Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 12


__ADS_3

Auristella menghempas tubuhnya di sofa ruang keluarga begitu tiba di rumahnya usai menjenguk temannya.


"Auris," panggil Devan usai melepaskan jacket yang membalut tubuh atletisnya. Tatapan lelaki itu benar-benar serius hingga membuat Auristella yang tadinya setengah tidur di sofa menjadi duduk dengan posisi yang benar.


"Dia benar temanmu?"


"Dia, siapa Dad?"


"Yang tadi kita jenguk,"


Auristella mengangguk cepat. Kenapa Daddynya terlihat ragu? Kalau bukan teman, lantas kenapa dia menjenguk?


"Teman dekat?"


"Iya, kami memang dekat,"


Devan duduk di samping Auristella hingga membuat anaknya itu cukup terkesiap. Devan memicing menatapnya.


"Kekasih mu?"


"Hah? Bu--bu--bukan, Dad. Dia temanku. Namanya Yongkie,"


Devan berdecak seraya memutar bola katanya, "Bukan namanya yang Daddy tanya,"


Auristella meneguk ludahnya gugup. Usianya sudah dua puluh empat tahun dan sekalipun dia memang kekasih memang kenapa? bukankah wajar kalau dekat dengan laki-laki lebih dari teman di usianya yang sudah terbilang dewasa?


Ah Daddynya terlalu over protective.


"Kalau dia kekasihku, memang kenapa, Dad?"


Mata Devan membulat dan hal itu membuat Auristella mengulum senyum geli nya.


"Memang Daddy sudah izinkan untuk punya kekasih? Belum 'kan?"


Auristella tergagap. Gadis itu mengusap tengkuknya yang mendadak dingin di interogasi oleh sang ayah.


"Heheh, bukan, Dad. Dia bukan kekasih ku. Aku bersumpah, dia hanya teman. Aku masih single, serius, Dad,"


Daripada Ia bermain-main dengan Daddy nya lebih lama lagi, lebih baik Ia jujur saja bahwa memang Ia belum memiliki kekasih.


"Kamu harus jujur mengenai siapapun yang sedang dekat dengan kamu, Auris,"


"Iya, Dad. Selama ini 'kan memang begitu,"


"Tapi Daddy baru mengenal nya tadi,"


"Dia baru setahun belakangan ini berteman denganku,"


"Apa?! Setahun?!"


"Dan kamu tidak bercerita apapun pada Daddy," imbuh Devan.


Mata Auristella mengerjap. Wajah Devan datar sekali. Matanya menajam terlihat sangat kesal karena tidak biasanya Auristella tidak terbuka soal teman laki-laki.


"Memang aku tidak pernah cerita? Rasa-rasanya sering. Mungkin Daddy lupa. Tidak apa, Dad. Aku maklum kalau Daddy lupa. Daddy 'kan sudah tua usianya,"


Usai mengatakan itu Auristella berlari meninggalkan Devan yang menggeram pelan, "Benar-benar anak itu."


********


Adrian bisa saja membawa Adrina ke hotel. Namun tidak mungkin Ia membiarkan gadis itu sendirian 'kan? Lalu kalau Ia berada di sana juga, apakah Ia bisa menjamin semuanya akan baik-baik saja? tidak!


Lagipula Ia pikir lebih baik Adrina dibawa ke rumahnya. Ia bisa meminta bantuan Mommynya untuk merawat Adrina yang ketika tiba di rumahnya sudah benar-benar memejamkan mata. Jelas saja hal itu membuat Lovi terkejut.


Lovi bahkan sempat memarahi Adrian karena Ia pikir Adrian lah yang membuat Adrina seperti ini. Setelah Adrian selesai berganti baju, Ia bicara baik-baik pada Lovi dan menjelaskan semuanya hingga Lovi tak berpikir macam-macam.


"Kamu tidak membohongi, Mommy 'kan?"

__ADS_1


"Astaga, Mom. Di sini aku yang menolong Adrina, bukan aku yang membuat dia seperti itu,"


Lovi menghela napas lega. Ia bisa melihat kejujuran di mata anak keduanya itu. Ia mengusap wajah Adrian. "Mommy hanya tidak ingin anak-anak Kommy menjadi orang jahat,"


"---dan brengsek," lanjut Adrian yang membuat Lovi tersenyum.


"Maaf aku sudah mengganggu waktu istirahat Mommy. Ini semua karena Adrina,"


Lovi belum tidur karena harus menggantikan pakaian serta memastikan Adrina tidur dalam kondisi nyaman di kamar tamu. Sementara Devan masih berkutat dengan pekerjaan dan Auristella langsung beristirahat setelah pulang dari rumah sakit menjenguk temannya.


"Tidak apa, Adrina sudah seperti anak Mommy sendiri,"


Adrian tersenyum lega. Ia sudah yakin Lovi tidak akan keberatan menerima kehadiran Adrina malam ini di rumah mereka secara tiba-tiba.


"Mom, aku mohon pada Mommy, jangan katakan pada Aunty Sheva dan----"


"Iya, Sayang. Mommy ingat, lebih baik kamu istirahat. Tenang, Mommy akan melindungi Adrina karena Mommy tahu anak itu tidak berniat untuk mengecewakan orangtuanya,"


"Terimakasih ya, Mom. Aku akan tidur sekarang. Mommy juga istirahat ya,"


*******


Suara dentingan sendok dan garpu yang beradu terdengar ketika keluarga kecil Devan sarapan dan tentunya dengan satu orang gadis yang bukan bagian dari mereka.


"Setelah ini kamu pulang 'kan?"


Lovi memperingati putrinya yang bertanya seperti itu pada Adrina. Nada bicaranya terlampau santai tapi Lovi takut Adrina merasa tersinggung.


Tapi sepertinya tidak. Adrina terkekeh ringan. Dia sudah tahu bagaimana Auristella. Memang sedikit menyebalkan, sama seperti kakak keduanya.


"Iya, Auris,"


"Oh, aku kira masih nyaman di sini untuk beberapa hari ke depan,"


"Memang boleh?"


"Maksudmu?"


"Memang boleh kalau aku menginap di sini hingga beberapa hari ke depan?"


"Boleh, Sayang," jawab Lovi dengan cepat.


Auristella menatap Ibunya dengan cepat. Apa-apaan?! Kalau Adrina menginap di sini, Ia akan bersama dengan Adrian terus. Itu pasti!


"Kenapa nyaman tinggal di sini? Karena kakak ku ya?" tanya Auristella seraya tersenyum miring ke arah Adrina.


Adrina tersenyum kecut. Auristella si adik posesif kembali lagi.


"Aku tidak mengizinkan. Kamu pikir rumahku ini dormitory?" Adrian menggeleng tegas. Ia sudah berbaik hati semalam mengizinkan Adrina menginap di rumahnya bahkan dirawat juga oleh Mommy nya ketika gadis itu mabuk.


"Adrian, Adrina hanya bercanda. Dia juga punya rumah. Sudah, jangan berdebat lagi," ucap Devan menengahi. Telinganya panas mendengar perdebatan kecil antara kedua anaknya dengan Adrina.


"Kenapa Mommy dan Daddy kamu tidak boleh tahu kalau kamu menginap di sini semalam?"


Auristella tidak sengaja mencuri dengar pembicaraan Adrina dengan Lovi tadi. Selain Adrian sudah meminta seperti itu pada Lovi, Adrina pun melakukan hal yang sama. Adrina sangat memohon pada Lovi agar Lovi menutup rapat mulutnya mengenai kondisinya semalam sehingga Ia bisa menginap di sini.


"Terjadi sesuatu padamu semalam?"


Pertanyaan Auristella membuat Adrina kesulitan menelan makanan yang berada di mulutnya.


"Dia mabuk," jawab Adrian karena Ia melihat Adrina yang sepertinya sulit sekali untuk jujur. Mungkin karena Ia merasa malu?


"Ck! Ck! Ternyata kamu tidak sepolos yang aku pikir,"


Adrina terdiam kaku. Kedua tangannya yang berada di depan mulut untuk menyuapkan makanan langsung terhenti dan bergantung di udara.


Reaksi Auristella saja seperti itu ketika mengetahui bahwa Ia liar semalam walaupun tak dipungkiri itu semua bukan karena keinginannya. Apalagi jika kedua orangtuanya tahu. Adrina tidak bisa membayangkan akan sebesar apa kemarahan dan kekecewaan yang mereka rasakan.

__ADS_1


"Kalian itu harus cari perempuan yang benar-benar baik! Jangan bodoh karena cinta!"


Seolah Ia yang paling mengerti tentang percintaan, Auristella menasihati kedua kakaknya.


"Makanya, jangan punya kekasih sekarang! Nanti-nanti saja," lanjut anak bungsu Devan itu.


Rahang Adrian mengeras menatap tajam sang adik. Sementara Auristella mengendikkan bahunya tampak tidak peduli.


"Kalau perlu, nanti aku yang mencarikan pendamping untuk kalian,"


"Uhuk"


"Uhuk"


Adrian tersedak hingga Lovi cepat-cepat mengangsurkan air minum untuk anak nya itu.


Auristella mendapat tatapan tajam dari ayahnya dan Ia langsung tidak berkutik. "Yang berhak melakukan itu adalah mereka sendiri, Auristella. Atau, Mommy dan Daddy. Bukan kamu,"


Devan menegur anaknya yang entah bercanda atau apa sampai bisa berbicara seperti itu. Pantas saja Adrian tersedak. Mungkin Adrian tak bisa membayangkan jika nanti benar-benar adiknya lah yang mencarikan pasangan untuknya. Bisa dipastikan Auristella yang selama ini perfectionis akan terlalu banyak kriteria dalam menentukan pasangan untuk kedua kakaknya.


*****


"Ucapan Auris tadi jangan kamu pikirkan. Kamu tahu sendiri bagaimana adikku itu. Dia hanya tidak menyangka saja kalau kamu akan mabuk sampai aku harus membawa kamu ke rumahku,"


Selesai kuliah, Adrian tidak sengaja bertemu dengan Adrina yang rupanya juga baru menyelesaikan kuliahnya. Ia segera mengajak gadis itu untuk pulang bersama.


Melihat wajah Adrina, Adrian jadi mengingat obrolan mereka tadi pagi saat Adrina ikut sarapan bersama kedua orangtua, kakak, dan adiknya. Ia juga ingat betapa menyebalkannya sikap Auristella terhadap Adrina tadi pagi.


"Padahal hanya mabuk ya? Kalau dipikir-pikir, ada banyak perempuan yang seperti aku atau bahkan melakukan hal yang lebih,"


Adrian tersenyum tipis. Tangannya bergerak untuk mengacak pelan rambut Adrina. Sementara gadis itu langsung berdecak kesal sembari menata kembali rambutnya.


"Selama ini, dia mengenalmu sebagai Adrina yang baik, lugu, dan menyebalkan karena sangat dekat dengan kakaknya. Jadi---mungkin dia terkejut saja setelah mengetahui bahwa kamu ternyata bisa juga menjadi---"


Adrian menoleh singkat padanya lalu mengedip, "nakal." lanjut Adrian yang mengundang pukulan Adrina di lengannya.


"Tapi kamu tidak melakukan apapun 'kan saat aku mabuk?"


Sejak tadi pertanyaan itu ingin sekali keluar dari mulutnya. Namun Ia masih berpikir ulang. Ia takut Adrian tersinggung, atau Adrian mengejeknya dengan berkata, "Hei, untuk apa aku melakukan sesuatu padamu? Seleraku bukan kamu."


Mengingat Adrian sangat menyebalkan, bisa saja lelaki itu berkata demikian hingga membuat Adrina malu bukan main.


"Aku langsung membawamu ke rumahku. Dan aku tidak sudi mencuri kesempatan disaat kamu mabuk. Itu terdengar sangat brengsek,"


"Lagipula, kalau aku tertarik, aku bisa melakukannya ketika kamu sadar. Sayangnya, aku tidak tertarik,"


Nah kan!


Sialan Adrian!


Kalimat lanjutannya membuat Adrina mengumpat. Seburuk itukah dia sampai mulut Adrian dengan percaya dirinya berkata 'tidak tertarik'. Dia cantik hey! Apa Adrian tidak sadar kalau sahabatnya sangat cantik? Dengan kecantikannya itu Ia pasti menarik di mata orang lain.


Bugh


Adrina meninju lengan Adrian hingga meringis. "Kamu marah?" Tanya lelaki itu dengan santai. Apa dia lupa dengan perkataan nya tadi yang seolah Adrina sangat buruk untuk membuat orang tertarik.


"Kamu marah karena aku tidak melakukan sesuatu pada kamu saat mabuk, atau---"


"Jangan sampai mulutmu aku lempari sepatu ya!"


Saat itu juga tawa Adrian meledak. Apalagi saat melihat Adrina benar-benar melepas sneakers yang membalut kaki kenjang nya.


"Aku bercanda, Adrina. Jangan marah-marah. Nanti semakin tidak ada laki-laki yang mau dekat dengan kamu, selain aku,"


"Oh dia benar-benar menantangku,"


Adrina memasang kuda-kuda untuk melempari Adrian dengan sepatu, namun sikap tubuh Adrian langsung membuatnya terdiam kaku. Dan juga ucapannya. Kenapa terdengar serius?

__ADS_1


Adrian mengusap pipinya dengan lembut lalu menjawil hidung runcingnya. Adrian menatapnya sekilas, berhubung Ia masih mengemudikan mobilnya. Adrian tersenyum lebar, "Kamu itu menarik. Bahkan sangat menarik. Tapi seperti yang aku katakan tadi, aku tidak sebrengsek itu untuk melakukan sesuatu pada kamu disaat kamu sedang tidak sadar,"


__ADS_2