Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 63


__ADS_3

“Halo, Sayang. Bagaimana hari ini? Lancar pekerjaanmu?”


Andrean langsung menyapa istrinya yang baru saja masuk ke dalam mobil. Andrean juga menyempatkan dirinya untuk mengecup kening Angel.


“Iya, kamu sendiri bagaimana?” Tanya Angel yang juga ingin tahu bagaimana suaminya menjalani hari.


“Lancar semuanya, seperti biasa,”


“Syukurlah kalau begitu,”


“Kita langsung pulang ya?”


“Iya, mau kemana lagi selain rumah ‘kan?”


“Lihat rumah kita berdua dulu bagaimana? Atau mau sekalian cari furniture? Tapi kamu lelah ya? Okay lain kali saja,”


“Terserah kamu, Ean. Aku tidak lelah,”


“Benarkah? terlihat dari wajahmu, Sayang,” ujar Andrean seraya tersenyum tipis dan mengarahkan wajah Angel agar menatapnya.


“Oh iya aku punya hot matcha untukmu, tadi aku buatkan ini sebelum aku pulang,”


Angel baru ingat kalau Ia belum menyerahkan satu gelas minuman yang ada di tangannya sekarang kepada sang suami. Ia sengaja membuat minuman itu untuk Andrean yang langsung menerima dengan hati yang senang. Raut wajahnya sumringah sekali mendapatkan satu gelas minuman gratis dari istrinya.


“Wow, terimakasih, Cantik,”


Angel terkekeh mendengar pujian sang suami. Angel merasa bahagia ketika apa yang Ia berikan dihargai sekali oleh Andrean.


“Aku minum sebentar ya, pulangnya nanti dulu,”


“Okay,”


Mobil Andrean masih ada di area parkir kafe, dan sengaja Andrean tidak mau melajukan mobilnya ke rumah dulu karena Ia ingin menikmati minuman hangat buatan istrinya.


“Kamu yang buat ini?”


“Iya tentu saja, kamu tidak percaya?”

__ADS_1


“Percaya, pantas enak,”


“Tidak akan aku biarkan seseorang membuatkan apalun untuk kamu, hanya aku yang boleh,”


“Oh wow, kamu mulai posesif? Heh?”


Andrean menjawil dagu istrinya yang langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan. Apa Ia terlihat menjijikan ketika bersikap posesif seperti tadi? Sungguh, itu diluar kendalinya.


“Apa kamu jijik melihatku yang posesif seperti tadi?”


“Tidak, justru aku senang,”


“Ah iya, ‘kan di mobil ada makanan ringan, kamu mau? Barangkali kamu sudah lapar dan tidak mau menahannya sampai rumah,”


Angel akan pindah ke kursi tengah untuk mengambil makanan ringan tapi suaminya melarang.


“Tidak usah, Angel. Aku tidak mau, cukup minuman ini saja,”


“Benarkah?”


Andrean menganggukkan kepalanya yakin. Ia hanya ingin menyeruput minuman buatan istrinya saja, tanpa ada tambahan yang lain.


“Kalau sudah selesai minum, jangan lupa dibersihkan ya. Disudut bibirmu ada noda hijaunya sedikit jadi harus dibersihkan, biar ketampananmu tidak berkurang,”


“Hah bisa saja,” ujar Andrean seraya memerima tisu yang diulurkan pleh istrinya. Ketika memperhatikan tangan Angel dari jarak yang begitu dekat, Andrean baru sadar kalau ada warna kemerahan di bagian lengan istrinya. Ia tentu langsung bertanya karena merasa cemas.


“Angel, tanganmu kenapa? Seperti ditekan ya?”


Angel membeku untuk beberapa detik. Ia bingung harus menjawab dengan kalimat seperti apa. Suaminya sudah terlanjur melihat kemerahan yang ada di lengannya akibat perbuatan sang kakak.


“Ini tadi aku jatuh, kena kaki kursi. Jadi merah,”


“Coba aku liat. Boleh ‘kan aku liat sebentar?“


Angel mana mungkin bisa menjawab tidak? Andrean adalah suaminya, ketika Andrean ingin mencari tau sesuatu yang tidak beres dalam dirinya, tidak mungkin Ia melarang itu. Lagipula nantinya Andrean bisa berpikir negatif. Bisa jadi yang Andrean pikirkan itu bukan kenyataan yang sebenarnya terjadi.


“Angel, boleh aku liat sebentar tanganmu? Aku ingin memastikan saja,”

__ADS_1


Andrean bertanya lagi karena istrinya malah diam dan kelihatan ragu untuk menunjukkan tangannya sendiri. Setelah Andrean mengusap salah satu sisi wajah Angel, barulah Angel memberikan jawaban.


“Iya boleh,”


Andrean tersenyum dan langsung meraih tangan istrinya dengan hati-hati. Kemudian Ia fokuskan matanya mengamati tangan Angel.


“Ya ampun, ini bukan jatuh ya?”


“Jatuh, kenapa kamu tidak percaya?”


“Jatuh tapi merahnya dekat pergelangan tangan dan bukan hanya di satu titik saja. Benar karena kaki kursi? Kejadiannya tadi waktu kamu kerja ya?”


“Iya, Ean,”


Andrean membalik tangan istrinya dan kali ini Ia melihat ada bekas jari. Andrean semakin ragu kalau istrinya jatuh. Karena jatuh tidak mungkin menimbulkan bekas jari.


“Sayang, kamu bohong?”


“Tidak, aku tidak bohong. Bekas jari darimana? Aku tidak melihatnya. Mungkin kamu salah liat. Buktinya aku tidak lihat ada bekas jari,”


“Jelas-jelas ada, Angel. Tidak mungkin kamu tidak bisa melihatnya, karena mata kamu masih normal,”


“Tapi serius, aku tidak melihat adanya bekas jari,”


“Terus saja, Angel. Terus berbohong sampai kamu dapat balasannya,” batin Angel yang sedang memperingatkan dirinya sendiri. Angel memilih tidak jujur untuk melindungi kakaknya. Jangan sampai Andrean tahu karena Angel takut suaminya itu punya niat untuk memarahi Gesty atau bahkan bisa jadi Gesty dilaporkan oleh Andrean ke pihak berwajib atas kasus kekerasan mengingat ada bukti di tangan Angel dan kamera pengintai di kafe.


“Ean, ini benar-benar jatuh kena meja tadi,”


Andrean menghela napas pelan. Ucapan Angel kelihatan meyakinkan sekali. Tapi Ia sebagai suami punya kepekaan yang lebih matang ketimbang yang lain kalau soal istri sendiri. Ia tahu kapan istrinya sedih, bahagia, marah atau bahkan berbohong. Karena tanda-tandanya jelas ada. Kalau Angel kelihatan gugup sikapnya, tatapan matanya tidak fokus, diajak bicara lumayan cepat, itu adalah tanda-tanda Angel belum jujur.


“Jadi ini jatuh, kena kaki kursi makanya sampai begini,”


“Ya sudah nanti sampai rumah diobati ya,“


“Tidak usah, aku baik-baik saja, ini hanya merah sedikit,”


“Aku yakin itu nyeri dan besok pagi akan memar kebiruan,”

__ADS_1


“Tidak, kamu tenang saja,”


“Kalau ternyata itu akibat dari perbuatan seseorang, aku tidak akan tinggal diam,”


__ADS_2