
“Hai, Mom,”
“Halo, Sayang. Wow bawa apa itu?”
“Makanan, aku beli saat jalan pulang ke rumah,”
Andrean langsung meminta tolong pada maid untuk menghidangkan makanan yang Ia bawa itu ke dalam piring.
Di meja makan ada Lovi yang tengah mengaduk kopi buatannya untuk Devan yang baru saja sampai di rumah juga, tak lama sebelum Andrean datang.
“Aku sangat ingin mencobanya,”
“Oh seafood ya,” ujar Lovi setelah melihat makanan yang Andrean beli itu dihidangkan di meja makan.
“Iya, Mom. Aku melihatnya tidak sengaja di pinggir jalan lalu aku tiba-tiba menginginkannya. Aku langsung menghentikan mobilku untuk beli itu. Ya semoga saja enak. Akan aku bawa satu piring untuk aku dan Angel ke kamar ya, Mom. Itu untuk kita makan bersama, silahkan dicoba juga,”
“Okay, Sayang. Terimakasih ya,”
Andrean tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Setelah itu Ia pergi meninggalkan ruang makan dengan membawa satu piring berisi makanan.
Di tangga tak sengaja Ia bertemu dengan Adrian yang akan pergi bersama Auristella. Andrean mengangkat salah satu alisnya. Tanpa dia mengeluarkan suara, adik-adiknya sudah tahu kalau Andrean itu bertanya.
“Mau ke mall. Aku mengajak Ian untuk menonton di sana,”
“Heh perlu kamu ingat ya, kamu itu bukan mengajak tapi memaksa! Aku sudah bilang lain kali tapi kamu bilang takut filmnya sudah habis masa tayang. Kamu langsung masuk begitu saja ke kamarku dan menarik-narik tanganku sulaya bangun padahal aku lagi berbaring tadi,” ujar Adrian yang sedang meluapkan rasa kesalnya atas sikap sang adik tadi. Ia koreksi kata ‘mengajak’ yang baru saja Auristella lontarkan. Yang sebenarnya terjadi adalah, Ia dipaksa, bukan diajak.
“Ya daripada kamu sedih ‘kan, lebih baik aku ajak pergi,”
“Sembarangan! Memang siapa yang sedih? Aku tidak sedih,”
Auristella berdecak dan mendorong bahu kakak keduanya itu. Auristella tidak senang ketika Adrian berbohong. Padahal jelas-jelas yang Ia lihat seperti itu.
“Halah, kamu pikir aku bodoh ya? Aku tau kamu sedang bersedih, aku liat kamu badmood jadi aku pastikan kamu lagi sedih,”
“Badmood?”
“Ya, kamu akan keliatan beda kalau sedang badmood,”
“Ya sudah daripada berdebat di tangga lebih baik kalian berangkat sekarang, hati-hati ya,”
Andrean menyudahi perdebatan antara Adrian dan Auristella. Ia menggerakkan sedikit tangannya mempersilahkan kedua adiknya itu untuk segera pergi.
“Bye, Ean,”
__ADS_1
Andrean menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan adik perempuan satu-satunya itu.
Kedua adiknya sudah bergegas pergi, sementara Andrean melanjutkan langkah kakinya menuju kamar.
Ia mengetuk pintu kamarnya sebentar setelah itu menekan tuas pintu. Ia tersenyum melihat Angel sedang menonton televisi. Angel langsung beranjak menghampiri suaminya dan memeluk.
“Akhirnya kamu pulang juga. Aku sudah menunggu dari tadi sebenarnya, tapi aku ingat tadi pagi kamu bilang pulangnya sedikit terlambat ya?”
“Iya maafkan aku baru sampai rumah. Oh iya, ini aku membawa sesuatu untukmu semoga kamu suka,”
Andrean menunjuk piring yang Ia bawa. Angel menatap itu dengan sorot mata berbinar “Wow makanan laut? Kelihatannya enak,”
“Iya kita coba ini sekarang ya, aku mau cuci tangan dulu,” ujar Andrean pada istrinya.
“Aku juga mau cuci tangan, kita makan berdua?”
“Iya, kamu keberatan? Kurang kah? Nanti aku tinggal ambil lagi di bawah,”
“Tidak-tidak ini sudah cukup,”
Angel dan Andrean bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tangan mereka. Tidak pernah lupa untuk memastikan tangan dalam keadaan bersih sebelum memegang makanan.
Sepasang suami istri itu duduk di sofa kamar dan duduknya berhadapan dengan kaki bersila. Tanpa banyak omong, langsung menyantap dan kompak mengangkat ibu jari setelah suapan pertama dikunyah.
“Syukurlah kalau enak menurutmu,” ujar Andrean seraya mengusap sudut bibir istrinya yang ada bumbu.
“Kalau menurut pendapatmu bagaimana?” Tanya Angel.
“Enak juga, aku tidak salah pilih berarti ya,”
“Bagaimana ceritanya kamu bisa membeli ini? Belinya waktu mau pulang?”
“Iya, Sayang. Di jalan pulang ke rumah, aku melihat ini dan aku langsung tertarik. Aku langsung beli saja,”
“Wow keren bisa tau makanan enak,”
“Padahal aku hanya membeli karena ingin, bukan karena menebak ini enak, Sayang,”
Andrean beranjak sebentar mengambil air minum di kamar mereka setelah itu Ia letakkan di atas meja yang berhadapan dengan tempat mereka duduk sekarang.
“Ean, aku mau cerita sesuatu,”
“Tentang apa itu?”
__ADS_1
Angel meneguk air minum dulu sebelum mulai bercerita pada suaminya yang menatap ke arahnya dengan fokus siap untuk menjadi pendengar yang baik.
“Jadi, tadi aku muntah, tapi penyebabnya itu aneh menurutku,”
“Apa? Kamu muntah? Astaga, berapa kali, Sayang? Ya sudah habis ini kita ke rumah sakit ya? Aku mohon jangan bantah aku. Kamu sudah tidak baik-baik saja, Sayang,”
“Tunggu sebentar aku belum ceritakan kronologinya ‘kan?”
“Okay aku dengarkan dengan baik,”
Andrean sampai berhenti makan demi mendapatkan penjelasan yang rinci dari Angel tentang keadaannya.
“Sambil lanjut makan, Ean. Jangan hanya menatapku saja,” ujar Angel seraya terkekeh. Lucu melihat wajah serius suaminya.
“Ya sudah cepat cerita, Angel,”
“Jadi tadi Mommy membawakan roti untuk aku. Aku sangat menyukai roti dari toko Mommy, dan kamu tau itu ‘kan? Apalagi yang roti cokelat, aku benar-benar fans berat. Tapi anehnya tadi setelah bungkus roti itu aku buka, aku langsung muntah padahal aromanya enak, sama seperti yang biasa aku makan. Dan sebelum makan aku benar-benar semangat sekali untuk menyantap itu tapi ternyata aku malah muntah,”
“Aromanya enak? Tidak busuk atau—“
“Tidak-tidak, aromanya enak seperti biasa, roti Mommy ‘kan selalu baru, dan selalu enak. Aku adalah penggemar semua jenis roti atau kue di toko punya Mommy. Tapi anehnya tadi aku malah memuntahkan roti cokelat yang paling jadi kesukaan aku,”
“Rotinya masih ada, Sayang?”
“Ada, kamu mau?”
“Mau coba abis makan ini ya,”
Angel menganggukkan kepalanya. Ia dan suaminya kembali fokus menikmati makanan yang dibeli oleh Andrean sambil masih membahas perkara roti yang sudah membuat Angel muntah.
“Kenapa bisa begitu ya, Sayang? Aku bingung, apa penyebabnya kalau memang benar roti itu layak dikonsumsi,”
“Entah, aku merasa tidak suka dengan aromanya, membuat aku mual. Padahal selama ini ‘kan tidak pernah begitu. Aku benar-benar bingung, dan jujur aku sedih karena aku sangat menyukai roti itu tapi malah tidak bisa memakannya. Jangankan makan, menciumnya juga aku sudah mual. Entah kenapa aku ini ya? Mau sampai kapan juga aku begini?”
“Kamu baik-baik saja, jangan khawatir. Mungkin rotinya ada yang tidak beres,”
“Tidak, aku bisa jamin. Jadi yang salah itu bukan rotinya, tapi aku, Ean,”
“Ssst jangan menyalahkan dirimu begitu. Tidak ada yang salah di sini, Sayang,
“Memang salahnya di aku, roti itu enak, cuma entah kenapa aku malah mual,”
Andrean menyudahi makannya. Ia langsung ke kamar mandi untuk membersihkan tangan sehabis makan, setelah itu Ia mengambil paper bag dengan nama bakery shop milik Mommy nya.
__ADS_1