
Andrean datang ke kafe yang pernah menjadi tempat kerja Angel, dan menjadi saksi bisu ketika Angel mengalami kejadian yang tidak terduga kemarin.
“Aku mau lihat cctv kemarin boleh tidak? Karena aku harus melihat wajah laki-laki yang kemarin melecehkan istriku,” ujar Andrean pada salah satu staf dibalik meja kasir.
“Oh kejadian yang dialami Angel kemarin ya?”
Andrean mengangguk membenarkan. Teman-teman Angel sudah mengira kalau suami Angel tidak akan tinggal diam setelah tahu kejadian itu. Pasti akan dicari tahu sampai dapat jawaban diapa pelakunya? Dan apa tujuannya melakukan itu.
Andrean dibawa ke ruangan yang di dalamnya terdapat layar untuk menampilkan hasil rekaman kamera cctv sepanjang waktu yang dipasang di beberapa sudut kafe. Did alam euangan itu juga ada seorang laki-laki yang menjadi pemantau.
“Kejadiannya sekitar jam berapa ya?” Tanya laki-laki itu karena Ia tidak tahu pasti kalan kejadiannya. Barusan Ia hanya diminta kasir untuk membuka hasil rekaman kemarin supaya pelakunya terungkap.
“Aku juga tidak tau. Yang jelas pagi,“
Andrean hanya mengandalkan waktu dikirimnya foto-foto Angel bersama pria asing itu. Foto itu dikirim masih pagi. Tapi Andrean tidak tahu pasti kapan kejadiannya.
Hasil rekaman diputar dari awal kafe buka sampai akhirnya datanglah selrang laki-laki secara mendadak langsung menghampiri Angel. Andrean bisa melihat istrinya bingung, sekaligus takut apalagi ketika lelaki itu mulai agresif maju mendekat, lalu tiba-tiba hendak mencium namun Angel langsung memberinya pelajaran. Lelaki itu juga berani merengkuh pinggang Angel. Teman-teman Angel kelihatan menghampiri, kemudian lelaki itu pergi. Disitu Andrean juga melihat Angel menangis di salah satu pelukan teman perempuannya.
Andrean bisa lihat bagaimana takutnya Angel, bagaimana emosinya Angel ketika menampar lelaki itu. Tanpa sadar sepanjang melihat hasil rekaman, rahang Andrean mengetat dan kedua tangannya mengepal sempurna.
“Dia benar-benar mengguncang mental Angel. Dia membuat Angel kacau,” batin Andrean setelah hasil rekaman Ia minta untuk berhenti karena lelaki itu tak ada lagi di kafe.
“Terimakasih, aku minta hasil rekaman itu ya. Aku akan menyelidiki siapa dia,”
“Baik, ditunggu sebentar,”
“Terimakasih,”
“Sama-sama, semoga pelakunya cepat ditangkap dan diberikan hukuman yang sesuai karena dia benar-benar bisa membuat istri anda trauma,”
Andrean menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan staf yang sedang membantunya ini. Angel sendiri sudah mengatakannya semalam. Angel trauma bertemu dengan orang baru, orang asing yang sebelumnya tidak pernah Ia temui. Selama ini Angel selalu berpikir positif pada siapapun termasuk orang asing di sekitarnya, karena memang Ia tidak pernah mempunya pengalaman yang tidak enak. Mungkin karena pikiran positifnya itu tanpa sadar Angel kurang waspada menjaga dirinya sendiri.
Setelah kejadian kemarin, Angel mengingatkan dirinya sendiri bahwa berpikir positif terhadap orang lain itu perlu tapi kewaspadaan lebih diperlukan lagi.
*****
“Aku dipeluk olehnya, aku tetap saja merasa kalau aku ini menjijikan di kata Ean suamiku, Mom,”
“Astaga, Sayang. Kamu tidak boleh berpikir seperti itu lagi. Kamu dipeluk oleh laki-laki lain bukan karena keinginan kamu sendiri, tapi karena memang laki-laki itu yang kurang ajar. Jangan pernah mengira kalau Ean jijik padamu. Kalau Ean jijik, Ean tidak akan mau peduli padamu. Tapi kenyataannya tidak. Tadi pagi saja Ean pergi terburu-buru ke kafe kamu. Ean ingin mengetahui pelakunya itu dengan cepat. Lihat di foto saja tidak cukup, dan Ean bilang dia harus liat kronologi dari awal sampai akhir,”
Lovi merengkuh Angel yang masih sedih dan kepikiran terus dengan pelukan laki-laki asing itu. Ia saja jijik setelah dipeluk, disentuh lelaki itu, Ia berpikir Andrean mungkin lebih jijik lagi. Tapi Andrean selalu saja meyakinkan dirinya bahwa Ia tidak menjijikan. Bahkan sebelum tahu kronologinya, hanya mengandalkan penjelasan Angel, Andrean sudah langsung percaya kalau Angel memang dijadikan korban pelecehan, jadi bukan keinginan Angel untuk disentuh lelaki itu. Andrean tahu Angel sendiri pun tidak mau sedikitpun disentuh oleh lelaki manapun selain dirinya.
“Kalau hanya dari foto ‘kan Ean tidak tau bagaimana awalnya dia mendekati kamu, lalu menjalankan aksinya. Semoga saja ada titik terang ya. Ean berapi-api ingin mencari tau soal pelakunya, dan apa tujuannya melakukan itu padamu,”
“Kalau tujuan, aku sudah tebak arahnya kemana, Mom,”
Lovi menganggukkan kepalanya. Foto mesra Angel bersama lelaki lain dikirimkan ke Andrean. Memang sudah bisa ditebak tujuannya apa.
“Orang itu mau membuat pernikahan aku dan Ean jadi berantakan,”
“Iya, Mommy rasa juga begitu. Tapi kita ‘kan tidak tau pasti, Sayang. Bisa jadi ada tujuan lain, misalnya mau memeras Ean dan kamu, membuat kamu jadi dibenci oleh Ean dan kami di rumah ini karena dia tidak suka padamu, atau lain sebagainya. Kita benar-benar belum tau apa tujuannya,”
“Aku tidak tau salahku dan Ean apa. Kenapa ada yang mau membuat hubungan kami hampir berantakan. Aku bersyukur memiliki Ean sebagai suamiku. Dia tidak langsung melampiaskan amarahnya padahal aku tau dia pasti marah melihat foto-foto itu. Dia masih bisa bersikap baik apdaku, Mom sebelum aku menjelaskan semuanya. Padahal kalau aku jadi dia, aku belum tentu bisa menahan emosi. Wajar suami marah melihat foto istrinya bermesraan dengan lelaki lain, sekalipun istrinya itu dia kenal baik, sangat mencintainya, dan sangat menghargainya. Tapi Andrean tidak marah. Dia bahkan mau bertanya baik-baik padaku soal foto itu sebelum Auris masuk kamar kita dan marah padaku. Sebelum Ean bertanya, sudah Auris yang lebih dulu bertanya soal foto itu dan aku langsung menjelaskannya. Aku bersyukur masih ada yang percaya aku,”
“Sayang, kami semua percaya padamu asal kamu memberi penjelasan, jangan diam karena kami bisa salah paham,”
“Iya aku janji akan lebih terbuka lagi. Tapi Mommy benar-benar percaya padaku ‘kan, Mom?”
__ADS_1
“Iya, Sayang. Mommy sangat-sangat percaya padamu. Mommy tau kamu itu perempuan yang baik, selagi kamu menjelaskan dengan jujur tentu Mommy percaya. Mommy tau kamu jujur atau tidak darimana? Mommy bisa menilai dari tatapan mata kamu, dari cara kamu menjelaskan. Mommy bisa atau kamu jujur atau justru tidak jujur. Pada anak-anak Mommy juga seperti itu. Sebenarnya mudah bagi Mommy untuk mengetahui orang itu bohong atau jujur. Lihat saja dari tatapan matanya, dari cara dia bicara, gerak gerik tubuhnya. Itu semua bisa menjelaskan,”
“Dan menurut Mommy, aku jujur atau tidak?”
“Jujur, saat kamu menjelaskan Mommy sudah tau kamu jujur tidak ada yang kamu tutpi dari kejadian itu,”
“Terimakaish Mommy sudah percaya padaku dan itu sangat berarti untuk aku, Mom,”
“Iya, Sayang. Lain kali kamu harus terbuka ya, jangan ditutupi karena kalau tidak kamu jelaskan kita semua bisa tau dari sumber lain dan itu bisa menimbulkan kesalahpahaman karena bisa jadi sumber lain itu tidak benar, dan kami yang mendengar ‘kan tidak tau mana yang benar dan salah intinya kami dapat informasi seperti itu, akhirnya bisa berdampak buruk padamu ‘kan?”
Angel menganggukkan kepalanya. Yang ditegaskan oleh Andrean, Auristella, dan Lovi afalah Ia harus terbuka. Tidak boleh lagi menyimpan apapun yang Ia alami sendirian.
“Ya sudah sekarang kamu mau pergi kemana? Kita cari hiburan biar kamu tidak stres di rumah terus,”
“Aku tidak mau kemana-mana, Mom. Ingin di rumah saja,”
“Apa kamu jadi trauma, Sayang?”
“Kalau trauma keluar rumah aku ras atidak, Mom. Tapi kalau trauma dnegan krang asing, orang yang belum aku temui apalagi kenal sebelumnya aku rasa iya. Aku takut kejadian itu terulang lagi. Kemarin dipeluk, hampir dicium, nanti apalagi? Apa aku akan dibunuh?”
“Astaga, Angel! Kamu tidak boleh bicara seperti itu, Sayang. Tidak boleh ada yang melakukan itu padamu,”
Lovi panik mendnegar Angel bicara seperti itu. Lovi langsung memeluk Angel dan memberinya ketenangan. Lovi rasa Angel masih belum baik-baik saja. Pasca diteror dnegan bangkai hewan, lalu diperlakukan dnegan tidak sopan oleh ornag asing, ternyata benar-benar membuat Angel jadi beprikiran lebih jauh tentang apa yang akan Ia dapatkan di kemudian hari.
“Sayang, jangan bicara seperti tu. Tdiak ada yang boleh melukai kamu, apalagi melakukan hal yang kamu sebutkan tadi. Kita semua harus baik-baik saja, tidak akan terjadi apapun, jadi kamu jangan khawatir ya. Ingat kamu punya janin di dalam perutmu, jaga pikirannu untuk tetap positif, Sayang,”
*******
“Aku minta kamu cari tau identitas laki-laki ini. Siapa namanya, dimana tinggalnya, kalau eprlu orangtuanya juga cari tau. Aku ingin informasi yang lengkap,”
“Kalau aku boleh tau apa yang dia lakukan?”
Tidak munglin Andrean terlihat marah sekarang ketika menyerahkan foto dari seorang lelaki. Leonel yakin ada sesuatu yang dilakukan Leonel sehingga membuat Andrean murka.
“Dia sudah berani membuat istriku terusik, dan berusaha membuat pernikahan kami hancur,”
“Akan aku kanari secepatnya,”
Leonel bergegas pergi meninggalkan ruangan Andrean yang langsung menghembuskan napas kasar lalu kemijat pangkal hidungnya.
“Ya Tuhan, semoga setelah ini tidak ada lagi kejadian-kejadian tidak baik menimpa istriku. Kasihan dia, hidupnya selalu diusik. Sekarang eprnikahan kami pun menjadi target. Beruntungnya aku bukan laki-laki bodoh. Aku tidak langsung marah apda Angel, kalau saja aku langsung meluapkan emosiku kemarin, mungkin aku akan sangat menyesal sekarang,”
Andrean meraih ponselnya yang tiba-tiba bergetar. Ketika Ia melihat Mommy nya yang menghubungi, tampa pikir panjang Ia langsung menajwabnya.
“Iya, Mom,”
“Bagaimana? Kamu sudah mendapatkan hasil rekaman cctv itu?”
“Sudah, Mom. Aku sudah lihat bagaimana kejadiannya. Aku sudah meminta orang untuk mencari tau juga siapa laki-laku brengsek itu,”
“Ya sudah, Mommy sedikit tenang. Semoga secepatnya orang itu kamu temukan ya. Dan kamu beri dia peringatan supaya tidak ada kejadian serupa. Angel benar-benar kacau, Ean. Dia sudah lelah dengan semuanya. Sampai berpikir mungkin yang akan Ia dapati nanti selanjutnya adalah, dia dibunuh. Karena mungkin sudah pernah diteror, kemarin diperlakukan dengan tidak baik oleh orang asing,“
“Astaga, kenapa dia berpikir seperti itu? Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi,”
Andrean meringis pedih ketika mendengar cerita Mommy nya tentang Angel yang sudah puny pikiran buruk tentang dirinya sendiri.
“Iya makanya Mommy juga bingung kenaoa dia jadi berpikir negatif seperti itu. Dia harus dibiat tenang dulu, Ean. Keputusan kamu untuk meminta Angel berhenti bekerja sudah sangat tepat, Sayang. Menurut Mommy kalau dia bekerja, beban pikirannya semakin tidak terkendalikan, kasihan dia, kasihan bayinya. Sekarang yang kita harus pikirkan adalah mereka berdua,”
__ADS_1
“Iya, Mom,”
“Terus dampingi Angel ya, pikirannya mulai kemana-mana mungkin karena terlalu lelah dengan gangguan-gangguan yang datang ke hidupnya,”
“Iya terimakasih, Mom. Aku tidak akan meninggalkan Angel. Aku akan terus ada di samping Angel,”
“Kalau begitu Mommy tutup teleponnya ya, segera pupang kalau memang oekerjaanmu sudah selesai, Angel butih kamu. Hati-hati, Sayang. Tenang selama kamu bekerja, Mommy pastikan Angel aman “
“Iya terimakasih, Mom,”
“Sama-sama, Sayang. Eh iya Mommy mau tanya,m dulu sebelum kita selesai bicara. Kamu sudah coba hubungi nomor yang memgirimkan foto-foto itu?”
“Sudah, Mom. Tidak pernah dijawab. Bahkan dari semalam aku sering sekali menghubunginya tapi tidak ada jawaban sama sekali. Setelah dipikir-pikir bodoh juga dia kalau sampai menerima telepon dariku, karena kejahatannya pasti akan terbongkar,”
“Iya kamu benar, tapi barangkali aja dia audah kelewat nekat berani jawab telepon kamu,”
“Aku coba lagi sekarng, Mom,”
“Okay, Sayang,”
Setelah sambungan telepon bersama Mamanya sudah berakhir, Andrean langsung menghubungi nomor asing yang kemarin mengirimkan foto-foto Angel bersama lelaki yang sudah bersikap seenaknya itu. Sudah berulang kali Andrean menghubungi bahkan sejak semalam tapi tak kunjung dijawab.
*******
“Hahahaha dia terus menghubungi aku,”
Gesty terbahak ketika nomor Andrean menghubunginya lagi. Entah sudah seberapa banyak panggilan dari Andrean yang Ia abaikan begitu saja.
Andrean ternyata mau menjawab rasa penasarannya melalui nomor yang sengaja Ia beli hanya untuk melancarkan rencananya kali ini.
Andrean kembali menghubungi dan kali ini Ia tolak, baisanya Ia abaikan saja sampai berakgir sendiri. Karena mendapat penolakan itulah, Andrean jadi tau kalau nomor itu masih aktif, masih digunakan dan mungkin karena terganggu dengan panggilan darinya, jadi sengaja sutolak secepat mungkin.
“Nomor itu masih digunakan, aku pikir langsung dibuang,” gumam Andrean yang maish terus berusaha menghubungi dan lagi-lagi ditolak secepat mungkin oleh Gesty si pemilik nomor.
“Berisik kamu, Andrean! Untuk apa menghubungiku? Mau mencaci maki? Kamu pikir kamu siapa?! Hah?!“
Gesty mengeluarkan suara tingginya seraya menatap ponselnya sendiri. Karena suaranya itu sampai ke luar kamar dan kebetulan didengar oleh Geno, akhirnya Geno mengetuk pintu kamar Gesty.
“Hei kamu marah-marah dengan siapa sih?”
“Tidak, Yah,”
“Apa yang kamu lakukan? Kamu marah dengan siapa? Beritahu ayah,”
“Aku tidak marah dengan siapapun. Sudahlah ayah tidak perlu banyak tanya,” ujar Gesty darid alam kamar dengan suaranya yang lumayan tinggi.
******
“Itu laki-laki yang dicari Andrean ya? Kenapa mirip?”
“Hah?”
“Ssssttt!”
Adrian mendekatkan telunjuknya dengan bibir supaya Adrina diam karena di dekat mereka ada lelaki yang sepertinya menjadi target Andrean.
Andrean mengirimkan foto lelaki itu kepada dua adiknya barangkali bisa bertemu dengan si pembuat masalah itu. Dan ternyata benar, ketika Adrian dan Adrina makan siang bersama di sebuah restoran, Ia bertemu dengan laki-laki yang dicari oleh Andrean. Awalnya ragu, tapi setelah Adrian tegaskan sekali lagi, ternyata benar dialah yang menjadi target Andrean.
__ADS_1