
“Ayah sakit lagi, Ean. Makanya sekarang aku datang ke rumah sakit untuk menjenguk ayah. Aku diberitahu kakak kalau ayah sakit,”
“Oh kamu di rumah sakit, Sayang? Ya ampun, aku benar-benar khawatir padamu. Seharusnya kamu mengatakannya di pesan singkat, memang sulit ya? Memang lama ya? Padahal aku sudah mengingatkan kamu berulang kali untuk selalu memberitahu aku kalau kamu mau pergi ke suatu tempat tanpa aku,”
“Ean, aku selalu tidak ingat untuk melakukan itu disaat aku cemas, maafkan aku ya. Yang aku pikirkan setelah kakak memberitahu tentang kondisi ayah adalah, aku harus secepatnya ke rumah sakit, aku harus tau bagaimana keadaan ayah, aku tidak terpikirkan untun memberitahu kamu, sekali lagi aku minta maaf, Ean,”
“Aku selalu memaafkan kamu, mungkin memang aku saja yang berlebihan terlalu mengkhawatirkan keadaan kamu, aku juga minta maaf. Tapi sungguh aku tidak pernah mempermasalahkan kamu mau pergi kemana asalkan itu aman untukmu dan kamu tidak lupa mengatakannya dulu padaku. Apalagi kamu datang ke rumah sakit untuk menemui ayah, mana mungkin aku melarang,”
“Iya aku tahu, aku minta maaf karena selalu lupa minta izin dulu,”
“Bukan izin yang sku pelrukan, Angel. Aku hanya perlu kamu memberitahu saja, itu sudah lebih dari cukup. Tapi tidak apa aku memaklumi kecemasanmu terhadap kondisi ayah, dan aku tahu kalau sedang cemas memang sering sekali lupa melakukan hal-hal kecil sekalipun. Yang sekarang ingin aku tanyakan adalah, bagaimana keadaan ayah?”
“Ayah sesak lagi tadi, batuknya masih cukup mengganggu, kepala ayah juga masih sakit,”
“Ya Tuhan, semoga ayah secepatnya diberikan kesembuhan. Setelah ini aku akan ke rumah sakit ya, Sayang,”
“Tidak usah, kamu jaga Axelion dan Axelia saja di rumah, biar aku yang di sini menemani ayah dulu,”
__ADS_1
“Tidak, aku akan menyusul kamu di sana, tunggu aku ya. Mereka aman di rumah bersama Grammy nya,”
Andrean tidak merasa khawatir meninggalkan dua anaknya di rumah karena ada Lovi yang bisa Ia mintai tolong untuk sementara waktu mendampingi Axelion dan Axelia disaat Ia ke rumah sakit.
“Tapi jabgan menyulitkan Mommy, Ean mungkin Mommy sibuk,”
“Sayang, Mommy ku tidak pernah merasa disukitkan apalagi ini tentang cucunya, kamu tenang saja. Sekarang mereka bermain dengan Mommy,”
“Aku akan pulang nanti,”
“Ya, hati-hati,” pesan Angel sesaat sebelum sambungan teleponnya dengan sang suami berakhir.
Geno langsung menatap putrinya yang baru saja bicara dengan Andrean. “Lebih baik kamu pulang sekarang, Angel. Ayah bukan mengusir kamu, Ayah bukannya tidak suka kamu ada di sini menemani Ayah, tapi pikirkan juga suamimy, anak-anakmu di rumah. Kasihan mereka kalau harus kamu tinggalkan,”
Angel tersenyum, ayahnya sudah benar-benar berubah. Bukan hanya kepadanya saja tapi juga kepada orang-orang terdekatnya.
“Terimakasih ayah sudah peduli pada mereka. Tapi ayah tenang saja, aku tidak mengabaikan mereka, Andrean akan datang ke sini sebentar lagi. Aku akan pulang bersama Andrean, Ayah,”
__ADS_1
“Bagus kalau begitu, jangan sampai kedua anakmu sedih kamu tinggalkan. Kasihan mereka masih terlalu kecil,”
“Mereka pengertian, Ayah. Bahkan disaat aku harus mengecek kafe saja, mereka tidak keberatan. Bagaimana aku tahu? Mommy Lovi yang memberitahuku tentang mereka,”
“Apa kamu menggunakan pengasuh untuk mereka berdua?”
“Sejujurnya Andrean memintaku untuk membiarkan pengasuh membantu aku merawat mereka tapi aku merasa keberatan, Ayah. Aku masih mampu untuk merawat mereka berdua dnegan tanganku sendiri. Aku juga sudah memutuskan untuk sangat jarang berkegiatan di luar rumah kalau memang tidak terlalu penting. Aku akan keluar rumah kalau memang ada kepentingan, dan aku meminta tolong pada Mommy Lovi untuk menemani mereka sementara waktu selama aku pergi meninggalkan rumah,”
“Apa orangtua Andreab tidak keberatan?”
“Awalnya aku mengkhawatirkan hal itu, Ayah. Bahkan menjadi salah satu pertimbangan apa sebaiknya aku mendengarkan kata-kata Ean untuk menggunakan jasa pengasuh? Tapi Mommy Lovi menegaskan bahwa Ia sangat menghargai keputusan aku yang untuk sekarang ini tidak butuh jasa pengasuh. Mommy tidak keberatan sedikitpun bila sesekali aku memintanya untuk mendampingi kedua anakku,”
“Syukurlah kamu dikelilingi oleh orang yang baik,”
“Aku bersyukur ayah menjadi salah satunya,” jawab Angel seraya memberikan senyum terbaiknya sebagai bentuk penghargaan kepada sang ayah yang telah menjadi ayah yang sangat baik baginya.
*******
__ADS_1