Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 123


__ADS_3

“Aku yang sudah mengirimkan laki-laki itu supaya dia mengganggu pernikahanmu dengan Andrean. Itulah akibatnya kalau kamu tidak mau menuruti permintaanku,”


“Ya Tuhan, aku benar-benar tidak menyangka kalau kakak akan melakukan itu. Kenapa kakak tega? Hubunganku dan Andrean nyaris saja berantakan karena kesalahpahaman bahkan hubunganku dengan keluarga Andrean juga hampir kacau karena perbuatan kakak. Bahkan Auris sudah sempat terlanjur marah kepadaku,”


Angel menangis, Ia benar-benar kesal karena kakaknya sejahat itu tapi Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis. Ia tidak menyangka kalau kakaknya sampai mau mengorbankan hubungannya dengan Andrean dan keluarganya untuk mendapatkan apa yang dia mau.


“Hahahah rasakan akibatnya. Kamu tidak mau memberikan apa yang aku mau maka kamu harus siap-siap mendapatkan pelajaran dariku. Sekarang aku minta belikan ponsel, karena ponselku tiba-tiba saja rusak,”


“Kak, aku bukannya tidak mau tapi ‘kan sekarang aku tidak bekerja lagi,”


“Kenapa kamu tidak mencari uang lagi?! Lalu bagaimana dengan kehidupanku dan ayah?”


“Kakak cari uang sendiri, tentulah. Jangan mengandalkan aku terus menerus,”


“BERANI SEKALI KAMU BERKATA SEPERTI ITU ANGEL?!”


Angel langsung tersentak kaget dan spontan Ia mengangkat kedua bahunya. Tiba-tiba saja Gesty membentaknya karena tidak senang mendengar perkataannya.


“Kak, aku ingin kakak mandiri. Aku tidak menyuruh ayah untuk bekerja, karena memang sebaiknya yang bekerja itu kakak karena usia kakak masih muda, kakak diberikan kesehatan, dan akal sehat oleh Tuhan. Seharusnya kakak gunakan itu sebaik mungkin, Kak. Kalau ayah, beliau sudah tua. Kasihan kalau dia harus—“


“KAMU JANGAN MENGAJARI AKU!”


Angel langsung membuang napasnya dengan kasar karena kakaknya tidak terima diberi nasihat olehnya. Angel hanya tidak ingin Ia terus menerus diandalkan, sementara Ia harus memikirkan kondisi bayinya.


“Kak, aku tidak bisa memikirkan kakak terus,”


“Jangan kurang ajar kamu ya! Kamu memang sudah seharusnya memikirkan aku karena aku ini kakakmu, Angel!”


“Kak, aku berhenti bekerja jadi aku tidak bisa diandalkan lagi seperti dulu,”


“Siapa yang menyuruh untuk berhenti mencari uang? Huh?”


“Suamiku, Kak. Andrean yang meminta aku untuk berhenti bekerja dengan alasan apapun, entah itu murni mencari uang ataupun sekedar mengisi waktu kosong,”


“Memang apa alasan dia menyuruh kamu berhenti bekerja? Dia tidak punya hak,”


“Siapa bilang dia tidak punya hak, Kak? Andrean adalah suamiku, dia berhak atas diriku, apapun itu,”


“Tapi—“


“Lagipula aku tidak mau egois. Aku ini sedang mengandung, dan wajar Andrean tidak mengizinkan aku bekerja karena memang kondisiku saat ini sedang tidak mendukung,”


“Apa? Kamu mengandung?”


“Ya, aku memang pagi mengandung, Kak. Itulah sebabnya Andrean tidak mau aku bekerja karena aku sedang mengandung anak kami dan dia ingin aku bersama anak kami baik-baik saja,”


“Wow! Semakin lengkap kebahagiaan dalam hidupmu ya, luar biasa. Sementara hidupku seperti ini terus,”


“Kakak bisa bahagia kalau kakak tidak mengusik kehidupan orang lain, siapapun itu termasuk aku, Kak. Coba kakak fokus dengan hidup kakak sendiri, jangan mengusik aku dan keluarga suamiku. Berhenti mencari masalah, Kak. Jangan menjadi orang yang jahat, Kak. Untuk apa kakak ingin menghancurkan keluarga kecilku dengan mengirimkan laki-laki yang sengaja ingin membuat kepercayaan Andrean hilang padaku?”


“Ya memang itu tujuanku supaya tidak hanya kebahagiaan saja yang ada di hidupmu. Selama ini hidupmu terlalu sempurna, Angel. Dan aku tidak suka,”


****


“Gesty sialan! Perempuan itu benar-benar membuat istriku tidak nyaman,”


Andrean panas ketika melihat epsan yang baru saja dikirimkan oleh Gesty untuk istrinya. Pesan berisi ancaman kalau seandainya Angel tak memenuhi permintaannya kali ini.


-Aku tidak akan membiarkan hidupmu bahagia terus karena kamu pantas mendapat kesengsaraan. Kamu dan anak kamu, tidak akan aman kalau permintaanku tidak kamu penuhi-


Pesan semacam itu bisa membuat Angel sangat tertekan. Dan bisa mempengaruhi kandungannya. Andrean tidak bisa diam saja. Kali ini Ia blokir kontak Gesty dan Ia harap Angel tidak menentang keputusannya itu seperti sebelumnya.


Setelah menghapus pesan dari Gesty dan memblokir kontak Gesty, Andrean keluar dari kamar dengan hati yang masih panas. Rahangnya mengetat dan kedua tangannya mengepal. Ketika Ia keluar dari kamar, Ia tak sengaja bertemu dengan Angel yang bingung karena Andrean melewatinya begitu saja tanpa mengatakan apapun dan ekspresi wajah Andrean juga kelihatan marah. Tapi Angel berusaha berpikiran positif. Kalau Andrean ada masalah pasti dia cerita. Angel masuk ke kamar dan meraih ponselnya. Entah kenapa tangannya tergerak ingin membuka ruang obrolannya dengan sang kakak tapi ternyata tidak ada, dan nomornya juga diblokir.


Angel mengernyit ketika mengetahui nomor kakaknya diblokir padahal Ia tidak pernah melakukan itu. Seketika Ia langsung punya dugaan kalau yang telah memblokir nonor sang kakak adalah suaminya. Angel langsung membatalkan blokiran itu kemudian menghela napas pelan.


Tak lama kemudian Andrean masuk ke dalam kamar dan tiba-tiba berdiri di depan cermin meja riasnya sambil merapikan tatanan rambutnya. Andrean tidak sempat menata karena tadi setelah mandi langsung dibuat kesal oleh Gesty


“Ayo kita makan, Ean,” ajak Angel pada suaminya yang saat ini sedang menyisir rambut di depan cermin. Andrean menganggukkan kepalanya.


“Aku berhasil membuatmu kembali tertidur semalam, Angel,”


“Iya, terimakasih ya atas bantuanmu. Kalau aku tidak dipeluk olehmu, aku rasa tidak akan tidur sampai pagi ini karena aku memang tipe orang yang akan sulit tidur kalau sudah bangun,”


“Tidak perlu terimakasih, Sayang. Aku hanya tidak ingin kamu kurang istirahat, aku tidak ingin kamu kelelahan, dijahati, aku tidak ingin kamu merasa terganggu, semua itu jangan sampai terjadi,”

__ADS_1


Dari ucapan Andrean barusan, yang sepertinya sedang menyinggung sesuatu, nampaknya ada yang dilakukan oleh Gesty yang Andrean anggap bisa mengganggu Angel. Oleh sebab itu nomornya diblokir oleh Andrean.


“Hei kenapa kamu melihatku seperti itu? Apa yang kamu pikirkan tentang aku?” Tanya Andrean yang sudah mulai menikmati sarapannya sementara sang istri malah menatapnya dalam diam.


Angel langsung mengerjapkan kedua matanya ketika ditegur oleh suaminya itu. Ia sedang menerka-nerka benarkah Andrean yang memblokir nomor kakaknya? Karena yang Ia ingat, Ia tidak pernah melakukan itu.


“Kenapa, Angel?”


Angel menggelengkan kepalanya sambil tersenyum dan mulai menyantap sarapannya juga.


“Kamu baik-baik saja?” Tanya Andrean yang tak akan bisa tenang kalau sudah melihat istrinya tidak fokus.


“Iya, tapi ada yang mau aku tanyakan padamu, kamu kira-kira keberatan atau tidak ya menjawab pertanyaanku?”


“Tidak, apa yang mau kamu tanyakan, Sayang? Tanyakan saja, jangan ada yang dipendam, tidak baik. Kita sudah menikah, dan komunikasi dalam sebuah pernikahan itu benar-benar sangat penting,”


“Kamu yang memblokir nomor kakakku ya, Ean?” Tanya Angel dengan hati-hati dan senyum meringis. Sebenarnya tidak enak juga bertanya soal itu, tapi Ia ingin tahu kalau memang Andrean yang melakukannya, apa alasan yang melandasi Andrean bertindak seperti itu.


Andrean menghembuskan napas kasar kemudian menyeruput air minum sebelum menjawab pertanyaan sang istri. Angel mengamati suaminya yang nampaknya tidak keberatan untuk menjawab, karena setelah minum Andrean langsung membuka mulutnya untuk memberikan jawaban “Iya, aku yang sudah memblokir nomor kakakmu itu,”


“Kenapa? Aku boleh tau tidak? Aku tidak pernah melakukannya, karena aku tidak mau hilang komunikasi dengan kakak ataupun ayah setelah aku menikah,”


Andrean langsung meraih tangan istrinya kemudian Ia genggam dengan erat. Ia tatap istrinya dalam-dalam dan menatap Angel dengan serius.


“Sayang, aku melakukannya ada tujuan, tentu saja. Dan aku yakin kamu sudah menerka jawabanku,” ujar Andrean yang tidak mau istrinya salah paham.


“Apa yang kakak kirim ke aku dan kamu melihatnya? Apa itu membuatmu kesal?”


“Oh tentu saja, makanya aku blokir langsung nomor dia. Jadi aku punya alasan, Sayang. Aku kesal ketika dia mengusik kamu, dan tujuan aku memblokir nomor dia supaya dia tidak punya akses untuk mengusik kamu. Kalau dibiarkan terus menerus, dia bisa semakin parah mengusikmu,”


“Tapi—“


“Tidak usahlah kamu pikirkan tentang itu. Dia memang pantas diblokir nomornya, bahkan dia sendiri pun pantas diblokir dari hidup kamu,”


“Tapi aku tidak punya siapapun selain ayah dan kakak, aku menyayangi mereka. Bagaimana kalau mereka ingin menghubungiku dan tiba-tiba tapi tidak bisa karena diblokir nomornya,”


“Mereka menghubungi kamu tujuannya apa? Mau memastikan kamu baik-baik saja? Mau bertanya kabar? Tidak ‘kan? Coba jawab apa yang mereka katakan kalau mereka menghubungi kamu?”


Angel menunduk, apa yang dikatakan oleh suaminya benar. Kalau mereka menghubunginya, tidak ada yang namanya menanyakan kabar, mereka tidak pernah memastikan Ia baik-baik saja. Yang ada justru meminta dan meminta. Sebenarnya tidak masalah bagi Angel karena Angel tahu hasil kerja kerasnya itu untuk mereka juga. Makanya Ia sampai rela bekerja lagi demi mendapatkan uang supaya Ia tetap bisa menghidupi ayah dan kakaknya itu. Tapi yang membuat Angel sedih, terkadang mereka sampai memaksa sampai tidak paham bagaimana keadaannya sekarang. Ia memang dicukupi oleh Andrean, akan tetapi Ia tidak bisa bersikap seenak hati dengan semua yang diberikan Andrean untuknya.


“Tapi aku tidak bisa benar-benar meninggalkan mereka karena mereka perlu aku, Ean,”


Andrean memijat pangkal hidungnya. Ia benar-benar tidak paham kenapa istrinya bisa sebaik ini. Memang ayah dan kakaknya itu keluarga untuk Angel tapi kalau jahat, wajar kalau Angel kecewa dan memilih untuk menjaga jarak daripada hatinya terus-terusan disakiti. Tapi yang terjadi justru Angel membuka akses untuk mereka bersikap seenak hati. Angel selalu pura-pura kuat dan itu membuat Andrean kesal.


“Kamu tidak perlu meninggalkan mereka, kamu hanya perlu jaga jarak, kamu boleh baik, tapi jangan lupa utamakan perasaan diri sendiri,”


Andrean mengusap pipi Angel dengan lembut setelah itu lanjut menikmati sarapannya. Andrean berharap istrinya paham kenapa Ia sampai berbuat seperti itu yang mungkin kesannya jahat, tapi Andrean hanya ingin menjaga istrinya dari hal buruk apapun itu.


“Dia sudah membuat hubungan kita sempat bermasalah. Dia sengaja menyuruh orang untuk membuat rasa percayaku padamu luntur, bahkan Auris saja sempat marah karena menganggap kamu sudah berkhianat dengan laki-laki suruhannya itu di belakangku. Dari semua yang dia lakukan, maka wajar saja kalau aku memblokir apapun akses yang dia gunakan untuk menghubungi kamu. Ditambah lagi, ada kata-kata dia yang membuat aku sakit hati, dan aku yakin kamu pun akan sakit hati kalau membaca itu,”


Mendengar ucapan Andrean, kening Angel langsung berkerut bingung. Ia penasaran dengan kata-kata yang ditujukan Gesty kepadanya hingga membuat Andrean sakit hati.


“Dia tidak hanya mengancam kamu saja, Angel, tapi juga mengancam anak kita. Mana mungkin aku diam saja? Jujur, aku ingin membuatnya menyerah dengan caraku sendiri tapi aku masih memikirkan kamu. Aku tahu kamu sangat menyayanginya, itulah sebabnya aku masih menahan diriku sendiri,” ujar Andrean dengan rahang yang mengetat sempurna. Angel takut suaminya melakukan sesuatu terhadap sang kakak. Angel langsung meraih tangan suaminya itu dan Ia genggam dengan erat.


“Aku mohon jangan lakukan apapun pada kakak ataupun ayahku, Ean. Aku begitu menyayangi mereka. Kalau kamu menyakiti mereka, itu sama saja kamu menyakiti aku juga. Walaupun mereka jahat padaku, tapi aku—aku ingin mereka baik-baik saja,”


********


“Pokoknya, setiap kalian berdua jalan, aku ikut ya,” ujar Auristella dengan lugas terhadap sepasang muda mudi di depannya saat ini.


Auristella mengganggu kebersamaan Adrian dan Adrina. Tadinya Adrian mau pergi berdua saja dengan Adrina, tapi sayang adiknya memaksa untuk ikut. Kalau dipikir-pikir kembaran beda rahimnya itu alias Adrina juga belum tentu mau pergi hanya berdua dengannya, jadi lebih baik mengajak Auristella. Kemunglinan besar Adrina mau diajak jalan berdua.


Adrian mulai selangkah lebih maju sekarang. Ia ingin mendapatkan respon positif dari Adrina teman masa kecilnya itu yang sejak kecil sudah lawan berdebat, bahkan sampai dewasa seperti sekarang mereka masih suka beradu mulut. Adrian akui, Ia nyaman dengan Adrina. Tapi bagaimana dengan Adrina? Adrian lihat, perempuan itu masih jual mahal sekali. Padahal yang Ia tahu punya pacar juga belum.


“Ya itu bagus, biar aku tidak menghadapi menyebalkannya kakakmu ini sendirian, Auris,”


“Semenyebalkannya aku, tetap aku paling tampan diantara teman-teman kamu yang lain,”


“Aku tidak rela kalian macam-macam sebelum waktunya!”


Adrian tertawa mendengar ucapan adiknya yang posesif itu. Tahu kalau Ia mulai berpikir ke arah jenjang pernikahan, Auristella masih belum rela ternyata.


Adrian sudah cukup matang dalam usia, materi, dan mental juga sebenarnya sudah. Semenyebalkan apapun dirinya, Ia sudah tahu apa itu tanggung jawab suami, hak suami, begitupun untuk istri. Ia juga tidak menutup mata dan telinga dari yang namanya ilmu tentang pernikahan dengan harapan nanti ketika Ia menikah, apa yang Ia dapat selama belum menikah itu bisa Ia gunakan ketika sudah menikah.


“Memang siapa yang mau macam-macam dengan Adrian, Ris? Tidak ada, aku kalau mau macam-macam ya liat orangnya dulu,”

__ADS_1


“Hei kembaran beda rahim! Kamu pikir aku mau macam-macam sama kamu? Tidak! Maaf ya, aku bukan laki-laki brengsek. Ya kalau mau macam-macam, nikahi dulu lah minimal,”


“Ih jauh sekali pikiranmu, siapa yang mau menikah denganmu, Adrian?”


“Kamu memangnya tidak mau? Ah yang benar, nanti bisa jatuh cinta sejatuh-jatuhnya, hati-hati ya,”


“Ian terlalu percaya diri,” gumam Auristella dengan sinis. Dan itu mengundang tawa Adrina yang setuju.


“Dia pikir, dia sehebat apa bisa membuatku jatuh cinta?”


“Hati-hati dengan ucapan, benci bisa jadi cinta. Sudah sering dengar kisah yang seperti itu ‘kan?”


“Tutup mulutmu ya! Dasar menyebalkan,”


“Jangan terlalu galak, nanti—“


“Ian, aku ini manusia ya. Bukan nyamuk, bukan lumut, bukan pohon. Jadi tolong hargai aku, tolong!” Lugas Auristella supaya kakaknya itu tidak menggoda Adrina di depan matanya. Tahukah Adrian bahwa itu menggelikan? Adrian adalah tipe laki-laki banyak omong, menyebalkan kalau bersamanya, usil, suka berdebat tiba-tiba jadi bermulut manis.


“Salahku dimana wahai adik cantik? Aku salah terus di matamu,”


“Biasa menyebalkan kalau denganku, giliran di luar ternyata begini kelakuanmu? Huh?”


Adrian tertawa mendengar ucapan adiknya itu. Membiarkan Auristella ikut bersamanya dan Adrina memang keputusan yang salah, tapi kalau ada Auristella lumayan bisa merubah suasana menjadi sedikit ramai.


“Ini kita mau kemana?”


“Ya kemana saja terserah kalian berdua lah, aku ikut saja,” ujar Auristella menjawab pertanyaan Adrina dengan ketus. Ia ikut pergi saja sudah senang, mau kemana saja terserah Adrian ataupun Adrina.


“Ke mall, nyalon, atau belanja boleh. Aku temani kalian, sekalian aku traktir, oh ya jangan lupa makan ya. Kita yarus mengisi perut,”


“Okay kalau begitu,”


“Auris bagaimana? Setuju tidak?”


“Ya aku setuju,”


“Adikku itu jadi ekornya aku, Adrina. Jadi dia pasti setuju. Tadi dia bilang sendiri ketika dilarang Mommy untuk ikut. Dia bilang kalau dia itu ekor aku, jadi mau ikut kemana saja aku pergi, mau jadi ekor kalau aku mau pergi dengan orang lain yang jenis kelaminnya perempuan. Kalau laki-laki, tidak begitu,”


“Ya iyalah, untuk apa aku mengikutimu dan teman-temanmu kalau mereka laki-laki? Tidak penting,“


“Kalau perempuan penting?”


“Penting lah, Adrina. Kamu tau ‘kan kalau aku posesif, aku tidak mau kakakku—“


“Semua juga tau kamu posesif,” cibir Adrian pada adiknya yang sebenarnya baik, tapi kalau timbul sikap posesifnya benar-benar menyebalkan.


*******


“Ayah, aku tidak terima ya Andrean melarang aku untuk mengganggu Angel. Enak saja dia hidupnya. Dia sekarang banyak uang, apa-apa dicukupi oleh suaminya, tapi dia tidak memikirkan kita. Memang sialan anak itu,”


Hari ini ayahnya pulang, dan Gesty langsung menyambut ayahnya dengan amarah atas sikap penjagaan Andrean terhadap Angel yang Ia anggap sudah bahagia seklai hidupnya setelah menikah dengan Andrean, karena banyak uang, sudah dicukupi semuanya oleh Andrean. Gesty benci ketika Angel merasa bahagia sementara dirinya tidak.


“Uangmu sudah habis ya?”


“Ya, makanya aku minta pada ayah. Aku mau datang ke acara party yang dibuat temanku, Yah,”


Gesty mengulurkan tangannya meminta uang. Tak meminta pada adiknya, sekarang Gesty meminta pada ayahnya yang langsung berdecak sambil mendorong tangannya.


“Ayah saja tidak ada uang. Mintalah pada Angel, dia yang banyak uang,”


“Tapi suaminya sudah mengancamku, Ayah. Dan aku takut dia melanjutkannya ke jalur hukum, kalau itu benar terjadi bagaimana?”


Gesty melihat ayahnya berkacak pinggang sambil menatapnya dengan santai, matanya masih lain karena sisa mabuk.


“Tidak mungkin, Andrean tidak akan mungkin melakukan itu. Dia tau kalau Angel menyayangi kita berdua, kalau Andrean macam-macam, Angel pasti juga tidak akan diam,”


Gesty berdecak pelan sambil menggaruk keningnya bimbang, menghubungi Angel atau tidak? Kalau Ia menghubungi, ada kemungkinan yang menjawab adalah Andrean lagi, lalu Ia kembali mendapat ancaman dari suami adiknya itu.


“Ayah, tapi aku takut. Ayah saja lah yang hubungi Angel. Aku tidak mau lagi bicara dengan suaminya, mendengar ancaman darinya,”


Ketika melihat ayahnya meraih ponsel dari saku, Gesty tersenyum senang. Ia berharap ayahnya itu dapat tanggapan yang sesuai harapan dari Angel.


“Angel mengandung, Ayah! Kebahagiaan Angel lengkap sekali bukan? Benar-benar anak bodoh yang beruntung! Aku semakin membencinya! Kenapa Tuhan berlaku tidak adil? Huh? Dia selalu didatangkan kebahagiaan, kecukupan sementara aku apa?!”


Gesty tidak akan pernah bisa baik-baik saja apalagi ikut bahagia atas kebahagiaan yang tengah meliputi adiknya. Justru yang ada, Ia semakin membenci Angel ketika tahu kalau lagi-lagi kebahagiaan datang menghampiri Angel. Selain punya suami yang tampan dan kaya raya, sekarang Angel mengandung. Kehidupan Angel sempurna di mata Gesty yang penuh rasa iri ketika mengetahui itu.

__ADS_1


__ADS_2