
Andrean baru saja menjadi pengajar untuk anak-anak yang sengaja Ia undang ke gedung perusahaannya. Mereka yang sudah setia menggunakan aplikasi belajar online miliknya. Setelah belajar, berbincang, mereka smeua diberikan kenang-kenangan oleh Andrean berupa baju, alat tulis, sepatu, dan juga sejumlah uang. Lalu mereka smeua pulang. Andrean tersenyum lega setelah berhasil membuat anak-anak tadi tersenyum bahagia.
“Menjadi guru dadakan sudah selesai, sekarang waktunya aku kembali ke ruang kerja,”
Andrean meninggalkan aula kantornya menuju ruangan dimana Ia biasa berdiam berkutat dengan pekerjaan.
Ketika baru berhadapan dengan komputer, ponsel Andrean bergetar. Andrean langsung mengecek pesan yang baru masuk dari nomor tidak dikenal, dan ternyata pesan yang dikirim adalah foto.
Kalau saja itu foto barang aneh, atau hal-hal yang tidak penting, Andrean tidak akan serius menatap foto yang dikirimkan itu.
Tapi ini adalah foto istrinya yang kelihatan beradu bibir dengan seorang lelaki, tidak hanya itu, Ia juga dikirimkan foto Angel dipeluk oleh lelaki yang sama seperti lelaki yang menciumnya.
Andrean mengetatkan rahang. Andrean meneliti berusaha untuk memcari celah dari foto itu yang barangkali membuatnya yakin kalau foto tu adalah hasil edit. Tapi Ia tidak menemukan bahwa foto itu adalah hasil edit. Perasaan Andrean juga mengatakan kalau itu foto asli.
Andrean menghembuskan napas kasar lalu menyandarkan punggungnya dengan kasar. Ia menggusar rambutnya hingga tidak rapi seperti sebelumnya.
“Apa-apaan ini? Maksud Angel datang ke kafe untuk mengantarkan surat pengunduran diri atau justru mau bermesraan dengan laki-laki itu?!”
******
Angel langsung pulang ke rumah tanpa menghubungi suaminya supaya dijemput di kafe lalu diantar ke rumah. Padahal sebelumnya Andrean sudah mengatakan kalau Ia sudah mengantarkan surat pengunduran diri dan selesai berbincangs ebnetar dnegan teman-temannya sebelum berpisah, Ia bisa hubungi Andrean supaya Andrean jemput di kafe dan Andrean antarkan ke rumah.
Angel tidak mau kalau sampai suaminya melihat Ia tidak baik-baik saja. Kejadian di kafe sangat mengguncang mentalnya.
Angel berharap kejadian yang tadi adalah pertama dan terakhir selama hidupnya. Ia berharap tidak akan pernah lagi dipertemukan dengan laki-laki jahat seperti orang tadi.
Suara ketukan pintu membuat Angel langsung beranjak meninggalkan ranjangnya. Ternyata Lovi yang datang.
“Iya, Mom?”
“Kamu baik-baik saja?” Tanya Lovi.
“Iya, Mom, memang kenapa, Mom?”
“Tidak apa, Andrean bertanya pada Mommy apa kamu sudah pulang? Mommy jawab kmau sudah di rumah dan sekarang di kamar. Dia meminta tolong pada Mommy untuk melihat keadaan kamu,”
“Aku baik-baik saja, Mom,”
“Ya sudah kalau begitu, Sayang. Mommy tinggal ya,”
“Terimakasih, Mom,”
“Iya, istirahat lah,”
Angel menutup pintu kamarnya lagi laku menghembuskan napas kasar. “Kenapa Andrean tidak tanya langsung kepadaku ya? Kenapa meminta tolong Mommy? Padahal ponselku aktif,” ujar Angel.
Biasanya Andrean akan bertanya langsung kalau ingin tahu keadaannya, apakah Ia sudah makan, sudah istirahat, dan lain-lain. Tapi kali ini berbeda dan itu cukup membuat Angel merasa bingung dan bertanya-tanya.
*******
“Dia bahkan pulang ke rumah tanpa menghubungi aku, padahal aku sudah berpesan tadi supaya dia mengabari aku dan aku akan menjemputnya di kafe, lalu mengantarnya pulang ke rumah,”
Rasa kecewa Andrean bertambah setelah tahu istrinya sudah pulang tanpa meminta dijemput olehnya. Foto itu sudah membuat Andrean tidak tenang. Andrean emosi, di otak Andrean foto itu selalu hadir.
Andrean berniat akan menanyakan langsung soal foto itu pada Angel. Ia ingin meminta penjelasan. Tapi disaat Ia sedang panas seperti ini, Ia jadi ragu untuk membicarakan foto tersebut. Ia takut malah tidak bisa bicara baik-baik pada Angel karena sudah terlanjur dikuasai oleh rasa kesal dan tidak terima setelah tahu istrinya berinteraksi fisik dengan lelaki asing itu lumayan intim. Sebenarnya Amdrean bukan tipe orang yang mudah marah, mudah terpengaruh, mudah percaya dengan hal-hal jelek yang baru Ia lihat sekali menggunakan matanya tanpa mendengar penjelasan rinci terlebih dahulu.
Tapi ini tentang hati. Andrean selalu percaya dengan kata hatinya. Entah kenapa Andrean yakin kalau foto itu bukanlah hasil edit. Hatinya meyakini itu.
Ia sangat mempercayai Angel. Jadi ketika sekali saja melihat foto mesra Angel dengab lelaki lain, walaupun Angel belum konfirmasi apapun, dada Andrean sudah langsung panas.
“Ya Tuhan, aku cemburu, aku marah, dan aku butuh penjelasan Angel. Tapi apa aku bisa kuat mendengar penjelasan Angel?”
*******
“Kerjamu bagus. Terimakasih ya, tidak sia-sia aku menggunakan uang yang harusnya aku apkai untuk senang-senang malah digunakan untuk membayar jasamu,”
“Aku hampir saja berhasil didapat oleh teman adikmu itu. Beruntungnya lariku lebih cepat daripada dia,”
“Kamu memang hebat, terimakasih ya,”
Gesty tersenyum sinis sambil menepuk bahu Alex setelah itu mempersilahkan Alex untuk pergi karena tugas Alex sudah selesai dan Ia juga sudah membayar jasa Alex yang sudah menjadi bagian dari rencana jahatnya ingin membuat rumah tangga adiknya berantakan.
******
“Aku sudah menjemput kamu, aku menunggu di mobil sampai satu jam, bisa-bisanya kamu lupa kalau kamu akan pulang denganku, Drina? Ya Tuhan,”
Adrian sudah mengejar waktu selepas mengisi acara langsung datang ke kampus untuk menjemput Adrina kebetulan Adrian tak ada jam kuliah hari ini.
Sebelumnya juga Adrian sudah memberitahu Adrina kalau Ia akan menjemput Adrina, dan gadis itu sudah mengiyakan. Adrian tunggu di area parkir selama satu jam, Adrina belum datang juga. Awalnya Adrian berpikir positif mungkin Adrina belum selesai. Tapi bagi Adrian yang orangnya tidak bisa diam, dan mudah bosan kalau sudah di dalam mobil menunggu satu jam itu sudah terbilang lama. Akhirnya Adrian telepon Adrina.
Adrina mengatakan sudah pulang dnegan teman-temannya. Adrian tentu kesal. Ia merasa kedatangannya sia-sia sekali.
“Iya aku minta maaf, Ian. Aku lupa, sungguh. Aku tidak ada maksud mengerjai kamu,”
“Kamu sengaja. Kamu sudah bilang iya ketika aku bilang akan menjemput, lalu tiba-tiba setelah aku menunggu satu jam lebih kamu bilang sudah pulang. Kalau aku tidak menghubungi, aku rasa kamu lupa kalau aku masih menunggu kamu di area parkir. Harusnya kamu beritahu aku kalau kamu sudah di rumah,”
“Ian, aku minta maaf. Jangan kesal, aku lupa kamu mau memjemput aku dan aku lupa memberitahu kamu kalau aku sudah di rumah,”
Adrian berdecak pelan lalu mengakhiri pembicaraan mereka yang melalui sambungan telepon.
“Aku kesal sekali dengar jawaban santainya. Ya memang dia tidak minta dijemput, tapi kalau seperti ini kesannya dia tidka menghargai aku. Erghh! Kenapa manusia harus dibuat pelupa?!“
*******
“Ya ampun, dia marah? Ini serius dia marah?”
Adrina bertanya sambil menatap ponselnya sendiri. Sambungan telepon mereka diakhiri begitu saja oleh Adrian dan Adrina langsung terkejut.
“Huh! Ian terlalu berlebihan. Lagipula kenapa sih dia jemput aku? Giliran aku lupa, jadi kesal sendiri ‘kan. Padahal aku memang benar-benar lupa,” ujar Adrina seraya meletakkan ponselnya dengan kasar di atas bantal.
“Sepertinya aku harus datang ke rumahnya langsung untuk meminta maaf. Aku sudah membuatnya kecewa dan akhirnya marah,”
Adrina langsung mengikat rambutnya lalu meriah ponselnya dan keluar dari kamar. Beruntungnya rumah Ia dan Adrian jaraknya sangat dekat jadi Ia bisa dengan mudah sampai ke rumah Adrian tanpa harus menghabiskan waktu yang lama.
*******
“Ian yang tampan dan baik hati, tolong jemput aku ya,”
__ADS_1
“Aku sudah di jalan pulang,”
“Oh jadi tidak bisa jemput aku sebentar?”
“Dimana?”
“Di—restoran biasa kita sering makan,”
“Okay aku ke sana sekarang,”
“Yeayy terimakasih kakakku yang tampan,”
Auristella langsung meletakkan ponselnya di atas meja. Lalu tersenyum menatap Revano sebentar.
“Aku sudah minta dijemput oleh Ian. Jadi kamu jangan mengantar aku ke rumah,”
“Tapi aku ingin sekali mengantar kamu ke rumah. Aku ‘kan harus bertanggung jawab, mengajak kamu makan bersamaku, lalu mengantar kamu pulang ke rumah,”
“Nanti jadi panjang urusannya kalau kamu mengantar aku pulang ke rumah, Revano. Lagipula restoran ini dekat sekali dengan kampus kit, makanya aku mau. Kalau agak jauh, aku juga tidak akan mau. Dan kebetulan aku memang belum makan,”
“Kalau aku antar ke rumah, bakal panjang urusannya? Memang maksud kamu apa?”
“Kamu mau diwawancarai lagi oleh Ean, Ian, bahkan Daddyku? Hmm?”
“Ya tidak apa. Mereka menyenangkan,”
“Dan menegangkan, benar ‘kan? Jujur saj, jangan ditutupi. Kamu sebenarnya mau bicara seperti itu tapi kamu mungkin sungkan ya padaku?”
“Tidak, memang mereka orang yang menyenangkan. Tidak semenyerankan yang aku pikirkan di awal setelah dengar ceritamu. Ya memang memang tegas, dan itu wajar. Karena yang mereka jaga itu adalah kamu. Tapi setelah kenal, ternyata mereka sangat baik,”
“Kamu pulang sekarang saja. Aku tidak mau Ian tau kalau aku makan berdua denganmu,” ujar Auristella yang siang ini makan dnegan teman dekatnya, tapi tidak mau ketahuan oleh kakaknya.
“Kamu serius tidak aku antar saja ke rumah?”
“Tidak, Revano. Aku ‘kan sudah minta tolong dijemput oleh Ian,”
“Ya sudah kalau begitu,”
Revano sudah selesai makan sejak lima menit yang lalu. Sebelum Revamo beranjak meninggalkan Auristella yang masih belum menghabiskan makanannya, Revano menyeruput minumannya dulu barulah Ia keluar dari restoran.
Revano masuk ke dalam mobil, dan tanpa sadar Ia sedang diamati oleh seseorang yang barus aja masuk ke dalam area parkir restoran.
“Wah wah wah, ternyata adikku itu makan dengan Revano? Hmm, menarik untuk dibahas hahaha,”
Adrian tertawa sendiri ketika melihat Revano masuk mobil dan langsung melajukan mobilnya itu meninggalkan restoran.
Adrian tidak menyangka akan bertemu dengan Revano. Ia langsung menyimpulkan Revano dan Auristella makan berdua. Karena tidak mungkin kebetulan mereka sama-sama di restoran itu, atau tidak saling melihat satu sama lain. Sudah pasti mereka memang sepakat untuk makan berdua.
Adrian memasuki restoran dan mengedarkan pandangan mencari sang adik yang ternyata sedang asyik makan sambil menonton melakui layar ponsel sepertinya karena ponselnya itu disandarkan pada gelas air minum.
Adrian segera datang ke meja Auristella sambil berdehem. “Oh sudah datang. Silahkan duduk,” ujar Auristella pada kakaknya yang datang senyum mencurigakan.
“Kamu sendirian saja di sini?”
“Iya, kamu bisa lihat kalau aku hanya sendirian ‘kan?”
Adrian menganggukkan kepalanya. Lantas Ia menatap meja. Bekas makan Revano sudah benar-benar bersih, tak ada piring ataupun sendok selain yang digunakan oleh Auristella. Tapi Adrian menemukan satu gelas kosong dan Adrian bisa simpulkan itu milik Revano dan mungkin lupa disingkirkan. Apdahal menyingkirkan alat makan ingat.
“Iya, Ian. Jangan bertanya dua kali ya, padahal jelas-jelas aku sudah menjawabnya,”
“Hmm okay, tapi ini gelas punya siapa?”
*****
“Ah itu—itu bukan— entah itu punya siapa. Aku juga tidak tau,”
Adrian menaikkah salah satu alisnya dan menahan senyum bahkan tawa mati-matian karena melihat wajah panik Auristella.
Adrian yakin Auristella sekarang bingung harus menjawab apa. Jadi keluarlah jawaban ‘tidak tahu’ karena menurutnya itu yang paling aman.
“Benarkah kamu tidak tahu, Ris?”
“Iya benar, oh atau itu punyaku ya? Aduh aku lupa. Jadi tadi aku pesan minuman dua gelas. Sudah habis satu. Sepertinya iya itu bekas minumanku,”
“Tadi kamu jawab tidak tahu, sekarang kamu jawab gelas ini bekas minumanmu, jadi yang mana jawaban yang benar, adikku sayang?” Tanya Adrian sambil menaik turunkan kedua alisnya. Auristella menatapnya masih dengan sorot mata yang panik, wajah yang tegang. Adrian mempertahankan wajahnya yang tanpa ekspresi supaya kesan tegasnya dapat. Padahal dalam hati Adrian sudah tertawa terbahak-bahak, bukan lagi sekedar senyum, tapi sudah tertawa puas.
“Jawaban yang kedua. Iya benar itu gelas bekas minumanku karena tadi aku pesan dua gelas minuman,”
“Oh sudah tidak bingung lagi menjawab?”
“Tidak, aku sudah tau jawabannya,”
“Hmm, kenapa tadi keliahtan ragu? Seperti orang yangs edang berbohong saja. Apdahal aku tidak akan marah kalau kamu seandainya jawab ‘iya itu gelas Revano. Tadi aku makan berdua dengan Revano tapi sekarang di sudah pergi supaya tidak bertemu dengan kamu, Ian’ nah kalau jawabanmu seperti itu, aku tidak masalah,”
Seketika wajah Auristella kaku. Ia bahkan berhenti mengunyah, kedua matanya membelalak.
“Maksud—maksud kamu apa?”
“Oh tidak apa-apa, aku hanya sedang memintamu untuk jujur. Kalaupun kamu makan bersama temanmu itu, aku tidak akan marah. ‘Kan hanya teman? Dan hanya makan, benar negitu?”
“Tapi aku hanya makan sendiri, Ian. Kamu tidak percaya? Hmm?”
“Ya bagaimana aku tidak percaya kalau aku sudah melihat dnegan mata kepalaku semdiri tadi ada Revano, dan ditambah lagi aku melihat ada satu gelas kosong di meja ini, belum sampai disiru saja yang buat aku makin yakin kalau kamu tidak makan sendiri. Gerak gerikmu ketika menjawab pertanyaanku, menunjukkan kalau kamu itu sedang menutupi sesuatu. Tapi ya sudahlah tidak usah dibahas. Tidak penting dan sudah berllau juga, iya ‘kan?”
“Apa?! Jadi Ian tau kalau aku makan dnegan Revano? Aish! Kenapa Revano tidak hati-hati sih? Kenapa dia bisa bertemu dengan Ian?! Astaga, aku ketahuan berbohong! Argh ini semua gara-gara Revano!”
“Hei, kenapa diam?” Tanya Adrian seraya menjentikan jarinya di delan wajah sang adik.
“Hah? Tidak, aku hanya—“
“Santai, Ris, santai. Lanjutkan makanmu, aku tunggu sampai selesai,”
Adrian meminta adiknya itu untuk tenang, tidak tegang atau panik lagi karena Ia tidak akan lagi membahas fakta bahwa Auristella makan berdua dengan Revano.
“Ok—okay, aku—aku makan dulu ya,”
“Iya, jangan gugup lagi, santai saja. Kenapa kamu jadi gagap begitu bicaranya?”
__ADS_1
Adrian terkekeh mengetahui adiknya masih gugup, sampai mau bicara saja harus tersendat-sendat padahal seharusnya tidak perlu karena Ia tidak akan marah, dan tidak akan membahas. Kasihan juga mepihat adiknya panik seperti tadi karena ketahuan berbohong.
Auristella menyelesaikan makannya, setelah itu Ia beranjak meninggalkan kursi untuk membasuh tangannya dan juga buang aur kecil. Kemudian Ia kembali ke mejanya dan mengajak Adrian untuk pulang.
“Sudah tidaka da yang tertinggal?” Tanya Adrian pada adiknya itu yang langsung menggelengkan kepalanya.
“Ada yang tertinggal sepertinya, Ris,”
“Hmm? Apa?”
“Rasa bahagiamu setelah makan berdua dengan Revano jangan sampai tertinggal di restoran ini,” ujar Adrian sambil tersenyum lalu melenggang dengan santai meninggalkan Auristella yang terperangah kaget.
“Ian kamu jangan bicara macam-macam ya!”
Seketika pengunjung restoran menoleh ke arah Auristella karena suaranya lumayan keras. Auristella langsung menunduk sambil meminta maaf.
“Maaf, saya sudah mengganggu,” ujar Auristella setelah itu berjalan cepat meninggalkan restoran dengan rasa malu yang negitu besar dan ini karena, “IIAAAANN!”
Auristella sudah keluar dari restoran dalan suasana di luar restoran sepi maka dari itu Ia berani berteriak pada kakak keduanya yang berjalan di depannya smabil tertawa puas.
“GARA-GARA KAMU, AKU JADI DIPERHATIKAN BANYAK ORANG!”
Auristella mengamuk sambil mendorong ounggung Adrian yang tidak jatuh, karena keseimbangannya bagus. Sudah sering didorong, dicubit, dipukul oleh adiknya jadi Adrian sudah punya keseimbangan yang bagus dan bisa diandalkan, hanya satu yang belum bisa diandalkan yaktu kesabaran.
Kesanaran Adrian dalam menghadapi Auristella masih kurang. Berbeda dengan Andrean. Maka dari itu Auristella lebih sering berdebat dengan kakak keduanya yaitu Adrian ketimbang Andrean karena Andrean cenderung kebih tenang mengahdapinya sekalipun Ia sangat kesal. Sementara Adrian justru suka membalas dengan cara membuat kesal juga.
“Apa sih, kekasihnya Revano? Baru juga makan berdua, kenapa marah-marah? Belum puas ya bicara berdua dengan Revano? Sudah rindu dia makanya marah-marah?”
“Hih sembarangan kamu ya,”
Auristella langsung mencubit pinggang Adrian yang meringis kesakitan. “Astaga, Ris, tadi sudha didorong-dorong, sekarang dicubit, nanti diapakan lagi? Kamu mau tinju aku? Hmm? Sekalian ya diajak ke ring tinju,”
“Ayo aklau kamu mau,”
“Aku mau, tapi aku tidak mau alwannya kamu,”
“Kenapa? Kamu takut kalah ya? Hmm?”
“Karena kamu lemah! Belum juga ditinju, nanti sudah mohon-mohon ampun, atau pingsan,”
“Aku tidak selemah itu ya,”
“Iya iya, kekasihnya Revano tidak lemah,”
Masih belum habis juga ucapan Adrian untuk membuat adiknya kesal. Saat ini Adrian masih membawa-bawa nama Revano.
“Ian, kamu jangan bicara begitu. Aku dan Revano tidak ada hubungan apapun, tolonglah kamu percaya,”
Setelah sampai di dalam mohild an menggunakan sabuk pengaman, Auristella langsung bicara baik-baik. Jujur Auristella sekarang takut kakaknya itu bicara yang macam-macam pada Devan, seperti halnya ketika Adrian tahu kalau Revano mengirimkan bunga untuk dirinya. Adrian berkata pada Devan kalau Ia dapat bunga dari kekasihnya padahal kenyataannya bukan seperti itu. Sampai detik ini, Ia dan Revano masih nyaman berteman saja, tidak lebih.
“Okay aku percaya, tapi kamu jujur dulu,”
“Jujur soal apa?”
“Ya soal tadi lah. Benar ‘kan kamu dan Revano makan berdua?”
Auristella terdiam, Ia bimbang sekali. Tadi Ia sudah terlanjur berbohong, tapi kakak keduanya itu sudah tahu seperti apa kebenarannya.
“Kalau kamu jujur, aku hanya tertawa saja, kalau kamu tidak jujur, aku akan laporan pada Daddy bahwa tadi ada yang makan berdua,”
“Iya iya iya! Aku jujur, aku dan Revano memang tadi makan berdua. Tapi kami tidak ada hubungan apa-apa, Ian. Aku berani bersumpah, aku serius,”
“Iya aku percaya. Kalau jujur ‘kan lebih lega, benar tidak?”
Auristella menganggukkan kepalanya. Ia mengakui setelah jujur, rasanya lebih lega. Ia tidak gugup, tegang, panik dan sebagainya. Tadi ketika sedang berkelit, semua perasaan Auristella campur aduk apalagi ketika Adrian tahu kebohongannya.
“Ian, kamu jangan bicara yang macam-macam pada Daddy ataupun Mommy ya. Dia itu hanya temanku, kalau kamu tidak percaya silahkan kamu wawancarai dia secara langsung,”
Adrian tertawa mendengar Auristella mempersilahkan dirinya untuk mewawancarai Revano. Padahal Ia tidak tertarik untuk melakukan itu. Ia percaya dengan penejalsan adiknya bahwa mereka hanya sekedar teman. Kalupun Auristella berbohong, manti akan ada waktunya terbongkar juga. Adrian hanya berharap adiknya tak diberi teguran oleh Tuhan akibat berbohong. Diminta fokus dengan pendidikan tapi tidak tahunya malah menjalin hubungan istiemewa dengan seorang laki-laki yang diakuinya sebagai teman saja.
“Tidak perlu, Auris. Aku percaya padamu. Tapi aku hanya olingin menegaskan, berbohong apda orangtua itu kesalahan yang besar. Aku hanya berdoa kamu tak dapat pelajaran dari Tuhan karena berbohong, ya kalau memang kamu berbohong,”
“Kamu mendoakan aku dapat pelajaran dari Tuhan? Hah?”
“Itu kalau kamu berbohong, Ris. Kamu paham kata-kataku atau tidak sih?“
“Aku tidak bohong, Ian,”
“Ya sudah bagus, aku senang mendengarnya,”
“Kamu percaya ‘kan? Aku tidak bohong. Memang aku dan Revano itu tidak ada hubungan apapun. Tolong percaya padaku ya, aku mohon jangan bicara yang tidak-tidak pada Daddy seperti kemarin saat Revano memgirimkan bunga untuk aku.”
“Hahaha ternyata kamu masih dendam dengan itu? Padahal itu aku bercanda,”
“Tapi Daddy jadi percaya, Ian! Kamu bilang pada Daddy kalau aku ini dikirimkan bunga pleh kekasih, dan dia adalah Revano,”
“Senenarnya Daddy tidak langsung percaya begitu saja. Daddy mendengar penjelasan kamu ‘kan?”
“Iya tapi aku ‘kan takut kalau Daddy jadi percaya. Seharusnya Daddy itu tau kalau anak keduanya suka mengarang bebas!”
“Tapi yang tadi tidak mengarang bebas ‘kan?”
“Yang tadi? Maksudmu?”
“Yang tadi, aku lihat Revano di area patkir saat akan masuk mobil, jadi aku simpulkan kalau dia makan berdua dengan kamu. Itu bukan karanganmu, itu kenyataan,”
“Iya itu benar, kali ini kamu benar,”
Adrian menganggukkan kepalanya puas. Sekarang adiknya sudah tidak mengelak lagi. Benar-benar sudah mengakui kalau memang benar tadi mereka makan berdua.
“Jadi kamu bohong ya? Memang baik berbohong pada kakak sendiri, Ris?” Tanya Adrian seraya menoleh sebentar ke sebelahnya dimana sang adik duduk. Kemudian Adrian fokus mengemudi lagi.
“Aku tau berbohong itu bukan perbuatan yang terpuji. Mommy dan Daddy juga selalu melarang anaknya untuk berbohong. Mereka mengajarkan anak-anaknya untuk bicara jujur, apa adanya, tidak ada yang ditutupi. Tapi aku takut kalau tadi aku jujur, kamu akan memarahi aku. Atau bahkan detik itu juga kamu laporan pada Daddy dan melebih-lebihkan lagi. Aku takut itu terjadi. Makanya aku tidak mau jujur. Kamu juga pasti akan mengejek aku ‘kan?”
“Padahal tidak, aku hanya ingin kamu jujur,”
“Maafkan aku, Ian,”
__ADS_1
“Iya tidak apa-apa. Tadi sebenarnya aku menahan diriku supaya tidak tertawa saat aku melihat wajah panik kamu. Aku susah menahan tawa, jarang aku bisa membuatmu panik ‘kan. Aku liat kamu sibuk berpikir untuk mencari jawaban supaya kebenaran bisa tertutupi, tapi ternyata gagal hahahahah,”
*******