
Auristella bimbang sekali. Ia memghembuskan napas kasar sambil menyentuh bibirnya sendiri. Ia juga jalan maju dan mundur di depan cermin kamar mandi sambil menunggu Angel buang air kecil.
“Ya ampun, aku harus menuruti permintaan Angel, atau aku tetap mengikuti kata hatiku? Apa tidak jahat ya kalau aku biarkan Angel disakiti oleh kakaknya sementara Ean tidak tahu apapun. Dan lagi, aku yakin kakaknya itu masih belum menyerah. Dia pasti akan mendatangi Angel lagi. Aku takut dia berbuat sesuatu yang lebih jahat daripada ini. Kasihan sekali, Angel,”
Ayristella memijat pangkal hidungnya. Angel memintanya untuk tidak mengatakan yang sejujurnya kepada Andrean. Tapi, hatinya justru menyuruh sebaliknya. Andrean itu suami Angel, dan Andrean berhak tahu perlakuan apapun yang Angel terima dari orang lain. Kalau dibiarkan terus menerus, Angel pasti akan lebih disakiti lagi.
“Tapi kalau aku jujur, apa Angel akan kesal padaku? Apa Angel akan membenci aku?”
Sementara di luar Auristella sedang bimbang ingin jujur atau tidak, di dalam bilik kamar mandi, Angel melanjutkan tangisnya sambil menutup mulut supaya suaranya tidak sampai keluar.
“Aku tidak menyangka akan dipertemukan dengan Kak Gesty di sini. Dia menyakitiku lagi. Tanganku yang dia cengkram saja masih belum sembuh, barusan dia tambah rasa sakitku. Dia disuruh Ayah kerja adalah hal yangw ajar, bahkan aku yang lebih muda dari dia sudah lama banting tulang sendiri. Tapi kenapa dia malah kesal padaku?”
Menahan tangis supaya tidak bersuara, rasanya benar-bsnar sesak, seperti dikurung di dalam ruangan yang sangat kecil, ditambah lagi dihimpit dengan barang yang berat. Menangis diam-diam adalah hal yang sudah sering Angel lakukan, tapi setelah menikah dengan Andrean hampir tidak pernah lagi.
“Angel, apa sudah selesai?”
Mendengar suara Auristella dari luar, Angel langsung mengusap jejak air matanya. Dan setelah itu buru-buru buang air kecil, sekaligus membasuh wajahnya supaya tidak terlihat habis menangis lagi. Tadi sudah cuci muka sebelum masuk bilik, sekarang Ia melakukannya lagi supaya adik perempuan suaminya itu tidak tahu kalau Ia kembali menangis.
Angel menghembuskan napas kasar sebelum membuka pintu kamar mandi lalu memasang senyum menatap Auristella.
“Sudah, ayo kita kembali,” ujarnya pada gadis yang sejak awal mengenalnya sudah Ia anggap sebagai adik sendiri. Ia tidak punya adik, ketika mengenal sosok Auristella rasanya benar-benar bahagia.
Auristella yang sempat sedikit dingin padanya karena Ia dekat dengan Andrean, bahkan digadang-gadang akan menjadi istri Andrean, semenjak Ia masuk ke dalam keluarga justru berubah menjadi sangat menerima. Angel bisa paham pisisi Auristella yang takut kehilangan perhatian kakaknya setelah memiliki istri. Dan juga Auristella ingin menilai secara mandiri calon pendamping kakaknya itu pantas atau tidak menjadi bagian dari keluarga, pantas atau tidak menjadi kakak iparnya. Dan Auristella menilai itu perlu waktu. Sekarang Auristella sudah bisa memastikan Angel itu memang yang terbaik untuk kakak pertamanya. Auristella bisa melihat sebahagia apa kakaknya setelah hidup dengan Angel.
“Kamu baik-baik saja, Angel?” Tanya Auristella sambil meraih tangan Angel dan Ia genggam dengan erat namun lembut. Auristella ingin memastikan Angel baik-baik saja sebelum kembali ke meja mereka tadi.
Angel yang niatnya akan melangkah keluar dari kamar mandi akhirnya menggagalkan niatnya itu. Lalu Ia tersenyum dan mengangguk.
“Ya, kamu tenang saja,”
“Ah syukurlah kalau begitu,”
“Auris, sekali lagi aku mohon padamu. Jangan katakan tentang tadi kepada siapapun ya? Kamu bisa janji padaku?”
Auristella menghembuskan napas pelan lalu mengangguk. Tangannya bergerak mengusap bahu Angel.
“Sebenarnya berat untuk tidak cerita kepada kakakku, apalagi aku adik yang memang suka terbuka menceritakan apapun pada kakakku. Aku takut juga kalau dia kembali menyakiti kamu, Angel. Seharusnya Andrean itu datang menemui dia dan ingatkan dia secara langsung sebelum terlambat. Aku takut kamu makin disakiti,”
Melihat ekspresi wajah Auristella yang cemas, Angel tersneyum. Jujur Ia bahagia sekali dicemaskan seperti ini oleh sosok saudara.
“Terimakasih kamu sudah khawatir. Tapi kamu tenang saja ya. Kakakku tidak akan menyakiti aku lagi,”
“Kalau aku boleh tau, memang apa masalah kalian berdua? Maksud aku, apa kamu berbuat kesalahan yang sulit dia maafkan? Kamu boleh cerita padaku, Angel. Dan kalau ada apa-apa, kamu jangan sungkan untuk meminta tolong padaku, okay?”
Angel menatap Auristella dengan mata berkaca. Ini alasan setiap saat Ia bersyukur. Dipertemukan dengan Andrean dan keluarganya. Mereka semua luar biasa baik. Terlalu baik, sampai mau berbuat sesuatu pun pasti akan dipikirkan matang-matang karena setakut itu membuat mereka kecewa. Seperti masalah dengan kakaknya ini. Angel takut suami dan keluarganya kecewa dengan Gesty ataupun ayahnya kalau tahu mereka berdua masih suka mengusik, bahkan tidak sungkan menyakitinya.
“Auris, semua baik-baik saja. Terimakasih ya,”
“Kalau baik-baik saja, kenapa dia menyakitimu, Angel? Sungguh, aku masih bingung,” batin Auristella seraya menatap dalam-dalam mata Angel.
Angel mengusap kedua bahu Auristella dengan lembut dan itu membuat Auristella terbangun dari lamunannya. Tiba-tiba Auristella memeluk Angel dan detik itu juga air mata Auristella terjatuh. Ingatan ketika tadi ada yang menarik rambut Angel dengan jahatnya muncul lagi di benak Auristella dan itu kembali membuat Auristella sedih.
Auristella dan Angel akhirnya meninggalkan kamar mandi. Angel harap-harap cemas sebenarnya. Ia masih takut Auristella bercerita pada Andrean maupun Adrian tentang kejadian yang Ia alami tadi. Akan tetapi Ia berusaha untuk percaya dengan Auristella. Ia berharap Auristella benar-benar tidak bercerita pada siapapun, terutama Andrean.
“Kenapa agak lama? Antre ya?”
Auristella menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Adrian yang merasa kalau Angel dan Auristella lumayan lama di kamar mandi.
“Ya sudah kita pulang sekarang,”
“Sudah dibayar?” Tanya Angel yang langsung dijawab dengan kedipan mata oleh Andrean.
“Hih, sudah bisa genit matanya,” ejek Adrian pada kakaknya yang sudah tak sungkan lagi bertingkah laku aneh. Yang biasanya datar, jarang senyum, irit bicara, sekarang mulai berbeda, apalagi kalau di depan istrinya. Pengaruh Angel itu cukup luar biasa. Hidup Andrean jadi lebih berwarna, tidak sekaku dulu.
“Serius sudah kamu bayar?”
“Audahlah, Angel. Kamu tidak percaya padaku?”
__ADS_1
“Aku yang membayar, Angel,”
“Benarkah?” Tanya Angel dengan raut kagetnya menatap pengakuan Adrian yang sebenarnya hanya karangan Adrian saja.
“Kenapa bukan kamu yang bayar, Ean?”
“Kamu lebih percaya Ian daripada aku? Hmm? Mana mungkin aku membiarkan Ian yang membayar. Aku ‘kan kakaknya, uangku mebih banyak, ditambah lagi aku yang mengajak kalian pergi ke sini,”
“Harus ya menegaskan uangmu lebih banyak? Hmm? Sombong! Hati-hati, orang sombong, anaknya jadi tampan dan cantik. Liat saja nanti,”
“Aamiin,”
Auristella paling semangat mengamini ucapan Adrian. Auristella kelihatan paling antusias ingin memiliki keponakan.
“Jangan dianggap serius, aku hanya bercanda, Ian,”
“Ya aku tau. Hidupku tidak seserius kamu, Ean. Tenang saja, aku tau kamu bercanda. Ya walaupun kenyataannya begitu sih,”
“Hahahah kasian, belum sebanyak Ean uangnya. Makanya jangan jadi public figure, jadi pengusaha saja,”
Adrian menatap adiknya dengan sinis. Kemudian Ia tempelkan telunjuknya dengan bibir Auristella menyuruh adiknya itu untuk berhenti berceloteh.
“Tikus kecil, ikan nemo dilarang bicara,”
“Ayo kita pulang, jangan debat di sini. Bikin aku malu,”
Sebelum Auristella menimpali ucapan Adrian dan bisa jadi tidak akan berakhir sampai besok pagi karena mereka terus saling menyahuti satu sama lain, akhirnya Andrean nengajak mereka untuk segera beranjak meninggalkan kursi.
Andrean membukakan pintu mobil depan dan belakang untuk Angel juga Auristella. Keduanya kompak mengucapkan terimakasih.
“Setelah aku dan Mommy yang suka dibukakan pintu oleh Ean, sekarang bertanbah Angel juga ya, Ean,”
“Tentu saja, kamu tau alasannya apa, Ris,”
“Karena Angel istrimu lah. Nanti kalau kamu punya anak perempuan, pasti begitu juga,”
“Iya, semoga saja ya omonganku jadi doa,”
Angel dan Andrean hanya bisa tersenyum saja mendengar ucapan Auristella sambil mengaminkan dalam hati.
“Nanti aku kasih, Auris, mau tidak?”
“Kamu ‘kan belum menikah! Jangan macam-macam ya,”
“Nanti aku belikan boneka, anggaplah boneka itu keponakan kamu,”
“Enak saja kamu kalau ngomong! Aku lempar kamu ke jalanan ya,”
Adrian terbahak mendengar ancaman adiknya. Apakah Auristella berpikir Ia akan takut? Oh tentu tidak. Auristella hanya menggertak, dan Auristella begitu menyayanginya walaupun mereka sering bertengkar, jarang sekali damai.
“Lagipula kamu ada-ada saja. Boneka mau kamu jadikan keponakan Auris? Tidak sekalian saja botol, Ian. Kamu mau buat Auris kesal jangan tanggung-tanggung. Nah kalau kalian sudah ribut, kalian yang akan aku lempar ke jalan ya,”
Mereka berdua terdiam membungkam mulut masing-masing. Angel menoleh ke kursi belakang dan terkekeh.
“Ternyata kalau Ean sudah mengancam, kalian langsung diam ya?”
“Berhubung Ean itu orangnya serius, kami takut itu benar dilakukan Ean,”
Tawa Angel pecah mendengar jawaban Adriann. Auristella juga membenarkan. Kakak pertamanya itu kalau sudah mengancam, auranya akan beda. Rasanya pasti segan untuk mengabaikan apa yang menjadi ancaman Andrean.
“Tidak akan, Ean menyayangi kalian, mana mungkin dia melempar kalian? Kalau memang mau begitu, sudah dari dulu dia lakukan, benar ‘kan? Kalian itu sering bertengkarnya ‘kan sejak kecil,”
“Iya juga ya. Tidak terpikirkan sampai sana. Ya sudah lanjut saja Auris, ayo,”
Auristella menajamkan sorot matanya ke arah Adrian yang tiba-tiba mengajaknya untuk bertengkar.
“Hidup dengan kalian itu menyenangkan sekali ya. Dijamin tidak akan sedih, karena setiap harinya ada saja hiburan,”
__ADS_1
“Angel, mereka itu sukanya ribut. Jadi hiburan darimana?”
Andrean tak habis pikir mendengar ucapan istrinya. Ia yang hidup lama dengan dua adiknya benar-benar dibuat pusing kalau sudah bertengkar. Angel malah menganggap itu hiburan? Yang benar saja.
“Ya mungkin di rumah Angel tidak ada yang menghiburnya, Ean. Jadi ketika Angel tinggal dengan kita, pertengkaran aku dan Ian dianggap sebagai hiburan, karena kita ‘kan bukan bertengkar sungguhan ya, Ian? Kita hanya pura-pura saja. Nanti tidak lama kemudian kita akan berdamai, iya ‘kan, Ian?”
“Iya betul,”
“Hidupku terlalu sepi,”
“Dan menyedihkan karena dijahati ya, Angel?”
“Eh jangan bicara begitu,” Adrian menegur adiknya. Adrian takut ucapan Auristella membuat Angel sakit hati.
“Hahaha aku bercanda. Maafkan aku ya, Angel,”
Padahal Auristella bicara seperti itu karena kejadian yang tadi Ia lihat. Baru sekali melihat Angel disakiti dan Auristella sudah bisa menyimpulkan bahwa hidupnya Angel itu sepi, dan menyedihkan karena Angel menjadi korban kejahatan. Apalagi kalau Auristella sudah melihat kejadian tadi berkali-kali, mungkin Auristella akan lebih tidak habis pikir lagi.
“Iya tidak apa-apa, Auris,”
“Ya walaupun seandainya hidup Angel itu menyedihkan, tapi ‘kan setelah dengan Ean, kamu bahagia. Benar begitu, Angel?”
“Kamu benar, Ian,”
“Kenapa ya Auris berkata seperti tadi? Tidak biasanya Auris begitu,” batin Andrean.
Andrean jadi kepikiran dengan ucapan Auristella yang entah kenapa seperti ada maknanya dan itu belum Ia ketahui.
“Angel, kamu tidak berhenti kerja saja? ‘Kan sudah ada Ean yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan kalian,”
“Angel tidak mau, Auris. Percuma kamu bicara seperti itu, Angel terlalu biasa untuk hidup mandiri. Coba kamu bantu aku, paksa Angel supaya tidak kerja lagi,” ujar Andrean seraya menoleh sebentar ke sebelahnya dimana sang istri sedang terkekeh.
“Iya, lebih aman di rumah, lebih enak juga di rumah. Kalau keluar ‘kan takutnya ketemu yang jahat-jahat,”
Andrean mengernyitkan keningnya. “Siapa yang dimaksud jahat oleh Auristella? Kenapa maknanya ucapan Auristella semakin bisa Ia rasakan? Apa sebenarnya yang Auristella ketahui?” Pertanyaan seperti itu tiba-tiba berputar di kepala Andrean.
“Yang jahat memang siapa sih, Ris? Kamu sedang membahas apa sebenarnya?” Tanya Adrian.
“Ya ‘kan di luaran sana banyak orang jahat. Angel itu orang baik, dan biasnaya orang baik emang sering dijahatin, bahkan sama kel—“
“Intinya begitu lah. Aku ingin Angel di rumah, banyak waktu denganku, ketimbang bekerja,” Auristella hampir keceplosan mengatakan bahwa keluarga pun berkemungkinan besar menjadi jahat.
Mulut Auristella gatal sekali ingin bercerita kepada kedua kakaknya soal jahatnya Gesty kepada Angel. Tapi rasanya berat untuk jujur karena menbayangkan Angel menaruh harapan besar kapadanya supaya Ia tidak bercerita tentang kejadian tadi kepada siapapun.
“Oh begitu. Iya juga sih, memang benar kata Auris. Banyak orang baik yang akhirnya jadi korban orang jahat. Karena apa? Orang baik itu pemikirannya selalu aja positif, selalu mandang orang lain baik sama kayak dia, padahal dia saja yang terlalu polos atau mungkin menutup mata kalau sebenarnya di dunia ini selalu ada hitam dan putih,”
Auristella memuji pernyataan Adrian dengan mengangkat ibu jarinya. Tidak usah membicarakan orang yang jauh. Yang Auristella tahu, orang di depannya saat ini adalah orang baik. Tapi malah dijahati, bahkan oleh kakaknya sendiri.
“Berhenti bekerja saja, Angel,”
“Tidak semudah itu, Auris. Aku masih harus bekerja, karena aku—“
“Aku apa? Aku butuh? Tapi ‘kan sudah dicukupi oleh Ean,”
Auristella merasa Angel akan lebih aman kalau diam di rumah saja. Kemungkinan untuk bertemu dengan ‘orang jahat’ sangatlah kecil. Auristella yakin kakaknya Angel belum puas melakukan sesuatu kepada Angel, karena Auristella tadi melihat dengan jelas kebencian di mata Gesty untuk Angel.
“Aku saja nanti kalau punya istri, inginnya istri di rumah. Tapi ya…terserah dia lah. Kalau dia masih mau bekerja, selagi dia kuat, aku persilahkan walaupun harus punya rasa tega melihat dia lelah. Aku mau memaksa tidak mungkin. Dan ada perempuan yang memang sulit sekali untuk lepas dari pekerjaan karena sudah terbiasa hidup dengan pekerjaan itu,”
“Sudahlah, Angel. Berhenti saja, daripada lelah bekerja,”
Auristella menjawil lengan Angel yang duduk di depannya. Angel menoleh dan tersenyum. Angel tidak akan semudah itu berhenti bekerja. Kalau Ia berhenti, sementara kakaknya saja bekerja, mau dianggap apa dirinya? Pasti kalimat anak tidak tahu diri, anak pemalas, dan lain-lain akan disematkan oleh ayah dan kakaknya itu.
“Nanti kalau seandainya kamu punya anak, bagaimana? Kamu mau tetap bekerja?”
Angel diam, jujur itu masih belum ada di kepalanya. Keterdiaman Angel itu sudah bisa dimengerti oleh Andrean.
“Aku harap kamu pikirkan baik-baik ya soal itu, Sayang. Jujur aku menunggu jawaban kamu,”
__ADS_1
“Iya itu urusan nanti,” jawab Angel singkat. Bila seandainya Ia memiliki anak, tanggung jawabnya bertambah. Menjadi anak sekaligus adik yang baik, istri yang baik, dan ibu yang baik. Membayangkannya saja sudah berat, apalagi kalau ditekan mentalnya oleh ayah dan kakaknya itu.