Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 18


__ADS_3

Perempuan yang memiliki tiga orang anak dewasa dan seorang suami yang dulunya kejam namun sekarang sangat manis, tak lain adalah Lovi, memasuki ruang kerja suaminya.


Devan langsung mengurung diri di ruangan itu setelah Ia, Lovi, dan Auristella menikmati sore dengan tiramisu cake.


Sembari menunggu malam, Ia memutuskan untuk bekerja dulu dan istrinya sudah berjanji akan memanggilnya jika semua anak mereka telah berkumpul dan makan malam telah siap.


Melihat sang istri masuk ke ruang kerjanya, Devan menatap sekilas.


"Andrean dan Adrian sudah pulang?"


"Andrean belum,"


"Bukankah Ia dan Adrian pulang bersama?"


"Iya, tapi Andrean mengantar Angel dulu dan sepertinya---"


Lovi menghentikan ucapannya kemudian Ia duduk di sofa, menatap sang suami dengan serius.


"Sepertinya dia akan berbicara dulu dengan ayahnya Angel,"


"Bicara? Tentang apa?" Tanya Devan dengan kerutan di kening nya. Pernikahan Andrean dan Angel tidak terjadi dalam waktu dekat tetapi Andrean akan bicara pada Geno sekarang? Tapi baguslah, pikir Devan. Jadi tidak terkesan terburu-buru yang mungkin saja nanti akan membuat Geno merasa tidak dihargai karena diberi tahu ketika mendekati pelaksanaannya.


"Andrean ingin menikahi Angel dalam waktu dekat, Dad,"


Mata Devan mengerjap dan Ia diam beberapa detik, "Andrean mengubah keputusannya? Bukankah Andrean dan Angel sama-sama belum siap?"


"Iya, jujur Mommy juga kaget dengan keputusan Andrean. Mommy ingatkan Ean lagi agar tidak terlalu cepat dalam mengambil keputusan, Mommy ingin dia berpikir matang sebab Mommy tidak ingin baik Andrean maupun Adrian malah menyakiti perempuan ketika mereka telah memilikinya. Tapi Andrean meyakinkan Mommy bahwa dia sudah berpikir matang dan itulah keputusannya,"


"Apa alasannya merubah keputusan itu?"


"Dia tidak mengatakan pada Mommy tentang hal itu, Dad."


"Aku tidak mau anak itu menikahi Angel karena dia merasa kasihan pada Angel,"


Lovi menatap suaminya yang menggeleng seraya menutup semua berkas-berkas yang ada di hadapannya.


"Aku mau, mereka menikah karena memang sudah siap. Belum saling mencintai, tidak masalah menurutku. Tapi kalau alasan Andrean ingin membantu Angel, aku rasa Angel akan terluka dengan alasan itu,"


"Tapi---niat Andrean baik, Dad. Dia---"


"Iya, aku tahu, Sayang. Tapi Angel belum tentu berpikiran sama dengan kita. Bisa saja Angel merasa Andrean terlalu ikut campur dalam hidupnya. Ia merasa mampu bertahan selama ini dan tidak menutup kemungkinan Ia akan membenci Andrean yang tidak percaya bahwa dia kuat sampai-sampai harus menikahinya demi menjadi malaikat penolong,"


Lovi mengangguk, kalimat Devan ada benarnya. Andrean bertujuan baik namun belum tentu Angel menangkap maksudnya dengan baik juga.


"Kalau masalah cinta, mereka akan belajar. Banyak pernikahan yang terjadi tanpa cinta. Seperti aku dan kamu, contohnya. Tapi kalau pernikahan terjadi karena salah satu pihak yang merasa kasihan dan ingin menolong pihak yang satunya, aku rasa akan sulit untuk tidak menimbulkan masalah nantinya,"


"Nanti kita bicarakan lagi dengan Andrean,"


Devan mengangsurkan tangannya pada sang istri, mengajaknya keluar dari ruang kerja.

__ADS_1


Lovi segera menerima uluran tangan sang suami lalu mereka melangkah menuju ruang makan dimana Auristella sudah duduk di salah satu kursi.


"Dad, Ean dimana? Aku telepon tidak ada jawaban. Ian sudah pulang tapi dia belum,"


"Sedang ada urusan mungkin," jawab Lovi singkat. Malas menjelaskan pada anaknya itu bahwa kini Andrean tengah mengantar Angel dan mungkin sedang berbicara dengan Geno, ayah Angel. Karena sebelum pergi ke rumah sakit tadi, Andrean sudah memiliki niat seperti itu.


"Oh ya, Angel kapan pulang?"


"Sudah pulang," jawab Devan. Auristella menganggukkan kepalanya.


Devan mengedarkan pandangan, "Dimana Adrian?"


"Mandi, mungkin,"


*******


Geno tersenyum miring menatap lelaki di hadapannya yang terlihat tidak gentar dengan penolakan keras darinya.


"Angel belum aku izinkan untuk menikah,"


"Aku berjanji akan membahagiakannya,"


"Terlalu cepat anda berjanji," desis Geno.


Angel yang duduk di samping Andrean sudah merasa cemas sejak tadi sementara Andrean tetap dengan sikap tenangnya. Ia tidak pernah ingin menanggapi suatu hal dengan tidak elegan.


"Jadi kamu yang aku temui beberapa hari lalu adalah calon suami adikku? Oh aku benar-benar tidak menyangka,"


"Sudahlah, Ayah. Biarkan saja mereka menikah. Nantinya Angel tidak akan bersama kita lagi. Tapi kamu harus ingat Angel, jangan pernah lupakan aku,"


Gesty tersenyum miring menatap adiknya. 'Tidak melupakan dalam artian jangan hanya bersenang-senang seorang diri, begitukah maksudnya?' Batin Angel.


"Memang apa yang kamu punya sampai kamu begitu yakin bisa membuat anakku bahagia? Cinta? Cih! Anakku tidak bisa bertahan hidup bila hanya dengan cinta,"


"Yang jelas, aku tidak akan membuatmu malu jika memiliki menantu seperti aku. Dan aku jamin, bukan hanya cinta yang aku berikan untuk Angel," aura dingin tak pernah lepas dari raut Andrean. Sorotnya begitu serius, karena apa yang Ia bicarakan kali ini pun terlampau serius, mengenai hidupnya, masa depannya bersama Angel.


"Ayah, biarkan saja Angel menikah,"


"Ayah sedang tidak bicara denganmu, Gesty!"


Angel terkejut mendengar seruan ayahnya pada sang kakak. Ia sudah terbiasa menyaksikan itu bahkan hampir setiap hari sang ayah seperti itu padanya, tapi tetap saja Ia merasa takut.


"Daripada dia menyusahkan kita, lebih baik dia menikah. Jadi kita tidak harus menanggung hidupnya lagi," jawab Gesty masih tak ingin diam.


'Bukankah terbalik? aku yang menanggung hidup kalian' Lagi-lagi hanya batin Angel yang bisa menimpali ucapan Gesty.


"Kamu sudah berbohong pada Ayah, Angel. Kamu bilang, dia bukan calon suami mu,"


Geno ingat betul Angel yang berkilah tidak mengaku setelah Andrean sendiri mengatakan pada Geno bahwa Angel adalah calon istrinya.

__ADS_1


Lalu sekarang apa? Andrean benar-benar serius dengan ucapannya. Ia akan menjadikan Angel istrinya.


"Maaf, Ayah. Aku---"


"Saat itu rencana pernikahan kami belum pasti," jawab Andrean, tidak membiarkan Angel kebingungan menjawab.


Jujur saja Andrean tidak tahu kalau Angel rupanya belum sedikit pun membagi cerita tentang rencana mereka. Ia kira setelah Ia mengakui dirinya sebagai calon suami Angel, Angel akan mulai terbuka pada ayahnya. Tapi sepertinya, gadis itu belum punya keberanian.


"Ayah---"


"Kamu terlihat sangat yakin bisa membahagiakan putriku dengan apa yang kamu miliki, selain cinta. Kamu tidak tahu, kalau aku bisa memastikan itu?"


"Silahkan, anda bisa mencari tahu apapun tentang aku dan bisa memastikannya sendiri,"


Andrean tidak keberatan sama sekali bila Geno ingin mencari tahu tentangnya demi memastikan apa saja yang Ia miliki walaupun Ia tahu Geno melakukan itu bukan untuk kebahagiaan Angel melainkan untuk kepentingan pribadinya. Kalau benar-benar ditemukan fakta bahwa Ia bukanlah orang yang hanya bisa memberikan cinta pada Angel, lantas Geno akan melakukan apa? Dia akan mengizinkan Andrean menikahi Angel, lalu dia akan meminta bagian? Ck!  itu sudah ada di otak Andrean saat ini.


*******


Angel mengantar Andrean ke mobilnya. Andrean membuka pintu mobil, namun Ia tidak langsung masuk karena Angel menggumamkan namanya.


"Ada apa?" Tanya lelaki itu.


"Kalau aku boleh tahu, alasan kamu mempercepat pernikahan kita karena apa?"


Sebelumnya, Andrean sama dengan dirinya yang belum ingin menikah dalam waktu dekat. Tapi tiba-tiba saja Andrean memutar balik semuanya.


"Aku rasa tidak ada salahnya. Lagipula kalau dipikir-pikir, untuk apa membuang waktu terlalu banyak untuk dekat. Aku dan kamu bahkan sudah lebih dari dekat sejak masih kecil,"


Angel sama sekali tidak dibuat sakit hati ketika Andrean tidak mengatakan 'karena aku mulai mencintai kamu' setelah Ia bertanya mengenai alasan kenapa keputusannya berubah. Karena Ia tahu Andrean dan dirinya terbiasa dekat sebagai teman, sahabat, tanpa perasaan cinta layaknya seorang laki-laki dan perempuan dewasa pada umumnya. Sehingga untuk bisa menghadirkan cinta, itu perlu waktu.


"Tapi, kamu tidak merasa keberatan, Andrean?"


"Tidak, sepertinya kamu yang merasa begitu,"


Angel menggeleng cepat. Ia tidak akan bisa menolak bila keluarga Devan sudah bicara. Jasa mereka luar biasa banyak. Apalagi yang ingin dilakukan Andrean saat ini bukanlah untuk menyakitinya melainkan membuatnya bahagia, begitu janji Andrean tadi 'kan?


"Buktinya, kamu mengelak saat aku mengatakan bahwa kamu adalah calon istriku,"


Angel gelagapan, rupanya Andrean terganggu dengan yang diungkapkan ayahnya tadi. Dia bukan tidak ingin mengakui, tapi Ia hanya ingin melindungi Andrean dan keluarganya.


"Aku pikir pernikahan itu belum akan terlaksana, jadi aku kira, menutupi tentang kamu dan keluargamu adalah pilihan terbaik sampai waktunya tiba. Aku yakin, Ayah akan mencari tahu tentang kalian dan bisa saja dia melakukan sesuatu pada kalian, sementara aku sendiri pun masih sangsi apakah kita akan benar-benar menikah. Seandainya dia meminta ini dan itu pada kamu atau keluargamu setelah tahu bahwa kita akan menikah, aku yang akan malu, Andrean,"


"Kamu meragukan aku yang benar-benar ingin menikahimu?"


Angel tergagap seraya mengusap tengkuknya. Sempat ada pemikiran seperti itu. Sampai akhirnya hari ini Andrean membuktikan ucapannya bahwa Ia benar-benar menerima perjodohan itu dan akan menikahinya.


"Aku yakin, kamu tidak akan dibuat tenang oleh ayah. Mungkin keluarga mu juga,"


"Aku takut dia memanfaatkan kalian," imbuh Angel mengungkapkan kekhawatirannya sejak tadi. Untuk apa mencari tahu tentang Andrean kalau bukan untuk memastikan apakah betul-betul Andrean bisa dimanfaatkan olehnya. Geno mencari tahu tentang Andrean demi memastikan bahwa Ia akan hidup bahagia dengan kepunyaan Andrean? Angel rasa, Ayahnya tidak sebaik hati itu. Mengingat selama ini sang ayah tak pernah peduli apapun tentangnya.

__ADS_1


"Terserah lah dia ingin melakukan apa," ucap Andrean seraya menghela napas jengah dan mengedikkan bahunya.


'Yang terpenting kamu sudah tidak bersama dia dan tidak tersakiti lagi,'


__ADS_2