Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 178


__ADS_3

“Apa dia mengikuti kita berdua, Drina? Kenapa dia bisa ada di sini juga ya? Aku bingung melihat wajahnya,”


Adrian dan Adrina sedang menghabiskan waktu mereka di sebuah pusat perbelanjaan. Dan tiba-tiba mereka bertemu dengan Andrew di tempat yang sama yaitu tempat pakaian perempuan.


Tapi baru Adrina dan Adrian saja yang menyadari meneradaan Andrew, sementara Andrew sendiri nampaknya tidak sadar kalau ada mereka berdua. Atau menururt dugaan Adrian dia hanya pura-pura tidak sadar saja padahal mengikuti sejak di rumah Adrina.


“Bagaimana kalau kita mencari tempat lain saja, Drina? Jangan di sini, jujur aku malas bertemu dengan dia,”


“Tapi tinggal satu baju lagi yang mau aku beli, Ian,”


Adrian menghembuskan napas kasar karena Adrina bersikeras ingin mempertahankan keberadaannya di tempat itu, tak menururti saran Adrian.


“Lagipula dia belum tentu melihat kita, dia saja lagi sibuk memilih,”


“Dia memilih baju perempuan untuk siapa ya? Dia laki-laki, lalu dia memilih baju perempuan. Sepertinya untuk kekasih dia,”


“Bisa jadi juga untuk ibunya, keluarganya lain. Entahlah, kita kan tidak tahu,”


“Aku rasa untuk kekasihnya,”


“Kamu bsia menebak seperti itu darimana?”


“Tebakanku seperti itu, Drina. Benar atau salah ya entahlah, hanya Tuhan yang tahu,”


“Lagipula kenapa mmeusingkan dia yang membeli baju perempuan? Tidak penting juga untuk kita,”


Adrina tak mau ambil pusing. Alih-alih merasa penasaran, Adrina memilih untuk fokus saja dengan tujuannya datang ke butik baju eprempuan untuk mencari bajunya, Adrian yang justru merasa penasaran.


“Bisa jadi dia membeli baju untuk kamu, Drina,”


“Hah? Beli baju untuk aku? Astaga, Ian, memang aku ini siapa untuk dia? Kami tidak sedekat itu jadi tidak mungkin lah dia membelikan baju untuk aku,”


“Ya bisa saja, Drina. Entah kenapa pikiranku berkata seperti itu,”


“Iya itu hanya isi pikiranmu saja,”


“Kalau itu benar terjadi bagaimana?”


“Tidak mungkin, jangan memikirkan hal yang tidak mungkin,”


“Ya semoga saja pikiranku itu tidak benar ya,”


“Tidak akan benar, aku tidak ulang tahun, aku dan Andrew juga tidak sedekat itu baru kenal kemarin, untuk apa dia membelikan baju?”


“Iya semoga saja tebakanku itu salah ya,”


“Pasti salah, sudahlah kamu tenang saja jangan berpikiran yang tidak-tidak. Andrew itu hanya temanku saja, aku menganggapnya teman begitupun sebaliknya, kami juga berteman karena sebelumnya orangtua kami berteman,”


“Tapi orangtua kita juga berteman, Drina, dan kita sekarang sudah lebih dari teman. Apa itu tidak berlaku untuk kamu dai Andrew? Hmm?”


“Tidak lah, Ian. Astaga kamu terlalu sering berpikiran negatif, padahal apa yang kamu pikirkan itu tidak akan terjadi,”


“Namanya juga takut diambil orang,”


Adrina mendengus sambil menggelengkan kepalanya. Ia jadi tidak fokus memilih baju karenq Adrian yang mengajaknya bicara terus.


“Drina, dipercepat memilihnya,”


“Ya sabar! Memang kenapa sih?”


“Sudah aku katak barusan. Aku tidak mau melihatw ajahnya, kalau kita terlalu lama di sini bisa jadi dia melihat kita,”


“Ya sudah kalau dia melihat kita tidak apa. Memang apa salahnya? Kita bukan pencuri jadi tidak perlu menghindar,”

__ADS_1


“Astaga, siapa juga yang bilang kita ini pencuri? Aku hanya malas melihat kamu bertegur sapa dengan dia,”


“Lalu kita harus terbang sekarang juga?”


“Tidak begitu, Drina. Percepat saja, asal pilih,”


“Mana bisa begitu. Kalau aku asal pilih sayang uangnya, Ian,”


“Ya sudahlah terserah padamu. Kalau kalian bertegur sapa, aku akan buang muka, mengalihkan pandanganku,”


“Hahahahaha kamu ini kenapa sih? Seperti ada dendam dengan Andrew. Memang dia salah apa?”


“Tidak, aku hanya kesal saja setiap melihatw ajahnya, entah lah kenapa. Namanya juga mirip dengan kakakku. Ah tapi kakakku tidak menyebalkan seperti dia,”


“Bukankah kamu sering mengeluh kalau Ean menyebalkan?”


“Ya karena dia suka diam sementara aku tidak suka diam. Karena dia pendiam, dia dingin makanya terkadang menyebalkan. Aelain itu kakaku sosok yang menyenangkan,”


“Kamu belum kenal saja dengan Andrew. Barangkali dia juga menyenangkan,”


“Aku sudah kenal, Drina,”


“Baru tau namanya jadi belum bisa diketakan kenal, Ian,”


“Tidak, aku anggap aku sudah mengenal dia,”


“Ah ya sudahlah terserah padaku aaja mau menyebutnya apa,”


“Adrina,”


Disaat Adrina baru saja menyelesaikan perdebatan antara dirunya dengan Adrian, tiba-tiba ada yang memanggil namanya dan itu Andrew.


“Oh hai Andrew,”


Adrina langsung pura-pura baru melihat Andrew padahal kenyataannya sudah sejak tadi Ia kenyadari keberadaan Andrew yang sedang sibuk memilih pakaian perempuan.


“Ya kamu benar, ini Adrian, sahabatku,”


“Sahat hidup maksud Drina,” ujar Adrian seolah mengoreksi ucapan Adrina berharap dengan Ia menyebutkan itu Andrew langsung tahu diri.


“Halo Adrian, senang mengenalmu,”


Andrew langsung mengulurkan tangannya dan Adrian mau tidak mau menerima uluran tanganelaki itu walaupun sebenarnya Ia enggan. Tapi Ia dididik untuk menjadi orang yang aopan sejak kecil.


“Halo juga Andrew,”


“Sayangnya aku tidak senang memgenalmu,” batin Adrian melanjutkan perkenalannya barusan.


“Oh ya, kamu membeli baju di sini juga?”


“Iya ini kan tempat beli baju, bukan oeralatan rumah tangga,”


Bukan Adrina yang menjawab melainkan Adrian. Adrina yang mendengar jawaban Adrian langsung melontarkan tatapan tajam sekentara Adrian tidak merasa bersalah.


“Andrew tanya baik-baik taoi dai makah jawab ketus. Memang benar-benar menyebalkan sekali Adrian,” batin Adrina.


“Kamu sudah selesai belanja?” Tanya Adrina oada Andrew.


“Sudah, hanya sebentar saja ke sini,”


“Kalau aku belum. Aku masih memilih mana yang tepat ubtukku. Kamu tidak langsung pulang?”


“Aku akan pulang sekarang. Oh iya aku ingin memberikan ini untukmu tolong diterima ya, semoga saja kamu menyukainya,”

__ADS_1


Adrian terkejut melihat Andrew memberikan satu paper bag berisi baju yang baru saja dibelinya kepada Adrina. Jika Adrian terkejut maka Adrina lebih terkejut lagi.


Ternyata benar dugaan Adrian yang baru beberapa saat lalu Adrian sampaikan. Andrew membeli baju salah satunya kemungkinan akan dibwrikan keoada Adrina.


“Andrew maaf tapi untuk aoa kamu memberikan ini? Aku tidak sedang ulang tahun, Andrew,”


“Ya aku tau, Adrina. Tapi memang aku sudah niat ke aini ingin membeli baju untuk mamaku, dan untuk kamu,”


“Andrew maaf aku tidak bisa menerimanya,”


Adrina langsung menolak. Ia tidak ingin diperlakukan seperti itu oleh Andrew yang bahkan baru dikenalnya sehari. Kenalpun melalui orangtua karena kebstulan orangtua mereka berteman sangat baik.


“Adrina apa semua orang yang memberikan kamu sesuatu tidak kamu terima?”


“Tidak, aku—“


“Ya sudah kalau bgitu terimalah pemberianku ini. Kamu menolak pemberian temanmu dan membuat temanmu ini ke ewa? Mulai kemarin saat kita pertama kali bertemu aku sudah menganggap kamu temanku, Adrina,”


Akhirnya tak ada pilihan selain menerima walauoun hati Adrina sebenarnya tak enak. Sebab mereka baru mengenal tapi Andrew sudah berinisiatif untuk memberikan sesuatu kepada Adrina.


“Aku terima hadiahmu ini. Terimakasih banyak ya, Andrew,”


“Iya, aku pulang ulu kalau begitu ya. Kalian hati-hati di jalan. Oh ya salam untuk Daddy dan Mommymu,”


“Akan aku sampaikan, sekali lagi terimakaaih dan kamu pun hati-hati di jalan,”


Andrew tersenyum lantas melangkah menjauh dari Adrina dan Adrian yang sedari tadi diam saja bak patung. Setelah Andrea pergi barulah Ia berkata “Terjyata benar dugaanku ‘kan? Kamu tidak percaya tadi. Kamu mengatakan tudak mungkin Andrew memberikan baju untuk kamu, tapi terjyata apa? Dia sengaja membelikan baju untukmu, sekalian dengan baju milik ibunya,”


“Tapi aku benar-benar tidak menyangka, Ean. Aku terkjeut sekali waktu dia mwmberikan ini untukku, tidak pernah terpikirkan kalau dia memberikan baju untuk aku yang baru dia kenal. Makanya saat kamu bilang bisa jadi dia beli baju untuk aku, aku tidak percaya, tidak yakin sedikitpun. Tapi ternyata—-“


“Memang terkadang perasaanku itu tidak salah, Drina. Sekarang semakin jelas ‘kan?”


“Jelas apa?”


“Ya jelas, kamu tidak paham maksud ucapanku?”


“Tidak, aku tidak paham,”


“Jelas, dia menyukai kamu,”


Adrina menghembuskan napas kasar. Alih-alih menanggapi praduga Adrian, lebih baik Ia abaikan saja Adrian.


“Drina, kamu sennag kalau dia menyukaimu?”


“Kata siapa?”


“Ya buktinya kamu tidak jawab,”


“Ya apa yang harus aku jawab? Pertanyaan kamu tidak penting,”


“Kalau dia menyukaimu, apa kamu senang?”


“Tidak,”


“Dia menyukaimu, percaya ‘kan?”


“Tidak,”


“Astaga, Drina jangan memancing kesabaranku untuk habis ya,”


“Kamu aneh, Ian. Kenapa kamu bisa berpikir kalau dia suka padamu? Hanya karena dia memberikan baju?”


“Ya ampun, siapapun bisa saja memberikan aku baju, tidak hanya Andrew, kamu pun bisa, tidaka da yang aneh dengan itu. Orang memberikan sesuatu bukan berarti suka. Apalagi tadi kamu dnegar sendiri ‘kan dia berkata bahwa ini pemberian dari dia sebagai temanku. Artinya dnegan tegas dia mengakui aku sebagai temannya. Ya sudah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan,”

__ADS_1


“Aku cembur, Drina,”


“Urusanku apa? Cemburu itu hakmu, Ian, karena kamu punya hati. Tapi cemburu itu jangan berlebihan. Hanya karena dia mengajak aku pergi lalu memberikan baju kamu langsung berpikir bahwa dia menyukai aku,”


__ADS_2