
"Kalau Aunty boleh tahu, kamu bekerja untuk apa? Uang yang kami berikan kurang, Angel?"
Lovi, Devan, dan Auristella menjenguk Angel di rumah sakit sementara Andrean sudah pulang. Semalam Andrean benar-benar menjaga Angel. Tidak peduli Angel yang terus memintanya agar segera pulang, tapi rasa peduli Andrean lebih besar daripada rasa lelahnya.
Auristella baru saja keluar untuk mencari makan, sementara Lovi dan Devan ada di sisi Angel.
Angel terlalu kelelahan, begitu kata dokter. Dan itu tidak lain karena kegiatan Angel yang padat.
Jujur saja saat mengetahui bahwa Angel bekerja di sebuah restoran, Lovi dan Devan terkejut sekaligus penasaran dengan alasan Angel yang memilih untuk bekerja sembari kuliah. Mereka rasa uang yang diberikan sudah lebih dari cukup. Namun mereka tak kuasa bertanya pada Angel.
Tapi Lovi rasa tidak ada salahnya Ia bertanya mengingat Angel sakit karena kelelahan. Jadi Ia perlu tahu alasan kenapa Angel sampai rela bekerja dari pagi sampai malam sementara Devan menganggap dirinya seperti anak yang semua kebutuhannya dipenuhi.
"Karena Ayah dan Kakak mu menghamburkan uangmu?" tanya Devan yang membuat Angel sangat malu untuk mengakui.
Lovi menghela napas pelan. Ia mengusap helai rambut Angel yang terlihat berkaca.
"Kamu tidak pernah meminta pada kami. Seharusnya kamu itu fokus kuliah, Angel, bukan malah bekerja hingga menyebabkan kamu sakit seperti ini,"
"Aunty dan Uncle sudah sangat membantu aku. Tidak mungkin aku meminta lebih. Dan aku masih bisa menggunakan tenagaku untuk mencari uang tambahan. Jadi tidak apa, Uncle, Aunty. Sudah seharusnya aku mandiri. Selama ini aku terlalu dimanja oleh kalian,"
Lovi dan Devan tersenyum melihat Angel yang terkekeh pelan. Gadis itu masih bisa terlihat baik-baik saja sementara di punggungnya memikul beban berat.
Angel benar-benar tidak memanfaatkan orang yang telah baik kepadanya. Sudah dibantu saja Ia sangat bersyukur. Ia tidak punya muka setebal itu untuk meminta lebih. Lagipula Ia masih muda, dianugerahi tenaga oleh Tuhan, jadi memang sudah seharusnya digunakan.
*****
Adrian sengaja menunggui Adrina yang masih ada kelas. Hari ini Ia hanya kuliah sebentar dan tidak ada pekerjaan, jadi Ia ingin menjenguk Angel tentunya dengan mengajak Adrina. Barangkali sahabatnya itu ingin ikut dengannya ke rumah sakit.
"Kamu belum pulang? Menunggu aku? Aku masih lama pulangnya,"
Adrian mengangkat sebelah alisnya saat sang adik mendekatinya dan langsung menganggap kakaknya itu sengaja masih di kampus untuk menungguinya sampai selesai kuliah. Benar-benar terlampau percaya diri! Batin Adrian mencibir.
Adrian menghubungi Auristella karena ingin mengganggu adiknya itu. Ia merasa bosan duduk di dekat kelas Adrina. Jadi lebih baik mengganggu Auristella yang Ia yakini sedang belajar. Ia pikir panggilannya itu tidak akan dijawab. Ternyata malah dijawab bahkan tanpa menunggu waktu lama.
"Hey kenapa diam saja?!"
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin menelpon mu,"
"Ah kamu membuang waktuku! Aku tutup ya. Dosen ku sudah datang. Bye!"
Sambungan telepon terputus dan Adrian terkekeh melihat layar ponselnya sejenak. Pasti Auristella sedang mencibirnya sekarang. Kalau Ia ada di depan wajah gadis itu, sudah pasti Ia dipukul, dicubit, dan disembur dengan amarahnya karena Adrian telah mengganggunya.
*******
__ADS_1
Usai datang sebentar ke kantornya, Andrean pulang ke rumah untuk berganti baju lalu pergi ke rumah sakit karena Angel mengatakan hari ini Ia akan pulang, dokter berkata demikian.
Angel hanya dirawat satu malam dan Angel bersyukur akan hal itu. Ayahnya sudah marah-marah di telepon semalam. Anak yang menyusahkan -selalu kalimat itu yang keluar dari mulut Geno ketika Angel sakit. Padahal kalau diingat-ingat, Geno pun tidak pernah mengurusi Angel yang sakit. Malah orang lain yang peduli padanya.
"Kamu akan ke rumah sakit 'kan?"
Andrean mengangguk kemudian Ia membawa Mommynya untuk duduk. Lovi mengerinyit saat dilihatnya sang putra yang tiba-tiba saja menatapnya serius.
"Ada apa, Andrean?"
"Aku ingin segera menikahi Angel," jelas tanpa ada keraguan kalimat itu keluar dari mulut Andrean hingga membuat Lovi bingung sekaligus terkejut. Bukankah kemarin Andrean yang ingin hubungannya dengan Angel dijalani dulu tanpa menikah dalam waktu dekat?
"Aku berubah pikiran, Mom. Aku ingin menikahi Angel secepatnya. Apa Mommy keberatan?"
Jujur saja Lovi tidak keberatan, justru Ia senang karena itu artinya Ia akan segera mendapati kenyataan bahwa anak sulungnya telah memiliki pendamping hidup di usianya yang hampir menginjak kepala tiga.
Tapi apa Andrean yakin dengan keputusannya? Kapan Andrean mulai berpikir untuk mengubah keputusannya?
"Tidak masalah kalau memang kamu menginginkannya. Tapi kamu sudah berpikir matang?"
Andrean mengangguk masih dengan wajah datarnya seperti biasa. Ia tentu sudah berpikir berulang kali dengan berbagai pertimbangan sampai akhirnya Ia ingin secepatnya menikahi Angel. Karena Ia pikir dengan begitu Ia bisa membantu Angel dalam mengobati lukanya. Dengan mereka menikah, Angel tidak akan lagi menjadi anak yang malang. Paling tidak, Angel bisa hidup tenang dengannya.
"Kamu harus membahagiakannya, Andrean. Jangan kamu sakit dia. Karena dia sudah terlalu rapuh,"
******
Yongkie adalah mahasiswa yang pindah ke kampus Auristella sejak setahun yang lalu. Mereka dekat karena satu fakultas dan sering dipertemukan dalam berbagai tugas kelompok. Ia, Yongkie, dan tentunya Ryn akhirnya menjadi tiga orang sahabat yang sangat akrab. Tak peduli Yongkie adalah seorang laki-laki, nyatanya Auristella juga nyaman berteman dengannya selain dengan Ryn yang memang sudah menjadi sahabatnya saat masih di junior school.
Saat ini mereka bertiga tengah mengerjakan tugas di sebuah kafe. Bosan mengerjakan tugas di rumah yang suasana nya itu-itu saja, akhirnya mereka bertiga sepakat untuk menghabiskan waktu di kafe itu dengan tugas, makan, minum, dan mengobrol.
"Auris, jadi gimana dengan Kak Adrian dan teman dekatnya itu?"
Auristella memutar bola matanya. Selalu, nama Adrian tak pernah absen dari topik pembicaraan Ryn. Ia sampai bosan tapi berhubung Ia tahu betul sebesar apa rasa kagum Ryn terhadap kakaknya jadi Ia pasti selalu menanggapi Ryn. Untuk menyenangkan hati temannya itu.
"Adrina teman dekat Adrian. Mereka sangat-sangat dekat,"
"Oh jadi Adrina yang kamu maksud teman dekatnya?"
"Iya, siapa lagi? Selama ini kalau aku bercerita tentang Adrian, terkadang ada nama Adrina 'kan di dalamnya? Ya memang sedekat itu mereka. Adrina lah yang aku maksud teman dekat Adrian,"
"Huwaaa nama mereka saja mirip," Ryn merengek kesal. "Tapi aku kira teman dekat yang kamu maksud itu adalah gadis yang berbeda dengan Adrina,"
Jujur Ia sempat kepikiran tentang siapakah kiranya sosok teman dekat Adrian yang disebut Auristella saat mereka menjenguk Yongkie.
__ADS_1
"Yang aku tahu, teman dekat perempuan Adrian ya hanya dia,"
"Tapi mereka bersahabat. Begitu katamu selama ini. Iya 'kan?"
"Iya, dari kami kecil,"
"Jadi tidak ada kemungkinan mereka--"
Ryn tak sanggup melanjutkan ucapannya. Ia hanya menyatukan kedua telunjuknya lalu menatap Auristella yang langsung paham dengan maksudnya.
"Entahlah, aku tidak tahu siapa jodoh kakakku. Sudah-sudah, jangan membicarakan itu dulu. Kamu tahu 'kan aku belum bisa menerima kalau kedua kakak ku punya kekasih?"
"Aku dukung kamu, Auris! Aku suka kamu yang posesif dan over protective begini,"
Yongkie menyesap isi cup coffee nya lalu menggeleng. Dari tadi Ia hanya menjadi pendengar obrolan kedua temannya itu. Sekarang Ia mulai tertarik untuk bergabung.
"Kenapa kamu bisa setakut itu bila kedua kakakmu memiliki kekasih? Aku yakin mereka akan tetap menyayangimu," tanya Yongkie penasaran dengan alasan Auristella yang sangat menentang bila kakak nya memiliki tambatan hati.
"Aku belum siap saja sebenarnya. Aku takut kasih sayang dan perhatian mereka tidak lagi sama setelah mereka memiliki kekasih. Aku sudah terbiasa dimanjakan dan disayangi begitu besar oleh mereka,"
Ryn memesan satu cup cappucino pada barista. Sepertinya perbincangan mereka akan semakin menyenangkan dan Ia butuh minuman lagi.
"Tipe-tipe Auris ini sepertinya akan sangat posesif dan over protective juga pada pasangannya," ujar Ryn sembari melirik Auristella yang kini tengah melihat layar laptopnya.
"Kamu berpikir begitu?" Tanya Auristella pada Ryn.
"Kamu juga?" Ia bertanya juga pada Yongkie. Yongkie mengangguk. Dengan kakaknya saja Auristella seperti itu. Apalagi bila dengan pasangannya kelak.
Auristella terbahak hingga membuat Ryn dan Yongkie mengerinyit bingung. "Aku pernah begitu padamu tidak? Berhubung kamu itu teman dekatku,"
"Kamu juga teman dekatku," tambah Auristella menunjuk Ryn. Teman dekat sama seperti sahabat. Selama ini Auristella berpikir seperti itu.
Apa Devan juga berpikir seperti itu? Seharusnya iya. Tapi kenapa harus terganggu ketika Auristella mengatakan bahwa Yongkie adalah teman dekatnya?
"Situasinya berbeda, Auris. Yang sedang kita bicarakan ini adalah kemungkinan ketika kamu sudah memiliki 'kekasih'. Kita 'kan bukan kekasih kamu,"
Tawa Yongkie terdengar saat Ryn menggerutu kesal. Sementara Auristella nampak berpikir sesaat.
"Sepertinya akan sama saja. Aku tidak akan posesif dan over protective,"
"Ah yang benar?" Ryn menggoda Auristella sembari menaik turunkan alisnya.
Rasanya tidak mungkin Auristella menjadi sosok tak acuh pada kekasihnya nanti.
__ADS_1