
Hari ini adalah Angel merayakan kelulusannya dengan didampingi oleh sang suami. Selepas liburan, mereka sudah ada acara yang menunggu. Angel sangat antusias.
Akhirnya setelah melewati luar biasa banyak cobaan di dalam menyelesaikan pendidikan, Angel bisa bertahan sampai sejauh inid an Angel sangat mengapresiasi dirinya sendiri.
Angel sangat bahagia karena pendidikannya selesai tepat waktu setelah banyak rintangan Ia lalui sambil menangis sambil tetap tersenyum. Kebahagiaan Angel bertambah ketika namanya diminta untik maju ke depan menerima penghargaan sebagai mahasiswa dengan nilai terbaik.
Angel tidak genti mengusap syukur. Berkat campur tangan Tuhan lah Angel bisa mendapatkan apa yang Ia impikan sejak dulu. Ibu dan neneknya ingin Ia berpendidikan tinggi, Angel yang memang punya smenagat kuat untuk belajar akhirnya semakin termotivasi setelah mengetahui keinginan ibu dan neneknya.
Sayang mereka berdua tidak bisa hadir karena sudah tidak ada lagi di dunia ini. Sejak tadi malam Angel sudah gelisah. Ada momen menyenangkan yaitu kelulusannya dan momen yang membuat sedih juga yaitu kehilangan tidak hadirnya ibu serta sang nenek di acara kelulusannya.
Tapi beruntungnya Angel tetap didukung oleh suami dan juga Lovi yang ingin menyaksikan juga bagaimana acara kelulusan Angel.
Mereka bertiga berfoto bersama. Walaupun kurang lengkap personelnya karena Devan, Adrian dan Auristella punya kesibukan masing-masing sehingga tak bisa hadir, tapi Angel tetap merasa bahagia. Lovi mau datangs aja Ia sudah sangat bersyukur. Setidaknya ada perwakilan orangtua. Dan memang Lovi berhak datang karena selama Angel menempuh pendidikan Lovi dan Devan sangat banyak membantu Angel. Entah sudah berpaa banyak uang yang mereka gunakan untuk membantu Angel dalam menyelesaikan pendidikan.
Itulah sebabnya Angel bahagia sekali bisa memberikan hasil yang baik untuk Lovi dan Devan yang selalu Ia anggap sebagai orangtuanya sendiri karena tidak pernah berhenti untuk peduli.
“Kamu kelihatan bahagia sekali. Oh jelas, Mommy tau bagaimana pengorbanan kamu. Dan kamu berhak untuk mendapatkan ini semua, Sayang,”
Angel menggenggam kedua tangan Lovi dengan lalu Ia kecup punggung tangan Lovi dengan penuh ketulusan.
“Mommy, terimakasih sudah menjadi malaikat cantik dan baik untuk aku,”
“Sama-sama, Sayang. Mommy ikut bahagia. Akhirnya hari ini kamu bisa tertawa lepas tanpa beban tugas ataupun ujian di kampus ya,”
Angel terkekeh membenarkan ucapan Lovi. Sekali lagi Ia berterimakasih pada Lovi yang terlalu baik hatinya.
“Terimakasih juga untuk Daddy, Ean, Ian, dan Auris karena kalian selalu menyayangi aku, kalian luar biasa baik sampai aku benar-benar nyaman hidup bersama kalian,”
Andrean tersenyum sambil mengusap puncak kepala istrinya. Andrean tahu sebahagia apa Angel. Siapa yang tidak bahagia kalau apa yang diinginkan bisa tercapai, bisa digenggam oleh tangan sendiri.
“Nanti malam kita akan makan bersama untuk merayakan kelulusan Angel ya,” ujar Lovi.
“Okay, Mom,” jawan Andrean.
“Kamu tidak keberatan ‘kan, Angel?”
“Tidak, Ma. Aku justru merasa sangat dihargai. Apa yang aku rasakan, dirasakan juga oleh Mommy dan semuanya. Sampai kebahagiaan inipun mau dirayakan,”
“Harus, supaya kelulusan kamu ini benar-benar berkesan,”
“Terimakasih, Mommy,”
“Sama-sama,”
*****
“Bagaimana? Sudah ada celah untuk merebut suami dari adik sendiri?”
Begitu tiba di rumah Letta, Gesty langsung mendapat sambutan dari Letta berupa pertanyaan seperti itu. Akhirnya Ia tertawa.
“Hahahaha sialan. Begitu aku datang langsung ditanya seperti itu ya?”
“Oh jelas, aku ingin tau kamu sudah segila apa,”
“Jelas belum lah, Letta. Aku belum bertemu dengan dia,”
“Kapan bertemu?”
“Ya entah, aku belum tau. Yang jelas dia baru saja membayar hutang ayah. Jadi aku belum mau mengusiknya dulu,”
*******
“Kita melihat rumah mau?”
“Hei kenapa mau melihat rumah? Apa kalian mau pindah dalam waktu dekat? Kenapa Mommy tidak diberitahu? Terlalu mendadak. Lagipula Mommy ‘kan sudah bilang jangan dulu, paling tidak sampai Angel melahirkan,”
Andrean tersenyum mendengar ucapan Lovi. Padahal Ia hanya mengajak Angel untuk pergi melihat rumah, bukan pindah. Tapi Lovi sudah cemas saja kalau mereka pindah dalamw aktu dekat.
“Mom, aku hanya mengajak Angel untuk melihat rumah, Mom. Bukan pindah, hanya sekedar melihat,”
“Oh benarkah? Bukan mau pindah sejarang ‘kan? Atau pindah dalam waktu dekat?”
“Astaga, tidak pindah dulu selama Angel lagi mengandung, Mom,”
“Okay bagus, memang itu yang Mommy inginkan,”
“Jadi bagaimana? Mau kita melihat rumah yang belum jadi kita huni itu, Angel,”
“Iya, aku terserah padamu saja mau membawaku kemana, Ean,”
“Oh atau kita datang ke pemakaman Ibu dan Nenekmu sekarang saja ya? Masih banyak waktu kalau ke rumah kita, sepulang dari pemakaman juga tidak masalah,”
“Nah Mommy setuju. Jangan tunda, kalau bisa sekarang ya sekarang saja, biar mereka juga ikut bahagia dengan pencapaian Angel. Ceritalah pada mereka kalau hari ini Angel berhasil lulus dan mendapatkan penghargaan karena prestasinya,”
Lovi mengungkapkan persetujuannya untuk datang ke pemakaman ibu dan juga nenek Angel supaya Angel bisa melepaskan rindu sekaligus cerita tentang kebahagiaan apalagi yang datang dalam hidup Angel.
Andrean mengemudikan mobilnya ke pemakaman. Setelah melakukan perjalanan kurang lebih tiga puluh menit akhirnya mereka tiba juga.
Mereka bertiga keluar dari mobil dan langsung berjalan menghampiri makam ibu dan nenek Angel. Baru juga melangkah, belum tiba, mata Angel sudah berkaca. Ia benar-benar merindukan dua sosok yang sangat berarti dalam hidupnya itu.
Sayangnya ketika Ia memiliki momen bahagia seperti menikah, mengandung, lulus, mereka berdua tak ada lagi di sisinya. Sehingga mereka tidak tahu betapa bahagianya Angel ketika momen-momen itu datang ke hidupnya.
“Hai Ibu aku datang,”
Angel, Andrean dan Lovi menghampiri makam ibu Angel dulu. Air mata Angel langsung jatuh seiring Angel berjongkok di dekat pusara wanita yang telah melahirkannya.
“Aku rindu,”
Angel menghapus air matanya secepat munglin. Walaupun rindu, Ia tidak boleh menunjukkan kesedihannya dengan air mata.
__ADS_1
“Bu, aku baru saja lulus. Aku diberikan penghargaan karena prestasiku. Dan—oh iya aku belum cerita langsung pada Ibu. Aku juga hamil, Bu. Semoga kehamilanku ini lancar sampai persalinan ya, Bu. Aku sedih karena nanti saat melahirkan tidak ditemani Ibu sama seperti ketika aku menikah. Tapi aku yakin Ibu melihat dari atas sana ‘kan, Bu? Aku tidak boleh sedih, aku hanya boleh rindu pada Ibu. Walaupun aku sedih tidak didampingi Ibu, tapi aku senang setidaknya ada Mommy yang bisa mendampingi aku nantinya,”
Lovi tersenyum mendengar akhir dari kalimat Angel yang langsung menatapnya dan merangkul pinggangnya. Angel sangat bersyukur ada Lovi.
Setelah menyapa ibunya dan mendoakan kini Angel menyapa neneknya masih ditemani oleh Andrean dan juga Lovi.
“Hai, Nek. Maaf aku baru bisa datang lagi. Bukan berarti aku melupakan Nenek, tapi aku baru sempat datang, Nek. Aku datang ke sini sekarang mau berbagi cerita bahagia apda Nenek. Aku sedang mengandung, Nek. Yang sering Nenek harapkan sewajtu Nenek masih ada, Nenek berulang kali bicara bahwa Nenek mau ikut mengurus aku dan anakku ketika aku nanti melahirkan tapi ternyata Nenek pergi lebih dulu bahkan sebelum aku menikah. Oh iya, aku juga mau cerita, kalau hari ini salah satu mimpinya Nenek tercapai. Nenek sering berkata padaku, Nenek ingin sekali hadir dalam acara kelulusanku. Sekarang aku lulus, Nek. Walaupun Nenek tidak hadir tapi aku yakin Nenek mengamatiku dari atas sana. Nenek bisa melihat betapa bahagianya aku sekarang, iya ‘kan, Nek? Terimakasih ya, Nek,”
Angel bercerita, Lovi dan Andrean menjadi pendengar yang baik. Setelah itu mereka berdoa bersama untuk nenek Angel, sama seperti yang mereka lakukan tadi untuk Ibunya Angel.
Puas bercerita, sudah bertemu walaupun hanya dengan makam bukan sosoknya langsung, barulah Angel mengajak Lovi dan Amdrean beranjak meninggalkan pemakaman tapi sebelum itu tak lupa Angel mencium nisan kedua sosok wanita yang begitu perhatian, selalu meluapkan kasih sayang mereka kepadanya.
Setelah tiba di dalam mobil, Angel menghela napas lega. Ia senang sekali setelah kelulusan langsung datang ke pemakaman Ibu dan juga nensknya. Jadi Ia bisa berbagi kebahagiaan dengan mereka.
*******
“Adrian, aku sedang berada di mall. Dan ketika aku ingin kembali ke mobil, ada tang mengamati mobilku dari luar, dia bahkan sampai melihatnisi mobilku melakui jendela. Ini aku harus bersikap seperti apa, kalau aku datangi dia, aku takut bahaya untukku, Ian. Tapi kalau aku diam saja, aku takut dia melakukan hal lebih,”
Adrina memintanmasukan dari Adrian ketika Ia kembali basement melihat mobilnya sedang diincar oleh orang.
Entah apa maksud atau tujuannya tapi tang jelas orang itu sampai mengamati isi dalam mobil melakui jendela.
“Kalau dia tidak punya niat jahat seharusnya dia tidak melakukan itu ‘kan, Ian?”
“Astaga, kamu jangan coba-coba dekati dia ya. Aku yakin dia punya niat jahat dan takutnya dia membawa senjata. Kalau kamu dejati, malah bahaya. Dia bsia melakukan sesuatu padanu. Kamu pantau saja dari jarak yang aman lalu kamu laporkan pada petugas yang bertuga di sana, apa ada?”
Adrina langsung mengamati sekitar. Sejauh ini Ia belum mendapati petugas yang berjaga di basement.
“Tidak ada, Ian. Aku benar-benar takut sekarang,” ujar Adrina dengan suara yang sangat lirih.
“Cari, Adrina. Kamu cari petugasnya sampai dapat,”
“Tapi bagaimana dnegan mobilku? Kalau saat aku pergi mencari petugas, dia malah berbuat sesuatu dengan mobilku bagaimana? Aku takut mobilku di—“
“Nanti saja pikirkan mobil. Sekarang kamu cari petugas penjaga ya,”
Adrina langsung melakukan apa yang dikatakan oleh Adrian. Ia berjalan cepat meninggalkan basement untuk mencari orang yang bisa Ia mintai pertolongan.
Kebetulan di dekat area parkir motor, Adrina menemukan dua orang staf penjsga menggunakan seragam yangs ama. adrina langsung berlari mendekati mereka.
“Tolong aku, ada yang mengamati mobilku sebanyak dua orang. Mereka bahkan mepihat isif alam mobilku melalui jendela mobil. Aku ingin oulang tapi karena ada mereka aku jadi takut untuk pulang,”
Keduanya langsung sigap menghampiri basemnet, dan benar saja ada dua orang yang sedang berada di dekat mobil Adrina. Dan salah satunya sudah mengeluarkan alat untuk membuka secara paksa jendela mobl Adrina.
Dua orang petugas itu langsung menyergap kereka sebelum rencana mereka berhasil. “HEI JANGAN BERBUAT JAHAT DI SINI!”
Dua penjahat itu langsung menoleh kaget ketika ada yang menyergap mereka. Tanpa mengatakan apapun, nereka langsung berlari panik meninggalkan basement.
Barulah Adrina bisa menghela napas lega. Mobilnya aman, Ia dan staf penjaga yang membantunya juga aman.
“Terimakasih sudah membantu saya,”
Adrina bersyukur Adrian bisa dihubungi sehingga Ia bisa meminta pendapat Adrian tentang apa yang harus Ia lakukan ketika melihat ada orang yang memata-matai mobilnya. Beruntungnya Ia mengikuti apa kara Adrian untuk mencari petugas keamanan dan beruntungnya lagi adalah petugas keamanan mau sigap membantunya sehingga dua orang penjahat itu berhasil pergi.
******
“Adrina belum menghubungiku lagi. Aku takut terjadi sesuatu pada Adrina,”
“Memang apa yang terjadi, Ian? Aku bingung kamu bicara apa,”
“Jadi Adrina barusan menghubungi aku. Dia bilang ada orang yang memata-matai mobilnya. Akus udah sarankan dia untuk lapor pada petugas kemanana dan sekarang aku belum dapat kabar apapun lagi,”
“Oh karena itu. Ya semoga saja tidak terjadi sesuatu pada Adrina. Mungkin Adrina sudah di jalan, Ian. Dan dia lupa memberitahumu kalau semua baik-baik saja,”
“Ya sudah kalau begitu aku hubungi dia sekarang,” ujar Adrian lalu segera mencari nomor ponsel Adrina.
Panggilan pertamanya tidak mendapatkan tanggapan apa-apa. Lalu Ia coba lagi dan kali ini dijawab oleh Adrina.
“Drina, kamu baik-baik saja ‘kan? Kamu dimana sekarang?”
Auristella geleng-geleng kepala mepihat kakaknya sekhawatir itu pada Adrina. Kalau soal perhatian pada perempuan yang mereka sayang, Adrian dan Andrean memang susah untuk dilawan.
“Aku baik-baik saja. Sudah di jalan menuju rumah,”
“Kenapa kamu tidak beritahu aku sih? Aku khawatir dengan keadaanmu. Seharunsya kamu langsung kabari aku kalau kamu baik-baik daja. Mobilmu aman?”
“Iya maaf, aku tadi langsung cepat-cepat pulang karena Mommy sudah menyuruhku pulang. Mobilku aman, Ian. Aku laporan pada petugas kemanaan dan mereka sigap membantu aku. Kamu tau ketika aku dan petugas keamanan datang, dua orang itu sudah mau melakukan hal lebih jauh.me mereka sudah mengeluarkan alat untuk membuka paksa entah itu kaca mobil ataupun pintu, aku juga tidak paham lah. Intinya kereka sudah memegang alat,”
“Astaga, mereka mungkin ingin memecahkan jaca mobilmu,”
“Iya mungkin begitu. Oh iya terimakasih sudah membantu aku ya, Ian. Jamu benar-benar baik dan aku bersyukur kmau bisa dibubungi, kamu cepat menjawab teleponku tadi. Aku tidka tahu harus melakukan apa tadi, dan beruntungnya kamu mau memberikan saran untuk aku apa yang harus aku lakukan. Kalau tidak. Aku benar-benar bungung harus bagaimana, Ian,”
“Iya sama-sama, kamu sekarang bicara dnegabku sambil menyetir? Itu bahaya, Drina!”
“Aku tidak memegang ponselku, aku menggunakan earphone,”
“Hati-hati, Drina. Kabari aku kalau sudah sampai di rumah ya,”
“Hah? Untuk apa? Biasnaya juga tidak seperti itu,”
“Oh jadi kamu keberatan? Apdahal aku hanya ingin tenang, kalau kamu memebritahu sudah sampai rumah, aku merasa semakin tenang,”
“Okay baiklah kalau aku ingat sku akan kabari kamu,”
“Kenaoa kalau ingat sih?”
Adrina tertawa mendnegar Adrian menggerutu. “Iya aku kabari. Kamu tidka pelru khawatir lagi seharusnya,”
“Aku masih khawatir akibat kejadian tadi, Drina. Aku ingin memastikan kamu aman. Karena jujur aku kepikiran bagamana kalau mereka mengikuti kamu?”
__ADS_1
Adrina spontan mengamati kaca spionnya. Setelah mendengar ucapan Adrian, entah kenapa Adrina juga jadi memgkahwatirkan dirinya sendiri.
“Makanya kabari aku kalau sudah sampai di rumah, okay?”
“Iya okay,”
Pembicaraan antara Adrian dan Angel berakhir. Adrian masih belum bisa tenang kalau Adrina sudah sampai di rumah dengan selamat.
“Ian, bagaimana? Adrina baik-baik saja ‘kan?” Tanya Auristella pada kakaknya itu.
“Drina lagi di perjalanan pulang, Ris. Semoga dia sampai tumah baik-baik saja,”
“Kamu jangan bicara seperti tadi. Itu membuat Adrina jadi takut,“
“Justru aku mengingatkan dia supaya waspada. Dia bisa saja tidak mengamati spion mobilnya ‘kan. Setelah aku bicara seperti tadi, dia pasti langsung melihat ke spion,”
“Kenapa kamu yakin begitu?”
“Ya karena dia pasti langsung waspada setelah aku bicara seperti tadi,”
Auristella duduk bersama kakaknya di halaman depan rumah. Ketika Lovi, Andrean, dan Angel pulang tentunya bingung melihat kakak beradik itu duduk di luar, tak biasanya mereka seperti itu.
“Hai, kenapa kalian di sini? Biasanya di dalam,”
“Mom, aku ke rumah Adrina ya,”
Adrian tidak bisa diam saja. Ia tidak tenang kalau menynggu Adrina dari rumahnya seperti ini. Akhirnya Ia putuskan untuk bergega ske rumah Adrina.
“Hah? Kamu mau ke rumah Adrina? ‘Kan bisa menunggu kabarnya dari sini saja, Ian,” uahr Auristella yang kaget mendnegar ucapan kakak keduanya itu.
“Tapi aku khawatir, Ris,”
“Memang ada apa dengan Adrina?”
“Tadi ada yang memata-matai mobilnya Adrina di mall, Mom. Sepertinya punya niat jahat akhirnya Adrina laporan pada petugas keamanan. Dua orang yang memata-matai itu sudah mengeluarkan alat yang mungkin ingin digunakan untuk membuka paksa kaca atau pintu mobilnya Adrina. Dan aku takut penjahat itu mengikuti Adrina, sekarang Adrina di perjalanan pualng,”
“Oh ya sudah kalau kamu mau datang ke rumah Adrina,”
Lovi mempersilahkan Adrian untuk melakukan apa yang Ia mau. Adrian ingin memastikan temannya baik-baik saja dan itu perbuatan yang terpuji.
Melihat Adrian pergi dengan langkah cepatnya, Auristella terkekeh sambil kenggelengkan kepalanya. “Ian…Ian, sekhawatir itu apda Adrina,” ujar Auristella.
“Ya sudah biarkan saja. Ayo kita masuk,”
Lovi merangkul bahu Auristella tapi Auristella belum mau melangkah masuk. Ia baru sadar kalau Ia belum memeluk Angel yang baru pulang dari kampusnya.
“Angel, selamat ya. Aku iku bahagia kamu sudah lulus,”
Angel langsung tersenyum dan mengusap punggung Auristella dengan lembut. “Iya terimakasih, Auris,”
“Aku ikut bahagia. Kelulusan kamu ditemani snegan bayi yang ada di dalam perutmu. Padti rasanya sangat bahagia ya?”
“Tentu, aku benar-benar bahagia, Auris. Tidak menyangka kalau di hari kelulusanku, sudah ada makhluk hidup menggemaskan did alam perutku,”
“Dia pasti juga sangat bahagia, sama seperti ibunya,”
Auristella mengusap perut Angel dengan kembut lalu mengecup singkat perut Angel dengan penuh kasihs ayang. Angel tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh Auristella itu.
“Ya sudah kita lanjut bicara di dalam saja ya. Lelah juga ‘kan bicara sambil berdiri di luar seperti ini,”
Andrean yang sedari tadi diam, Angel dan Auristella menganggukkan kepala. Mereka akhirnya masuk ke dalam rumah, sementara Adrian sudah tiba di rumah Adrina tanpa masuk ke dalam. Adrian menunggu kedatangan Adrina.
******
“Ternyata benar aku diikuti mereka. Aku ingat wajah mereka, bisa-bisnaya aku diikuti oleh dua penjahat itu. Keterlaluan, apa mau mereka sebnearnya? Kenapa sampai mengikutiku dengan motor seperti itu? Supaya lebih mudah berkelit kah?”
Adrina mencengkram stir ketika melihat sebuah kendaraan roda dua sejak tadi kengikuti kemajapun arah Ia melajukan mobil.
“Aku tidak boleh langsung ke rumah, aku harus membuat mereka hilang dulu. Kalau mereka tau rumahku bisa gawat. Aku, Mommy, dan Daddy bisa dalam bahaya,” ujar Adrina yang langsung punya ide untuk mencari tujuan lain alih-alih langsung pulang ke rumah.
Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Adrian, mereka mengikuti dan kemungkinan besar karena belum puas akinat tadi disergap akhirnya belum mendapatkan apa yang mereka mau.
Adrina melajukan mobil dengan kecapatan yang tinggi dan Ia sengaja mendahului kendaraan-kendaraan di depannya supaya dua orang penjagat itu bingung dengan keberadaannya.
Adrina juga sengaja bukan melewati jalan yang seharusnya Ia lewati kalau maunpulang ke rumah karena ini demi keamanannya juga. Kalau Ia langsung pulang ke rumah, mereka akan mengetahui dimana letak rumahnya. Dan tentu mereka tidak akan tinggal diam. Keselamatan Adrina, kedua orangtuanya, dan para asisten rumah tangga bisa terancam.
Setelah berhasil lolos, Adrina tidak melihat keberadaan motor itu lagi, Adrina bisa sedikit menghela napas lega.
Ia berharap pisisinya aman teru, motor itu tak berhasil mengejarnya sampai Ia tiba di rumah dengan selamat.
*****
“Adrina kenapa belum sampai juga ya? Apa dia baik-baik saja? Semoga, aku harap begitu. Aku khawatir dia diikuti, entah kenapa perasaanku berkata seperti itu,” batin Adrian.
Adrian sering mengecwk ponselnya sendiri barangkali ada pesan atau panggilan masuk dari Adrina. Matanya juga fokus mengamai sekitar. Asal sudah melihat mobil Adrina datang, Ia sudah merasa lega karena itu tandanya Adrina baik-baik saja.
Sekitar lina menit berselang dari puncak kekhawatiran Adrian sebab Adrina tak kunjung sampai, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga.
Ketika melihat mobil Adrina datang, Adrian tersenyum bahagia, hatinya lega. Apalagi ketika Adrina keluar dari mobil dengan senyumannya.
“Ian, ada apa di rumahku?”
“Aku menunggu kamu smapai, kenaoa lama seklai sih?”
“Aku rasa tidak. Kamu verlebihan, Ian,”
“Drina, aju takut terjadi sesuatu apdamu. Iya mungkin aku terllau berlebihan karena aku kahwatir jadi rasnaya seperti lama seklai mwnunggu kamu datang,” ujar Adrian sesaat setelahnya Adrian memegang kedua bahu Adrina.
“Tapi kamu baik-baik saja ‘kan?”
__ADS_1
“Iya aku baik-baik saja,”
“Aku lega kamu sampai rumah dengan keadaan selamat. Jadi bagaimana? Semua aman ya? Tidak ada yang ‘kan? Perasaanku tidak enak, Drina. Entah kenapa aku takut kamu diikuti mengingat kamu ‘kan menggagalkan rencana mereka,”