Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 49


__ADS_3

Setelah menikmati indahnya Turki dari atas awan menggunakan balon udara, Andrean mengajak istrinya untuk datang ke tempat belanja. Ia membebaskan Angel untuk beli apapun yang Angel inginkan.


Tapi alih-alih beli apa yang dinginkan, Angel justru sibuk memilih makanan, ataupun baju untuk Ia bawa pulang dan Ia berikan kepada orang-orang terdekatnya.


“Punyamu mana? Kamu belum memilih apapun aku liat,” ujar Andrean yang merasa bingung istrinya memilih makanan dan baju laki-laki.


“Sudah aku katakan barusan, aku mau beli oleh-oleh saja,”


“Iya aku tau tapi punyamu mana?”


“Nanti, gampang,”


“Jangan gampang-gampang, cari punya kamu dulu,”


“Untuk aku gampang, Ean. Ini untuk yang lain dulu,”


Angel membeli untuk keluarga suaminya sudah pasti, seperti Devan, Lovi, Adrian, Auristella, keluarga Andrean yang lainnya. Akan Ia serahkan ketika mereka datang untuk acara kumpul keluarga akhir bulan ini.


“Aku mau membelikan ayah dan juga kakak bolehkah?”


“Boleh, terserah kamu,“


“Kamu tidak membenci ayah dan kakak ‘kan, Ean?”


Andrean langsung menghela napas pelan. Jujur Ia susah menjawab itu. Karena mengingat jahatnya mereka kepada Angel, betapa tidak menghargai semua usaha Angel, mereka benar-benar menganggap Angel itu sampah tapi Angel masih sangat menyangi mereka, karena hanya mereka yang Angel miliki sebab Angel sudah kehilangan ibu dan juga neneknya, jadi sulit untuk membenci mereka walaupun sebenarnya Andrean ingin.


“Ean—“


“Kamu yang disakiti sama mereka saja tidak bisa membenci mereka,”


“Karena mereka keluarga yang aku punya sekarang. Darah ayah mengalir di tubuhku. Kalau tidak ada ayah, aku tidak akan ada di sini,”


“Ya, aku tau itu, Angel. Tapi mereka sudah keterlaluan. Aku tau mereka masih suka memanfaatkan kamu,”


Angel meraih tangan suaminya itu dan mengusap punggung tangan Andrean dengan lembut. Ia berusaha melembutkan hati Andrean.

__ADS_1


“Maafkan mereka ya. Aku mohon maafkan mereka dan jangan benci mereka,”


Entah sampai kapan Angel akan seperti ini, Andrean bingung sekali harus mengambil sikap seperti apa.


Di satu sisi Ia benci sekali ketika ada orang yang jahat pada istrinya sekalipun itu adalah ayah Angel dan kakaknya Angel sendiri. Tapi di lain sisi, Angel masih menyayangi mereka begitu besar. Angel tidak peduli sudah sebanyak apa luka yang diterima akibat dari perbuatan kereka yang jelas Angel tak bisa menghapus rasa sayang itu untuk mereka berdua yang selalu kompak menyakitinya tapi diiringi dengan memanfaatkannya juga.


“Sudah, jangan bahas mereka. Terserah kamu mau beli apa untuk mereka, itu hak kamu. Aku sudah bebaskan kamu untuk membeli apapun di sini,” ujar Andrean seraya tersenyum. Akan mebih baik orang yang sudah membuatnya kecewa dan marah itu tidak menjadi topik obrolan sama sekali, ketimbang emosinya jadi naik.


“Okay, terimakasih ya,”


Andrean tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Tangan lelaki itu juga bergerak mengusap punggung Angel dengan lembut.


Andrean setia mengikuti Angel. Berusaha melindungi Angel dari belakang karena situasi tempat mereka belanja saat ini cukup ramai.


“Lihat, ini menggemaskan ya,”


Angel tertarik untuk ke tempat baju anak kecil karena dari jarak beberapa meter tadi melihat manekin yang dipajang menggunakan baju dan bajunya itu membuat Angel akhirnya ingin mencari tahu seperti apa bahannya, karena kalau dari model Ia sudah jelas menyukai.


“Baju anak perempuan? Untuk siapa?”


“Untuk—siapa saja yang mau nanti. Aku beli saja,”


“Iya, bahkan sangat menyukainya,”


“Ya sudah disimpan saja. Jangan diberikan pada siapapun,”


Ucapan Andrean itu tentu membuat kening Angel mengernyit. Angel bingung karena suaminya tiba-tiba mengeluarkan titah agar baju anak kecil yang Ia suka itu disimpan saja olehnya tak perlu diberikan kepada yang lain.


“Maksudnya bagaimana?”


“Ya, baju itu disimpan saja. Kamu ‘kan menyukainya, jadi jangan diberikan pada siapapun itu. Barangkali anak kita nanti perempuan, biarkan dia yang memiliki baju itu, karena baju itu disukai oleh ibunya,”


Hati Angel menghangat ketika mendnegar ucapan Andrean yang ternyata punya alasan kenapa Andrean menyuruhnya supaya baju itu Ia simpan saja. Ternyata Andrean ingin kelak bila anak mereka perempuan, maka baju itu untuknya.


“Pasti berkesan untuknya karena baju itu disukai olehmu, Angel,”

__ADS_1


“Aku senang sekali mendengarnya. Ide bagus, okay akan aku simpan ya,”


Baju anak perempuan untuk usia kurang lebih dua sampai tiga tahun itu berwarna putih gading, modelnya adalah longdress dengan tapi di pinggang, model off shoulder ini pasti cantik anggun ketika dipakai oleh anak perempuan mereka nanti. Andrean sudah membayangkannya. Maka dari itu Ia langsung tidak mengizinkan Angel untuk memberikan baju tersebut kepada yang lain. Itu khusus untuk anak mereka saja, karena Andrean tahu Angel begitu menyukai baju itu, bahkan kakinya sampai tak ragu mendekati baju tersebut yang artinya daya tarik dari baju itu benar-benar luar biasa untuk Angel.


Ketika Angel masih melihat-lihat model baju anak peremluan yang lainnya, Andrean justru spontan mengamati baju anak laki-laki. Barangkali ada satu diantaranya ada yang membuat Ia tertarik.


“Baju anak laki-laki?”


Tanya Angel pada suaminya yang sedang memegang kemeja lengan pendek untuk anak usia satu tahun.


“Ya, aku sedang lihat-lihat dulu,”


“Ada yang kamu suka?”


“Hmm…sepertinya tidak ada,”


“Oh ya?”


Andream menganggukkan kepalanya. Tadi ketika melihat baju yang disukai Angel, Ia pangsung merasa jatuh hati juga pada baju itu. Sekarang Ia belum merasa jatuh hati lagi pada baju yang lain, baju anak laki-laki lebih tepatnya.


“Apa ini artinya anak yang pertama bakal anak perempuan ya?” Ucap Andrean sambil mendekati istrinya dan kalimatnya itu berhasil membuat istrinya terkekeh menutupi kegugupan sebenarnya.


“Semoga saja benar ya. Aku memang punya keinginan anak pertamaku perempuan, tapi entahlah Tuhan maunya bagaimana. Yang terpenting dia tumbuh sehat, itu sudah cukup bagiku. Masalah jenis kelamin terserah Tuhan saja,”


“Sudah, jangan bahas anak. Kita sedang membeli oleh-oleh, Andrean,”


“Terus kenapa? Salahnya dibagian mana? Menurutku tidak ada yang salah kalau kita membahas anak. Kita ‘kan sudah menikah, sudah—itu juga,”


“Ssstt! Diam atau aku pura-pura tidak mengenalmu?”


Andrean terkekeh mendapati Angel yang menatapnya dengan kesal sambil memberikan ancaman. Apakah Angel berpikir Ia akan takut dengan ancaman itu? Oh tentu tidak. Angel pura-pura tidak mengenalnya? Mana mungkin Angel bisa melakukannya.


“Memang apa salahnya, Sayang? Kita sudah menikah—“


“Iya aku tau, tapi kalau didengar orang, aku malu, Ean!” Bisik Angel sambil mendekatkan telunjuknya dengan bibir mengisyaratkan Andrean untuk diam tak membahas perihal anak lagi. Karena memorinya tentang semalam jadi terulang lagi.

__ADS_1


“Ya sudah kalau begitu kita bahas di ranjang saja nanti,”


“Ternyata kamu bisa menyebalkan juga, Ean,”


__ADS_2