
Andrean terkejut ketika melihat ada Adrina di ruang tamu. Adrina pun terkejut karena tiba-tiba ada yang datang, ketika Ia sedang sibuk dengan ponsel.
“Adrian, kenapa sendirian di sini? Mau menemui Ian?” Tanya Andrean pada sahabat masa kecilnya yang cenderung lebih dekat dengan adiknya itu.
“Iya, tapi Ian belum datang. Kira-kira dia dimana ya?”
“Sudah coba menghubungi Ian?” Tanya Andrean sambil duduk di salah satu sofa yang berhadapan dengan Adrina.
“Iya sudah tapi tidak dijawab,”
“Coba aku yang menghubunginya,” ujar Andrean singkat sambil meraih ponselnya di saku.
Andrean mencari kontak adik keduanya itu laku segera menghubungi dan di dering pertana langsung dijawab oleh Adrian. Kening Andrean mengernyit.
Adrina bilang, ketika dirinya menghubungi Adrian, tidak ada jawaban. Tapi berbeda dnegannya yang langsung dijawab oleh Adrian.
“Halo, Ean,”
“Kamu dimana?”
“Jalan menuju rumah,”
“Okay, ada menunggumu,”
“Siapa?”
“Nanti kamu tau sendiri. Langsung ke rumah ya,”
“Ya semoga saja Auris tidak minta singgah-singgah dulu ke minimarket untuk beli makanan,”
“Hati-hati, secepatnya sampai rumah,” pesan Andrean setelah itu Ia mengakhiri sambungan telepon.
Angel turun ke lantai bawah hendak mengambil air minum, dan juga mengambil cokelat di kulkas. Tidak sengaja Ia mendnegar suara suaminya bicara di ruang tamu, Ia langsung menghampiri dan ternyata suaminya sedang bersama Adrina.
Angel mengamati mereka dalam diam, lalu memilih untuk pergi ke dapur dengan perasana tidak menentu.
“Biasanya Andrean akan langsung datang ke kamar menemui aku kalau sudah pulang bekerja. Ini kenapa malah diam dulu di ruang tamu? Bersama Adrina juga. Memang Ian kemana? Kenapa Adrina malah bicara dengan Ean? Bukannya selama ini lebih banyak mengonrol dnegan Ian ya?”
Kenyataan kalau Adrina pernah menyimpan perasaan untuk Andrean, sebenarnya masih mengusik pikiran Adrina walaupun Adrina sendiri sudah menegaskan perasaan itu tidak ada lagi, Adrina sekarang murni menganggap Andrean sahabatnya, bahkan Adrian juga mengatakan demikian yang tujuannya untuk membuat Ia yakin.
Tapi tetap saja ketika melihat Andrean ada interaksi dengan Adrina, seperti saat ini memgonrol hanya berdua, rasa cemburu di hari Angel selalu datang walaupun Ia percaya Andrean mencintainya dan Andrean tidak akan berpaling. Kalau memang yang diinginkan Andrean adalah Adrina, seharusnya jauh sebelum menikahinya, Andrean sudah memilih Adrina mengingat mereka sudah kenal sejak kecil, bahkan orangtua mereka sangatlah dekat. Tapi kenyataannya Andrean menikahinya, meskipum tidak bisa dielak kenyataan bahwa Andrean menikahinya karena keinginan Lovi dan Devan juga, bukan murni dari Andrean. Tapi Andrean bisa mencintainya walaupun menikah karena keinginan orangtua.
Angel sudah mengambil air minum dan juga cokelat, setelah itu Ia akan kembali ke kamar, namun mendengar tawa Adrina, Angel mendengus dan kakinya malah berputar ke ruang tamu. Ia mengamati Adrina dan Andrean dalam diam. Adrina sedang bercerita tentang kesalnya Adrian akunat tak jadi pulang dengannya dan itulah alasan Adrina datang karena ingin meminta maaf. Angel lihat duaminya hanya mendengarkan saja, sementara yang banyak bicara Adrina.
“Aku tidak mau dia marah, tapi kalau dia marah lucu juga kalau dipikir-pikir,”
Angel memghembuskan napas kasar. Cukup sampai di situ saja yang ingin Ia dengar, Ia tidak mau terlalu lama mendengar obrolan mereka, apalagi melihat kebersamaan mereka. Ia akan memutar badannya menuju tangga namun Ia dikejutkan oleh Lovi.
“Astaga, Mommy aku kaget,”
Lovi terkekeh sambil mengusap kedua bahunya “Mommy minta maaf ya, Sayang,”
“Iya tidak apa, Mom,”
“Kamu sedang apa dibalik dinding? Memperhatikan Andrean dan Adrina? Kenapa tidak gabung saja?”
Tebakan Lovi telat. Jelas saja tepat seratus persen karena Angel berdiri di balik dinding, dan sebelumnya menghadap ke ruang tamu yang dimana ada Andrean juga Adrina di sana.
“Tidak, Mom. Aku mau ke kamar makan cokelat. Tadi penasaran saja siapa yang datang dan ternyata Adrina,”
“Oh begitu ya sudah makan lah cokelatnya,”
Angel tersenyum dan setelah itu berlalu meninggalkan Lovi untuk kembali ke kamar, berusaha abai dengan apa yang Ia lihat barusan. Ia harus selalu mengingatkan dirinya sendiri abwha Andrean itu miliknya, dan hubungan antara Andrean juga Adrina hanya sebatas sahabat, tidak lebih. Dulu pikiran positif itu selalu tertanam, tapi setelah tahu Adrina pernah menyukai Andrean, Angel mulai sulit untuk mengendalikan pikiran negatifnya sendiri.
“Angel stop! Adrina sudah tidak menyukai suamimu lagi, jangan berpikir yang tidak-tidak! Apa ini karena kamu sedang hamil juga ya jadi rasa takut kalau m.likmu diambil itu semakin besar!”
Angel memijat pelipisnya setelah itu berjalan ke balkon kamarnya. Supaya pikiran dan hati tenang ada baiknya Ia diam dulu di sana. Melihat langit, dan diterpa dengan udara sore hari.
******
“Nah itu Ian. Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga,”
Adrian melirik Adrina dengan sinis, wajahnya juga tidak ramah. Auristella menyapa Adrina singkat setelah itu bergegas ke kamar.
“Oh jadi Adrina yang menunggu aku, Ean?” Tanya Adrian pada kamaknya yang langsung mengangguk.
“Makanya aku menyuruh kamu untuk langsung pulang, supaya cepat sampai rumah karena Adrina menunggu kamu,”
__ADS_1
Setelah bicara sepeeti itu Andrean meninggalkan ruang tamu, begitupun Lovi. Adrina dan Adrian perlu diberikan waktu untuk berbicara.
Setelah tak ada siapa-siap lagi selain Adrina dan Adrian, barulah Adrina memulai pembicaraan.
“Aku mau minta maaf, Ian. Aku benar-benar lupa kalau kamu itu menjemput aku, dan aku juga lupa memberitahu kalau aku sudah sampai di rumah. Tolong maafkan aku ya?”
“Ada usaha juga ya untuk meminta maaf ladaku? Sudah berapa lama menunggu di sini?”
“Sejak tadi, aku semoat menunggu di luar tadi,”
“Ya salahmu semdiri kenapa tidak masuk ke dalam,”
“Aku diajak masuk oleh Uncle Devan, sebelumnya sudah dipersilahkan masuk oleh penjaga tapi aku tetap mau di luar karena lebih cepat bertemu kamu kalau kamu sudah pulang. Tapi berhubung aku sungkan membantah Uncle Devan, jadi aku menunggu di ruang tamu,”
“Aku maafkan,” ujar Adrian dnegan singkat dan jelas.
“Hanya begitu tanggapan kamu?”
“Iya kamu mau aku bagaimana? Aku memaafkan kamu, memang itu masih kurang ya? Bukankah itu yang ingin kamu dnegar dari mulut aku, Drina?”
Adrina berdecak pelan sambil menggaruk pelipisnya bingung. Ia memang ingin mendnegar dari mulut Adrian langaung kalau Adrian sudah memafkannya tapi dari raut wajah Adrian saja kelihatan sekali kalau Adrian belum benar-benar memaafkan dirinya.
“Kamu maish marah ya?”
“Aku thanyankecewa. Aku sia-sia menunggu kamu di area parkir satu jam lebih, Adrina. Dan aku ingat, ini bukan pertama kalinya kamu begini. Sebelumnya sudah pernah. Ya memang kamu tidak minta dijemput, tapi apa salahnya ‘kan mengabari aku kalau memang sudah smapai dir unah jadi aku tidak buang-buang waktu. Kamu tau aku mudah bosan, apalagi cuma dia saja do dalam mobil,”
“Ya harusnya kamu jalan-jalan saja sambil menunggu aku pulang,”
“Okay kalau misalnya aku jalan-jalan, setelahnya aku pasti merasa lelah, lalu dapat kabar kalau kamu lupa dijemput aku. Itu semakin menyebalkan lagi,”
Adrina membuang napas kasar. Kemudian Ia menangkup kedua tangannya meminta maaf pada sahabatnya itu yang sering menyebut bahwa mereka berdua adalah ‘kembaran beda rahim’ karena memiliki nama yang hampir serupa.
“Maafkan aku, Ian,”
“Iya aku maafkan, Adrina,”
“Tapi kanu masih kelihatan kesal. Kamu tidak tlus memaafkan aku ya?”
“Aku harus apa sih?”
“Ya minimal senyum lah. Itu paking minimal,”
“Kamu mengusili aku, buat aku kesal,”
“Aku saja lagi kesal, terlalu malas untuk buat orang lain juga kesal,”
“Berarti kamu masih kesal ya?”
“Lumayan, tapi aku sudah memaafkan kamu. Karena alasan kamu lupa,”
“Oya aku benar-benar lupa dan wajar ‘kan kalau manusia itu lupa,”
“Nah itu yang aku sayangkan, kenapa manusia harus sering lupa?”
“Ya memang dari sananya sudah diciptakan begitu, Ian. Itulah sebabnya banyak orang terlambat datang ke kampus, tidak bawa keperluan yang harusnya dibawa, tidak sempat naik pesawat, dan macam-macam. Gunanya manusia jadi lupa ya biar ada cobaan hidup mungkin,”
“Hahahahaha tidak lucu,”
Adrian tertawa, dia benar-benar tertawa karena ucapan Adrina tapi anehnya malah berkata ‘tidak lucu’ dan itu membuat Adrina kesal.
“Ya kalau tidak lucu kenapa kamu malah tertawa?! Hah?!”
“Ya memangnya salah kalau aku tertawa? Hmm?”
“Ya salah! Harusnya kalau tidak lucu, kamu tidak perlu tertawa,”
“Ya sukasuka aku lah. Mulut siapa yang tertawa?”
“Kamu,”
“Lalu kenapa kamu kesal kalau aku tertawa?”
*****
“Ya karena kamu bilang ucapanku barusan itu tidak lucu, tapi kenyataannya kamu tertawa. Berarti aku berhasil menghibur kamu, seharusnya. Iya ‘kan?”
“Sudahlah kita sudahi saja obrolan tidak penting ini. Aku mau istirahat, kamu juga harus istriahat karena pasti lelah ‘kan menunggu aku datang?”
__ADS_1
“Jadi kamu memaafkan aku atau tidak?”
“Tentu, aku sudah jawab tadi, Drina. Aku memaafkan kamu. Tidak dnegar atau tidak paham sih sebenarnya?”
“Ya sudah jangan kesal, aku ‘kan hanya ingin memastikan,”
“Sudah aku tegaskan kalau aku sudah memaafkan kamu, Drina,”
“Ya sudah kalau begitu aku pulang ya,”
“Iya hati-hati,”
“Hati-hati? Memang rumah kita jauh?”
“Ya memang pesan hati-hati itu untuk yang rumahnya jauh-jauh saja?”
“Tidak juga, okay aku pulang dulu ya, jangan marah lagi ya, Ian,”
“Ya,”
Adrian ikut beranjak meninggalkan sofa mengantarkan Adrina sampai keluar dari rumahnya. Setelah itu barulah Ia bergegas ke kamarnya untuk membersihkan badan sekaligus istirahat.
******
Andrean bingung ketika tidak mendapati Angel yang biasanya ada di atas tempat tidur atau sofa kamar.
Lalu mata Andrean mengarah pintu balkon yang terbuka. Ia yakin istrinya berada di sana. Dan begitu Ia mendekat ke arah balkon, ternyata benar Angel sedang menyendiri di balkon.
Andrean langsung berjalan mendekati istrinya yang ternyata sedang menikmati cokelat. Andrean berdiri telat di sebelah Angel.
“Kenapa di sini, Ngel?”
“Eh Astaga,”
Angel terkejut mendapati keberadaan suaminya yang tiba-tiba. Andrean terkekeh dan merangkul pinggang istrinya dari samping.
“Maaf, aku membuat kamu kaget ya?”
“Iya, tapi tidak apa. Kamu sudah pulang ternyata,”
“Sudah sejak beberapa menit lalu sebenarnya. Tapi aku baru ke kamar karena tadi bicara dulu sebnetar dengan Adrina. Dia datang ke sini ingin meminta maaf pada Ian yang menjemputnya di kampus tapi dia malah pulang bersama teman-temannya karena Ia lupa,” Andrean menjelaskan supaya Angel tahu kalau sebenarnya Ia bukannya baru pulang.
“Ya sudah kamu mandi dulu, nanti kita duduk di sini berdua ya,” ujar Nagel seraya menunjuk dua buah kursi yang berhadapan.
“Memang kenapa? Ada yang mau kamu bicarakan?”
Andrean merasa penasaran dengan alasan istrinya yang ingin Ia duduk di balkon nanti setelah mandi.
“Ya tidak apa-apa, aku hanya ingin kamu duduk aaja di sini,”
“Tidak ada yang mau kamu bicarakan?”
Angel menggelengkan kepala. Andrean menghela napas kecewa. Ia pikir istrinya akan menjelaskan perihal yang ada di foto itu. Tapi ternyata tidak. Angel sepertinya hanya ingin mereka menghabiskan waktu berdua saja di balkon. Andrean akan dnegan senang hati menengarkan penjelasan Angel sebelum Ia yang bertanya.
“Ya sudah kalau begitu aku mandi dulu ya,”
Andrean bergegas ke kamar mandi meninggalkan Angel sendirian di balkon. Di dalam kamar mandi, Andrean sedang berusaha untuk mengendalikan dirinya sendiri. Sejak masuk ke dalam kamar sebenarnya rasa kesal di dadanya meletup-letup apalagi setelah beradu tatap dengan Angel barusan. Tapi Ia berusaha untuk menutupinya dengan sikap dewasa.
Alih-alih langsung melampiaskan emosi, Andrean akan berusaha untuk tetap tenang walaupun cemburu membakarnya. Ia akan cari waktu yang telat, tapi yang jelas secepatnya, untuk meminta penjelasan Angel tentang foto yang dikirimkan kepadanya itu. Dan Ia berharap Angel jujur, tidak menutupi apapun darinya.
Andrean tidak pernah lama kalau mandi. Tidak sampai sepuluh menit biasanya Ia sudah keluar dengan badan segar dan bersihnya. Setelah mengenakan pakaian, Ia langsung menyisir rambutnya yang masih basah, kemudian Ia bergegas ke balkon.
Angel sudah duduk, tidak berdiri lagi. Ia melewati Angel sambil mengusap puncak kepalanya.
“Cepat ya mandinya,”
“Iya, selalu cepat ‘kan?”
“Karena tidak sabar juga mau duduk berdua denganku di sini ya?” Tanya Angel sambil meraih tangannya dan Ia genggam lembut. Andrean untuk tersenyum getir. Angel yang Ia cintai dnegan begitu besar, yang Ia perlakukan sangat baik seperti Ia memperlakukan sebuah barang berharga, apa mungkin selingkuh lalu pura-pura romantis seperti ini di depannya? Andrean sulit untuk percaya. Tapi foto tadi seperti menamparnya.
“Kamu makan cokelat?”
“Sudah habis, satu bungkus aku semua yang makan,” ujar Angel menjawab pertanyaan suaminya yang tadi sempat mepihat Angel menikmati cokelat tapi sekarang tidak lagi ternyata sudah habis.
“Wow, hati-hati batuk, Sayang,”
“Iya, aku rasa aku butuh cokelat untuk membuat pikiranku tidak kalut. Jadi aku turun ke bawah, aku nabil cokelat di dalam lemari es,”
__ADS_1
“Apa yang membuat pikiranmu jadi kalut? Hmm? Jelaskan padaku,”
Angel tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. Mana mungkin Ia cerita kalau tadi di kafe tempat Ia bekerja, Ia dihampiri oleh seorang laki-laki asing dan diperlakukan dengan tidak sopan oleh lelaki itu. Kalau Ia cerita, Andrean pasti akan marah besar, Andrean bisa menganggapnya menjijikan juga bahkan.