
“Andrean dan Angel sudah berangkat ya?” Tanya Lovi begitu Ia dan suaminya disambut lebih dulu oleh maid setelah menginjakkan kaki di rumah.
“Sudah, Nyonya. Baru saja berangkat, tadi pamitnya mau datang ke acara ulangtahun teman Nona Angel,”
“Iya terimakasih informasinya,”
Maid bergegas pergi sementara Lovi dan Devan duduk di ruang tamu. Tidak lama kemudian anak perempuan mereka datang dan duduk di tengah-tengah kedua orangtuanya. Selang beberapa detik Adrian juga tiba di ruang tamu.
“Ada yang wajahnya sumringah setelah bertemu dengan Adrina,”
“Apa kamu baru mengenalku ya? Wajahku memang sumringah terus,”
“Ah kali ini sumringahnya beda, pasti senang ‘kan habis bertemu Adrina?”
“Ya senang lah, namanya juga bertemu dengan teman,”
“Teman atau teman? Yakin—“
“Berisik ya, kamu dengan Revano bagaimana?”
“Kalau aku dan dia memang murni hanya berteman,”
“Kamu dan Adrina statusnya tidak jelas ya. Sahabat, tapi dekat sekali sudah seperti keluarga, dan mesra juga kadang,”
“Mesra darimana? Aku dan Adrina tidak mesra,” Adrian mengelak ucapan adiknya.
“Kalian tidak mau istirahat? Daripada debat lebih baik istirahat,” ucap Devan pada kedua anaknya dan spontan mereka menggeleng.
“Nanti-nanti saja, Dad,”
“Aku mau tunggu Angel dan Ean pulang, Dad. Aku penasaran baju apa yang dipakai Angel,”
Auristella tersenyum membayangkan Angel benar-benar memakai baju yang Ia berikan. Pasti sangat cantik menawan. Sedetik kemudian, Ia baru ingat kalau Andrean menyuruh istrinya untuk ganti baju.
“Yah aku tidak jadi senang karena Angel tidak jadi tampil beda. Ean menyuruhnya untuk ganti baju,”
“Hahaha gagal rencanamu ya?”
“Iya, tapi tidak apalah, itu ‘kan haknya Ean mau melarang atau tidak marena Ean suami Angel walaupun sebenarnya aku ingin sekali melihat Angel tampil beda, lebih seksi, lebih berani,”
“Makanya, anak kecil tidak usah memikirkan hal yang lain-lain,” ujar Devan seraya beranjak berdiri dan mencengkram dagu anaknya singkat.
“Dad mau kemana?”
“Istirahat, Daddy lelah. Kenapa memangnya?” Tanya Devan yang tak jadi melangkah, karena ingin menanggapi anaknya dulu sebentar.
“Oh tidak apa-apa, silahkan istirahat kalau begitu, Dad,”
“Terimakasih, Sayang,”
“Mommy juga istirahat, jangan kelelahan, Mom,”
“Iya tenang saja. Mommy mau menunggu Angel dan Ean dulu tapi, supaya tenang istirahatnya. Mommy juga mau dengar cerita-cerita mereka tentang acaranya,”
“Ah sama, aku juga,”
“Ssstt! Sudah malam, Auris! Nanti aku usir dari rumah ya?!” Adrian mengancam adik satu-satunya itu seraya menatap dengan tajam penuh peringatan.
“Iya maaf, mulutku memang suka sulit dikendalikan,”
Adrian merotasikan bola matanya. Sebenarnya Ia tidak heran lagi karena sebenarnya Auristella itu memang tipe anak yang suka berisik kalau di rumah, apalagi kalau bersamanya. Jadi terkadang Ia beri peringatan.
“Ya sudah, aku mau ke kamar dulu ya, Mom, selamat malam Mommyku yang cantik dan baiknya luar biasa,”
“Malam juga, anak tampan Mommy,”
Sebelum Adrian melangkah pergi, Lovi menahan lengan anaknya itu. Adrian mengangkat salah satu alisnya bingung.
“Kenapa, Mom? Aku sudah pamit mau ke kamar,”
“Peluk dulu, Mommy rindu dipeluk olehmu,”
“Oh Mommy mau dipeluk oleh anak tampan Mommy ya, okay baiklah. Padahal setiap pagi sebelum aku berangkat bekerja atau kuliah, aku rajin memeluk Mommy,”
“Ya memangnya tidak boleh kalau rindu dipeluk anak sendiri walaupun setiap hari juga dipeluk,”
“Boleh, Mom,”
Adrian sudah memeluk Mommynya. Ia mengusap punggung Lovi dengan lembut setelah itu melepaskannya dan tak lupa mengecup kening Lovi.
“Terimakasih ya,”
“Sama-sama, Mom. Aku naik ke atas dulu kalau begitu,”
“Okay selamat beristirahat,”
“Ian, kamu tidak mau memeluk aku juga? Mencium keningku juga boleh,”
__ADS_1
Adrian terkejut ketika Ia baru saja memutar badannya, tiba-tiba sang adik memeluknya dari belakang dan merengek berharap dipeluk juga.
“Kamu habis terbentur dimana, Ris? Kenapa tiba-tiba begini?” Tanya Adrian yang kebingungan mendapati sikap manis dan manja adiknya itu.
Lovi terkekeh melihat kedua anaknya yang jarang terlihat damai seperti ini. Ternyata ketika Ia minta dipeluk oleh Adrian, Auristella juga menginginkan hal serupa. Mungkin Auristella merasa sudah lama tidak dipeluk oleh Adrian.
“Dia mau juga dipeluk olehmu, Ian,”
“Astaga, tidak biasanya, Mom. Dia ‘kan lawanku tiap berdebat, kenapa sekarang tiba-tiba jadi begini?”
Adrian melepaskan pelukan Auristella dan memutar badannya untuk bertatapan dengan sang adik yang merengut.
“Oh jadi kamu tidak mau? Hmm? Aku haram dipeluk? Iya?”
“Astaga, bukan begitu maksud aku. Tapi kamu tidak biasanya. Apa kamu lagi sedih ya, jadi begini? Hmm?”
“Tidak, aku tidak sedang sedih,”
“Apa ada yang menyakitimu makanya kamu mau dipeluk olehku?”
“Tidak, Ian! Kenapa kamu jadi berpikir ke situ sih?”
“Ya karena jarang kamu begitu,”
“Sudahlah cepat peluk aku yang benar,” ujar Auristella seraya merentangkan kedua tangannya.
“Okay aku akan memberi pelukan yang istimewa untuk adikku yang tersayang,”
Adrian sudah merentangkan tangan bersiap untuk memeluk adiknya namun tiba-tiba Auristella berlari ke belakang tubuh Lovi sambil tertawa keras.
“Iwh aku tidak mau dipeluk olehmu. Kenapa kamu percaya aku minta dipeluk? Hahahahah,”
“Auris benar-benar kamu ya. Aku sudah baik benar-benar mau memenuhi permintaan anehmu itu, tapi kamu malah mengerjaiku. Awas kamu ya,”
Adrian merogoh sakunya hendak mencari sesuatu yang bisa Ia jadikan senjata untuk menyerang Auristella. Yang Ia dapati adalah ponsel dan dompet. Kalau melemparkan ponsel miliknya, takut pecah terurai di lantai, susah membereskannya, dan banyak hal-hal penting juga di dalam ponselnya. Lebih baik Ia melempar dompet ke arah Auristella. Tidak menyebabkan sakit kalau seandainya mengenai Auristella, karena tipis hanya berisi beberapa lembar uang dan kartu.
“Aku lempar dengan dompet ya!”
“Mau-mau, biar aku ambil semua uangnya,”
Alih-alih takut dilemparkan dompet, Auristella malah bahagia dan itu membuat Adrian semakin kesal. Akhirnya Adrian mengurungkan niatnya itu. Daripada Ia semakin membuat Auristella merasa bahagia, lebih baik Ia tidak memberikan balasan dulu untuk sekarang.
“Tidak jadi!”
Adrian langsung bergegas pergi ke kamarnya dan Auristella tertawa. Lovi geleng-geleng kepala melihat sikap anak perempuannya itu. Ia langsung menegur Auristella.
“Ian tidak marah serius, Mommy. Dia hanya kesal sedikit karena aku kerjai,”
“Lain kali jangan begitu ya. Ian sudah berbaik hati,”
“Iya, Mom. Aku hanya ingin bercanda saja sebenarnya tapi aku tidak menyangka kalau Ia benar-benar akan memeluk aku,”
“Ya kalau dia tidak turuti bisa bahaya, urusannya bakal panjang. Kamu pasti akan memusingkan dia dengan kecerewetan kamu itu. Jadi daripada begitu lebih baik dia turuti lah permintaan kamu tapi ternyata kamu malah bercanda. Dia tidak tega juga kalau tidak menuruti permintaan kamu, ya namanya juga adik satu-satunya apalagi permintaan itu sederhana,”
“Iya nanti aku peluk beneran,”
“Ah mana mau lagi dia,”
Auristella tertawa membayangkan Ia akan didorong menjauh oleh Adrian sebelum dipeluk oleh dirinya.
*********
“Kamu ambil minuman sendiri? Padahal aku lagi mengambilkannya untukmu, Sayang,”
“Bukan-bukan, ini bukan aku yang ambil minuman sendiri, Ean,”
“Terus siapa?”
“Teman aku, tapi dia lagi ambil kue sebentar,”
Andrean menganggukkan kepalanya setelah itu duduk berhadapan dengan Angel. Ia menyeruput minuman yang sudah Ia ambil barusan.
“Ini minumannya aneh, Ean. Aku minum yang baru kamu ambil saja ya,”
“Boleh, Sayang,”
Andrean mempersilahkan istrinya untuk menyeruput minuman miliknya yang sengaja diambilkan oleh Andrean tapi karena temannya tiba-tiba datang membawa minuman untuknya, jadi Ia tak bisa menolak. Ia seruput sedikit dan ternyata rasanya aneh menurut lidah Angel.
“Itu memangnya minuman apa sih?”
“Entah, aku tidak tau juga. Kamu coba saja,”
Andrean penasaran seperti apa rasa minuman yang kata istrinya aneh. Maka dari itu Ia segera mencoba dan begitu sekali meneguk, Andrean langsung mengernyitkan keningnya.
“Aneh ‘kan?” Tanya Angel pada suaminya yang sudah menunjukkan tanda-tanda bahwa Andrean tidak menyukai minuman itu juga.
“Sayang, ini minuman alkohol, pantas saja aneh katamu,” ujar Andrean yang langsung membuat Angel membelalakkan kedua matanya.
__ADS_1
“Hmm? Minuman alkohol, Ean? Kamu yang benar?”
“Iya, aku tau rasanya, Sayang. Tapi jujur aku juga tidak menyukainya,”
“Astaga, terus bagaimana? Maksud aku—apa aku akan mabuk sebentar lagi? Apa aku akan pingsan, Ean? Hah? Apa yang akan aku alami sebagai dampaknya?”
“Apa yang kamu rasakan sekarang? Hmm?”
“Sejauh ini tidak ada, Ean. Rasa tidak enaknya baru di lidah saja,”
“Kamu pusing? Mual? Atau—“
“Tidak-tidak, aku belum—maksudku, semoga tidak ada efek-efek itu. Astaga ya ampun aku tidak tau kalau itu ada alkoholnya, Ean. Aku minta maaf, aku tidak bermaksud untuk mabuk, aku berani untuk bersumpah,”
“Ssstt, Sayang. Kamu jangan panik seperti ini. Ya semoga saja tidak ada efek apa-apa di tubuhmu ya,”
Andrean pindah posisi menjadi lebih dekat dengan istrinya itu. Ia merangkul bahu Angel dan mengusapnya dengan lembut.
“Kamu hanya minum sedikit ‘kan?”
“Iya cuma dua teguk dan itupun sedikit-sedikit. Pertama kali coba rasanya sudah aneh, lalu aku coba lagi untuk memastikan lidahku salah atau tidak tapi ternyata memang minuman itu aneh bukan selera aku, Ean,”
“Iya ini pertama kalinya kamu mencoba jadi pasti merasa aneh. Tidak apa-apa, Sayang. Jangan khawatir, beruntungnya kamu tidak minum banyak,”
“Ya bagaimana mau minum banyak kalau aku saja tidak suka. Cukup dua kali seruput saja, tidak mau lagi,”
“Hai, Angel,”
Seorang teman Angel datang, dia bernama Listine. Dan Listine lah yang tadi ingin mengobrol dengan Angel ketika Angel duduk sendiri sampai Ia niat membawakan minuman untuk Angel supaya mereka lebih nyaman mengobrol berdua, tapi karena mau mengobrol sambil makan juga, akhirnya Listine bergegas mengambil sajian, meninggalkan dua gelas di atas meja mempersilahkan Angel untuk minum lebih dulu.
“Hai, Listine,”
“Pergi bersama suami?”
“Iya, aku pergi dengan Andrean,”
“Ean, ini Listine, temanku,”
Listine mengulurkan tangannya ingin berkenalan dengan Andrean yang tak keberatan untuk menerima uluran tangan Listine.
“Namaku Listine,”
“Andrean,” jawab Andrean dengan singkat tanpa senyum, wajahnya datar, bukan karena tidak ramah tapi memang begitulah karakter Andrean.
“Ayo kita minum,” ajak Listine.
“Hmm Listine, aku minta maaf ya. Aku kurang suka dengan minuman yang kamu bawa, ini Andrean baru saja membawa jus jeruk, aku minum ini tidak apa ya?”
“Oh tidak masalah, maaf ya aku pikir kamu suka dengan minuman yang aku bawa barusan,”
“Maaf, tapi istriku belum pernah mencoba minuman dengan kandungan alkohol di dalamnya, jadi Ia tidak suka,” Andrean menjelaskan pada Listine supaya kenyataan bahwa Angel tak menyukai minuman yang dibawakan Listine itu tidak menyakiti hati Listine.
“Ya ampun, maafkan aku, Angel. Aku tidak tau sama sekali,”
“Iya tidak apa-apa, aku hanya mencobanya dua kali teguk. Pertama untuk kenal rasanya, kedua untuk memastikan pendapat lidahku ini benar atau tidak, dan ternyata memang benar, minuman itu tidak sesuai dengan seleraku,” ucap Angel seraya tertawa.
“Maaf ya, Angel. Aku benar-benar tidak tahu soal itu,”
“Iya tidak apa-apa, Listine. Aku paham kalau kamu itu tidak sengaja mengambilkan minuman ini, dan lagipula kamu juga tidak tau tentang selera minumanku,”
“Ean, Listine ini teman kerjaku dan dia baik sekali,”
Andrean menganggukkan kepala menanggapi penjelasan istrinya. Seperti biasa Andrean akan menjadi mode dingin kecuali dengan Angel.
Sedikit dingin kalau dengan keluarga dan orang-orang terdekat. Tapi kalau dengan orang asing benar-benar tinggi kadar dinginnya.
“Bagaimana Angel di kafe?” Sekalinya mengeluarkan suara, yang Andrean bahas adalah istrinya sendiri. Jujur Andrean penasaran dengan bagaimana sosok Angel di mata teman kerjanya.
“Wow dia pribadi yang menyenangkan, Andrean. Rajin, sopan, tidak perhitungan soal tenaga. Jadi apapun pekerjaan yang ada di depan mata maka akan dia selesaikan, tidak mengandalkan teman-temannya. Dimintai tolong juga tidak pernah menolak. Intinya Angel itu mau dibuat sibuk, alias tidak mau hanya santai-santai saja. Aku rasa semua teman-teman yang bekerja dengan Angel sependapat dengan aku,”
Kepala Andrean mengangguk, ternyata Angel bukan hanya menjadi istri, anak, menantu yang baik saja, tapi menjadi teman yang baik juga.
“Hai,”
“Eh kamu, Adera. Ayo gabung di sini,”
Angel langsung mempersilahkan Adera untuk bergabung. Angel senang temannya untuk mengobrol jadi bertambah.
“Halo, Andrean,”
Andrean mengangguk singkat membalas sapa Adera. Andrean lihat istrinya masih nyaman di tempat berlangsungnya acara ulang tahun Gaby. Apalagi Angel jarang punya waktu bersama teman-temannya di luar jam kerja, jadi Ia bebaskan Angel untuk mengobrol bersama mereka walaupun bagi Andrean lebih nyaman di rumah. Tapi Andrean tidak mungkin egois membawa Angel pulang disaat Angel lagi senang bisa berkumpul dengan temannya. Ini momen yang langka bagi Angel mengingat Angel adalah perempuan yang lebih senangnya di rumah. Jadi setiap habis bekerja ataupun kuliah, Angel terbiasa langsung pulang. Kecuali kalau memang ada keperluan yang benar-benar memaksanya untuk memiliki tujuan selain rumah usai bekerja atau kuliah.
“Menurutmu Angel bagaimana? Tadi aku sudah ditanya oleh suaminya Angel. Aku juga sudah jawab, kamu belum jawab,” tanya Listine pada Adera yang baru bergabung.
“Angel ya? Hmm…intinya dia perempuan yang hebat. Kalau aku sudah bilang hebat, berarti itu sudah menggambarkan semua sisi positif yang Angel punya ya, baik itu pekerja keras, enak diajak kerja sama, sopan, tidak suka marah-marah, beda dengan kakaknya itu,”
Adera langsung menghentikan ucapannya setelah sadar kalau Ia telah membuat suasana menjadi beda hawanya.
__ADS_1
“Astaga, aku jadi kelepasan, maaf Angel aku tidak bermaksud untuk menjelekkan kakakmu tapi apa yang aku liat memang benar ‘kan? Dia kasar, tidak seperti kamu. Kenapa ya kalian berdua begitu terlihat perbedaannya dalam hal karakter. Aku bisa menilai walaupun cuma beberapa kali saja bertemu dengan kakakmu kalau kebetulan dia mendatangi kamu di kafe untuk marah-marah,”