Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 37


__ADS_3

Angel panik luar biasa saat suaminya merasa bahwa semua yang Ia berikan baik itu debit maupun kartu kredit kurang untuknya. Kenyataannya tidak seperti itu. Bahkan apa yang diberikan Andrean belum Ia pakai, karena Ia terlalu bingung harus memakainya untuk apa dan Ia merasa tidak berhak padahal saat Andrean memberikannya, berulang kali lelaki itu menegaskan bahwa Angel adalah tanggung jawabnya dan apa yang Ia berikan sudah seharusnya Angel gunakan.


Lagipula Ia menjadi istri Andrean baru empat hari. Tidak mungkin secepat itu menghadirkan rasa berhak untuk menggunakan tanpa berusaha terlebih dahulu sementara selama ini Ia terbiasa bekerja.


Andrean rasa semua pembahasan sudah cukup. Akhirnya Ia kembali menyibukkan diri.


"Jadi mulai kapan kamu bekerja lagi?"


"Hmm besok," Angel menjawab dengan sedikit ragu. Apa restoran masih menerimanya sementara Ia sudah mengajukan pengunduran diri.


Andrean mengangguk paham. Setelah itu tidak berkata apapun lagi. Ia berkutat dengan bukunya tanpa membuka laptop lagi.


Angel merasa bosan hanya diam. Kalau Ia mengajak suaminya bicara, pasti akan mengganggu.


"Mau aku buatkan teh?"


Andrean mengangguk, "Iya, boleh,"


Ia butuh itu sekarang untuk mengusir penat sekaligus rasa kesalnya atas sikap Angel yang labil. Jujur Ia kesal. Tapi Ia tak terbiasa menampilkan rasa kesalnya secara terang-terangan.


"Mau makan apa?"


"Aku sudah makan tadi. Kamu masak sarapan saja. Tidak usah masak makan malam juga. Apalagi kalau sudah mulai bekerja, pasti kamu akan sangat kelelahan,"


Hati Angel menghangat mendengar suaminya bicara seperti itu. Ini kebahagiaan yang Ia maksud tadi. Ia merasa sangat dihargai. Ia tidak pernah diperhatikan seperti ini oleh ayah atau kakaknya.


"Iya, kalau begitu aku buatkan teh untukmu dulu. Kamu tidak ingin makan sesuatu? Makanan ringan maksudku,"


"Apa saja yang ada, bawa ke sini,"

__ADS_1


"Baiklah, sebentar ya,"


Sebelum menikah biasanya Andrean akan meminta bantuan pada maid bila membutuhkan bantuan atau kalau masih bisa Ia lakukan sendiri, maka Ia tidak perlu maid.


Tapi sekarang ada Angel yang dengan peka dan suka rela menawarkan bantuan untuk memenuhi semua keinginannya juga keperluannya.


******


"Hai, Angel,"


"Hai, Auris. Sudah lama datang nya?"


"Iya, lumayan,"


Saat Angel memasuki dapur, Ia terkejut mendapati Adrina dan Lovi di sana dan tengah berkutat dengan kegiatan mereka membuat cake.


"Iya, seawed cake. Ini salah satu cake yang Andrean suka juga. Kamu pasti suka. Sebentar lagi hampir jadi. Nanti cicipi ya,"


Angel mengangguk antusias saat Lovi berkata demikian. Apapun yang dibuat Lovi pasti lezat, Ia yakin itu.


"Adrina ingin belajar buat cake ini, Angel. Karena Mommy nya suka dan hari ini ulang tahun. Jadi cake ini untuk kejutan. Benar begitu, Adrina?"


"Benar sekali," Sahut Adrina seraya terkekeh.


Angel bergegas membuat teh untuk sang suami. "Untuk suami mu ya?"


Adrina bertanya dengan nada jahilnya. Angel tersipu kemudian mengangguk.


"Ah jadi ingin menikah juga,"

__ADS_1


Angel terkekeh mendengar Adrina bergumam seperti itu. Entah hanya bercanda atau memang Ia serius mengatakannya.


"Menikah supaya tahu bagaimana rasanya bisa melayani semua keperluan suami. Itu semua menyenangkan, Adrina,"


"Hmmm nanti dulu, Aunty. Aku belum siap,"


"Kamu labil ternyata,"


Angel mendengarkan Lovi dan Adrina yang bicara berdua kemudian tertawa bersama. Adrina memang sosok yang menyenangkan. Ia sama seperti Adrian sebenarnya. Sehingga tidak perlu waktu lama untuk membuat orang lain nyaman ketika berinteraksi dengannya.


"Tunggu cake nya matang, Angel. Nanti kamu bawa ke kamar sekalian dengan cake nya,"


"Baik, Mom,"


Angel memutuskan untuk tidak menyangka air panas ke dalam mug suaminya yang sudah Ia isi dengan teh dan gula. Kalau Ia tuang sekarang, mungkin teh nya akan dingin ketika diminum Andrean sebab Ia diminta menunggu cake buatan Lovi dan Adrina jadi dulu.


"Kamu bisa buat ini, Angel?"


"Tidak, mana bisa aku sehebat itu?"


"Ah kamu," Adrina jengkel saat Angel bicara seperti itu. Apa bedanya Ia dengan Angel. Ia juga tidak bisa, makanya sekarang belajar pada Lovi yang sering memberikan Mommynya cake itu sehingga sang Mommy sangat menyukainya.


"Mommy yang merasa kerdil. Masakan mu itu luar biasa,"


"Lain kali aku harus coba,"


"Harus, Adrina! Pasti kamu akan suka,"


Angel tersenyum menggeleng. Lovi mengangkatnya begitu tinggi. Lagi-lagi Ia diperlakukan berbeda dari yang biasanya. Lovi, wanita yang sudah menjadi Ibunya juga, berhasil membuat Angel kembali merasakan yang namanya di cintai begitu besar.

__ADS_1


__ADS_2