Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 31


__ADS_3

"Aku akan ikut joging denganmu. Aku berubah pikiran,"


Andrean mengangguk, kemudian Ia melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti tadi.


"Andrean, kamu ingin mandi? Bukankah seharusnya joging dulu baru mandi?"


"Kamu yakin tidak malu joging dengan aku yang seperti ini?"


Andrean lagi-lagi berbalik menatap istrinya. Ia melirik dirinya sendiri dari atas sampai bawah dimana Ia hanya mengenakan satu set pakaian tidur.


Angel terkekeh merasa bodoh. Tidak mungkin Andrean mau keluar dengan piyama tidurnya.


"Sebenarnya aku tidak masalah,"


"Dengan wajahku yang kusut begini dan rambut yang berantakan?"


Angel mengangguk yakin. Andrean tetap menjadi versi terbaik dalam dirinya sekalipun baru bangun tidur.


Andrean mendengus tak percaya dengan istrinya. Ia yang punya diri saja merasa tidak percaya diri bila harus keluar kamar apalagi untuk joging dengan penampilannya sekarang. Sementara Angel tidak masalah katanya.


Sembari menunggu Andrean bersiap, Angel menyelesaikan kegiatannya yang tadi membersihkan nakas, kemudian Ia merapikan tempat tidur mereka. Ia juga menyapu lantai. Biasanya Ia akan mengepel lantai kamar usai Andrean pergi bekerja.


"Sudah bersih-bersihnya. Nanti terlanjur siang,"


"Iya, ini sudah,"


"Aku ganti baju sebentar,"


Andrean mengangguk. Ia menunggu istrinya di lantai bawah. "Jadi, tidak sarapan bersama?"


Andrean menolak Ibunya dengan gelengan halus. "Aku akan joging dengan Angel, Mom,"


Sebenarnya tanpa diberi tahu pun Livi tahu anaknya akan olahraga pagi ini dilihat dari kostum yang dipakainya.


"Baiklah,"


"Ean, memang Angel mau diajak joging?"


"Mau, dia tidak seperti kamu yang pemalas,"


"Hiiiii kamu sidah banyak bicara ya sekarang! Sidah pintar buat aiu kesal juga!"


Andrean tersenyum kecil melihat adiknya yang jengkel. Ia mengacak pelan rambut adiknya kemudian meninggalkan ruang makan dengan satu gelas susu di tangannya.


Ia menunggu Angel di sofa ruang tengah. Baru duduk sekitar lima menit sosok yang Ia tunggu sudah siap dengan celana joger dan juga t-shirt berwarna hitam polosnya.


"Maaf menunggu lama,"


Andrean menggeleng. Lama darimana? Waktu untuk Angel bersiap tidak ada apa-apanya jika dibandingkan sang adik. Ia pikir semua gadis di dunia sama, membutuhkan waktu satu jam paking cepat hanya untuk bersiap sebelum pergi.


"Aku ambil minum dulu ya, untuk kita bawa,"


Angel segera bergegas ke dapur. Ia melewati meja makan dimana keluarga suaminya tengah sarapan.

__ADS_1


"Seperti biasa, masakan kamu benar-benar lezat,"


"Biasa saja. Aku juga bisa kalau hanya buat beef roll, scrambled egg, dan salad begini," sahut Auristella yang mengundang decakan Adrian.


"Tidak menghargai sekali kamu ya," desis Adrian pada adiknya.


"Auristella hanya gengsi mengakui bahwa masakanmu sangat lezat, Angel,"


"Asal kamu tahu, Auris sudah menghabiskan lima beef roll,"


Auristella menatap tajam Adrian yang menanggapinya dengan kerlingan mata jahil nya.


"Kamu mau apa? Makan dulu?"


"Oh tidak, Mom. Aku ingin ambil minum untuk joging. Sebentar ya, Mom,"


Angel beranjak mendekati dispenser yang tak jauh dari meja makan. Sebelumnya Ia sudah mengambil tumblr untuknya dan Andrean kemudian Ia mengisinya dengan air minum.


Setelah itu, Ia pamit pada orang-prang yabg sedang menikmati sarapannya di meja makan.


"Aku pergi dulu,"


"Iya, hati-hati, Sayang,"


"Iya, Mom,"


Lovi mengangguk sekilas pada mereka semua sebelum bergegas menghampiri suaminya yang sudah menunggunya.


*****


Angel tidak menyangka kalau hidupnya akan berubah seperti ini. Ia yang biasanya pagi-pagi selalu sibuk dengan pekerjaan rumah kemudian pekerjaan di restoran setelahnya, kini bisa meluangkan waktu untuk sekedar olahraga bersama suaminya.


Hidupnya saat ini benar-benar santai. Ia tidak pernah berhenti bersyukur atas apapun yang Tuhan berikan untuknya.


Tuhan begitu baik bisa mempertemukan dirinya dengan Andrean dan keluarga lelaki itu. Tak dipungkiri, mereka lah yang membuat dirinya seperti ini. Merasakan hidup tanpa perintah dan tekanan adalah yang Angel inginkan sejak lama.


"Lelah?"


Angel menoleh disela langkah kakinya yang berlari kecil. Andrean tepat di sampingnya.


"Tidak,"


Andrean tak mengatakan apapun lagi. "Maksudku, belum,"


"Kalau perlu istirahat, silahkan,"


Aku ikut kamu saja. Kalau kamu sudah lelah dan perlu istirahat, maka aku akan istirahat juga,"


Angel bicara sembari menatap Andrean dari samping hingga Ia tidak menyadari kalau ada batu kecil yang menghalangi langkahnya hingga Ia nyaris tersungkur.


Andrean menahan lengannya. Angel menghela napas lega. Ia terkejut dan takut jatuh. Tapi beruntungnya Andrean langsung menahan lengannya.


Andrean berdecak, "Kamu lelah," ujar lelaki itu yang merasa kalau Angel yang baru saja lengah itu disebabkan oleh rasa lelah nya.

__ADS_1


"Kita istirahat sebentar,"


Andrean membawa istrinya ke sebuah tempat duduk di lingkaran taman yang dihuni bunga-bunga cantik.


Angel membuka Tumblr minumnya kemudian meneguk isi di dalamnya. Andrean melakukan hal yang sama.


"Aku sudah lama tidak joging,"


"Tidak aku pungkiri ternyata kamu kuat juga,"


"Biasanya perempuan tidak kuat berlari lumayan lama ya?"


Andrean mengangguk, Ia melirik jam tangannya. "Kita sudah hampir dua puluh menit,"


"Auristella hanya kuat lima menit," imbuh lelaki itu seraya terkekeh kecil mengingat adiknya yang setiap joging selalu mengeluh lelah padahal baru sebentar mereka joging. Sampai terkadang Adrian yang kesal dengan adiknya menyuruh pulang. Akhirnya hanya Adrian dan Andrean saja yang joging. Auristella bersiapnya lama, joging nya sebentar.


"Terakhir kamu joging kapan?"


Andrean mulai membangun obrolan dengan istrinya sementara mereka menunggu rasa lelah hilang.


"Aku lupa. Sudah lama sekali. Selalu tidak sempat untuk joging,"


"Kenapa? Karena kesibukan kamu?"


Angel hanya mengangguk sembari tersenyum. Ia menghapus peluh di keningnya kemudian berusaha menghadirkan angin dari tangannya yang sengaja Ia kibaskan di depan wajah.


"Kuliahmu bagaimana?"


Meskipun masih merasa aneh dengan suaminya yang tiba-tiba banyak bicara padahal sebelumnya tidak pernah seperti sekarang, tapi Angel selalu menanggapi.


"Nanti siang aku izin ke kampus ya,"


"Ya,"


"Aku senang kamu tidak banyak diam. Karena kalau kamu diam terus, aku bingung harus apa," ujar Angel dengan tawa kecilnya. Semilir angin berhasil membuat beberapa jumput rambut Angel yang jatuh bergerak seirama. Hal itu membuat Andrean terpaku sejenak dan tidak fokus dengan apa yang dikatakan sang istri.


"Andrean?"


"Hm? Kamu jangan terlalu dingin ya,"


Angel kembali terkekeh. Ia terdengar sangat menuntut tidak? Apa Ia menginginkan Andrean tidak jadi dirinya sendiri?


"Aku sedang berusaha. Mommy juga memintaku begitu. Sulit sekali rasanya,"


"Jadi dirimu saja. Aku tahu bagaimana kamu selama ini,"


Andrean menggeleng, "Akan jadi seperti apa pernikahan kita kalau aku selalu seperti itu,"


Andrean yang terbiasa diam ketika perasaannya baik-baik saja maupun tidak, diam ketika dirinya setuju dengan suatu hal ataupun tidak, bicara hanya seperlunya saja, apakah Angel nyaman dengan dirinya yang seperti itu?


Angel tiba-tiba merasa panas, di pipinya. Kenapa Ia merasa senang dengan Andrean yang terlihat begitu berusaha untuk membuatnya nyaman dalam hubungan mereka.


Ia menarik-narik bagian atas kausnya untuk menimbulkan angin dari sana. Kibasan tangannya tidak terasa sama sekali untuk meninggalkan rasa panas yang menjalar dari telinga hingga pipinya.

__ADS_1


__ADS_2