Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 96


__ADS_3

“Usia kandungannya sudah mau masuk dua bulan ya. Kondisinya sehat, tapi kurangi kegiatan ya kalau bisa istirahat saja dulu,”


Angel dan Andrean saling menatap dan tersenyum haru. Kabar kehamilan sudah dipertegas oleh dokter kandungan dan mereka lega mendengar kondisinya sehat.


Angel mengeratkan tangan Andrean yang sejak setia mendampingi dirinya selama menjalani pemeriksaan.


“Anak kita, Sayang,” bisik Andrean setelah mencium kening Angel.


“Pola makan harus baik, istirahat, rajin minum vitamin, jangan stres memikirkan apapun,” pesan dokter pada Angel.


“Iya, Dokter,”


“Datang ke sini dua minggu lagi biar kita lihat perkembangannya bersama-sama,”


“Baik, Dokter,”


Setelah memberitahu keadaan janin, ada sesi tanya jawab dan dokter memberikan pesan-pesannya, barulah Andrean dan Angel meninggalkan ruangan tak lupa Dokter memberikan resep kepada Andrean.


Lovi dan Auristella langsung menyambut sepasang suami istri itu dengan ekspresi penasaran. “Bagaimana?”


“Apa kata dokter, Ean?” Tanya Lovi seraya mengusap perut Angel.


“Usia kandungan Angel sudah mau masuk dua bulan, Mommy,”


“Wow keponakanku sudah mau masuk dua bulan? Selamat Ean, Angel. Smeoga anak kalian tumbuh sehat sampai besar nanti, dan persalinannya berjalan lancar. Ingat, Angel! Jangan memikirkan hal-hal yang tidak penting,”


“Kamu tau saja kalau itu merupakan salah satu pesan dokter. Angel tidak diperbolehkan untuk stres,”


“Nah ‘kan, makanya jangan stres-stres, okay?”


Angel tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Adiknya ini benar-benar perhatian sekali. Sampai mau juga menemani ke rumah sakit, padahal tadinya Lovi menyuruh Ia untuk di rumah dengan konteks bercanda tapi Auristella bersikeras ingin ikut ke rumah sakit.


“Makan yang benar ya, Angel, jangan terlambat, harus cukup nutrisi kamu, Sayang. Karena kamu bukan hanya memberi makan perutmu sendiri, sekarang ada nyawa lain yang harus kamu pikirkan,”


“Iya, Mommy,”


Angel tidak kalah bahagia ketika ibu dari suaminya benar-benar menjadi ibu mertua yang menyerupai ibunya sendiri. Sejak bersama Lovi, rasa rindunya pada sang ibu bisa sedikit terobati oleh Lovi. Walaupun disaat-saat tertentu Angel maish suka merindukan ibunya. Apalagi disaat tahu hamil saat ini. Andai saja Ibunya masih ada, pasti tidak kalah bahagia dengan Lovi.


“Terimakasih, Mommy, Auris, sudah mau menemani aku ke sini,”


“Sama-sama. Tadinya aku mau ikut masuk ke dalam cuma malu. Bukan aku yang hamil tapi aku malah ikut,” ujar Aursitella seraya tertawa. Tadi benar-benar ada keinginan untuk ikut bertemu dokter di ruangan, supaya Ia bisa melihat langsung pemeriksaan dokter terhadap Lovi dan mendnegar penjelasan dokter juga. Akan tetapi Ia malu, tidak enak pada dokter.

__ADS_1


“Takutnya dokter bibgung yang hamil aku atau kamu. Mommy juga melarang aku. Jadi ya sudah, aku di luar dengan Mommy,”


“Iya untuk apa juga masuk, Sayang? Ada Andrean yang mendampingi,” uahr Lovi seraya mengusap ranbut anaknya yang terurai.


“Tapi aku ‘kan penasaran, Mommy. Aku ingin tahu penjelasan dokter tentang keponakanku,”


“Yang terpenting sekarang kita semua sudah tau kalau Angel dan janinnya sehat, Sayang,”


“Iya aku bersyukur sekali mendnegarnya. Ya sudah ayo sekarang kita pulang,”


“Sebentar, aku diberikan resep. Aku ambil dulu obatnya ya,”


“Hah? Kenapa Angel diberikan obat? Memang ada yang sakit?”


“Memang seperti utulah kalau hamil, Sayang. Apalagi Angel ini kandungannya masih muda. Pasti ditunjang dengan vitamin dan lain-lain untuk kesehatan kandungannya,”


“Oh begitu ya, Mom,”


“Kalian lebih dulu ke mobil tidak apa-apa,”


“Tunggu kamu selesai menebus resep saja, Ean,”


“Okay, Mom,”


“Sayang, istirahat yang cukup ya,”


“Iya, Mom,”


“Makan yang benar, Angel,”


“Iya siap,”


“Kalau ada apa-apa, yang dirasa tidak enak, jangan sungkan bicarakan pada kami di rumah,”


“Iya, Mommy,”


“Kalau sedang menginginkan sesuatu misal ingin dimasaki sesuatu oleh Mommy, kamu jangan sungkan untuk mengatakannya, Sayang,”


“Iya, Mom. Tenang saja, aku pasti akan merepotkan seluruh orang rumah,”


“Hahaha itu yang ditunggu,”

__ADS_1


“Jangan bicara begitu, Angel. Kamu tidak pernah merepotkan sedikitpun. Kita ini ‘kan keluarga, wajarlah saling membantu. Tidak ada kata merepotkan,”


Auristella menatap Angel dengan tajam, dan nada bicaranya tegas. Angel terkekeh lalu mengusap pipi Auristella.


“Apa jenis kelaminnya belum bisa diketahui, Angel?”


“Ya belum lah, Sayang. Nanti ya, sabar belumw aktunya dia menunjukkan jenis kelamin,”


Auristella terkekeh, Ia bebar-benar antusias menyambut kehadiran keponakan pertamanya. Terlalu tidak sabar sampai jenis kelamin pun ditanyakan sekarang.


“Kamu berharapnya punya keponakan pertama jenis kelamin apa? Perempuan atau laki-laki?”


“Perempuan, tentu saja,”


“Okay, kenapa memangnya?” Tanya Angel penasaran.


“Supaya bisa menjadi temanku, Angel. Karena di rumah terlalu banyak laki-laki! Dan aku butuh teman perempuan, yangs ama seperti kamu,”


Angel terkekeh sekarang Ia sudah tahu kalau harapan adiknya itu adalah punya keponakan perempuan. Pantas sumringahs ekali ketika tahu Ia hamil. Selain karena keponakan pertama, Auristella perlu teman perempuan.


“Kalau kamu sendiri berharapnya apa?” Tanya Auristella yang ingin tahu juga keinginan Angel.


“Apa saja yang penting kondisinya sehat,”


“Sama, aku juga apa saja yang pentingd ia bisa lagir ke dunia ini dengan sehat, tapi kalau seandianya aku boleh request, sayangnya tidak bisa ya, tapi ini seandainya saja, aku ingin keponakan pertamaku peremluan supaya bisa jadi temanku. Tapi kalaupun laki-laki juga tidak masalah sedikitpun. Aku tetap senang menyanbutnya. Dia tetap aku anggap keponakan. Tidak mungkinlah aku tidak jahat pada keponakanku. Hanya karena jenis kelamin tidak sesuai harapan, aku langsung tidak menerimanya. Apapun jenis kelamin dia, aku terima dengan senang hati. Aku sangat menyayanginya. Dia tetap bisa menjadi temanku. Hanya saja tidak bisa diajak menjadi teman ke tempat perawatan,”


Lovi dan Angel terkekeh. Ternyata butuhnya teman perawatan. Jadi itulah sebannya berharap punya keponakan perempuan. Tapi Angel lega mendnegar perjataan Auristella barusan. Auristella akan tetap menerima, menyayangi anaknya.


“Semoga dia bisa menjadi anak yang baik,”


“Aamin, sama seperti ibunya,”


“Lebih baik dari aku kalau bisa,”


“Iya, yang terpenting jangan menyebalkan seperti ayah dan juga Uncle nya. Semoga dia tidak terlalu dingin, seperti Ean, dan tidak terlalu berisik seperti Ian,”


“Kalau kamu mengatakan Ia itu berisik, lalu apa kabar denganmu, Sayang. Kamu pun berisik. Lengkaplah, ada tiga personel yang berisik kalau seandainya keponakan pertamamu itu berisik,”


“Sepertinya dia akan seperti Angel, Mom. Tidak berisik, tapi tidak pendiam sekali,”


“Nah itu yang menyenangkan,” sahut Lovi seraya terkekeh.

__ADS_1


“Kalau berisik suka bikin pening kepala, kalau terlalu dingin pendiam suka bikin emosi. Ditanya cuma jawab iya atau mengangguk, diminta pendapat kadang cuma memberi seikhlasnya, apdahal butuh pendapat lebih banyak. Wah benar-benar anak Mommy unik semua,”


Angel terkekeh senang membahas anak-anak bersama Ibu mertuanya yang sudah jauh lebih berpengalamn soal anak. Apalagi tiga anaknya memberikan tantangan masing-masing dengan karakter yang mereka miliki.


__ADS_2