
Auristella menghampiri Mommy dan Daddynya yang sedang menonton televisi. Lebih tepatnya hanya Lovi yang menatap fokus pada layar televisi sementara suaminya membaca lembaran-lembaran kertas yang cukup tebal.
"Mom, Ian kemana ya? Tadi aku cari di kamarnya, dia tidak ada,"
"Pergi menghadiri acara ulangtahun temannya,"
Auristella menekuk wajahnya seketika. Lovi menatap putrinya dari atas sampai bawah. Auristella berpenampilan rapi saat ini.
"Kamu mau kemana? Ini sudah pukul delapan malam,"
"Mau pergi menjenguk temanku yang sakit. Dia masuk rumah sakit tadi sore. Aku ingin diantar Ian ke sana,"
Pembicaraan anak dan istrinya membuat Devan mengalihkan perhatian dari kertas yang sedang Ia baca isinya.
"Daddy antar,"
"Aku diantar driver saja, Dad. Biar Daddy bisa istirahat,"
Devan menggeleng, Ia tidak ingin anaknya pergi sendirian. Sebentar lagi malam semakin larut. Ia akan lebih tenang bila Ia yang mengantar Auristella walaupun sebenarnya Ia bisa meminta bantuan pada driver dan juga body guard nya untuk menjaga sang putri.
"Tunggu sebentar, Daddy bersiap dulu,"
Devan memang tidak akan mengubah keputusan apalagi bila menyangkut keluarganya. Sekalipun Auristella memintanya untuk diam saja di rumah. Tapi Ia tetap keras kepala ingin memastikan Auristella aman.
Devan memasuki kamar untuk bersiap. Ia mengambil jaket untuk membalut tubuhnya yang sudah mengenakan stelan pakaian tidur.
"Mom lihat Daddy dulu ya,"
Lovi menghampiri suaminya ke kamar. Ia melihat Devan sudah siap untuk menjadi driver anak perempuannya malam ini.
"Kamu benar ingin mengantar Auris? Sepertinya tadi Aku lihat kamu banyak pekerjaan,"
"Pekerjaan bisa aku selesaikan nanti. Aku pergi dulu ya, Lov,"
Lovi tersenyum lalu memejam saat suaminya mengecup kening nya sebelum meninggalkan kamar.
Ia benar-benar beruntung memiliki Devan yang tidak pernah berubah dari dulu hingga kini, anak-anak mereka telah dewasa. Perhatian dan kasih sayang Devan untuk keluarganya tak pernah berkurang.
Devan yang di awal pernikahan sangat kejam pada Lovi kini justru sebaliknya. Devan sangat menjaga Lovi dan ketiga anak mereka layaknya berlian satu-satunya yang Ia miliki. Dengan keluarganya Devan akan menjadi sosok yang begitu lembut dan penyayang. Sementara dengan orang yang berani mengganggu ketenangan keluarganya, maka Ia akan berubah menjadi laki-laki kejam yang tak pandang bulu.
*****
Begitu tiba di rumah sakit, Auristella dan Devan segera menghampiri ruang perawatan teman Auristella.
Melihat orang yang terbaring di bangsal sekarang adalah seorang laki-laki, membuat sisi posesif Devan terhadap anaknya meronta. Sedekat itu Auristella dengan temannya? Sampai-sampai Auristella rela menjenguknya malam ini? Tidak bisa besok?
__ADS_1
"Cepat sembuh ya," ujar Auristella seraya meletakkan tiga kotak cake yang tadi dibelinya sebelum sampai di rumah sakit.
Devan pun mengatakan hal yang sama. Teman Auristella mengangguk sopan seraya mengucapkan terima kasih pada anak dan ayah itu. Jujur Ia tak menyangka kalau Auristella akan datang bersama ayahnya.
Di dalam ruangan itu tidak hanya mereka bertiga. Melainkan ada dua orang teman perempuan Auristella. Mereka menyapa Auristella dan Devan. Bahkan salah satu dari mereka yang bernama Ryn menanyakan Adrian.
Auristella memutar bola matanya kesal. Temannya itu benar-benar penggemar berat Adrian.
"Artis idola mu itu sedang pergi," jawab Auristella setelah Ryn bertanya, "Kak Adrian kemana? Dia tidak ikut ke sini?"
Devan menggeleng pelan melihat sikap putrinya. Padahal yang bertanya mengenai Adrian, adalah temannya sendiri. Kenapa Ia bisa begitu posesif pada kakak nya? Sifat posesif siapa yang diwariskannya?
Ah sepertinya Devan tak berkaca sehingga Ia tak bisa mengetahui siapakah pewaris sifat posesif anak perempuannya itu.
"Dia pergi dengan teman perempuannya, Ryn," lanjut Auristella yang membuat temannya itu penasaran namun raut wajahnya sudah cemberut.
"Benarkah? Kenapa tidak kamu larang? Biasanya kamu larang, Auris,"
"Aku juga tidak tahu kalau dia mau pergi. Makanya sekarang aku diantar Daddy,"
"Teman perempuan---maksudmu kekasih Kak Adrian ya?"
Aurustella menggeleng kuat. Telunjuknya juga bergerak tegas, "Bukan!"
Ryn menghela napas lega. Ia kira idolanya telah memiliki tambatan hati. Tapi setelah adiknya sendiri menjawab tegas bahwa teman perempuan Adrian itu bukanlah kekasih Adrian, maka Ia masih bisa berkhayal kalau nantinya Ia yang akan menjadi kekasih lelaki tampan itu.
Ada-ada saja perbincangan mereka. Benar-benar tidak penting. Membahas orang yang bahkan tidak ada di sini.
*****
Adrian menikmati pesta bersama teman-temannya. Begitupun dengan Adrina. Mereka berdua berpisah untuk sementara waktu. Nanti saat akan pulang, barulah mereka bertemu lagi.
Salah seorang teman Adrian menawarkan wine untuk Adrian. Namun Adrian menolak. Bukan karena Ia terlalu naif, Ia sering meneguk minuman itu atau sejenisnya. Namun malam ini ada yang menjadi tanggung jawabnya. Begitulah pikirnya.
Kalau Ia mabuk, segala hal bisa terjadi. Kecelakaan lalu lintas, maupun kecelakaan akibat tak bisa mengendalikan sisi liarnya sebagai laki-laki, bisa saja terjadi. Dan Ia tak mau bila itu semua menjadi kenyataan. Ia harus bertanggung jawab atas Adrina. Tadi, Ia menjemput Adrina dalam kondisi baik-baik saja, maka saat dipulangkan pun harus demikian.
"Kenapa menolak, heh?"
"Kali ini tidak dulu,"
"Padahal kau minum di acara-acara seperti ini saja. Kalau diajak ke night club hampir tidak pernah mau," ujar temannya yang menawarkan wine.
"Mau, kalau saja Mommy ku tidak tahu," sahut Adrian dengan tawa lebarnya. Teman-temannya pun tertawa.
"Masih menjadi anak baik, heh?" Sahut temannya yang lain.
__ADS_1
"Kata siapa? Aku ini brengsek,"
Adrian ingat betul perkataan itu. Adrian adalah sosok yang friendly. Terlampau friendly hingga sering menyapa perempuan di kampus, Ia kelepasan menggoda dan hal itu membuat Adrina mendengus jijik padanya dan berkata bahwa dia brengsek sekali.
"Ck! kau belum brengsek kalau belum membawa 'mereka' ke kamar," ucap teman Adrian yang satu lagi.
Mereka tertawa keras. Sementara Adrian hanya terkekeh seraya menggeleng pelan. Itulah yang sering dibahas kalau mereka sudah berkumpul. Adrian terkadang jijik. Namun anehnya Ia bisa saja menimpali.
******
"Ck! Sialan! Adrina, apa yang sebenarnya kamu minum,"
Adrian mengumpat kasar kala Adrina diserahkan oleh temannya dalam keadaan setengah sadar.
Lelaki itu segera membawa Adrina ke dalam mobilnya. Ia setengah mati menahan hasrat untuk membasahi kerongkongan dengan minuman memabukkan, ternyata malah Adrina yang terlewat batas. Ia tidak pernah melihat Adrina seperti ini sebelumnya.
"Aku---aku--aku kira tadi--bukan minuman seperti--seperti itu. Ternyata--"
"Sudah! Diam!"
Adrian benar-benar kesal dibuatnya. Walaupun Ia mendapati kenyataan bahwa Adrina tidak sengaja meneguk minuman yang membuatnya mabuk, tetap saja Adrian marah. Marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga Adrina. Adrina bisa lepas dari pandangannya.
Padahal sepanjang acara tadi Ia selalu memastikan Adrina baik-baik saja meskipun Ia juga sibuk dengan semua temannya.
Yang berhasil diteguk Adrina tidak sampai satu gelas. Namun cukup membuat Adrina seperti ini.
Beruntungnya Adrina masih sadar bahkan Ia masih bisa menjelaskan jalan cerita kenapa dia bisa seperti sekarang.
"Aku--aku tidak mau ke rumahku," ujar gadis itu terbata-bata.
"Jangan gila, Adrina! Kamu mau kemana?! Hah?!" Adrian masih belum bisa mengendalikan emosinya. Padahal Ia tahu ini sebuah ketidak sengajaan, namun tetap saja emosinya meluap.
"Kemana saja asal jangan ke rumahku. Aku--aku takut dengan Mommy dan Daddy,"
Adrian menghembuskan napas kasar, "Beginilah kalau anak polos mabuk," gumamnya kesal.
"Makanya, jangan bodoh! Seharusnya kamu bisa membedakan minuman yang bahaya atau yang tidak untuk kamu!"
Kalau Adrina sadar dan tidak lemah seperti saat ini, mungkin Adrina sudah membalas seruan demi seruan yang tadi keluar dari mulut Adrian.
Adrian kesal karena Ia mabuk? Apalagi dirinya! Ia juga kesal kenapa bisa sebodoh itu membuat dirinya sendiri mabuk?!
"Kamu marah karena kamu merasa disusahkan olehku ya?" Cicit Adrina dengan artikulasi yang kurang jelas. Rasanya Ia ingin tidur sekarang juga. Tapi Ia harus memastikan bahwa Adrian tidak membawanya ke rumah dimana nantinya Ia akan bertemu dengan Mommy dan Daddynya. Mereka pasti marah, kecewa, dan sedih melihat Ia yang seperti ini.
"Kita ke rumahku,"
__ADS_1
"Jangan! Rumah kita berhadapan, Adrian. Daddy dan Mommy akan tahu,"
"Aku tidak mau membawamu kemana pun selain rumahku. Paham?! Dan aku akan pastikan mereka tidak tahu,"