Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 21


__ADS_3

Adrian ada pekerjaan hari ini yaitu syuting untuk keperluan iklan. Dan managernya sudah mengingatkan sejak semalam agar Adrian tidak lupa dengan jadwal syutingnya pagi ini. Ia tidak ingin terlambat, oleh sebab itu Ia berpesan pada Mommynya agar dibangunkan pagi-pagi sekali.


Lovi membuka matanya ketika waktu menunjukkan pukul empat pagi. Ia mengikat asal rambutnya lalu beranjak ke kamar mandi untuk menggunakan skincare paginya. Merawat anak dan suami perlu. Merawat diri juga mengingat usianya tak bisa dibilang muda lagi. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan untuk menyenangkan suaminya. Tak lupa, Ia menyikat giginya juga.


Setelah itu, Ia bergegas ke dapur untuk memasak dibantu dengan maid seperti biasa.


Terkadang maid belum bangun, Ia bangun lebih dulu tapi Ia tak pernah mempermasalahkan hal itu.


"Tidak seperti kemarin, hari ini kami bangun lebih pagi ya, Nona,"


Lovi terkekeh begitu disambut oleh para maid nya di dapur. Maid hanya sekedar membantu Lovi sementara yang memiliki ide untuk setiap masakan yang akan dibuat adalah Lovi.


"Aku ingin sekalian membuat makan siang juga. Karena nanti aku ingin pergi,"


"Baik, Nona,"


"Ke butik ya, Nona?" Tanya maid yang lain, Lovi segera mengangguk.


Walaupun sudah tidak lagi muda, Ia tetap aktif berkegiatan walaupun tidak sepadat saat masih muda dulu. Mengecek butik masih sering Ia lakukan dan sesekali juga akan datang ke kafenya yang dikelola oleh Mamanya, Senata, sebab sang Papa, Lucas sudah berpulang karena penyakitnya yang sudah komplikasi.


******


Ditengah-tengah kegiatan memasaknya, Lovi bergegas ke kamar putra keduanya yang minta dibangunkan pagi-pagi.


Ia menginjak lantai dua yang masih sunyi karena anak-anaknya masih terlelap. Kakinya mendekati pintu yang berada ditengah kedua pintu lainnya yaitu kamar Andrean dan juga Auristella.


Lovi mulai mengetuk pintu kamar Adrian. Begitu Ia menarik tuas pintu, rupanya tidak dikunci.


Akhirnya Ia memutuskan untuk masuk. Ia melihat Adrian yang duduk di ranjangnya dengan wajah kusut dan rambut acak-acakan khas bangun tidur.


"Bangun, Sayang,"


"Ini sudah bangun, Mom,"


"Tumben kamu bangun tanpa dibangunkan,"


"Aku pasang alarm semalam,"


"Dan biasanya, kamu jarang sekali memedulikan alarm,"


Adrian terkekeh tak menampik bahwa selama ini Ia memang tetap harus ada yang membangunkan sekalipun ada alarm.


"Lagi mau bangun sendiri, Mom. Aku tidak mau  mendengar teriakan Auris pagi-pagi,"


Kalau Lovi tidak mempan, maka Auristella yang akan turun tangan membangunkan kakaknya.

__ADS_1


Lovi terkekeh kemudian Ia beranjak ke stand hanger untuk mengambil handuk. Ia memberikan itu pada sang putra.


"Oh iya, minum dulu," ujar Lovi sembari menyerahkan mug berisi air putih yang berada di nakas pada anaknya.


"Terimakasih, Mom,"


Tiga tegukan air yang Ia minum untuk membasahi tenggorokannya. Ia menyugar rambutnya ke belakang lalu beranjak ke kamar mandi.


"Mommy tunggu di meja makan ya,"


Adrian mengangguk sebelum kakinya masuk ke kamar mandi," Iya, Mom." Kemudian dirinya hilang dibalik pintu berwarna hitam itu.


Sementara anaknya mandi, Lovi kembali ke dapur untuk melanjutkan masaknya yang sebentar lagi selesai.


*****


Angel berjalan menuju pintu rumahnya usai diketuk kasar oleh seseorang yang sudah Ia duga adalah ayahnya yang baru pulang.


Pukul setengah enam pagi, Ia sudah selesai merampungkan pekerjaan rumah, dan kini sedang bersiap untuk bekerja.


Ia mendapati ayahnya yang mabuk. Angel menghembuskan napas seraya menggeleng pelan. Ia menoleh ke ayahnya yang kini duduk bersandar di sofa. Kemudian gadis itu menutup pintu.


Angel sudah lelah memberi tahu ayahnya agar tidak menyakiti diri sendiri dengan tidak menenggak alkohol. Akhirnya Ia memilih untuk kembali ke kamarnya, melanjutkan persiapannya sebelum berangkat ke restoran.


Tapi sebelum itu, Ia bergegas ke dapur dulu untuk mengambilkan air minum buat ayahnya.


Geno yang setengah sadar hanya mengangguk lalu mengusir Angel agar menjauh darinya.


Angel juga tidak akan nyaman berada di dekat ayahnya. Jadi tanpa diusir pun Ia akan ke kamar. Ia tidak suka aroma menyengat yang dibawa oleh tubuh ayahnya. Entah berapa banyak yang diminum oleh sang ayah. 


Saat Angel akan berangkat kerja, kakaknya baru bangun dan keluar dari kamar. Angel akan bergegas ke dapur mengambil minum namun suara kakaknya menahan langkahnya itu.


"Ayah belum datang?"


"Sudah, Kak,"


Angel menunjuk ayahnya yang kini membaringkan diri di sofa hingga Gesty tak menyadari keberadaannya.


Gesty segera mendekati Geno lalu berdecak melihat ayahnya. "Berapa banyak yang diminum semalaman, Ayah?"


"Tidak terhitung," racau Geno yang membuat Gesty terkekeh.


Usai mengambil air minum untuk dibawanya ke restoran, Angel pamit pada ayah dan kakaknya.


Tanpa sarapan, Ia bekerja. Tidak masalah, karena sudah sering seperti itu. Yang terpenting Ia sudah menyiapkan sarapan untuk ayahnya, dan semua pekerjaan rumah telah Ia selesaikan sehingga Ia meninggalkan rumah dalam kondisi rapi.

__ADS_1


Angel ke restoran menggunakan kendaraan umum yang menjadi fasilitas negara agar tidak terjadi kepadatan.


Walaupun kendaraan umum, tapi Angel bersyukur karena pihak transportasi memikirkan kenyamanan untuk masyarakat. Sepertinya kalaupun Angel punya kendaraan pribadi, Ia akan tetap memilih menggunakan kendaraan umum karena Ia merasa sangat nyaman.


Angel terkekeh geli dalam hati sembari menggeleng pelan. "Aku ini berkhayal terlalu tinggi. Tidak mungkin aku punya kendaraan pribadi. Makan saja harus kerja keras dulu,"


Bicara kendaraan, kebetulan saat ini Angel tengah membaca novel dimana tokoh utamanya merupakan sepasang suami istri yang memiliki kendaraan pribadi yang tidak main-main yaitu private jet.


Ia bisa duduk tenang di dalam kendaraan umum yang berupa bus itu. Kemudian sambil menunggu bus berhenti di lokasi tujuannya, Ia memilih untuk membaca novel yang dipinjamkan teman kerjanya kemarin.


******


Style kedua Adrian untuk pemotretan iklan kali ini tidak pernah Ia pakai sebelumnya.


Adrian mengenakan jumpsuit dan bucket hat. Entah kenapa Ia geli melihat penampilannya sendiri di cermin.


"Aku terlihat sangat imut ya, Sam," ujarnya dengan tawa pada asistennya.


Sam yang sedang mengeluarkan kaus kaki dan sepatu Adrian dari tempat khusus pun menoleh, memperhatikan Adrian dari atas hingga bawah.


"Iya, biasanya kau menggunakan baju yang santai dan tidak terlihat nerd seperti ini,"


"Memang aku terlihat nerd?"


"Menurutku iya,"


"Ah sialan! Selain imut, aku juga terlihat nerd? Kalau Auristella ada di sini, bisa habis pipiku dicubitinya,"


Sam terbahak mendengar ucapan Adrian. Adrian terlihat tidak sepenuhnya menerima stylenya kali ini. Tapi mau bagaimana lagi? Pihak brand parfum yang telah mengontraknya memang sudah menyiapkan konsep pemotretan seperti ini.


Parfum keluaran brand itu memiliki dua varian dan tentunya disetiap varian itu akan menampilkan style yang sesuai.


Tadi, Adrian sudah mengenakan wardrobe formal yang biasa dipakai untuk hadir ke pesta. Style nya seperti itu karena akan berfoto bersama parfum varian classic yang wanginya diklaim sangat cocok untuk hadir ke acara-acara formal.


Sekarang, Ia akan berfoto dengan parfum varian boyfriend yang diklaim sangat cocok untuk dipakai sehari-hari.


"Sebentar, aku foto dulu,"


"Ck! Untuk apa, Sam? Aku merasa aneh dengan baju ini,"


Biasanya Adrian memakai celana cargo yang panjangnya hanya sebatas lutus, atau jeans dengan kaus sebagai atasan. Sekarang dengan penampilan seperti ini jelas saja membuatnya kurang percaya diri untuk difoto. Padahal Ia tetap terlihat tampan.


"Akan aku kirim fotonya ke Mommy mu,"


"Sialan! Maksud mu untuk apa? Pasti Mommy akan menertawakan aku yang terlihat cute ini,"

__ADS_1


Sam lagi-lagi meledakkan tawanya. Ada apa sebenarnya dengan Adrian? Sepertinya Adrian merasa baju itu kurang serasi dengan karakternya yang ceria tapi tetap cool. Dia 'kan tidak ada sisi cute nya sama sekali.


__ADS_2