak dan suaminya. Wajahnya mendekat pada layar dan tepat di sebelah kepala Axelia.
"Ferro, Angel. Bukan teman baru. Kamu ingat bukan?"
"Oh ya ampun Ferro sudah kembali? bagaimana kabarnya?"
"Baik, walaupun wajahnya semakin keriput tapi dia sehat,"
"Ahahaha keriput!" Angel dan Andrean sama-sama mengangkat alisnya menatap Axelia yang baru saja terbahak. Angel memiting pipi anaknya dengan gemas.
"Keriputnya seperti Daddy?"
"Jaga mulutmu, Sayang! Daddy belum keriput. Grandpa yang keriput,"
Supir diam-diam tertawa pelan di belakang kemudinya. Ia bisa mendengar suara Andrean yang terdengar mengerang kesal. Siapa yang tidak kesal dikatakan keriput? padahal jelas-jelas wajahnya masih sangat tampan. Usianya juga masih muda, kalau hadir keriput patut dipertanyakan.
"Mungkin Daddy terlalu sering marah-marah jadi banyak keriputnya di wajah,"
Angel sudah tak bisa lagi menahan ledak tawanya. Axelia berhasil membuat Andrean terdiam dengan wajah datar. Tak ada yang bisa ia lakukan selain mendengus dan membuang wajah. Membentak Axelia karena hal sepele seperti ini bukan Andrean Sama sekali. Kecuali kalau anak itu melakukan kesalahan fatal. Itupun sebisa mungkin Ia tahan. Saat ini Axelia tengah menghibur dirinya sendiri dan orang di dekatnya. Jadi biarkanlah anak itu ingin bicara apa. Andrean anggap Ia tidak mendengar ledekan anaknya.
---------
"Angek, tidak masalah kalau aku tunda liburannya?"
Andrean dan Angel tengah terlibat pillow talk. Kedua anak mereka sedang bersama para nenek mereka di bawah. Lovi datang bersama Vanilla sore tadi dan sampai sekarang belum pulang karena Devab belum menjemputnya.
Terkadang Lovi mengunjungi cucunya dua atau tiga hari sekali. Namun begitu mendengar cucunya sakit lagi, lovi mungkin akan merubah kembali jadwalnya. Ia sudah mengira kalau ini pasti akan terjadi. Andrean dan angel belum bisa mengatur kondisi keluarga kecil mereka sendiri. Sehingga sering tidak beraturan. Ini alasan Lovi melarang andrean untuk pindah dari mansion dulu. Walaupun kedua cucunya sudah lumayan besar, namun rasa khawatir masih ada. Ditambah lagi kondisi angel yang sedang mengandung. Sedikit banyak Axelia dan kakaknya menjadi terbelakang walaupun Andrean dan angel sudah yakin kalau mereka berlaku adil. Tak bisa disalahkan juga. Karena angel memang sedang membutuhkan perhatian lebih.
"Tidak liburan pun tidak masalah bagiku,"
Andrean mengecup wajah angel dari samping. Dilihat dari sisi manapun perempuan itu memang terpahat dengan sempurna. Hidungnya yang kecil, bibir tipis itu selalu menjadi pusat perhatian andrean, ditambah lagi dengan lemak yang sedikit menimbun di wajah cantik itu.
"Axelia sudah tidak demam lagi bukan? Tadi aku cek, sudah lebih baik."
"Ya, semoga saja sampai tengah malam nanti suhunya tetap normal. Karena biasanya ditengah malam itu, demamnya datang lagi,"
******
"Mereka kenapa belum naik juga ke atas?" Angel bergumam sendiri. Andrean yang sudah terpejam kembali membuka matanya. Lelaki itu semakin mengeratkan pelukan mereka.
"Mungkin tidur dengan Grami mereka,"
"Kasihan mommy mu, Andrean. Nanti Daddy pulang sendiri lagi ke mansion,"
"Mommy yang menginginkannya. Lagi pula Daddy bukan anak kecil. Biar saja dia sendirian,"
Angel menepuk lengan suaminya. Angel akan beranjak namun perutnya semakin ditahan. Ia menatap Andrean dengan sarat peringatan. Lelaki ini tidak punya hati sepertinya. Sudah terlalu sering Lovi menginap hingga angel jadi tidak enak sendiri. Walaupun Angel dengan senang hati menemani kedua cucunya hingga tertidur, tapi Mama dari lelakinya itu juga perlu waktu untuk mengayomi Devab sebagai suaminya.
"Biar---"
"Mommy, Daddy, Buka pintunya! Lia mau tidur di dalam,"
Andrean mendengus dan Ia bangkit. "Tidak perlu kamu datangi, mereka pasti datang untuk mengganggu," Kemudian Ia berjalan membuka pintu. Angel menggeleng pelan. Terkadang Andrean memang seegois itu.
"Tumben sekali tidak tidur dengan Grami?"
Axelia menggeleng singkat dan tanpa menjawab Ia langsung masuk ke dalam kamar diikuti kakaknya. Mereka Berlari menghampiri Angel yang sudah siap tidur.
"Ada apa dengan wajahmu? kenapa kusut?"
Lagi-lagi Andrean diabaikan. Dengan anak, dan kini adiknya pun melakukan hal yang sama.Setelah memastikan mereka masuk ke dalam kamar orangtuanya, Auristella berlalu begitu saja. Meninggalkan Andrean yang mengeratkan kepalan tangannya di sisi tubuh. Kakinya menendang sisi pintu hingga membuat Angel berjengit kaget.
"Ean, kamu--"
"Maaf, Angel. Tadi ada tikus jadi aku usir dengan kaki,"
Merasa dibohongi, angel mengangkat sebelah alisnya. Mana mungkin tikus bisa merayap di pintu?
Andrean kembali menutup pintu kamarnya. Sebelum berbalik ke ranjang, Ia menghela napas dalam-dalam dan merubah raut kesalnya menjadi biasa saja.
Setelah itu Ia bergabung dengan kedua anaknya yang belakangan selalu meminta tidur bersama. Ini tidak bisa dibiarkan! kalau tidak, waktunya dengan angel untuk...hmm... bercinta semakin sedikit. Sebentar lagi andrean harus mengambil cutinya mengingat kandungan angel semakin besar. Intensitas percintaan mereka tidak bisa sesering dulu.
"Besok tidur di kamar kalian sendiri ya. Harus dibiasakan lagi tidur tanpa Daddy dan Mommy. Nanti kalau adik sudah lahir, kalian tidak bisa terlalu sering berada di sini. Nanti dia terganggu,"
Andrean mengusap perut istrinya saat mengatakan 'Dia'. Anak dalam kandungannya dijadikan tameng sekarang. Andrean benar-benar licik!
------
Tiga hari setelah Axelia sembuh dari sakitnya, Pagi ini andrean dan angel kembali membawa Axelia juga Andrean ke rumah sakit untuk memastikan kondisi keduanya cukup baik untuk berlibur. Dan andrean juga perlu memastikan kondisi kandungan Istrinya, kemudian mendapat surat izin untuk melakukan penerbangan.
Setelah dari rumah sakit, Mereka langsung pergi menuju bandara dimana Devan, dan Lo i sudah menanti kedatangan mereka.
Raut riang Axelia tak pernah lepas dari wajahnya. Rasanya ingin berlari saja karena terlalu senang. Sudah beberapa bulan tidak berlibur, dan sekarang Ia kembali diberi kesempatan oleh Andrean. Masalah perizinan dari pihak sekolah, sudah diurus sepenuhnya oleh Andrean.
"Jangan lupa bawa oleh-oleh ya. Tapi jangan es krim," pesan Lovi yang membuat cucu bungsunya tertawa. Siapapun sudah tahu kalau es krim adalah makanan kesukaan untuk kedua anak kembar itu, terutama Axelia yang sangat fanatik.
"Memang kenapa kalau Axelia bawa es krim? Oh iya, nanti sudah mencair ya?"
"Itu tahu jawabannya," Lovi memiting gemas wajah tampan itu. Rasanya berat sekali berpisah dengan mereka. Mengingat hampir setiap hari mereka menghabiskan waktu bersama.
Dan mulai saat ini hingga dua minggu ke depan, mereka hanya berkomunikasi melalui ponsel.
Senata menunduk kemudian berujar lirih pada cucu sulungnya, "Hati-hati di sana. Jangan lupa dengan Grami. Nanti terlalu asik bermain sampai lupa kalau di sini Grami merindukan kalian." axelion mengusap wajah neneknya dengan lembut. Ia tersenyum, walau sangat tipis.
"Aku selalu ingat dengan siapapun yang ada di sini. Grami tidak perlu khawatir," ujarnya menenangkan. Lovi dan Devan yang mendengarnya pun terharu. Saat ini mereka sedang sibuk bercengkrama sebelum akhirnya berpisah, sementara Andrean mengantar Angel ke toilet dan juga membelikan Axelion roti.
*****
"Banyak sekali?" Angel menautkan alisnya saat Andrean meraih roti hingga memenuhi wadah yang dibawanya. Mereka sudah menyiapkan makanan dan minuman untuk dimakan selama perjalanan nanti. Jadi menurut Angel tidak perlu sebanyak itu. Dan lagi hanya Axelion yang menginginkannya.
"Tidak apa, Ang. Ini tidak mahal,"
Angel memutar bola matanya jengah. Lalu Ia mengembalikan sebagian roti yang diambil andrean tanpa mempedulikan tatapan protes suaminya.
"Buat anak kita. Nanti kurang bagaimana?"
"Anakmu bukan gajah. Makanan yang dibawa juga sudah banyak," tegasnya yang akhirnya membuat Andrean mengangguk pasrah. Andrean takut anaknya kekurangan. Axelion juga jarang sekali meminta sesuatu. Jadi ini adalah momen yang langka.
"Kamu selalu boros. Kenapa hobi sekali menghabiskan uang?"
"Aku kaya, jadi tidak ada salahnya,"
Angel berdecak geram. Kalau saja melempar kepala Andrean dengan lemari kaca yang digunakan untuk memajang roti, tidak berdosa dan memalukan, maka sudah Ia lakukan sedari tadi.
--------
Setelah menempuh perjalanan hampir dua puluh empat jam, Andrean, Angel dan kedua anak mereka memijakkan kaki di negara yang penuh dengan keindahan alam serta budayanya itu.
Ini adalah kali pertama untuk mereka berlibur di negara asia tenggara yang juga menjadi salah satu negara terbesar di dunia dengan banyaknya jumlah penduduk yang tidak main-main.
Rasa excited sudah ada sejak pesawat landing di bandara Soekarno Hatta. Bahkan lima jam sebelum landing, kedua anak kembar itu sudah tidak bisa lagi menuruti kata sang ayah yang menyuruh mereka untuk memejamkan mata.
Axelia berlarian keluar dari wilayah bandara. Andrean kewalahan menghadapi anaknya yang liar ini. Seperti singa yang baru lepas dari kandangnya saja. Angel tak bisa mengejarnya karena perutnya sudah mulai membuat Ia kesulitan bergerak. Andrean harus ekstra menjaga singa kecilnya itu.
"Daddy masukkan ke kebun binatang kalau kamu tidak bisa diam seperti ini," ancamnya saat berhasil membawa Axelia dalam gendongan. Itu lebih aman daripada Ia dibiarkan berjalan sendirian. Andrean menghampiri Istri dan anak sulungnya yang sedang menunggu kedatangan supir. Fino, adalah seorang lelaki yang akan menjadi tour guide mereka selama di Indonesia. Fino pernah menjadi salah satu karyawan Andrean yang terpaksa undur diri karena keputusan ayahnya yang menjadikan dia sebagai direktur perusahaan travel miliknya. Andrean tentu menggunakan jasa travel itu dengan senang hati. Mengingat rekam jejak Fino pun sangat patut diacungi jempol. Lelaki itu selalu menampilkan etos kerja yang baik sehingga Andrean selalu percaya padanya.
Dan Fino pun rela turun tangan melayani mantan bossnya. Ia tidak membiarkan bawahannya untuk menangani Andrean dan keluarga kecilnya. Ia sendiri yang akan menjadi penunjuk arah untuk Andrean selama berlibur di Indonesia. Perjalanan liburan mereka kali ini diawali dari Jakarta, setelah itu, Yogyakarta, Bali, dan yang terakhir adalah Lombok. Axelia dan Axelion tidak sabar memasuki kota-kota mengagumkan itu. Ketika Andrean survey, mereka yang memilihnya. Sehingga Andrean tinggal menyetujui tanpa protes. Begitupun dengan Angel yang setuju saja walaupun sebenarnya liburan ini ditujukan untuknya yang sedang hamil. Seperti kata Andrean, Babymoon.
****
Mereka menginap di salah satu hotel bintang lima yang ada di Jakarta. Lokasi yang strategis, dekat dengan wahana permainan anak, perawatan spa untuk Istrinya, bioskop, juga pusat perbelanjaan, adalah salah satu faktor yang membuat Andrean memantapkan pilihan untuk menginap di sana selama tiga hari.
Andrean memaksa anak bungsunya untuk masuk ke dalam ruangan hotel yang sudah di reservasinya. Di koridor, Ia melonjak-lonjak kesal karena Andrean tidak menuruti keinginannya bermain di lapangan golf. Yang benar saja dia?! Baru sampai lalu ingin bermain golf. Huh, Bukannya liburan, Andrean malah semakin stress karena anaknya ini.
Setelah masuk ke dalam dan pintunya dikunci oleh sang ayah, Axelia berteriak nyaring. Wajahnya memerah dengan tatapan tajam menghunus Andrean.
"Kenapa lagi, Axelia?" Angel menghampiri anaknya yang kini menghajar Andrean dengan membabi buta. Dipukulnya perut kokoh milik Andrean. Andrean membiarkan saja anaknya itu berulah. Lagi pula pukulan itu tidak ada rasanya. Ia menatap Angel yang kini berjongkok mendekati anak bungsunya.
"Axelia tidak mau di sini! Axelia mau ke lapangan golf, mau olahraga,"
Baru menyelesaikan penerbangan yang menghabiskan waktu hampir seharian rupanya tidak membuat Axelia lelah. Padahal seharusnya anak seusianya sudah tidur tidak berdaya bukannya memikirkan main di lapangan golf.
"Besok saja olahraganya. Sekarang kita istirahat, nanti sore kita jalan-jalan. Iya, kan, Dad?" Angel mengangkat kepalanya menatap Andrean yang masih berdiri. Angel tahu betul suaminya ini sedang kesal sekarang. Namun terlihat sekali kalau Ia berusaha menahannya. Saat ini, di matanya Andrean sudah sedikit berubah menjadi lebih baik. Walaupun sikap arogannya masih ada, sikap dinginnya juga masih ada.
"Ya, besok kita ke sana. Daddy juga mau main golf,"
"LIA MAU SEKARANG! CEPAT BUKA PINTUNYA, LIA MAU MAIN GOLF!"
Andrean menangkap pergelangan tangan anaknya yang ingin memberi serangan di wajah tampannya. Salah Andrean juga, kenapa malah ikut merendahkan tubuh seperti Angel. Hal itu memudahkan Axelia dalam menumpahkan rasa kesalnya. Apapun yang ada di depan mata, akan Ia hajar.
Axelion, si sulung yang tenang malah sudah berbaring di ranjangnya. Setelah melepas sepatu, Ia langsung menenggelamkan tubuh kecilnya dalam kenyamanan yang membuatnya terlena hingga perlahan menutup mata.
-------
"Dimana anak yang suka marah-marah itu? Coba marahi Grandpa sekarang,"
Andrean melirik anaknya yang kini malah meringkuk dalam pelukan setelah mendengar kalimat Devan yang menantangnya. Axelia memang lebih merasa segan dengan kakeknya daripada ayahnya sendiri. Ia hanya takut kalau andreab sudah marah baik dengan nada datar maupun membentak. Berbeda kalau dengan Decab. Kakeknya itu selalu berbicara santai, tapi membuat tubuhnya merinding. Persis seperti orang lain ketika mencari masalah dengan Devab.
"Dimana dia, Lion?" Devab tahu kalau cucunya yang bungsu itu sedang mendengarkannya. Ia menunggu wajah Axelia timbul di layar, paling tidak suaranya.
"Ini lagi mencari perlindungan, Grandpa." Angel mendapat pelototan tajam dari Axelia. Devan meraup wajah anaknya dengan gemas. Bisa-bisanya anak usia empat tahun melotot seperti itu dengan wanita yang melahirkannya.
"Oh lagi bersembunyi? Tadi marah, kenapa sekarang malah--"
"Jahat juga dengan Mommynya, Grandpa." Andrean ikut melapor kelakuan anaknya. Tersenyum puas saat Axelia melepas pelukannya. Anak itu membanting tubuh di ranjang yang jauh dari Axelion. Mereka berada di kedua ujung ranjang.
"Kalau masih nakal seperti itu, besok Grandpa jemput. Tidak ada liburan untuk anak yang nakal,"
Axelion melirik adiknya yang kini memunggungi. Andrean dan Angel saling berpandangan. Pasti Axelia sedang menangis. Punggungnya bergetar namun suara isakannya tidak terdengar sama sekali. Mungkin takut didengar oleh kakeknya yang masih sigap menginterogasi.
"Sudah, kasihan dia." Suara Lovi terdengar membela cucu bungsunya. Andrean dan Angel yang berdiri di tepi ranjang dekat Axelion melihat Lovi yang berusaha merebut ponsel Devan.
"Biarkan, memang harus seperti itu supaya tidak keras kepala. Kalau sudah besar, semakin sulit diajarkan,"
"Tapi kasihan, Dad. Andrean juga begitu dulu. Wajar saja kalau anaknya mengikuti," Auristella menimpali. Keponakan yang selalu membuat suasana hatinya membaik sedang disudutkan sekarang.
Lovi menyerah saat tidak diberi akses untuk memegang ponsel suaminya. Devan kembali fokus menatap layar. Axelion terlihat tegang. Padahal bukan dia yang sedang membuat masalah. Ia juga merasa kasihan dengan adiknya. Devan sangat jarang marah. Walaupun tidak ada nada keras sama sekali, tapi siapapun pasti tahu kalau saat ini Devan tengah menunjukkan sisi garangnya.
"Grandpa yakin anak nakal itu masih mendengar suara Grandpa. Sekali lagi kalau sulit untuk diatur, Grandpa jemput. Tidak boleh liburan!"
****
__ADS_1