
“Hei Adrina, kenapa di luar, Sayang? Ayo masuk, mau bertemu Adrian ya?”
Devan menyapa Adrina yang berdiri di dekat gerbang rumahnya alih-alih masuk ke dalam rumah.
“Nona Adrina sudah saya persilahkan masuk berulang kali tapi tidak mau, Tuan. Katanya mau tunggu Ian di luar saja,” jelas penjaga rumah yang langsung dipahami oleh Devan.
Devan tersneyum menganggukkan kepalanya. Ia tahu, tidak mungkin Adrina dibiarkan begtus aja berdiri oleh security rumahnya. Siapapun yang tinggal di rumahnya tahu bahwa Adrina itu sudah seperti anaknya sendiri.
“Ayo duduk di dalam, Drina,”
“Tidak usah, Uncle. Aku menunggu Ian di luars aja. Dia kemana ya? Kenapa tidak datang-datang?”
“Oh mungkin kuliahnya belum selesai,”
“Tapi dia hari ini tidak ada jadwal, Uncle,”
Devan diam sejenak, ikut bingung juga kemana anak kedunaya itu pergi. Jadwal untuk belajar di kampus tidak ada, pilihan kedua tentulah pekerjaan.
“Lagi ada pekerjaan mungkin ya? Menyanyi atau mungkin shooting. Biasanya dua hal itu yang membuat Ian akhirnya tak ada di rumah. Memang kalau Uncle boleh tau, kenapa? Ada yang mau dibicarakan dengan Ian ya?”
“Iya, aku mau meminta maaf, Uncle,”
“Minta maaf?”
Tanya Devan dengan raut wajah bingungnya. Adrina menganggukkan kepala lalu kembali menjelaskan, “Tadi dia datang ke kampus untuk menjemput aku setelah dia bernyanyi. Tapi aku lupa kalau dia menjemput. Dia sudah terlanjur menunggu di sana satu jam. Lalu aku malah pulang dengan teman-temanku karena aku lupa, Uncle. Sampai rumah pun aku lupa memberitahu Ian. Sepertinya Ian kesal. Karena itulah aku mau minta maaf pada Ian sekarang. Aku pikir dia langsung pulang ke rumah setelah dari kampus, tapi sepertinya tidak,”
“Atau mungkin dia lagi diserang macet ya? Ayo tunggu saja di dalam,”
“Tidak, Uncle. Aku di sini saja,”
__ADS_1
“Astaga, apa susahnya duduk di ruang tamu, Drina? Jangan sampai Daddymu melihat anak satu-satunya dibiarkan berdiri saja di depan gerbang. Apa kakimu tidak lelah ya?”
Adrina terkekeh, sebenarnya lumayan lelah juga menunggu kedatangan Adrian sejak lima belas menit laku, dan jujur bosan. Tapi beruntungnya Ia membawa ponsek jadi sambil memainkan ponsel, lelah dan bosannya tidak terlalu Ia ambil pusing. Ia diberikan kursi juga oleh security rumah Devan namun alih-alih duduk, Adrina memilih berdiri dengan dalih melatih kekuatan kaki. Padahal sebenarnya supaya Ia lebih mudah mengawasi datangnya mobil Adrian. Karena kalau Ia duduk, pandangannya terganggu dengan gerbang.
“Ayo duduk di ruang tamu,“ ajak Devan yang kali ini lebih tegas. Akhirnya Adrina menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lantas Ia melangkah masuk mengikuti Devan.
“Nah kamu duduk di sini lebih nyaman, kaki tidak lelah, pinggang aman, iya ‘kan?”
Adrina terkekeh dan mengangguk jujur. Tadi Ia pikir, tdiak perlu menunggu did alam. Ia hanya ingin menemui Adrian sebnetar untuk meminta maaf. Tapi karena Devan sudah mengajaknya dengan tegas barusan, Ia yang segan bila tak menuruti, akhirnya mau juga duduk di ruang tamu.
Devan meminta tolong pada asisten agar menyuguhkan minuman dan juga makanan untuk Adrina.
“Sepertinya Ian sebentar lagi sampai rumah, kamu tunggu saja ya di sini,”
“Siap, Uncle,”
Devan bergegas ke kamarnya untuk membersihkan badan seklaigus memberitahu istrinya bahwa ada Adrina di ruang tamu. Lovi akan senang kalau kedatangan tamu, apalagi tamunya Adrina, calon menantu keduanya kalau kata Lovi.
Angel baru saja selesai menyerahkan surat pengunduran dirinya kepada sang pemilik kafe yang saat ini kebetulan datang ke kafe, biasanya hanya tangan kanannya saja. Angel bersyukur karena Ia jadi bisa bicara langsung, menyerahkan surat pengunduran itu secara langsung juga, dan mengucapkan terimakasih secara langsung juga. Karena berkat pemilik kafe lah, Angel bisa mendapatkan penghasilan, yang layak, bisa mendapat eman-teman yang baik, suasana bekerja yang nyaman. Angel sangat bersyukur bsia bekerja di bawah pemilik yang sangat baik sosoknya.
Keputusannya untuk berhenti bekerja di kafe tersebut juga diterima sangat baik. Angel snagat bersyukur bisa masuk dengan caranyanh baik, dan keluar juga dengan cara yang baik. Harapan Angel adalah bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi nantinya setelah Ia punya niat untuk kembali bekerja.
“Hai, Angel,”
Angel mengernyit ketika ada lelaki yang tiba-tiba menghampiri dirinya. Angel tadinya akan mengobrol dengan teman-temannya untuk yang terakhir kali sebelum Ia meninggalkan kafe itu, namun tidak jadi karena ada yang menghampirinya dan Angel tidak kenap siapa lelaki itu.
“Iya? Kamu kenal denganku?”
“Aku teman lamamu, benarkah kamu lupa?”
__ADS_1
Angel langsung mundur sekaligus menepis tangan lelaki itu yang lancang memegang bahunya. Perasaan Angel tidak enak. Ia ketakutan sekarang.
“Jujur aku tidak kenal denganmu,”
“Benarkah? Aku Alex,” ujar lelaki itu sambil merengkuh Angel dan mulai saat itu Gesty mengambil gambar.
“Aku tidak kenal!” Ujar Angel lebih tegas sambil mendorong lelaki asing itu agar menjauh dari tubuhnya. Tapi tiba-tiba lelaki itu mendekatkan kepalanya ke arah Angel hendak mencium Angel. Ini momen yang ditunggu-tunggu oleh Gesty.
Angel tidak akan membiarkan seorangpun melakukan sesuatu yang tidak baik kepadanya. Ia langsung menampar lelaki itu sambil berseru marah, “JANGAN BERANI KAMU MENYENTUH AKU YA!”
Sontak semua teman-teman Angel yang sedang sibuk dnegan pekerjaan mereka masing-maisng bergegas menghampiri Angel.
“Ngel, ada apa?”
“Dia mau menciumku!”
“Aku temanmu,”
Lelaki itu memeluk Angel dan Angel semakin berang dibuatnya. Dengan sekuat tenaga Angel mendorong lelaki itu hingga tersungkur menabrak meja di belakangnya. Lelaki itu meringis sakit lalu berjalan cepat keluar dari kafe meninggalkan Angel yang benar-benar trauma dihampiri lelaki asing. Ia yang sellau berpikir positif seklaipun dengan orang asing, sekarang mendadak kehilangan pikiran positif itu.
“Angel, kamu dilecehkan?”
“Aku tidka kenal dia, Debora!”
Angel menangis dan itu langsung mengundang ras aiba dari lima orang temannya. Angel bahkan dipeluk oleh salah satunya. Dan ada satu teman Angel yang laki-laki
Langsung keluar dari kafe hendak memberikan pelajaran untuk orang yang telah membuat Angel seperti itu.
“HEI TUNGGU! JANGAN LARI KAU BAJINGAN!”
__ADS_1
Austin berusaha mengejar namun gagal. Austin kehilangan jejaknya setelah tiba-tiba ada mobil yang menghalangi pandangan Austin.