Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 70


__ADS_3

“Ian, Revano akan datang ke sini nanti malam. Bagaimana menurutmu? Padahal sudah aku katakan kamu dan Ean itu galak, tapi dia tetap saja mau datang ke sini,”


Adrian memghembuskan asap rokoknya ke sebelah kiri karena di kanannya sudah datang tuan putri keduanya setelah Lovi.


“Kenapa sih kamu datang ke sini? Ganggu aku yang sedang me time,”


“Aku mau cerita soal Revano, Ian,”


Adrian berdecak terlalu malas membahas apa-apa disaat Ia sedang ingin menyendiri bersama kopi dan rokoknya sore ini.


“Kamu tidak ada syuting? Tidak ada acara live musik?”


“Baru juga pulang. Kamu sendiri kenapa baru sampai rumah?”


“Karena aku habis dari rumah temanku untuk mengerjakan tugas, lagipula ini juga belum terlalu sore,” jawab Auristella supaya kakaknya tidak salah paham dan mengira kalau Ia berkeliaran di luaran sana tanpa tujuan yang jelas.


“Oh? Benarkah?”


“Iya, aku tidak bohong,”


Adrian terkekeh dan memgacak lembut puncak kepala adiknya. “Iya-iya, aku percaya, adikku sayang. Jadi bagaimana? Dia mau ke rumah? Memang tujuannya apa?”


“Dia mau mengajak aku makan berdua di luar,” jawab Auristella dengan hati-hati. Jujur Ia tidak bisa menduga akan seperti apa tanggapan kakak keduanya. Yang Ia takutkan, Adrian akan marah.


“Dia mau mengajak kamu makan? Wow, berani juga. Nyalinya besar ternyata ya. Kamu sudah larang dia? Kamu tau ‘kan tidak mungkin aku ataupun Ean mengizinkan kamu keluar bersama dia yang belum lama kamu kenal apalagi perginya malam,” ujar Adrian pada adiknya.


“Iya sudah aku bilang, kedua kakakku semuanya galak, itu ‘kan larangan secara halus. Tapi dia tetap saja mau datang,”


“Okay kita liat nanti. Apakah setelah sampai di rumah ini nyalinya akan tetap besar atau tidak? Aku cukup penasaran,”


“Ian, jangan dihajar ya anak orang. Aku takut kamu malah kena masalah,”


“Hahahaha mana mungkin aku menghajarnya, ya paling dikerjai sedikit saja. Supaya aku tau dia benar-benar serius dengan niatnya datang ke sini atau justru hanya ingin main-main,”


“Dia serius, Ian. Niatnya serius mengajak aku jalan,”


“Ya kita liat nanti saja,” jawab Adrian sambil menyesap rokoknya kemudian Ia hembuskan ke atas.


“Ian, jangan merokok! Nanti kamu sakit,”


“Hanya sesekali saja, kamu tidak perlu khawatir,”


“Astaga, kamu kenapa keras kepala? Nanti paru-paru kamu jadi korban,”


“Tidak, karena tidak setiap hari. Kamu santai saja,”


“Sudah-sudah. Buang itu rokok kamu!”


Auristella mencubit lengan kakaknya supaya segera membuang rokok yang sedang dinikmatinya.


Adrian meringis perih setelah itu menatap tajam ke arah Auristella yang baru saja mencubitnya.


“Astaga, keterlaluan ya kamu. Tanganku kenapa dicubit terus sih? Salah apa tanganku, Auris? Hmm?”


“Salah tanganmu adalah, merokok! Cepat buang rokok itu. Aku tidak mau melihatmu merokok, Ian. Biasanya juga tidak merokok, kenapa sekarang malah merokok?”


“Ya karena mau. Lagipula tidak sering. Aku hanya sesekali saja merokok,”


“Tapi aku tidak suka!”


Adrian berdecak pelan. Rokoknya kebetulan memang sudah hampir habis. Daripada Ia harus mendengar kecerewetan adiknya lebih lama lagi, lebih baik Ia segera membuang rokoknya.


“Sudah,“


“Yeayy anak pintar ya,”


Auristella langsung bergegas meninggalkan kakaknya di halaman rumah. Tapi Adrian malah memanggilnya.


“Mau kemana kamu?”


“Mau ke kamar saja, nonton drama,”


“Drama terus yang ditonton. Lebih baik di sini saja menemani aku,”


“Tidak, nanti malah ribut,”


“Ya jangan sampai ribut lah. Sekarang kita ngobrol saja,”


“Ya ngobrol apa? Aku bingung,”


“Terserah, kamu mau ngobrolin Revano mau tidak?”


“Kenapa jadi membicarakan dia? Kamu mau dengar tentang dia memangnya?”


“Ya tidak apa-apa, biar aku semakin kenal dengannya,”


Mendengar deru mobil, Adrian dan Auristella langsung menoleh. Ternyata Andrean pulang dengan mobil berwarna putihnya.


“Yeayy Ean dan Angel pulang,” ujar Auristella setelah melihat Andrean dan Angel keluar dari mobil.


“Senang sekali kamu ya,”


“Iya tentu saja. Kakakku sudah pulang semua jadi sudah pasti aku senang,”


“Hai, Ian, Auris,” Angel menyapa dua adiknya itu.


“Kenapa di halaman depan rumah? Tumben sekali,” ujar Andrean seraya menatap kedua adiknya bergantian.


“Ya memang kenapa?”


“Kalian habis berdebat?”


“Tidak,”


“Oh aku pikir lagi berdebat di halaman rumah,”


“Kamu dan Angel darimana?”


“Tidak darimana-mana. Kami setelah bekerja langsung pulang,”


“Nanti mau ada tamu, Ean,”


“Hm? Siapa tamunya? Kita kenal?”


“Jujur, aku dan kamu tidak kenal, tapi adik kita ini kenal,” ujar Adrian seraya menunjuk Auristella. Andrean dan Angel langsung penasaran dengan sosok tamu yang dimaksud oleh Adrian.


“Siapa memangnya? Aku tidak kenal juga, Ian?”


“Tidak, yang kenal hanya Auris,”


“Siapa tamunya?”


“Ya tanya saja pada Auris,”


“Revano,” jawab Auristella sebelum Andrean dan Angel bertanya kepadanya.


“Untuk apa Revano datang?”

__ADS_1


“Katanya dia mau mengajak aku makan di luar berdua,”


“Tidak, katakan padanya tidak!”


Setelah bicara seperti itu Andrean langsung berjalan masuk ke dalam, meninggalkan Angel, Auristella, dan Adrian yang saling pandang satu sama lain.


“Andrean sudah tegas menolak itu, Ris,”


“Ya aku tau. Dan aku juga sudah melarang Revano supaya tidak datang ke sini tapi dia tetap saja mau datang sepertinya,”


“Ya sudah tidak apa, biar saja dia datang ke sini supaya dia kenal dengan kita,” ujar Adrian yang menenangkan hati adiknya. Kelihatan sekali Auristella sedang tidak tenang karena jawaban Andrean tadi.


“Ean kesal padaku ya?”


“Tidak, Sayang. Kamu ‘kan tidak salah,”


Angel mengusap rambut Auristella yang kelihatan cemas. Takut kakaknya karah jareba Revano mau datang ke rumah.


“Ean itu tidak marah. Dia hanya bilang tidak saja,”


“Tapi aku jadi takut,”


“Tidak perlu takut. Kalau memang Revano mau datang berkunjung tidak apa-apa. Malah justru ada sisi positifnya. Jadi Ian dan Ean bisa mengenal langsung laki-laki yang namnaya Revano itu,”


“Iya kamu tidak usah khawatir. Ean tidak marah, Ean hanya menegaskan kalau kamu tidak akan bisa semudah itu pergi bersama Revano. Tapi kalau dia mau datang ya tidak apa-apa,” Adrian tersenyum menatap Auristella. Setelah itu Adrian menjawil dagu Auristella. “Jangan kelihatan murung begitu, nanti Revano tidak jadi menyukaimu,”


Setelah mengolok, Adrian langsung bergega soergi meninggalkan Auristella yang membelalakkan kedua matanya dan mulutnya terbuka.


“Hei siapa yang suka padaku? Tidak ada! Ian jangan sembarangan bicara,”


“Yang Ian maksud itu tentu saja Revano,”


“Tapi Revano tidak menyukai aku, Angel,”


“Kata siapa? Memang dia bilang begitu? Kamu tau isi hatinya? kenal lewat sosial media, mengajak kamu ngobrol secara langsung lebih dulu, lalu setelahnya dia mau mengajak kamu makan berdua, bahkan berani mau datang ke rumah kamu,”


“Padahal aku sudah bilang bahwa kakak-kakakku galak tapi dia tetap saja mau datang, aku juga bingung,”


“Ya itu artinya dia mau sungguh-sungguh mengajak kamu untuk pergi,”


“Tapi aku takut Ean malah memarahi dia, Angel. Bagaimana ya kalau seandainya Ean marah padanya?”


“Tidak mungkin, Ean tidak kejam, Auris. Dan kamu kenal sekali dengan kakakmu ‘kan? Dia hanya dingin, datar, cuek, tapi sebenarnya baik sekali. Selagi Revano tidak berbuat kesalahan, baik Ean maupun Ian akan bersikap baik kepadanya, tidak mungkin jahat,”


“Hmm iya semoga,” jawab Auristella seraya tersenyum menatap Angel yang berusaha untuk menangkan dirinya.


“Ya sudah aku mandi dulu ya. Nanti kita mengobrol lagi,”


“Okay, selamat bersih-bersih,”


Angel terkekeh sambil mencubit pelan pipi adiknya itu. Setelah itu Ia bergegas ke kamar menyusul suaminya yang ternyata sudah masuk ke kamar mandi.


“Sayang, mau mandi?”


“Ean, mau aku buatkan sesuatu setelah mandi? Misalnya teh hangat,”


“Tidak usah, Sayang, terimakasih,”


Angel menganggukkan kepalanya lantas duduk di sofa kamar menunggu suaminya keluar dari kamar mandi. Pakaian ganti Andrean sudah siap sejak tadi pagi, Andrean tidak ingin dibuatkan apa-apa, jadi sekarang Angel duduk saja menunggu suaminya selesai mandi.


Andrean kalau mandi tidak pernah lama. Tidak sampai lima belas menit pasti sudah selesai. Andrean keluar sambil mengeringkan rambutnya yang basah, handuk terpasang dari pinggang hingga lutut. Ia langsung menyuruh istrinya untuk segera mandi.


“Ean, aku cuma mau bilang satu hal padamu,”


“Apa, Angel?”


“Kamu tidak akan marah-marah pada Revano ‘kan? Aku harap tidak ya. Dia ‘kan datang ke sini hanya untuk minta izin barangkali kamu dan Ian memberikan izin untuk membawa Auris pergi sebentar,”


“Tapi tidak akan aku berikan izin, Sayang,”


“Ya sudah, bicarakan baik-baik ya, aku mohon. Jangan bikin Auris merasa bersalah pada Revano, ataupun merasa takut padamu,”


“Iya, aku tau, Sayang. Kamu tenang saja. Kamu terlalu takut kalau aku macam-macam pada Auris dan teman dekatnya itu?”


“Iya aku takut kamu marah pada Revano. Selagi dia tidak macam-macam, sikapmu akan baik ‘kan? Maksud aku, kamu tidak akan marah-marah meluapkan emosi kamu,”


Andrean tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya. Ia mengusap kedua bahu istrinya itu.


“Iya, Sayang. Kamu tenang saja, aku bukan oranh yang mudah melampiaskan emosi apalagi pada orang yang datang ke sini niatnya tidak jahat. Dia hanya mau minta izin untuk membawa Auris pergi ‘kan? Ya sudah, akan aku ladeni, tapi kalau untuk mengizinkan, Aku tidak bisa. Aku belum bisa percaya padanya. Orang baru kenal juga ‘kan? Jadi nanti-nanti lah,”


“Nanti kapan? Kamu kapan percayanya?”


“Ya mungkin kalau dia sudah jadi suaminya Auris,”


Angel terkekeh mendengar ucapan suaminya itu. Masih lama sekali. Sekarang Auristella masih fokus dengab pendidikan, artinya masih lama bisa bebas jalan dengan laki-laki.


“Kamu yakin? Kok lama sekali itu, Ean?”


“Ya ‘kan biar aman. Atau minimal, kalau dia sudah dikenal baik oleh keluarga Auris lah. Jadi tenang ‘kan membiarkan Auris pergi dengannya,”


“Hmm okay, aku paham. Intinya demi keselamatan Auris juga ‘kan? Semoga Auris tidak protes ya,”


Ya kalau dia protes, maka proteslah pada Daddy karena Daddy juga punya aturan yang sama,”


“Beruntungnya jadi Auris,”


“Sayang, kalau seandainya kamu merasa tidak seberuntung Auris dalam hal kasih sayang ataupun perhatian dari orangtua, kamu tidak perlu khawatir, anak kita nantinya akan mendapatkan itu. Aku janji, selama aku ada di dunia ini, selama aku masih diberikan kesempatan untuk bernapas, maka aku akan meluapkan seluruh kasih sayang, cinta, perhatian untuk anak kita nantinya. Jadi dia tidak akan merasakan hal yang sama seperti kamu, okay?”


Angel tersenyum dengan hati menghamgat setelah mendengar kata-kata yang terlontar dari suaminya. Ia senang sekali ketika Andrean seakan berjanji pada dirinya senjdir juga selain berjanji padanya bahwa Ia akan menjadi orangtua yang baik untuk anak mereka sehingga anak mereka nantinya tidak akan kekurangan kasih sayang sedikitpun dari orangtuanya.


“Sekarang aku mau mandi dulu,”


Angel akan melangkah masuk ke dalam mamar mandi namun pinggangnya ditahan dengan kedua tangan Andrean.


“Perlu aku temani?”


“Hmm? Ditemani? Yang benar saja kamu. Tidaklah. Aku tidak perlu ditemani. Aku bisa mandi sendiri,”


“Serius?”


“Iyalah, memang selama ini aku minta ditemani kamu? Hahaha, kamu ada-ada saja. Ada maksud terselubung ya,”


Andrean terkekeh laku mencubit pelan dagu istrinya. “Aku bercanda, silahkan mandi ya, Tuan putri,”


Angel mengangguk lantas melangkahkan kakinya memasuki kamar mandi sementara Andrean mengenakan pakaian dan menyisir rambutnya sebelum mendarat di atas tempat tidur.


******


“Auris, aku jadi ya ke rumahmu,”


“Kamu yakin? Aku sudah bilang, kakakku dua-dianya galak,”


Revano terdengar ketawa mendnegar ucapan yang lagi-lagi isinya sama keluar dari mulut Auristella.


Revano bingung kenapa seolah Auristella itu menakut-nakutinya? Padahal Ia datang ke rumah tujuannya bukan untuk mencuri barang, ataupun Auristella. Ia hanya ingin mengenal kakaknya Auristella, sekalian meminta izin supaya mereka bisa pergi bersama.


“Mereka segalak apa sih kalau aku boleh tau? Kenapa kamu sepertinya cemas sekali kalau aku datang ke rumahmu?”

__ADS_1


“Ya jelas aku cemas. Aku takut Ean marah, Astaga,” Auristella membatin sambil menggertakkan giginya.


“Tenang saja,”


“Ya tapi aku yang tidak tenang,”


“Kalau kamu diusir bagaimana?”


“Ya tidak masalah, setidaknya aku sudah datang menunjukkan niatku.l untuk membawa kamu pergi sebnetar. Kalau tidak diizinkan, bahkan diusir, aku tidak apa-apa,”


“Apa benar ya, dia itu menyukaiku? Gawat! Belum waktunya,“


********


-Dad, teman laki-laki Auris akan datang. Mau mengajak Auris untuk keluar-


Devan tertawa mendengar pesan yang baru saja dikirimkan oleh Adrian. Lalu Devan langsung memberitahu istrinya yang sedang berbaring sambil bergulat dengan ponsel.


“Lov, ada teman laki-laki Auris yang mau datang ke rumah, niatnya mau ajak Auris pergi. Sayangnya aku tidak ada di rumah ya. Coba saja kalau ada, aku siap dengan ujian untuknya,”


“Ih jangan begitulah. Nanti tidak ada yang mau mendekati anakmu bagaimana? Kasian dia,”


“Tenang, Lov. Aku juga tau apa yang harus aku lakukan. Kalau aku liat dia adalah tipe laki-laki yang lemah, baru digertak sekali sudah kabur, ya artinya dia tidak pantas untuk Auris. Dia tidak mau menunjukkan usahanya untuk mengambil hatiku, ya silahkan saja kalau mau pergi. Aku butuh menantu laki-laki tunggal yang baik, yang pendiriannya kuat, yang pekerja keras, tidak mudah menyerah hanya dengan satu cobaan saja, dan tidak kurang ajar. Kalau dia macam-macam urusannya dengan aku,”


Lovi meletakkan ponselnya di atas perut kemudian menepuk tangannya beberapa kali. Benar-benar sudah waspada sekali suaminya. Takut


Salah pilih menantu padahal anaknya belum kepikiran sampai sana mungkin. Baru sekedar kagum, suka, tidak lebih. Tapi pikiran Devan sudah jangka panjang. Dari awal sebelum dekat sudah dipastikan dulu bahwa lelaki itu pantas menjadi pendamping hidup anaknya.


“Kasian Auris tidak ada kesempatan untuk memeilih sendiri pasangannya,”


“Sayang, kata siapa? Aku memberiman hak itu untuk putri kita. Dan aku sebagai penilainya, aku berdiri di belakang Auris, begitupun dengan kamu,”


“Jangan sampai Auris salah paham,”


“Tidaklah, Auris sudah paham kok bagaimana aturannya. Dia tetap punya hak, aku sebagai orangtua hanya menjadi penilai dan penyetuju. Dan Auris akan nempertimbangkan pendapat orangtuanya pasti,”


“Masih lama, Sayang. Auris lagi mau selesaikan pendidikan dulu,”


“Ya tapi apa salahnya mencari yang baik dari awal, Sayang?”


“Lalu bagaimana itu? Apa yang akan Ian lakukan katanya?”


“Dia dan Ean tau apa yang mesti dia lakukan, Sayang. Tidak perlu aku ajari. Mereka ‘kan tau bagaimana cara menjaga adiknya dengan baik, walaupun Ian menyebalkan di mata adiknya dan sering menjadi teman bertengkar, tapi Ian menyayangi adiknya,”


*******


“Angel, ada kiriman untukmu, tapi tidak ada nama pengirimnya, barusan aku terima dari security,”


Angel langsung mengernyitkan keningnya begitu tiba di lantai dasar hendak membuat susu malah mendapatkan informasi dari Auristella bahwa Ia dikirimi sesuatu lleh orang yang tak dikenal.


“Wah, terimakasih ya, Auris. Akan aku buka nanti,”


“Tapi aku penasaran isinya apa, boleh dibuka sekarang tidak?” Tanya Auristella dengan sorot mata penuh harapan supaya Angel bersedia membuka kotak di tangannya detik ini juga karena Ia sangat penasaran dengan isi dalam kotak itu.


“Ya boleh, tapi aku buat susu sebentar ya?”


“Okay siap,”


Auristella duduk di ruang makan, sementara Angel bergegas ke dapur untuk membuat susu hangat supaya Ia segar, rasa penatnya hilang.


Tidak sampai lima menit, Angel selesai membuat susu, lalu Ia memghampiri adiknya di ruang makan. Auristella langsung meletakkan ponselnya di atas meja dan fokus menatap kotak yang dikirim untuk Angel.


“Itu apa? Siapa yang mengirim?” Tanya Andrean tiba-tiba yang membuat Auristella dan Angel tersentak kaget.


Bagaimana tidak kaget kalau tiba-tiba Andrean datang, lalu bertanya tentang kirimannya Angel. Raganya saja belum sampai ada di dekat meja makan, tapi suaranya sudah terdengar.


“Mata kamu jeli ya. Tau saja kalau aku mau buka hadiah. Padahal kamu saja masih jauh dari meja makan,”


“Dari siapa itu, Sayang?”


Andrean langsung mengambil alih kotak tersebut. Kemudian Andrean guncang-guncang sambil mendengarkan suara dari dalam. Jujur Andrean agak ragu membukanya. Jarena entah kenapa firasatnya tidak enak.


“Sini aku yang buka,”


“Aku saja,”


“Tapi ini ‘kan untuk aku, Ean. Harusnya aku yang buka,”


“Tapi aku saja, Sayang. Aku takut itu hal yang jelek,”


“Hah? Kenapa kamu berpikiran negatif? Barangkali ada seseorang yang mau memberi aku kejutan,” ujar Angel aeraya meraih kembali kotak yang saat ini berpindah tangan.


“Angel, aku saja. Kalau ada apa-apa ‘kan aku yang—“


“Aku saja, Ean. Ini kiriman untuk aku,”


“Ya sudah biar adil aku saja yang membuka, bagaimana? Aku sudah luar biasa penasaran ini. Tapi kalian berdua malah debat soal siapa yang lebih pantas membukanya. Jadi biar adik, biar aku saja yang membukanya bagaimana?”


“Jangan, aku saja, Auris,” larang Angel karena kalau memang benar kata Andrean isi did alam kotak itu adalah hal yang buruk maka Ia yang akan menemukannya lebih dulu ketimbang Andrean dan Auristella.


Angel langsung membuka kotak tersebut supaya cepat ketahuan isinya apa. Dan begitu kotaknya terbuka, Angel langsung spontan membuangnya ke sembarang arah kemudian memeluk suaminya yang berdiri di sebelahnya.


“Aku takut, Ean! Aku takut,”


Angel menangis di pelukan Andrean smabil menangis histeris. Dan Auristella langsung berpindah posisi menjadi si belakang Angel. Auristella mengusap lembut punggung Angel untuk membuat Angel tenang.


“Angel, jangan takut, aku dan Ean ada di sini,”


“Kurang ajar! Siapa yang sudah berani mengirimkan bangkai burung itu ke rumah ini. Benar-banar mencari masalah denganku,” desis Andrean dengan rahang mengetat.


Andrean langsung menggendong Angel dan membawa Angel ke kamar. Tapi sebelum itu, Ia memanggil maid di rumah dan meminta tolong supaya apa yang Angel terima tadi segera disingkirkan jauh-jauh dari rumah.


Auristella menyusul kakaknya yang tengah panik karena istrinya ketakutan sekarang. Auristella ikut panik. Ini benar-benar kejadian yang tidak terduga. Dan mungkin ini pertama kalinya bagi Angel mendapatkan teror berupa binatang yang mati jadi reaksi Angel benar-benar histeris.


“Tenang, Sayang. Kamu aman, aku akan mencari orang yang sudah kurang ajar mengirimkan bangkai itu kepadamu,”


“Iya tenang saja, Angel. Bangkai itu sudah disingkirkan juga oleh maid,”


Andrean langsung menempatkan Angel di atas tempat tidur dan mengambil air minum, sementara Auristella terus memberikan kata-kata penenang.


“Jangan panik ya, Angel. Semua akan baik-baik saja. Jangan kepikiran dnegan kiriman tadi. Itu cuma kerjaan ornag yang kurang kerjaan atau bahkan tidak ada kerjaan, makanya mengerjai orang, membuat orang ketakutan,”


“Jahat sekali orang itu. Aku membencinya, aku bingung kenapa aku diteror padahal aku tidak melakukan kesalahan apa-apa,”


“Ya sudah, kamu coba tenangkan diri kamu ya, dan sekarang minum dulu ya, Sayang,”


Andrean mengulurkan segelas air putih untuk sang istri dan meminta istrinya itu untuk menyeruput air yang sudah Ia ambilkan.


Andrean mengusap rambut hingga punggung istrinya dengan lembut. Ia juga menghapus jejak keringat di kening Angel. Andrean tidak tega melihat Angel sampai histeris seperti tadi.


Ia bersumpah tidak akan membuat si pengirim itu tenang. Andrean yakin memang tujuan orang itu adalah membuat Angel merasa takut dan terancam.


“Kenapa aku diteror seperti ini ya, Ean? Aku benar-banar takut sekali, Ean. Aku takut itu pertanda kalau salah satu dari kita, atau bahkan semuanya, dilukai oleh si pengirim teror itu,”


Andrean berdesis sambil merengkuh Angel dan mengusap punggungnya tanpa henti. Sebenarnya ada rasa kekhawatiran yang sama di benak Andrean. Tapi Ia tidak boleh menunjukkan itu karena Angel butuh sosok yang menenangkan. Ia tidak boleh menunjukkan kepanikannya juga.


“Tidak, berserah saja pada Tuhan. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja. Jangan berpikiran negatif ya. Aku di sini untukmu, Sayang,”

__ADS_1


__ADS_2