Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 39


__ADS_3

Sesuai janjinya sebelum menikahi Angel, Andrean sudah berjanji untuk memberikan kebahagiaan dan juga perlindungan bagi Istrinya.


Salah satu hal yang Ia lakukan demi menjaga Angel sekalipun mereka tidak dalam lokasi yang berdekatan adalah, Ia sengaja mengaktifkan lokasi keberadaan Angel lalu disambungkan ke ponsel pintarnya. Sehingga Ia bisa memantau keberadaan istrinya dan bila Ia menemukan ancaman yang bisa saja terjadi pada Istrinya, tidak perlu waktu lama Ia bisa menghampiri Angel.


Kening Andrean mengerinyit saat melihat lokasi terkini Angel. Sudah dua kafe yang Ia datangi dan itu berbeda-beda. Lokasinya pun cukup berjauhan. Apa sebenarnya tujuan Angel ke dua kafe itu? Tadi pagi Angel izin padanya untuk kembali bekerja di restoran.


Daripada sibuk membuat praduga, Ia segera menghubungi Angel. Panggilan pertama tidak mendapat jawaban. Panggilan kedua barulah suara Angel menyapa telinganya.


"Hallo, Andrean,"


"Kamu ada dimana sekarang?"


Angel menatap papan nama kafe yang berada di tempatnya duduk sekarang. Ia segera menjawab nama kafe itu.


"Katanya kamu akan kembali bekerja di restoran?"


"Iya, tapi ternyata aku tidak diterima lagi. Restoran sudah ada pengganti,"


Andrean mengusap wajahnya kasar. Lalu untuk apa istrinya ke tempat-tempat lain? Mungkin dengan tidak diterimanya Ia di restoran itu lagi, Tuhan memang tidak mengizinkan Ia untuk bekerja.


"Kenapa kamu tidak pulang?"


"Aku masih mencari peluang lain, Andrean,"

__ADS_1


Andrean menggeleng pelan tanpa sadar. Angel yang gigih, hampir Ia lupakan. Tentu tidak semudah itu Angel menyerah.


"Bisa dicari lain waktu. Melalui website nanti,"


"Semalam aku sudah mencari di website dan ada dua kafe yang mencari barista. Tapi ternyata sekarang kedua kafe itu tidak lagi mencari barista. Iklan nya lupa mereka take down,"


"Astaga,"


Terdengar Angel yang terkekeh di seberang sana. Ia lelah namun tak ingin suaminya tahu. Berusaha senang mencari apa yang Ia inginkan, agar Andrean tidak menarik izinnya.


"Pulang sekarang. Sebentar lagi aku pulang,"


"Iya, aku akan pulang,"


Andrean memutus sambungan telepon mereka. Ia menghembuskan napas kasar. "Kenapa kamu terlalu memaksa begini, Angel? Apa benar alasannya hanya ingin sibuk? Bukan karena hal lain?" Gumam Andrean menyatukan kelima jarinya dan meletakkannya di bawah dagu. Ia tak habis pikir dengan istrinya.


*****


"Mommy, aku kesal dengan Andrean!"


Begitu panggilan Auristella dijawabnya, Auristella langsung merengek kesal padanya.


Lovi bingung me dapati anaknya yang merajuk tiba-tiba tanpa Ia tahu penyebabnya.

__ADS_1


"Kenapa, Sayang?"


"Aku hanya minta ditemani ke bookstore pulang kuliah. Tapi Andrean jawab Ia harus menjemput Angel dulu baru antar aku. Hiiihh Ean menyebalkan,"


"Angel mungkin sudah menunggu sejak tadi, Auris. Makanya Andrean harus jemput Angel dulu barulah menuruti keinginan kamu. Jangan marah-marah begitu,"


"Iya, memang. Tapi 'kan sejak kapan aku jadi nomor dua?"


Lovi memijat pelan keningnya. Ia menggeleng pelan, membayangkan betapa suramnya wajah Auristella saat ini.


"Sayang, maksud Andrean bukan menomor duakan kamu. Tapi dia mementingkan yang sudah butuh dirinya dulu,"


"Angel bisa naik angkutan umum. Lagipula dia juga terbiasa d ngan itu,"


"Sekarang Angel sudah memiliki suami. Tentu saja Andrean tidak akan membiarkan Angel menaiki itu lagi selagi Ia bisa mengantar atau menjemput Angel,"


"Huh, Mommy malah membela Ean,"


Tut


Tut


Tut

__ADS_1


Mata Lovi membola. Auristella menyelesaikan panggilan tanpa mengucap kalimat manis terlebih dahulu seperti biasanya.


__ADS_2